SUAMIKU SANG DOSEN KILLER

SUAMIKU SANG DOSEN KILLER
Kevin bermuka dua


__ADS_3

Hai kak sebelum masuk ceritanya jangan lupa follow author ya biar gak ketinggalan updatenya.


Sepanjang acara berlangsung Ansel terus disisi Bella, mengapitnya, setia mengekor kemanapun Bella pergi. Bella sampai jengkel dibuatnya. Bahkan saat Bella ingin pergi ke toilet pun Ansel dengan santai menunggunya didepan pintu. Seolah Bella ini buronan yang hendak kabur dari penjara.


"Bapak kenapa ngikutin saya mulu ih! Bapak salah makan apa sih hari ini?" Hanya kata-kata itu yang akhirnya terus menerus Bella lontarkan sebagai bentuk protes karna dirinya merasa tidak bebas, merasa seperti dibelenggu.


"Berisik!" Cetus Ansel. Tanpa memperdulikan protes Bella terhadapnya. Ansel hanya ingin menjaga agar Bella dan Kevin tidak melakukan kontak apapun yang dapat membuat Citra adiknya menjadi sedih.


Bahkan saat ingin mengucapkan selamat atas pernikahan Citra dan Kevin pun tangan Ansel yang mewakilinya. Tak dibiarkannya Bella bersentuhan secuil pun dengan pria brengsek itu.


Akibatnya Kevin menjadi sangat cemburu buta namun dia tidak mampu berbuat apa-apa selain hanya melihat Bella dijaga ketat oleh suaminya dari jauh.


Seluruh tamu undangan sangat menikmati jamuan yang disuguhkan oleh keluarga besar Pak Hamis Wijaya.


Semua tamu yang hadir kebanyakan dari kalangan orang-orang elite saja, banyak para pengusaha besar yang juga ikut hadir disana. Tentu saja keadaan itu dimanfaatkan oleh orang tuanya Kevin yang notabennya adalah seorang pebisnis untuk mencari muka didepan orang-orang penting dan berharap mendapatkan kerjasama nantinya dengan salah satu dari mereka karna dia sekarang adalah bagian dari keluarga Pak Hamis Wijaya.


Pak Hamis sangat senang melihat putri tercintanya kini telah bahagia dengan suaminya. Sementara Nyonya Tania harus berpura-pura senang karna sesungguhnya dia sangat tak merestui pernikahan ini.


Kedua besannya benar-benar udik dan berasal dari kalangan rakyat jelata. Tak ada yang bisa dibanggakan dari mereka.


Pesta telah usai, seluruh tamu telah pulang begitupun dengan orang tua Kevin. Sementara Kevin akan tetap tinggal di rumah besar keluarga Wijaya bersama Citra yang kini telah menjadi istri sahnya.


Kevin membopong tubuh Citra kedalam kamarnya. Dia meletakkan gadis itu diatas tempat tidur. Citra tersipu malu, seharian ini wajahnya terus dihiasi senyum yang mengembang. Tak ada lagi alasannya untuk bersedih karna kini Kevin sudah menjadi miliknya.


"Sayang, terima kasih karna kamu mau menikah denganku.." Ucap Citra sambil menatap wajah Kevin.


"St! justru aku yang harusnya berterima kasih karna kamu mau memaafkan aku kemarin. Maaf karna waktu itu aku benar-benar syok atas berita kehamilan mu sayang, tapi sumpah aku tidak pernah bermaksud meninggalkanmu.." Kevin mengelus pipi Citra dan mengeluarkan semua kata-kata manisnya.


Citra menggeleng sambil menyentuh tangan Kevin.


"Aku ngerti kamu pasti syok! sudahlah kita lupakan saja semua itu, sekarang yang terpenting kamu aku dan bayi kita sudah bersama!"


Kevin memeluk Citra dan mencium perut gadis itu.


"Nak, ayah sekarang disini nemenin kamu sama mamah ya.." Kevin mengelus-ngelus perut Citra dengan gemas.


Mereka saling bertatapan mesra. Kevin maju lalu mencium bibir Citra. Citra memeluk erat Kevin, dia tak ingin kehilangan pria itu lagi. Padahal Citra tidak pernah tau kalau dia baru saja masuk ke kandang buaya.

__ADS_1


Sementara itu dikamar Ansel. Ansel menatap Bella yang sedang sibuk memakai skincare diwajahnya.


"Muka kamu apa gak cape ya ditempeli banyak cairan begitu?" Tanya Ansel yang sedari tadi melihat Bella begitu sibuk menepuk-nepuk pipinya setelah menuangkan beberapa tetes serum wajah ke dalam telapak tangannya.


"ngga cape kan ini kulit wajah saya! yang capek itu diri saya karna seharian ini bapak terus-terusan membuntuti saya kemanapun." Jawab Bella ketus sambil terus melanjutkan kegiatan sakral bagi seorang cewek sebelum tidur.


"Ya memang harus dibuntuti, kalau gak kamu bisa aja mengacau hari ini!" Ansel mencibir sambil membuka kemejanya dengan santai dihadapan Bella sehingga tubuhnya yang indah bisa terlihat bebas oleh gadis itu.


Kontan Bella melotot dan refleks langsung menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Lagi-lagi dia selalu melakukan hal Gila yang tak terduga! lama-lama Bella bisa mati berdiri karna ulah Ansel.


"Bapak ngapain sih?"


"Saya mau mandi, kenapa? kamu mau ikut?"


"Ih, bapak bisa kan buka bajunya dikamar mandi aja!" Bella langsung berdiri dan hendak lari keluar kamar namun tangan Ansel dengan cepat menahannya.


Bella kaget dan berusaha melepaskan diri tapi Ansel malah tersenyum mengerikan ke arahnya.


"Kenapa kamu selalu lari dari saya? apa itu rencana kamu agar saya mengira kamu ini gadis baik-baik? Saya itu tau wanita seperti apa kamu ini!"


"Apa? seperti apa? sepertinya bapak sangat mengenal saya!" Tantang Bella dengan wajah kesal.


PLAK!


Refleks Bella menampar pipi Ansel dengan keras. Matanya berkaca-kaca mendengar kalimat itu. Benar-benar keterlaluan pria ini. Tanpa mengenal siapa dirinya bisa-bisanya dia menyimpulkan seperti itu.


Ansel tersenyum kecut menerima tamparan itu dari gadis yang kini sudah tak bisa menahan tangis diwajahnya.


Ditariknya pinggang Bella hingga kini mereka semakin dekat. Ansel langsung membungkukkan badannya dan diberikannya Bella satu pagutan yang membuat Bella nyaris berteriak namun mulut Ansel terus menahannya.


PLAK!


Bella lagi-lagi mendaratkan tamparan diwajah pria tampan itu.


"Saya salut pada nyali mu, kamu wanita pertama yang berani menyentuh pipi saya dengan tanganmu itu! saya tahu itu juga hanya bagian dari sandiwara kamu saja kan! makanya setiap kali kamu mencoba melawan, saya akan menyerang kamu tanpa ampun!" Dengus Ansel sambil meluruhkan pegangan tangannya.


Ansel melenggang pergi ke kamar mandi dengan entengnya meninggalkan Bella yang kini sudah menangis sejadi-jadinya.

__ADS_1


Bella jatuh tersungkur ke lantai. Bella memeluk kedua lututnya erat. Seandainya dia punya pilihan, dia ingin sekali lari dari rumah itu. Tapi itu jelas mustahil. Bagaimanapun dia sudah terikat dengan pria itu. Bella mengusap air matanya. Kali ini dia tidak akan diam saja. Dia akan berontak atau kalau perlu dia siap menabuh genderang perang dengan Ansel.


Dia akan lebih tegas menolak bahkan kalau perlu dia akan latihan bela diri agar Ansel tak berani macam-macam lagi padanya. Bella mendesis geram. Lihat saja apa yang bisa Bella lakukan untuk membela dirinya sendiri!


Besoknya pukul 07.30 wib dirumah kediaman keluarga besar Hamis Wijaya


Tuan Hamis menyuruh semuanya untuk menyempatkan diri sarapan bersama pagi itu. Karna ini hari pertama bagi menantu laki-lakinya Kevin, jadi dia ingin memberikan semacam penyambutan khusus.


Jelas saja Nyonya Tania tak sudi melakukan perintah suaminya kali ini yang dianggapnya terlalu berlebihan. Nyonya Tania bahkan rela berbohong dan pergi lebih pagi ke Kantornya dengan alasan dia ada meeting dadakan.


Ansel juga sebenarnya tidak ingin sarapan semeja dengan pria brengsek itu. Namun demi membahagiakan adiknya Citra, Ansel terpaksa mengikuti saran ayahnya.


Ansel turun duluan menuju ruang makan. Sementara Bella baru keluar saat semua sudah berkumpul disana. Hidangan mewah sudah tersaji berderet di atas meja panjang. Bella ternganga melihat semua itu. Gila! ini sih sama kaya prasmanan kalau dikampung nya. Makin besar kepala aja tuh si Kevin! batin Bella.


"Mari kita makan sama-sama." Pak Hamis tersenyum bahagia melihat semuanya bisa berkumpul bersama walaupun minus istrinya. Apalagi melihat Citra yang kini selalu terpancar aura bahagianya sejak menikah kemarin.


"Pah, makasih ya udah mewujudkan impian aku.." Citra tersenyum dan memegang tangan Tuan Hamis.


"Sama-sama nak, sekarang yang terpenting kamu jaga kehamilan kamu, dan Kevin papah minta kamu penuhi semua kemauan Citra, papah juga mau minta kamu untuk ikut bekerja disalah satu perusahaan milik papah. Kamu bisa kan?"


"Tapi, sayakan masih kuliah pah?" Kevin kaget namun di dalam hatinya sangat senang mendengat tawaran itu.


"Tenang saja kamu bisa kerja part time saja tidak perlu full time. Sama seperti Bella, dia juga membagi waktu untuk kuliah dan bekerja, iya kan Bell?"


Sontak Bella mengangguk. Ansel mengepalkan kedua tangannya.


"Mempekerjakan orang yang tidak berpengalaman sama sekali buka ide yang bagus pah." Ansel akhirnya tak tahan untuk membuka suaranya.


"Iya tapikan Kevin bisa belajar kak, kaka kok kaya gak setuju sih?" Tanya Citra yang membuat Ansel tak bisa menjawabnya.


"Iya betul Ansel, kan Kevin bisa belajar, gak apa-apa selow aja lagian diakan suami adikmu, dia sudah punya tanggung jawab kepada Citra dan Bayinya.."


"Dia akan papah taruh di perusahaan yang mana?" Tanya Ansel kemudian.


"Begini saja, bagaimana kalau Kevin yang mengelola Klub Flower kita, kamu papah jadikan manager disana ya!"


"HAH?" Sontak Bella dan Ansel membulatkan matanya bersamaan mendengar perkataan Tuan Hamis itu.

__ADS_1


Manager Klub Flower? berarti Kevin akan menjadi atasannya. Berarti dia akan bertemu dengan Kevin saat bekerja. Sama saja dengan melempar buaya dikandang itik. Bella kian terpojok.


bersambung..


__ADS_2