SUAMIKU SANG DOSEN KILLER

SUAMIKU SANG DOSEN KILLER
Diandra memanfaatkan sakitnya


__ADS_3

Ansel merogoh saku celananya dan berniat untuk mengabari Bella jika dia sekarang masih dirumah sakit.


"Ansel.."Namun tiba tiba kegiatannya terhenti ketika melihat Diandra tiba-tiba membuka kedua matanya.


Ansel mendekat namun dia tidak bersuara apapun.


Diandra menoleh ke samping dan raut wajahnya seketika berubah menjadi sangat bahagia saat tahu Ansel ternyata ada disampingnya.


"Ansel..kau disini?"


Tanyanya dengan suara yang terdengar lemah.


"Iya." Jawab Ansel singkat.


"Apakah kau yang tadi mengantarku kesini?"


Ansel hendak membuka mulutnya namun tiba-tiba ponselnya bergetar. Ansel kembali merogoh saku celananya.


Dia melihat layar ponselnya dan ternyata ada pesan masuk dari Bella.


from: Bella


'Pak, aku sudah memesan taksi online, kau tidak perlu mengkhawatirkan ku ya..'


Ansel hanya membacanya sekilas dan berniat hendak menelpon Bella langsung namun Diandra mencegahnya.


Diandra pura pura batuk dan memegangi dadanya.


Uhuk uhuk uhuk


Ansel buru buru menghampirinya dan mengambilkan segelas air yang terletak diatas meja disamping ranjang.


"Minumlah dulu Di." Pinta Ansel sambil membantu Diandra untuk duduk.


"Terima kasih Sel.." Diandra meneriam air itu lalu meneguknya perlahan sambil melirik ke arah Ansel.


Diandra senang karna ternyata Ansel masih peduli kepadanya. Dia akan berusaha mencari cara agar Ansel tidak pulang cepat kerumahnya.


"Sorry Di, apakah ada nomor orang tuamu yang bisa aku hubungi?"


Diandra menggeleng pelan.


"Orang tuaku tidak ada di indonesia Sel. Mereka masih di luar negri, mereka tidak ikut kesini ketika aku kembali karna mereka sebenarnya ingin aku tetap melanjutkan pengobatan disana. Tapi aku tidak bisa tinggal disana terus. Aku kembali kesini karna aku bener bener ingin ketemu sama kamu Sel, aku ingin menjelaskan semua kesalahpahaman kita dulu.." Suara Diandra tampak bergetar.


Ansel hanya diam mendengarkan tanpa berkata apa apa.


"Katakan sesuatu Sel.." Diandra mencoba memegang salah satu tangan Ansel tapi Ansel malah bergerak mundur dan menjauh.

__ADS_1


"Aku tau aku salah, aku meninggalkanmu begitu saja tanpa memberitahukan yang sebenarnya, aku hanya takut Sel kau akan sedih dan aku tidak bisa melihat orang yang paling aku sayang terpuruk nantinya karna tahu kondisiku.." Tangis Diandra akhirnya pecah, selama bertahun tahun dia tahan semua rasa rindunya untuk tidak bertemu dengan pria ini, tapi setelah kembali ternyata semuanya malah telah berubah.


Ansel memalingkan wajahnya, dia mencoba menahan gejolak emosi didadanya, sejujurnya dia tidak seratus persen menyalahkan Diandra, dia tahu jika maksud Diandra mungkin baik karna tidak ingin dia sedih, tapi tetap saja caranya salah.


Menghilang tanpa kabar adalah salah satu kesalahan fatal yang justru membuat dia kini telah kehilangan rasa pada wanita ini.


"Aku tahu aku salah Sel, tapi kenapa? kenapa secepat itu kamu gantiin posisi aku sama orang lain?" Pekik Diandra sambil menatap Ansel dengan wajah yang nyaris putus asa. Pria itu tetap tak mau menatapnya.


Rasanya dia ingin sekali Ansel memeluknya disaat paling berat dalam hidupnya seperti saat ini, tapi pria ini malah tidak merespon ucapannya.


Akhirnya Diandra nekat membuka selang infus dan kabel yang menempel di sekujur tubuhnya, setelah itu barulah Ansel menoleh dan mencoba menahannya.


"Apa yang kau lakukan? apa kau gila!" Ansel mencoba menyadarkan Diandra yang kelihatan histeris.


"Iya aku gila! aku bisa gila karna kamu terus mengacuhkan ku!" Diandra menangis terisak sambil memukul mukul tubuhnya sendiri.


"Aku bilang BERHENTI!" Perintah Ansel sambil memegang kedua pergelangan tangan wanita itu, barulah setelah itu Diandra diam sambil menatap Ansel dengan wajahnya yang terlihat sangat sendu.


Ansel menarik napas panjang. Dia tak bisa lagi menahan emosinya.


"Sudahlah, kita lupakan yang telah berlalu, aku sudah memaafkan mu Di, aku memang sangat kecewa, tapi kita tidak bisa merubah yang sudah terjadi."


Diandra langsung memeluk Ansel tiba tiba. Ansel hendak melepaskan namun Diandra menahannya dengan kencang.


"Maafkan aku Sel, bisa kah kau berikan aku kesempatan sekali lagi?" Tanya Diandra disela tangisnya.


"Maafkan aku Di, aku tidak bisa.." Ansel bergerak mundur, wajahnya mulai melunak tapi dia tetap tak mau menatap mata Diandra.


Akhirnya Ansel memutuskan untuk menyuruh satu suster untuk menemani Diandra, karna dia takut jika Diandra akan berbuat nekat seperti tadi.


Sementara itu didalam taksi online Bella terus melihat ke layar ponselnya, Ansel tak membalas pesan yang dia kirim tadi. Ada sedikit kecewa di hatinya, tapi Bella tau mungkin Ansel sedang sibuk mengurus sesuatu dirumah sakit untuk keperluan Diandra.


Bella mengelus perutnya, dia menyuruh sopir berhenti didepan sebuah apotik.


Bella masuk ke dalam apotik dengan ragu.


"Ibu mau beli apa?" Tanya penjaga apotik itu ketika Bella telah sampai di depan etalase obat.


"Hmm itu mba.. saya mau beli tes-pek." Jawab Bella ragu.


Penjaga apotik pun mengangguk dan langsung memberikan Bella sebuah alat tespek yang masih tersegel.


Bella membayarnya dan kemudian langsung bergegas keluar apotik.


Sementara itu dirumah kediaman keluarga Hamis Wijaya.


Citra dan Kevin sedang minum teh dibalkon kamarnya. Citra menatap Kevin yang terlihat sibuk memainkan hpnya.

__ADS_1


"Kamu lagi apa sih kev? serius banget?"


Tanya Citra sambil menyeruput teh hangat di tangannya.


"Ini loh sayang, aku lagi liat chat sama temen aku, katanya tadi bu Diandra masuk rumah sakit lagi, dan kamu tau gak siapa yang bawa dia kerumah sakit?"


"Siapa?"Tanya Citra penasaran.


"Kakak kamu sayang, kak Ansel!"


"Hah?" Citra membulatkan kedua matanya. Hampir saja teh yang baru diteguknya meluncur keluar dari mulutnya.


"Kok bisa?"Tanya Citra lagi.


"Iya mungkin kak Ansel masih ada rasa kali sayang sama bu Diandra, kita kan gak pernah tau ya kan?" Kevin mulai mengompori Citra.


"Mereka memang sangat tak terpisahkan dulu.." Citra mengenang kebersamaan Kakaknya dan Diandra dulu, dia adalah salah satu saksi perjalanan cinta mereka sampai akhirnya Diandra pergi meninggalkan kakaknya begitu saja.


"Nah makanya itu sayang, sebenernya ini gak adil loh buat bu Diandra, dia dulu pergi karna gak mau bikin kakak kamu sedih kan? tapi saat dia kembali kak Ansel malah sudah menikah lagi dengan Bella.. kalau aku jadi dia aku sih bener bener gak bakal bisa hidup lagi.."


Citra terdiam, dia mulai termakan omongannya Kevin. Benar kata Kevin, siapapun yang ada di posisi Diandra pasti akan sulit melewati segalanya.


"Aku kasihan sama kak Diandra.." Ucap Citra pelan dengan raut wajah yabg terlihat prihatin.


Kevin tersenyum simpul. Akhirnya kata katanya berhasil memanipulasi pikiran Citra.


"Makanya sayang kenapa gak kamu bantu aja bu Diandra.."


Citra menoleh tak mengerti.


"Maksud kamu?"


"Iya bantu kak Diandra buat deket lagi sama kak Ansel, setidaknya di sisa hidupnya dia bisa merasakan cintanya lagi, karna ku dengar hidupnya tak akan lama lagi.." Suara Kevin dibuat sedramatis mungkin agar Citra tambah yakin dengan bualannya.


Citra tampak syok mendengarnya. Apa sudah separah itu penyakit bu Diandra?


"Aku harus apa? sedangkan ada kak Bella diantara mereka kan?"


"Kau buat jurang saja diantara Bella dan Ansel, lagi pula Bella kan tidak pernah tulus pada kak Ansel.. Yang benar benar mencintai kak Ansel itu bu Diandra Cit."


Citra tampak termenung mendengar ucapan Kevin.


"Caranya?" Citra memang buta, lagi lagi dia termakan perangkap yang dibuat suaminya sendiri.


"Kakakmu sangat menyayangimu sayang, dia selalu percaya semua ucapan mu, dengar, kau bisa membuat konflik dulu diantara Kak Ansel dan Kak Bella, nah urusan kak Diandra biar aku yang bantuin, gimana?" Kevin meraih tangan Citra dan menciumnya dengan mesra.


Citra tampak menimbang nimbang, sebenarnya hati kecilnya masih ragu, tapi karna Kevin terus memojokkannya dan lagi dia juga sudah mulai membenci Bella karna dia menganggap Bella adalah pelakor di hubungannya dulu akhirnya Citra pun setuju untuk membuat jurang diantara Ansel dan kakak iparnya itu.

__ADS_1


bersambung.


__ADS_2