
Ditempat lain rombongan Alaska juga masih berusaha mencari jalan untuk kembali ke kamping sambil berharap bisa menemukan Bella juga.
Inyong terus berpegangan pada Toni sambil terisak ketakutan. Biasanya dalam keadaan normal mereka akan beradu bacot saat bersama, namun kali ini Toni menempatkan posisinya sebagai pelindung Inyong. Dia dengan siaga memenangkan gadis itu agar tidak terlalu gusar dan sedih.
Disaat semuanya sudah sangat kelelahan tiba-tiba Alaska melihat cahaya senter tak jauh dari tempat mereka berdiri. Raut wajahnya seketika berubah bahagia.
"Tolong hei kami ada disini!!" Teriak Alaska sambil melambaikan tangannya.
Sontak Inyong, Toni dan Tiara pun ikut berteriak dan ikut melambai ke arah cahaya yang sekarang semakin terlihat mendekat ke arah mereka. Inyong berharap itu adalah tim penyelamat.
Tak lama kemudian terlihat beberapa orang datang dan langsung menghampiri Alaska dan teman-temannya, ternyata mereka salah satu tim pencari yang dibentuk oleh panitia tadi untuk mencari mereka.
"Bagaimana keadaan kalian? apa kalian baik-baik saja?" Tanya salah satu tim pencari pada Alaska dan teman-temannya saat mereka sudah ada dihadapan Alaska.
Semua mengangguk bersamaan. Inyong dan Tiara saling berpelukan, mereka sangat senang akhirnya ada yang menemukan mereka. Tapi tiba-tiba Inyong teringat kembali pada sahabatnya Bella.
"Pak, tapi bagaimana dengan teman kami Bella? dia hilang pak saat sedang bersama kami, kami gak tahu dia dimana sekarang, tolong cari Bella juga pak" Pinta Inyong sambil menangis mengingat kejadian tadi saat Bella tiba-tiba hilang begitu saja.
"Kamu tenang ya, semua sedang bergerak untuk mencari Pak Ansel, kami akan mengkoordinasikan kepada tim pencari yang lain untuk mencari temanmu Bella.." Jawab salah seorang dari tim pencari.
"Hah, pak Ansel?" Semua tersentak kaget mendengar nama Dosennya itu.
"Iya, Pak Ansel juga hilang di hutan ini, salah satu panitia melihatnya terburu-buru memasuki hutan dan belum kembali sampai saat ini, jadi semua juga sedang berpencar untuk mencarinya, kita doakan saja semoga semuanya cepat ketemu"
Alaska langsung terperangah mendengarnya. Pak Ansel pasti nekat masuk kedalam sini untuk mencari Bella. Dia tak menyangka jika pria itu begitu peduli pada Bella.
"Sekarang lebih baik kita balik dulu ke tempat kamping, kalian pasti kelelahan dan kelaparan kan? ayok kita balik sekarang.."
"Tapi bagaimana dengan teman saya Bella pak?" Tanya Inyong cemas.
"Tenang aja nyong kan bapak ini tadi bilang kalau ada tim pencari lain yang juga lagi keliling buat nyariin Pak Ansel dan nanti bakal ada koordinasi lagi buat nyari Bella juga.." Toni mencoba membujuk Inyong agar mau kembali ke tempat kamping. Dia khawatir karna melihat Inyong yang sudah mulai terlihat pucat.
Salah satu tim pencari pun langsung menggunakan walkie talkie nya untuk memberikan informasi jika kelompok Ansel sudah ditemukan namun sayangnya Bella telah terpisah dari rombongannya.
Semua pun melanjutkan pencarian untuk menemukan Bella dan Pak Ansel.
Dua jam telah berlalu namun pencarian tak juga menemukan hasil. Inyong yang sudah sampai perkemahan pun tak bisa beristirahat dengan tenang, dia selalu kepikiran Bella, bagaimana nasib Bella sekarang? apakah dia akan baik-baik saja?
Suasana di kamping pun yang tadinya penuh dengan keceriaan langsung berubah menjadi suram, rencana jurit malam yang tadinya akan diselenggarakan tengah malam ini pun terpaksa harus dibatalkan karna insiden ini.
__ADS_1
Inyong ingin sekali memeluk Sasya dan menangis dipundaknya namun sahabatnya itu sedang tidak ada disana, Inyong diberitahukan oleh temannya jika Sasya sedang membantu tim pencari untuk menemukan keberadaan Bella.
Inyong pun tiba-tiba teringat pada Sarah, dia lalu keluar dari tendanya dan hendak menghampiri tenda Sarah. Namun langkah Inyong terhenti ketika dia melihat sesuatu yang sangat mencengangkan dibelakang tenda Sarah. Sarah sedang berpelukan dengan Kevin, mereka terlihat sangat mesra.
Sesekali Kevin berbisik ditelinga Sarah lalu Sarah membalasnya dengan mencubit hidungnya. Inyong melongo sambil membulatkan matanya.
Inyong mencoba menepuk-nepuk pipinya sendiri dan berharap jika semua yang dilihatnya itu hanyalah mimpi dan khayalannya saja.
"Aduh sakit wuy!" Ucap Inyong pelan pada dirinya sendiri. Inyong ternyata tidak sedang bermimpi. Semua yang sekarang dilihat didepan matanya adalah nyata, benar adanya!
"Gila!! Sarah sama Kevin? Mustahil!" Inyong masih tak menyangka. Sejak kapan mereka berhubungan? bagaimana bisa? bagaimana mungkin dia tega mengkhianati Bella?
Seketika pikiran Inyong dipenuhi dengan tanda tanya besar.
Dengkul Inyong tiba-tiba lemas, dia benar-benar tak menyangka jika Sarah bisa dengan santainya bermesraan dengan Kevin sementara sahabatnya Bella sekarang sedang hilang dan entah bagaimana kondisinya didalam hutan sana.
Tak terasa air mata Inyong jatuh dikedua pipinya yang gembul.
"Sayang, apa kau yakin rencana mu ini akan berhasil?" Tanya Sarah pada Kevin.
"Pasti dong sayang, buktinya sampai sekarang Pak Ansel belum kembali kan?" Jawab Kevin dengan senyum puas tersungging di bibirnya.
Inyong pun ketakutan dan berusaha melangkah mundur dengan perlahan untuk meninggalkan tenda Sarah namun kakinya tiba-tiba tak sengaja menginjak ranting yang kering sehingga menimbulkan bunyi yang membuat Sarah dan Kevin langsung menoleh kaget.
Inyong refleks menundukkan kepalanya dan mengambil langkah seribu sebelum kedua orang itu bisa melihatnya.
Sarah langsung memeriksa ke depan tendanya tapi tak ada siapa-siapa disana, hanya terlihat beberapa mahasiswa lain yang sedang mengelilingi api unggun di tengah-tengah tempat kamping.
"Siapa sayang?"
Tanya Kevin sambil menghampiri Sarah dan ikut mengecek keadaan sekitar.
Sarah mengangkat bahunya dan menggeleng pelan.
"Engga tahu, mungkin kucing sayang!"
Sementara ditempat Bella, Bella duduk disamping Ansel sambil terus memperhatikan pria itu. Sesekali dicek nya denyut nadi Ansel yang sudah sangat lemah.
Pendarahan di dadanya memang sudah berhenti namun Bella belum tenang karna Ansel sebelumnya sudah kehilangan banyak sekali darah dan belum mendapatkan penanganan sama sekali, bahkan peluru itu kini masih menancap di dadanya.
__ADS_1
Bella tersungkur dan bersandar di pohon itu bersama Ansel, sejujurnya dia juga sudah sangat kelelahan dan hampir menyerah karna merasakan sakit di sekujur tubuhnya akibat serangan para preman tadi.
Namun melihat Ansel yang tak berdaya Bella berusaha untuk kuat setidaknya sampai ada seseorang yang datang dan menyelamatkan mereka.
Perlahan Bella memejamkan matanya dan berdoa dengan khusyuk kepada Tuhan semoga ada keajaiban datang.
Tak lama kemudian doa Bella di kabulkan. Seseorang terdengar memanggil manggil namanya dengan keras.
"Bella..Bella..Bella.."
Bella kaget dan langsung membuka kedua matanya. Bella kenal betul suara itu, itu suaranya Sasya.
Bella melihat sekelilingnya dan berusaha mencari dimana arah suara itu. Tak lama terlihat cahaya senter berjalan didekatnya, namun cahaya itu tidak sedang berjalan ke arahnya. Cahaya itu malah menjauh pergi. Sontak Bella langsung mengejar cahaya itu dengan langkah yang tertatih.
"Tunggu!!! aku disini, toloooong!" Teriak Bella dengan sisa suaranya yang mulai terdengar serak.
Beberapa kali Bella terjatuh dan berusaha mengejar cahaya itu.
"Toloooong! Sya, aku disini!" Teriak Bella dengan sekuat tenaga.
Sasya langsung menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang. Ya Tuhan, dia barusan dengar suara Bella.
"Pak tunggu! barusan saya dengar suara Bella disana!"
Sasya langsung menarik lengan Zio dan menunjuk ke belakangnya.
"Ayo kita periksa Sya!" Aja Zio sambil menghampiri arah yang ditunjuk oleh Sasya. Semua tim pencari pun langsung bergerak membantu membuka jalan dari semak belukar didepan mereka.
Benar saja ucapan Sasya, Bella ada dibelakang semak-semak itu, Bella tersungkur di tanah dengan keadaan yang sangat mengenaskan.
Sasya langsung menghampiri Bella dan memeluknya dengan tangis yang pecah.
"Bella, ya Tuhan, kamu baik-baik ajakan?" Tanya Sasya sambil melihat kondisi Bella yang sudah sangat tak karuan.
"Sya, tolong Pak Ansel Sya.." pinta Bella dengan suara lemah.
"Dimana Ansel Bell?" Tanya Zio cemas.
Bella langsung menunjuk ke arah belakangnya. Zio dan Sasya pun berusaha memapah tubuh Bella untuk berjalan ke arah yang ditunjuk Bella. Mata mereka semua langsung terbelalak kaget saat melihat Ansel terduduk dengan kondisi tak sadarkan diri dan sekujur tubuhnya sudah berlumuran dengan darah. Zio langsung lemas dan segera menghampiri sahabatnya itu.
__ADS_1
bersambung..