
Bella duduk diatas ranjang sambil memeluk kedua lututnya. Hatinya hancur setiap kali membayangkan Ansel sedang bersama Diandra meski Bella percaya Ansel tidak akan mengkhianatinya tapi tetap saja rasa cemburu itu ada.
Sementara itu Citra dan Kevin sedang merayakan keberhasilan rencana awal mereka untuk membuat Ansel dan Diandra dekat kembali.
"Lalu apa rencana mu selanjutnya Cit?" Tanya Kevin sambil mengelus rambut istrinya itu.
Citra tersenyum simpul sambil memeluk Kevin.
"Kurasa kak Diandra tidak perlu merencanakan apapun karna penyakitnya adalah senjata paling ampuh untuk membuat kak Ansel tetap berada disampingnya untuk malam ini.." Citra menatap Kevin dengan menyeringai penuh makna.
Benar kata Citra, malam itu Ansel menelpon Bella dan meminta ijin untuk menjaga Diandra dirumah sakit karna kondisi Diandra yang sedang tidak memungkinkan untuk ditinggal sendiri.
Bella pun dengan ikhlas mengijinkannya meski hatinya sangat sakit. Akhirnya malam itu pertama kalinya setelah menikah Bella tidur seorang diri tanpa ditemani oleh Ansel.
Besoknya jam 08.30 wib dirumah kontrakannya Sarah.
Sarah terlihat sedang memakan nasi goreng buatannya sendiri dimeja makan, saat dia sedang asyik membuka ponselnya tiba tiba saja perutnya terasa mual.
Huek huek huek
Sarah segera menutup mulutnya dengan telapak tangannya.
Sarah mendesis bingung, entah kenapa dia merasa perutnya tiba tiba menolak kehadiran nasi goreng itu. Padahal nasi goreng itu adalah salah satu makanan kesukaannya.
Huek huek huek
Kali ini Sarah langsung berlari ke kamar mandi karna dia merasa ada sesuatu yang akan keluar dari kerongkongannya.
Huek
Benar saja, Sarah memuntahkan kembali nasgor yang baru dimakannya. Dia buru buru menyalakan kran dan membersihkan mulutnya. Sarah mengangkat wajahnya dan menatap cermin.
"Apa jangan jangan gue hamil?" Gumamnya sambil memegang perutnya sendiri.
Dia memang sudah melepas KB selama sebulan ini, kemungkinan bisa saja terjadi apalagi sehabis melepas KB dia dan Kevin terus melakukan hubungan suami istri itu berkali kali.
Raut wajah Sarah seketika berubah cerah, kalau memang dia hamil maka itu adalah hal baik karna dia akan punya senjata untuk memaksa Kevin menikahinya.
"Aku harus segera ke bidan dan memastikannya!" Ucap Sarah sambil tersenyum riang.
Dirumah sakit
Diandra terbangun saat suster sedang membuka tirai kamar rumah sakit, cahaya matahari pagi menyambutnya seketika.
Matanya menyapu ke sekeliling ruangan namun dia tak melihat siapapun disana.
"Sus, apa ada pria yang menunggui saya semalam?" Tanya Diandra, Susterpun menghampiri Diandra dan mengecek tensi darahnya.
__ADS_1
"Ouh ada bu, beliau tidur diluar kamar, padahal saya sudah suruh masuk ke dalam tapi dari semalam dia memilih untuk tidur di bangku depan.."Jawaban suster membuat Diandra kecewa.
Apa sebegitu ingin menjaga jaraknya kah Ansel dengan dirinya? Padahal didalam kamar ada sofa panjang untuk Ansel tidur disana. Tapi dia malah memilih tidur diluar kamar seolah sengaja menghindar untuk dekat dekat dengannya.
"Apa ibu mau saya panggil bapak itu kesini?" Tanya suster ketika dia sudah selesai memeriksa Diandra.
Diandra mengangguk pelan.
Tak lama setelah suster pergi Ansel pun masuk ke dalam kamar.
"Bagaimana kondisimu?" Tanya Ansel. Wajahnya yang tampan itu masih sama seperti dulu, selalu bisa membuatnya tergila gila. Diandra tersenyum lembut.
"Aku sudah lebih baik, kenapa kamu tidak tidur di sofa saja Sel? disini lebih nyaman."Tanya Diandra sambil menatap mata Ansel.
"Tidak, kita bukan suami istri Di. Aku disini hanya malam ini saja, aku sudah menyewa seorang suster khusus untuk melayani mu selama dirumah sakit. Aku akan pulang setelah ini.."
Ansel hendak keluar namun Diandra menahannya.
"Tunggu Sel!" Cegah Diandra dengan raut wajah sedih.
Ansel menoleh kebelakang, dilihatnya Diandra sedang berusaha untuk duduk disandaran ranjang.
"Kau sedang apa? dokter bilang kau jangan banyak gerak dulu, istirahatlah, sebentar lagi akan ada suster yang kesini.." Ansel berbalik dan membetulkan posisi Diandra agar wanita itu segera berbaring kembali.
"Sel.." Diandra berusaha meraih tangan Ansel namun Ansel menjauhkan tangannya.
"Apa kau membenciku?" Pertanyaan Diandra membuat Ansel terdiam. Jujur dia tidak tahu harus menjawab apa.
"Aku minta maaf Sel, aku benar benar dihantui rasa bersalah karna telah pergi meninggalkanmu dulu, tapi kamu harus tau Sel, gak pernah mudah bagi aku jauh dari kamu selama ini.." Dua bola mata Diandra mulai mengeluarkan cairan bening, Diandra terisak pelan.
Ansel masih diam mematung ditempatnya. Tak dapat dipungkiri, baik dia dan Diandra sudah mengalami masa masa paling sulit selama tahun-tahun kemarin. Ansel sedikit paham posisi Diandra saat ini. Pasti tidak mudah bagi wanita ini melewati segalanya.
"Aku berharap masih ada sedikit perasaan yang kau tinggalkan untukku.." Diandra menatap Ansel dengan raut wajah yang terlihat putus asa.
"Maaf.." Hanya kata itu yang mampu Ansel keluarkan dari mulutnya saat itu.
Di tempat kerja Zio.
Zio melirik ponselnya yang bergetar diatas meja kerjanya. Dia terlihat sedang sibuk menandatangi berkas berkas yang tebalnya hampir 5 senti itu.
"Hallo ada berita apa?" Sahut Zio, tangan kirinya memegang ponsel, sementara tangan kanannya tetap sibuk mencorat coret berkas.
"Pak, kami sudah menemukan para preman suruhan Kevin, kami masih di batam pak, ada sedikit masalah disini.."
Zio tersentak kaget. Perhatiannya seketika langsung teralihkan, tangannya yang sedari tadi sibuk dengan pulpennya mendadak diam.
"Serius? kalian sudah menemukan mereka?" Tanya Zio mencoba meyakinkan pendengarannya tidak salah tangkap.
__ADS_1
"Iya pak, kami mungkin akan pulang besok pak, kami akan selesaikan sedikit masalah dulu disini.."
Mulut Zio ternganga, Zio tak percaya, akhirnya usahanya membuahkan hasil, dia tampak sangat bahagia mendengar berita baik ini, Ansel harus segera diberitahu!
"Baik, ingat! jangan biarkan mereka lolos, bawa mereka kesini besok!" Perintah Zio sambil menutup telponnya.
Zio hendak menghubungi Ansel namun tidak jadi, dia berencana untuk main kerumah Ansel saja dan memberitahunya secara langsung.
Bella termenung dikamarnya, Dia memperhatikan bingkai foto pernikahannya dengan Ansel. Ironis sekali takdirnya saat itu, Ansel menikahinya hanya untuk balas dendam namun mereka malah saling jatuh cinta satu sama lain.
Takdir memang terkadang susah di tebak, dia pikir setelah perselisihan besar itu rumah tangganya dengan Ansel akan dipenuhi kebahagiaan, tapi ternyata masih banyak ujian lain yang menerpanya.
Bella teringat tespek yang yang dia simpan di tasnya, Bella melangkah ke meja riasnya dan mengeluarkan tespek itu.
Lama dia menatap tespek itu, Bella menarik nafas panjang, jujur dia sangat gugup dengan hasilnya nanti. Akhirnya Bella pergi ke kamar mandi dan memberanikan diri memakai alat pendeteksi kehamilan itu.
Setelah urine Bella diletakan di gelas kecil, Bella perlahan memasukkan ujung tespek itu kedalam gelas.
Bella menahan nafas memperhatikan perubahan pada garis yang terletak ditengah tengah gagang tespek dan beberapa detik kemudian matanya membulat sempurna saat garis itu mulai berubah.
Tespek itu kini menunjukkan dua garis merah dengan sangat jelas.
"Hah?" Mulut Bella terbuka lebar, dia benar benar syok melihat hasilnya.
"positif?" Bella menatap tak percaya sambil memegangi tespek dengan tangan yang bergetar. Wajahnya seketika berubah bahagia, masalah yang selama ini menimpanya mendadak sirna begitu saja.
Bella menatap haru dirinya di cermin sambil meraba perutnya sendiri.
"Nak.. kamu bener ada disini?" Bella menangis bahagia. Dia tak percaya jika sekarang dia tengah mengandung buah cintanya dengan Ansel, sekarang sebuah nyawa tengah di titipkan di rahimnya, perasaannya bergejolak, rasa bahagianya benar benar tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Bella pun tak sabar ingin memberitahukan kabar bahagia itu kepada Ansel, dia berencana memberitahukannya dengan memberikannya sebuah kejutan.
Waktu menunjukkan pukul 11.30 wib
Bi iyam memanggil Bella dikamarnya dan menyuruhnya untuk turun, Bella terlihat senang, dia kira Ansel yang datang tapi ternyata Zio. Dari tadi Bella menunggu kepulangan Ansel dari rumah sakit namun Ansel belum mengabarinya sama sekali kapan dia kembali.
"Jadi Ansel kerumah sakit nemenin Diandra Bell?" Zio terlihat kaget.
"Iya.."
"Kok bisa sih? kenapa gak kamu cegah Bell? Diandra kan kamu tau sendiri mantannya Ansel Bell!" Zio terlihat sedikit kesal.
"Bu Diandra lagi sakit Zi, lagi pula aku percaya sama pak Ansel.."
"Jangan terlalu polos Bell, bisa aja Diandra punya niat gak baik sama hubungan kalian!"
Zio tau karakter Diandra, wanita itu sangat ambisius, sekali dia menginginkan sesuatu dia harus mendapatkannya. Zio mengenal Diandra karna mereka dulu juga teman sekampus dengan Ansel dan Renata.
__ADS_1
bersambung..