SUAMIKU SANG DOSEN KILLER

SUAMIKU SANG DOSEN KILLER
Sandiwara Diandra


__ADS_3

Semua yang ada dimeja makan itu kaget melihat Diandra yang tiba tiba saja pingsan. Untung saja Ansel bisa menangkap tubuhnya tepat waktu sebelum wanita itu jatuh ke atas lantai.


"Kak, bawa ke kamar tamu aja, Bi iyam cepet bukain kamar tamu!" Citra menatap Bi Iyam dan Bi Iyam segera pergi ke arah ruang depan tempat kamar tamu berada.


Anselpun membopong tubuh Diandra dan meletakkannya diatas ranjang, Bella menatap Diandra dengan khawatir.


"Apa sebaiknya kita telpon dokter saja?" Bella mengusulkan, Ansel setuju dia kemudian menyuruh Citra menelpon dokter untuk datang kerumah.


"Cit, kau telpon dokter langganan kita dan suruh datang kemari untuk memeriksa kondisinya."


Citra mengangguk dan buru buru menelpon nomor sang dokter, setelah itu Ansel pun pergi keluar kamar.


"Kakak mau kemana?"Tanya Citra.


"Aku akan kembali ke kamarku."


Ucap Ansel lalu meneruskan langkahnya tanpa menoleh kembali.


Citra terlihat sangat kesal, harusnya Ansel tetap disini menemani Diandra, itu yang Citra dan Diandra sedang rencanakan karna sesungguhnya Diandra saat ini hanya pura-pura pingsan saja.


"Cit, biar kak Bella yang nemenin bu Diandra disini." Bella akhirnya menawarkan diri.


"Tidak usah kak, biar aku saja, kakak susul saja kak Ansel."


Bella akhirnya keluar kamar dan meninggalkan Diandra dan Citra dikamar berdua saja.


Saat Citra yakin mereka sudah aman, Citra pun membangunkan Diandra.


"Bu, aman.." Bisik Citra, dia mendekat ke sisi ranjang.


Diandra langsung membuka matanya.


"Ansel kemana Cit, kok bukan dia yang nungguin kakak?"


"Tau tuh kak Ansel sok cuek banget! tapi kakak tenang aja nanti aku bakal usaha lagi biar dia deket sama kakak!" Ucap Citra meyakinkan Diandra.


Diandra mengangguk pasrah, terserah apa kata Citra sajalah yang penting dia bisa dekat lagi dengan Ansel, dia rela meski harus memanfaatkan sakitnya ini.


"Aku tadi sudah nelpon dokter tapi bukan dokter keluarga yang biasa karna dokter keluarga gak bisa aku sogok kak, makanya aku nelpon dokter lain yang nanti bakal kesini dan meriksa kakak, dia aku suruh buat bilang kak Diandra tuh kondisinya lagi melemah dan harus istirahat total jadi aku punya alesan buat bilang ke ka Ansel untuk ngijinin ka Diandra nginep disini.."


Diandra tampak senang mendengar rencana Citra. Dia tak menyangka Citra sampai memikirkan semuanya sedetail itu.


Selang beberapa menit dokterpun datang, Ansel dan Bella kembali turun untuk mengecek kondisi Diandra.


"Kondisi bu Diandra sedang menurun pak, saya rasa dia lebih baik istirahat total dirumahnya, harus ada orang yang menjaganya selama beberapa hari kedepan.." Ucap Dokter pada Ansel saat dia telah selesai memeriksa kondisi Diandra.


"Tapi kak Diandra tinggal sendiri dirumahnya, begini saja deh, kak Ansel.. bagaimana kalau kakak ijinkan kak Diandra menginap disini saja sementara waktu? disini kan banyak orang, kita bisa ngerawat kak Diandra sama samakan? gimana kak?"


Ansel menggeleng cepat.

__ADS_1


"Tidak Citra, lebih baik dia dirawat dirumah sakit saja, aku akan menyewakan satu perawat untuknya, itu lebih baik dari pada dia harus tinggal disini."


"Tapi kak.." Citra hendak protes namun Ansel buru buru memotong ucapannya.


"Tidak ada tapi-tapi Cit, kali ini kakak gak setuju dengan usul kamu." Ansel menatap Bella yang terlihat diam saja sejak tadi, dia memikirkan perasaan Bella kalau sampai Diandra menginap disini, Bella mungkin tidak akan bicara apa apa tapi dia tahu betul perasaan Bella akan terluka karenanya.


Ansel menggandeng Bella dan menyuruh bodyguardnya untuk mengantarkan Diandra pulang setelah dia siuman.


"Aku akan kembali ke kamarku, Citra lebih baik kau juga istirahat, aku akan menyuruh para pengawal untuk menjaga Diandra sampai dia sadar." Ansel menoleh sesaat ke arah Citra sebelum dia melangkah dari kamar itu.


"Kakak jahat! kak Diandra sudah tidak punya siapa siapa lagi tahu disini selain kakak!" Ucapan Citra itu menghentikan langkah Ansel.


Bella melirik Ansel yang terlihat menahan emosi. Mengapa Bella merasa Citra sepertinya sedang berusaha mendekatkan kembali Ansel dan Diandra, atau mungkin itu hanya perasaannya saja?


"Cit, aku tidak ingin berdebat lagi soal ini, aku tidak mengijinkan orang luar menginap disini seenaknya, kau paham?"Ansel sedikit meninggikan suaranya.


Citra terlihat menahan jengkel. Akhirnya dia hanya pasrah melihat Ansel dan Bella pergi kembali ke kamarnya.


Sesampainya dikamar Ansel langsung mengunci pintu dan duduk dipinggir kasur.


Bella ragu untuk mendekat, dia berpikir Ansel mungkin masih marah padanya soal kejadian Citra jatuh itu.


"Kenapa diam saja? Kemarilah!" Ansel meraih pinggang Bella dan memangku gadis itu.


Bella kaget dan langsung menoleh.


"Aku tidak marah, aku hanya sedikit kesal karna kecerobohan mu bisa membahayakan Citra dan bayinya Bell.." Jawab Ansel dengan nada lembut tapi tandas.


Bella menahan gondok, ternyata Ansel memang tidak percaya pada dirinya, padahal dia sudah menjelaskan kalau dia tidak pernah merasa menumpahkan minyak ke lantai.


"Apa kau sakit? kau tampak pucat?" Ansel memegangi kening Bella dan memajukan wajahnya, nafasnya yang hangat menerpa leher Bella, namun suhu tubuh Bella terasa normal saat dia sentuh.


"Tidak pak, aku cuman sedikit kecapean aja kayaknya, tugas kampus lagi banyak dan aku cuman butuh istirahat saja nanti juga mendingan lagi." Ucap Bella seraya mencoba berdiri namun Ansel lagi lagi menahannya.


Ansel tersenyum lembut, sepasang matanya memeluk wajah cantik yang ada dihadapannya.


Kali ini Bella tidak ingin balik menatapnya, dia masih jengkel kepada Ansel. Dia sedang ogah melayani Ansel, meskipun laki laki itu meminta dengan lembut dia tidak akan memberikannya kali ini.


Ansel menahan tawa melihat ekspresi kecut diwajah Bella.


"Maafkan aku, aku tau aku sudah membentak mu kemarin.."


"Aku sudah memaafkan mu pak." Jawab Bella belagak cuek.


Tangan Ansel menggelayut manja di kedua paha Bella, gadis itu dipangku lalu dimiringkan ke hadapannya, Bella mau tak mau saling beradu pandang dengannya.


Ansel menatap manik matanya dengan lembut, Jantung Bella berdegup kencang, dia kesal pada dirinya sendiri karna kelemahannya adalah tak bisa tak melihat tatapan mata Ansel yang membuatnya cepat luluh.


Ansel mengusap pipi Bella dengan lembut, Bella tanpa sadar memejamkan matanya saat Ansel memajukan wajahnya.

__ADS_1


namun tiba tiba...


Tok tok tok


Ansel dan Bella menoleh bersamaan ke arah pintu.


"Siapa?" Tanya Bella sambil berdiri dan mendekat ke arah pintu. Ansel terlihat terganggu dengan ketukan itu.


"Ini bi Iyam non, maaf non itu Non Diandra lagi teriak teriak dibawah non, Non Citra nyuruh bi Iyam manggil Den Ansel ke bawah.." Bi Iyam tampak sudah berdiri di depan pintu sambil memegang kemoceng ditangannya, sepertinya dia berlari dari bawah karna nafasnya terlihat ngos-ngosan.


Ansel langsung menghampiri pintu.


"Teriak kenapa bi?"


"Anu loh den, mending den Ansel langsung liat aja kebawah.."


Akhirnya Ansel dan Bella pun langsung turun lagi kebawah untuk mengecek keadaan Diandra.


Ansel dan Bella terbelalak ketika melihat Diandra sedang meringis kesakitan sambil memegangi perutnya.


"Aaahhh sakit!"


"Ada apa ini?" Tanya Ansel sambil menghampiri ranjang.


Diandra tampak mengaduh sambil mencengkram seprei dengan kuat. Wajahnya terlihat menahan sakit yang luar biasa.


"Aku gak tau kak, tadi tiba tiba aja dia udah teriak kesakitan kaya gini.." Citra menatap khawatir pada wanita itu.


"Pak, lebih baik bawa bu Diandra kembali kerumah sakit sekarang.." Usul Bella, dia tidak tega melihat Diandra terus berteriak histeris.


"Aku akan menyuruh pengawal mengantar dia ke rumah sakit.." Ansel hendak memanggil pengawal didepan kamar namun Citra mencegahnya.


"Kak, kali ini please kakak aja yang nganterin kak Diandra ke rumah sakit, please kak! dia gak punya siapa siapa selain kita.." Citra memelas sambil memegangi tangan Ansel.


Ansel menghembuskan nafas berat, raut wajahnya terlihat bingung.


"Aku gak apa-apa kok pak.." Bella mendekat ke arah Ansel sambil tersenyum lirih, sebenarnya hati Bella sakit jika melihat Ansel ada didekat Diandra. Tapi lagi lagi karna alasan kemanusiaan dia tidak bisa belagak tidak peduli.


Ansel pun akhirnya menggendong Diandra dan mengantarkannya kerumah sakit terdekat. Disepanjang perjalanan menuju rumah sakit Diandra memanfaatkan kesempatan untuk bersandar di bahu Ansel dan pura pura kesakitan hingga Ansel tak bisa menolaknya.


Sesampainya diruma sakit, Diandra langsung dilarikan ke IGD untuk mendapatkan perawatan pertama.


Selang beberapa lama dokterpun terlihat keluar dari ruangan itu dan langsung menghampiri Ansel yang sedang menunggu didepan.


"Pak Ansel, dengan berat hati kami menyampaikan kondisi bu Diandra semakin melemah setiap harinya, mungkin waktunya tidak akan lama lagi pak.. kami berharap beliau terus dipantau keadaannya, jangan biarkan dia stres dan untuk sementara ini beliau harus menginap disini malam ini.." Ucap Dokter dengan wajah yang terlihat prihatin.


Ansel mengangguk pelan, tiba tiba lututnya lemas mendengar ucapan dokter tadi. 'tidak lama lagi' itu kalimat yang begitu menakutkan untuk di dengar.


Ansel mengusap wajahnya, pikirannya tiba tiba kalut, dia harus apa? Walau bukan lagi sebagai orang yang spesial setidaknya sebagai teman apa yang bisa dia perbuat untuk sedikit meringankan rasa sakit yang sedang dirasakan oleh Diandra?

__ADS_1


__ADS_2