SUAMIKU SANG DOSEN KILLER

SUAMIKU SANG DOSEN KILLER
Kedatangan Diandra


__ADS_3

Siang itu Pak Hamis dan Nyonya Tania datang kerumah sakit untuk melihat kondisi putranya.


Mereka langsung menemui Dokter di ruangannya. Tuan Hamis dan Nyonya Tania nampak senang ketika mendengar kabar baik kalau Ansel mulai menunjukan perubahan yang sangat bagus akhir-akhir ini.


"Semua ini karna Bella.. Ansel mulai merespon dan menggerakkan jari jemarinya saat Bella datang ke ruang ICU." Ucap Dokter sambil menatap kedua orang dihadapannya.


Ibu Tania nampak tak percaya dengan apa yang di dengarnya. Tapi syukurlah putranya kini sudah melewati masa kritisnya.


Tuan Hamis dan Nyonya Tania pun berpamitan untuk melihat kondisi Ansel di ruangan ICU.


Nyonya Tania mematung melihat Bella sedang tertidur diatas kursi roda dipinggir ranjang Ansel. Wajah gadis itu nampak kelelahan, di tangannya masih menempel selang infusan tapi Bella tetap mau menemani Ansel didalam sana.


"Lihatlah anak itu begitu tulus pada putramu.. Apa kamu masih mau membencinya hanya karna perbedaan status sosial mah?" Pak hamis menangkap wajah istrinya yang sedang sibuk memperhatikan ke arah Bella.


"Apa yang kau bicarakan.." Nyonya Tania pura-pura tidak mengerti.


Tak lama Zio datang menghampiri orang tua Ansel.


"Zio, terima kasih kau selalu setia menemani Ansel disini.. maaf kami harus bolak balik ke jakarta karna tidak bisa meninggalkan Citra disana, kami takut dia curiga dengan keadaan kakaknya.." Pak Hamis mengelus pundak Zio sambil tersenyum.


"Aku mengerti pak, tidak masalah. Lagi pula Ansel itu sudah ku anggap saudaraku sendiri."


Pak Hamis bersyukur Ansel dikelilingi orang-orang baik seperti Bella dan Zio.


"Ngomong ngomong bagaimana hasil penyelidikanmu Zio? apa sudah ada perkembangan?" Pak Hamis bertanya sambil memberi kode pada Zio untuk menjauh dari tempat Nyonya Tania berdiri. Dia tidak ingin istrinya merasa khawatir mendengar tentang orang-orang yang berusaha mencelakai putranya itu.


"Orang-orang saya sudah berhasil menemukan sebuah pistol yang di duga digunakan untuk menembak Ansel pak, saya sedang mengirimkan pistol itu ke pusat penyelidikan forensik agar kita tahu sidik jari siapa yang menempel disana."


Pak Hamis mengangguk pelan.


"Bagus Zio, kabari saya kalau kamu sudah mendapatkan kabar terbaru soal sidik jari itu, apa pun yang kamu butuhkan untuk menyelidiki kasus ini kamu tinggal beritahu saya oke?"


"Baik pak?"


Tuan Hamis dan Nyonya Tania pun harus kembali lagi ke jakarta sore harinya. Mereka gelisah karna semakin hari Citra semakin bisa mencium adanya kejanggalan soal tidak adanya kabar sama sekali dari kakak maupun kakak iparnya Bella.


Citra benar-benar bingung harus menghubungi kakaknya kemana. Karna semua orang yang ditanyainya hanya menjawab kalau kakaknya sedang ada urusan pekerjaan diluar kota.


Oke lah kalau kakaknya diluar kota untuk urusan pekerjaan itu masih masuk akal, tapi Kak Bella? untuk apa kak Bella ikut kakaknya juga? bukankah dia ada kuliah disini.. Citra kenal betul kak Bella itu bukan tipe orang yang suka bolos kuliah. Jadi kemana sebenarnya mereka berdua?


Citra mondar mandir tak karuan di kamarnya, sudah hampir seminggu dia tidak melihat kakaknya dan Bella, dia benar-benar penasaran kemana mereka pergi.


"Sayang? kamu belum tidur?" Kevin masuk ke dalam kamar sambil melirik jam di dinding yang menunjukkan pukul 21.30 wib.

__ADS_1


Citra menggeleng dengan raut wajah sedih. Kevin menghampirinya dan menyuruhnya untuk merebahkan dirinya diatas ranjang.


"Tidurlah sayang, ini sudah malam, gak baik ibu hamil begadang malem-malem.." Kevin mencium kening Citra dengan mesra.


Gadis itu mengangguk patuh lalu memakai selimut yang tergeletak di atas kakinya.


Kevin mematikan lampu kamarnya dan kemudian langsung terbang ke alam mimpinya sementara Citra masih terjaga dengan gelisah menatap ke sekeliling ruangan.


Perasaanya sangat tidak tenang, dia yakin pasti terjadi sesuatu pada Kakaknya dan juga Bella. Pasti!


Esok paginya Sasya memutuskan untuk pulang ke jakarta karna dia sudah terlalu lama ijin kuliah. Bella pun memaksanya untuk segera masuk kuliah lagi dan meyakinkan kalau dirinya sudah baik-baik saja.


Sasya pun pergi ke kampus seperti biasa dengan Inyong.


Karna sebagian besar mahasiswa yang ikut kamping saat itu tau tentang kejadian naas yang menimpa Bella dan Dosennya itu.


Banyak teman-teman Sasya yang penasaran dan akhirnya menanyakan soal keadaan Pak Ansel dan Bella kepadanya. Namun Sasya hanya menjawabnya dengan mengangkat kedua bahunya.


"Sya, ada berita gawat!" Bisik Inyong saat mereka sedang duduk didepan taman kampus.


"Berita gawat apa Nyong?" Sasya menatap Inyong sambil membuka laptopnya. Dia sedang menyalin catatan milik Inyong karna sudah beberapa hari tidak masuk kuliah Sasya jadi ketinggalan banyak sekali pelajaran.


"Ada dosen baru dikampus kita Sya!"


"Dosen baru kita namanya Diandra.."


"Diandra? nama yang bagus!" Ucap Sasya menoleh sesaat ke Inyong lalu dia kembali sibuk mengetik lagi.


"Ih lo tau gak Sya, Bu Diandra itu siapa?" Inyong membuka botol minumannya lalu meneguknya dengan rakus. Dia kesal kepada Sasya yang ternyata bener-bener gak tahu sama sekali soal pergosipan dikampus.


"Ya taulah, dia Dosen baru kan? gimana sih lo kan lo sendiri tadi yang bilang!" Jawab Sasya enteng. Dia masih tak mengerti dengan arah pembicaraan Inyong.


"Aish nih anak gak update banget! Diandra itu mantannya Pak Ansel loh Sya! mantan yang paling lama menjalin hubungan sama Pak Ansel, bahkan kabarnya ya.."


Inyong menghentikan sejenak ceritanya untuk minum lagi.


"Kabarnya dia itulah yang udah bikin Pak Ansel jadi manusia berhati batu.. pokoknya yang Inyong denger Pak Ansel itu sampe gak mau buka hatinya lagi gara-gara ditinggalin Bu Diandra ini.." Inyong mulai mendramatisir.


Sasya langsung berhenti mengetik dan menoleh kaget mendengar perkataan Inyong barusan.


"Lo tau dari mana nyong? maksud lo dia cinta mati gitu sama Bu Diandra? Valid gak beritanya?" Sasya menatap tak percaya.


"Valid lah Sya, makanya Inyong jadi gelisah nih mikirin Bella.."

__ADS_1


Inyong menghela napas panjang. Keduanya saling diam sejenak.


"Kasian ya Bella, belum juga urusan Sarah sama Kevin kelar, ini malah ada lagi satu nongol!" Ucap Inyong sedih.


Sasya mengerutkan keningnya rapat rapat. Tunggu dulu! dari mana Inyong tahu soal hubungan Sarah dan Kevin?


"Jadi, lo udah tau semuanya Nyong?" Tanya Sasya kaget.


Inyong mengangguk sambil melirik tajam ke arah Sasya.


"Sya.. Lo jujur deh sama Inyong, sejak kapan Sarah sama Kevin punya hubungan?"


Pertanyaan Inyong itu kontan membuat Sasya menoleh kaget.


"Maksud lo Nyong?"


Sasya belagak tak mengerti.


"Dah lah Sya ceritain aja semuanya, Inyong tau Inyong ini biang gosip, tapi Inyong gak akan gosipin sahabat Inyong sendiri kok Sya! masa lo gak percaya sih Sya sama Inyong!"


Inyong menatap Sasya dengan wajah sendu.


"Nyong.. Sarah sama Kevin punya hubungan ini kayaknya udah lama sejak Kevin masih pacaran sama Bella.."


Akhirnya Sasya buka suara, sudahlah dia tidak mau menyembunyikan apapu lagi dari Inyong toh dia juga sudah melihat sendiri kelakuan Sarah dan Kevin.


"Terus Bella udah tau semua ini?"


"Belum Nyong, gue lagi nunggu waktu yang tepat buat ngasih tau dia, gue juga awalnya kaget dan gak nyangka banget Nyong, tapi setelah gue lihat sendiri gue baru tau ternyata Sarah bisa setega itu sama Bella.."


"Inyong gak nyangka Sya! sumpah Inyong nyesek banget ngeliat mereka mesra-mesraan kemaren padahal posisi Bella lagi di culik. Inyong gak nyangka Sarah bisa ngehianatin persahabatan kita Sya, apalagi cuman buat seorang playboy kampung kaya Kevin! astaga rabun jauh kayaknya si Sarah!" Inyong jadi geram sendiri.


Sasya merangkul Inyong dan mengelus elus punggungnya.


"Udahlah Nyong, sekarang tugas kita adalah mencari bukti sebanyak banyaknya tentang perselingkuhan mereka, gue tuh ya sebenernya pengen banget nonjok Kevin! gila ya padahal bininya lagi hamil tapi dia masih bisa maen serong dengan santainya!"


Inyong mengangguk setuju dengan ucapan Sasya.


"Sya, betewe Inyong penasaran soal percakapan Sarah dan Kevin yang gak sengaja Inyong denger waktu itu, apa ada hubungannya ya sama penculikan Bella dan penembakan Pak Ansel ini?"


"Gue belum tau Nyong, soal ini masih diselidiki sama Pak Zio. Kita doain aja semoga semuanya bisa cepat terungkap!"


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2