
Dirumah sakit
Tuan Hamis dan Nyonya Tania tampak berjalan dengan tergesa-gesa menuju kamar dimana tempat putrinya Citra berada.
Ansel yang sedang sibuk menelpon teman temannya Bella menoleh kaget saat orang tuanya kini telah tiba di hadapannya.
"Ansel, kenapa bisa Citra sama bayinya.." Tuan Hamis terlihat tak sanggup melanjutkan kalimatnya, Wajah tuanya kini di selimuti oleh kesedihan.
"Iya Sel, kenapa Citra bisa sampe keguguran? bagaimana keadaannya sekarang?" Nyonya Tania malah terlihat sudah menangis sambil menunggu penjelasan dari Ansel.
Ansel menghela nafas panjang.
"Ayo kita masuk pah, mah. Kita bicarakan ini di dalam.." Ajak Ansel sambil membukakan pintu untuk kedua orang tuanya.
Citra yang melihat kedatangan orang tuanya langsung bangun untuk duduk dan bersandar di ranjang, Nyonya Tania segera menghampiri Citra dan memeluknya dengan erat.
"Mah bayiku.." Citra menangis dalam pelukan mamahnya.
"Sabar ya Cit, mamah yakin kamu kuat dan bisa ngelewatin ini semua.." Nyonya Tania tak kuasa ikut menangis melihat kondisi putrinya yang begitu menyedihkan.
"Ansel kejadian sebenarnya bagaimana? coba ceritakan sama papah!" Pinta Tuan Hamis sambil menatap Ansel.
Ansel tak tahu harus mengatakan apa. Dia sendiri belum seratus persen yakin apakah tuduhan Citra benar atau tidak. Ada sedikit keraguan dalam hatinya.
"Kak Bella penyebabnya mah! aku di dorong kak Bella mah, pah! wanita itu benar benar jahat!" Ucap Citra akhirnya, tersirat nada kemarahan dari ucapannya
Tuan Hamis dan Nyonya Tania tercengang. Mulut Nyonya Tania bahkan terbuka lebar saking kagetnya.
"Bella? Di dorong gimana sih Cit? coba ceritakan semuanya secara jelas!" Pinta nyonya Tania.
"Semalam pas aku ke kamar kak Bella, tiba tiba mati lampu terus ada orang yang sengaja ngedorong aku sampe sampe perut aku ngebentur meja, dan aku yakin banget mah kak Bella pelakunya! karna cuman dia yang ada di kamar sama aku waktu itu!" Citra menangis lagi mengingat kejadian menyeramkan itu.
Nyonya Tania dan Hamis tampak semakin syok mendengar penjelasan Citra.
"Cit, tapi mamahh kurang yakin kalau Bella yang ngelakuin itu, kamu gak liat wajah orangnya kan? kenapa kamu bisa menyimpulkan Bella pelakunya?" Entah kenapa Nyonya Tania yakin kalau menantunya itu tidak bersalah. Nyonya Tania bisa merasakan kalau Bella itu gadis yang baik.
Pak Hamis setuju dengan pendapat istrinya kali ini.
"Ansel dimana Bella sekarang?" Tanya Tuan Hamis pada Ansel.
"Dia sepertinya pergi dari rumah.." Jawab Ansel sambil duduk diatas sofa lalu mengusap wajahnya dengan gusar.
__ADS_1
"Apa?" Nyonya Tania tampak kaget, dia lalu berdiri dan menghampiri Ansel.
"Kenapa dia sampai pergi? apa kau sudah membentaknya?" Tebak Nyonya Tania.
Ansel mengangguk pelan.
"Mamah kenapa sih malah ngebelain kak Bella! dia itu jahat! dia bahkan sudah menjadi penghancur hubungan aku dan Kevin dulu!" Citra berteriak dengan ekspresi berang. Dia sudah tak tahan menyimpan semua kebusukan kakak iparnya itu, sudah waktunya semua keluarga tau soal itu.
"Cukup Citra! kamu gak tau yang sebenarnya!" Kali ini Ansel tidak diam karna dia tahu dalam tuduhan kali ini Bella tidak bersalah.
"Sebenarnya ada apa sih ini?" Pak Hamis benar benar tampak bingung dan tak mengerti.
"Setelah kau pulang dari sini, aku akan membuka matamu tentang siapa suami sebenarnya Cit!" Ansel lalu pergi dari kamar itu dengan menahan emosi di dadanya.
Dia benar benar hilang arah sekarang. Di dalam hatinya dia benar benar cemas soal keberadaan Bella, dimana gadis itu sebenarnya sekarang? Ansel jadi menyesal karna sudah langsung percaya pada Citra kemarin, harusnya dia menyelidiki dulu semuanya baru mengambil kesimpulan, bodoh! memang rasa sayangnya pada adiknya selalu membuat matanya buta!
Ansel langsung menghubungi Zio dan meminta untuk bertemu di apartemennya.
"Hallo, lo dimana Zi? lo ada di apartemen gak? gue mau kesana sekarang!" Tanya Ansel saat Zio mengangkat telponnya.
"Gue lagi diluar men.. lo pasti kaget kalau tau karna gue lagi dimana." Suara Zio terdengar berbisik. Ansel mengerutkan keningnya tak mengerti.
"Emang lo dimana?"
Ansel mengerti sekarang kenapa Zio dari tadi memelankan suaranya, ternyata dia sedang mengawasi si brengsek itu diluar.
Akhirnya Ansel langsung menutup telpon itu, dia pergi ke ruang administrasi untuk menyelesaikan pembayaran biaya rumah sakit Citra.
Sorenya mereka semua pun kembali kerumah, Ansel masih pura pura seolah tidak terjadi apa apa supaya Kevin tidak curiga. Dia memutuskan untuk membongkar semua perselingkuhan itu kehadapan keluarganya malam ini juga. Tidak bisa menunggu sampai akhir pekan ini.
Ansel sudah menyiapkan semuanya bersama Zio. Sore itu setelah mengantarkan keluarganya pulang Ansel langsung ke apartemennya Zio.
"Hallo men, gue punya banyak kejutan buat lo!" Ucap Zio saat membukakan pintu apartemennya untuk Ansel.
Ansel melangkah masuk dan terperangah kaget saat melihat didepan matanya kini tengah berdiri para preman yang dulu menyekapnya di hutan.
Para pengawalnya terlihat sibuk memegangi kelima preman itu satu persatu, tubuh kelima preman itu dililit menggunakan tali besar.
"Tadi pagi para pengawal kita berhasil membawa mereka semua kesini! liat baik baik Sel, apa bener mereka orang yang waktu itu udah nyulik Bella dan nembak lo?"
Ansel mendekat, wajahnya terlihat menahan emosi yang begitu membara, di kepalkan kedua tangannya kuat kuat sementara matanya menatap tajam para preman itu satu persatu.
__ADS_1
Para preman itu terlihat sudah babak belur, mungkin terjadi perlawan ketika mereka hendak ditangkap.
Langkah Ansel berhenti tepat di depan preman yang bernama Jojo, dia ingat betul orang ini karna waktu itu hendak berbuat tidak senonoh pada Bella.
Ansel tersenyum mengerikan, Jojo menatapnya dengan wajah yang terlihat ketakutan, dia baru tau ternyata Ansel bukanlah orang biasa. Dia bahkan sanggup menyewa seluruh preman yang ada di batam untuk mengepungnya saat itu.
"Siapa yang udah nyuruh lo?"Tanpa basa basi lagi Ansel melontarkan pertanyaan itu ke Jojo sambil mencengkram dagu Jojo dengan berang.
Kilatan mata Ansel yang tajam seolah siap membunuhnya saat itu juga.
Jojo menelan ludah berat. Dia sudah terjebak dan tidak bisa mengelak lagi. Mau tak mau dia harus jujur kepada pria itu.
"Kevin! kami disuruh oleh Kevin untuk menghabisi nyawa Tuan.."
Ansel tersenyum sinis, tak ada raut kaget diwajahnya sedikitpun, tebakannya dari awal memang mengarah pada pria brengsek itu.
"Dengar! kalian harus melakukan sesuatu untukku kalau kalian mau hukuman kalian diringankan, mengerti?"
Jojo dan keempat temannya mengangguk bersamaan, mereka hanya mampu mengharap belas kasih Ansel saat ini.
"Men, ada satu lagi.." Zio menepuk pundak Ansel.
"Apa Zi?"
Zio dan Anselpun berjalan ke arah balkon apartemennya. Zio mengeluarkan ponselnya dan beberapa saat kemudian dia memutar satu rekaman.
Ansel mendengarkan rekaman itu dengan seksama.
Matanya membulat ketika rekaman itu sampai pada bagian Kevin yang sedang berbicara pada Sarah.
"Iya Sar, sebenernya semalem pas Citra ke kamar Bella, aku sengaja nyuruh orang matiin lampu rumah, terus aku masuk dan aku dorong deh Citra ke lantai dan tau tau perut dia malah kebentur meja, Citra keguguran karna itu, dan kamu tau gak hal baiknya? Bella yang sekarang disalahkan sama mereka.. aku puas banget!"
Ansel mundur beberapa langkah dan berpegangan pada dinding disebelahnya. Wajahnya terlihat tak percaya dan syok berat. Lututnya tiba-tiba terasa lemas.
Jadi ternyata bukan Bella yang sudah mendorong Citra melainkan Kevin?
Kenapa dia sangat gegabah kemarin! dia bahkan tidak mempercayai ucapan Bella padahal Bella sudah sampai bersumpah dan memegang kedua tangannya, dia malah menyuruh Bella pergi dan mengatakan hal yang menyakitkan.
Ansel menggebrak pagar beton dihadapannya hingga tangannya terluka dan mengeluarkan darah. Dia marah, teramat marah pada dirinya sendiri!
bersambung..
__ADS_1
jangan lupa vote dan 👍 nya ya 😀