SUAMIKU SANG DOSEN KILLER

SUAMIKU SANG DOSEN KILLER
Ansel mulai siuman


__ADS_3

Malam itu dirumah sakit Bella duduk dikursi rodanya sambil memandangi Ansel yang masih terbaring di tempat tidurnya.


Bella bisa mendengar dengan jelas detak jantung pria itu lewat monitor di samping tempat tidurnya.


Bella meraih tangan Ansel dengan perlahan dan menggenggamnya.


Tak lama Bella tertidur ditepi ranjang disamping lengan pria itu sambil tetap menggenggam tangan Ansel dengan erat.


Pagi pun datang. Hal yang diharapkan semua orang akhirnya terkabul. Ansel membuka kedua matanya perlahan. Pandangannya terlihat kabur namun lama kelamaan semuanya mulai terlihat jelas.


Dadanya masih terasa sangat sakit saat dia mencoba menggerakkan lengannya untuk memegangi kepalanya.


Sejenak Ansel bisa merasakan tangannya sedang dalam genggaman seseorang. Dia menoleh pelan ke sampingnya. Dia melihat Bella tertidur dengan menggenggam erat tangannya.


Ansel diam sambil memperhatikan Bella yang masih tertidur pulas. Perlahan Ansel mengangkat salah satu tangannya hendak mengelus rambut Bella, namun seketika urung karna dia tidak ingin membangunkan gadis itu. Bella terlihat sangat kelelahan.


Ansel tersenyum lirih, dia sangat lega karna Bella sudah baik-baik saja sekarang. Ansel kembali teringat peristiwa malam itu, saat Bella disekap dan saat dirinya tertembak oleh para pria yang menculik Bella.


"Aku berjanji tidak akan melepaskan para bajingan itu!" Ucapnya pelan sambil menatap wajah Bella.


Tak lama Bella membuka kedua matanya. Dia masih tak sadar kalau Ansel sudah siuman dari tadi. Bella mengangkat kepalanya dan menguap pelan.


namun saat pandangan matanya tak sengaja melihat ke arah Ansel. Pria dihadapannya itu tengah menatapnya dengan tersenyum kecil.


Bella buru-buru menutup mulutnya. Bella mengucek kedua matanya seolah tak percaya jika Pak Ansel telah sadar.


Bella mencubit lengannya sendiri untuk memastikan jika dia sedang tidak bermimpi.


"AW!! ternyata bukan mimpi.." Bella berdecak tak percaya sambil memastikan dengan mendekatkan wajahnya ke Pak Ansel untuk melihat apakah pria itu berkedip atau tidak.


"Dasar bodoh! kenapa kau mencubit dirimu sendiri?" Ucap Ansel sambil menarik lengan Bella lebih dekat dengannya.


Bella tersentak kaget saat wajahnya kini sudah berada tepat didepan wajah Ansel sampai-sampai hembusan nafas mereka saling beradu satu sama lain.


Bellapun langsung kembali menegakkan badannya dan duduk diatas kursi rodanya. Wajahnya benar benar terlihat sangat bahagia sekarang.


"Sejak kapan bapak bangun? mengapa bapak tidak membangunkan saya tadi?" Tanya Bella bertubi tubi saking senangnya melihat Ansel sudah siuman.


"Aku sengaja tidak membangunkanmu, aku ingin melihatmu lebih lama mendengkur.." Goda Ansel, padahal dia berbohong.


"Apa? saya mendengkur? masa sih?" Tanya Bella sambil mengingat ngingat karna setahu Bella dia selama ini tidak pernah tidur sambil mendengkur.


Ansel tersenyum kecil melihat reaksi Bella. Namun disembunyikannya senyumnya itu agar Bella tidak melihatnya.


"Bapak tunggu disini ya! Saya mau keluar memanggil Dokter untuk memeriksa keadaan bapak.."


Bella hendak menekan tombol dorong otomatis kursi rodanya namun Ansel dengan cepat mencegat tangannya.

__ADS_1


"Bella.., aku sudah lebih baik sekarang, tetaplah disampingku sebentar lagi.." Pinta Ansel sambil menggenggam tangan bella. Jantung Bella serasa mau loncat saja.


Pak Ansel menatapnya tepat di manik matanya.


"Apa ada luka serius di tubuhmu?" Tanya pak Ansel.


Bella menggeleng pelan.


"Baguslah.. karna kalau tidak aku akan menghukum para preman itu dengan sangat berat!" Dengus Ansel dengan nada tajam.


Bella terdiam sejenak, antara kaget dan juga masih tak percaya. Mengapa sikap pak Ansel begitu berubah, dia merasakan orang didepannya seperti orang yang sangat berbeda.


Namun Bella tak mau geer dulu karna Pak Ansel juga tidak mengatakan apapun soal perasaannya kepada Bella, Bella tidak mau menyimpulkan hanya karna pak Ansel mulai bersikap baik padanya.


"Pak.. yang mengalami luka berat itu bapak, saya sangat khawatir pada kondisi bapak, mengapa bapak menolong saya waktu itu? saya pikir bapak tidak ikut ke tempat kamping.."


"Bagaimana mungkin aku tidak menolongmu Bella..aku.." Ansel menggantung kalimatnya.


Seketika suasana menjadi sangat tegang. Bella bisa merasakan genggaman tangan Ansel semakin erat. kedua telapak tangan Bella jadi terasa sangat dingin. Bella seperti tercekik menunggu kelanjutan kalimat dari Ansel.


Anselpun demikian. Ketegangan terlihat jelas diwajah tampannya. Dia menatap Bella lekat-lekat. Kejadian demi kejadian sudah membuatnya menyadari satu hal penting tentang perasaannya pada Bella.


Kegelisahannya selama ini pun sudah terjawab jelas dengan adanya kejadian kemarin.


Saat dirinya ketakutan setengah mati ketika mendengar gadis itu diculik, Ansel sadar dia takut kehilangan Bella karna dia memang sudah mencintai gadis itu.


"Bella..aku mencintaimu."


Jantung Bella seakan hendak berhenti brdegup saat itu juga. Bella benar benar tak menyangka jika dia akan mendengar kalimat itu dari Pak Ansel. Pria yang selalu bilang kalau dia membenci dirinya.


Bella terdiam mematung dan masih syok tak percaya.


"Apa bapak bisa mengulanginya lagi? saya mungkin.. mungkin saya salah dengar.." Bella gelagapan sambil menatap Ansel dengan telapak yang mulai membeku saking gugupnya.


Ansel tersenyum kecil, kali ini dibiarkannya Bella melihat senyumnya itu.


Di tariknya lengan Bella dan diletakkannya tangan gadis itu di atas dadanya.


Ansel baru mau membuka mulutnya namun seorang suster tiba-tiba masuk dan terkejut melihat Ansel sudah siuman.


"Pak Ansel sudah siuman?"


Bella dan Ansel menoleh bersamaan.


"Saya akan memanggil dokter untuk memeriksa keadaan Pak Ansel ." Suster pun kembali keluar dan selang beberapa menit dia sudah kembali bersama seorang Dokter.


"Wah, ini kemajuan yang sangat bagus, Pak Ansel." Dokter takjub saat melihat pasiennya yang sudah hampir 2 minggu ini koma tiba-tiba pagi ini siuman.

__ADS_1


Dokterpun memeriksa kondisi Ansel. Lalu tersenyum ke arah Bella.


"Lihatlah Nona Bella tidak perlu khawatir lagi. Kondisi Pak Ansel sekarang sudah sangat baik. setelah ini kita pindahkan keruang perawatan biasa ya karna kondisi pak Ansel sudah mulai berangsur normal.."


Bella mengangguk dan lega mendengar perkataan dari Dokter. Syukurlah suaminya itu sudah baik-baik aja sekarang. Wajah Bella terlihat sangat bahagia dia bahkan tidak bisa menutupi kebahagiaannya dengan terus tersenyum.


Dokterpun menyuruh suster untuk memindahkan Ansel ke ruang perawatan biasa.


Saat tempat tidur Ansel di dorong keluar kamar Zio terlihat sudah menunggunya di depan pintu ruang ICU dengan wajah yang sangat bahagia bercampur tak percaya. Zio bahkan tak mampu mengeluarkan sepatah katapun saking takjubnya.


Dia sekarang percaya kekuatan doa orang-orang yang menyayangi Ansel lah yang pasti sudah memberikan keajaiban ini.


Zio membantu mendorong kursi roda Bella dan ikut mengantarkan Ansel ke kamar perawatannya.


Susterpun meninggalkan mereka bertiga dikamar setelah merapikan alat-alat medis di tubuh Ansel.


"Wihiiii men, sumpah gue seneng banget akhirnya lo sadar juga!" Ucap Zio sambil mendekat dan menepuk bahu Ansel.


Ansel tersenyum dan melirik ke arahnya.


"Lo pasti disini terus selama gue koma kan?"


Zio menggaruk kepalanya sambil mengangguk.


"Thanks ya Zi.." Ucap Ansel lirih.


"Apaan sih lo thanks thanks segala, udah jadi kewajiban gue lagi.. lagian lo harusnya lebih berterima kasih sama Bella, beberapa hari ini dia yang selalu ngotot jagain lo padahal kondisinya sendiri belum terlalu pulih.."


Zio menunjuk Bella dengan wajahnya. Bella menundukkan kepalanya sambil melirik sekilas ke arah Ansel lalu dia pura-pura memandangi ujung kakinya padahal tidak ada apa-apa disana.


Sumpah dia tak berani menatap wajah Ansel kalau ingat tadi saat pria itu menyatakan cintanya. Bella masih tak percaya! Bella masih syok berat! apa jangan jangan dia sekarang sedang bermimpi? kalau benar ini hanya mimpi, Bella harap dia tidak pernah terbangun dari mimpinya.


Ansel menatap Bella sambil tersenyum kecil. Sementara Bella terus tertunduk malu tanpa mengatakan sepatah katapun.


Zio mengangkat kedua alisnya dan menyadari tatapan Ansel yang begitu dalam pada Bella. Dia tidak pernah melihat Ansel seperti itu. Woho Ada apa ini? apa yang sudah Zio lewatkan? Zio merasakan suasana canggung diantara Ansel dan Bella. Zio berdecak dalam hatinya.


Akhirnya Zio mendorong kursi roda Bella dan mendekatkannya ke sisi ranjang Ansel. Bella mendongak kaget namun dia tak bisa berkata apa-apa. Mulutnya terasa kelu.


"Gue tinggal keluar dulu deh ya, sekalian gue mau ngabarin keluarga lo men dirumah, mereka pasti seneng ngedenger berita baik ini.." Ucap Zio sambil menepuk pundak Bella dan tersenyum kepada.


Bella melotot dan mencoba memberi kode pada Zio agar dia tetap disana saja menemaninya dan Ansel.


"Telpon disini aja Pak! kan bisa.." Ucap Bella tiba-tiba.


"Disini gak ada sinyal Bell, lagian gue gak mau jadi nyamuk.." Goda Zio diiringi tertawa pelan sambil ngeloyor pergi meninggalkan Bella dan Ansel berdua didalam kamar itu.


bersambung..

__ADS_1


__ADS_2