SUAMIKU SANG DOSEN KILLER

SUAMIKU SANG DOSEN KILLER
Bella mulai siuman


__ADS_3

Hari ini adalah hari kedua dirumah sakit, Bella mulai membuka kedua matanya. Sasya sengaja datang lagi ke bogor untuk menemani Bella disana.


Sasya duduk disamping ranjang Bella ketika sahabatnya itu mulai sadarkan diri. Bella melihat sekelilingnya dengan gerakan yang sangat pelan. Dia melihat Sasya sedang menatap ke arahnya dengan tatapan yang sangat bahagia karna melihat dirinya sudah siuman.


"Bella, kamu udah sadar..ini aku Sasya Bell!" Sasya memegang lengan Bella dan mengusap-ngusap kepala sahabatnya dengan raut wajah senang, syukurlah Bella sudah tidak apa-apa sekarang.


"Sya.." Ucap Bella pelan.


"Iya Bell gue disini, lu jangan banyak gerak ya, gue panggil dokter dulu buat meriksa keadaan lu, tunggu disini sebentar ya.."


Sasya langsung menghilang pergi keluar kamar untuk memanggil dokter.


Tak lama dokter datang bersama Zio dan seorang suster. Dokterpun langsung memeriksa keadaan Bella saat itu.


"Syukurlah, kondisi Bella sudah lebih baik dan tak ada luka serius yang perlu dikhawatirkan, Bella hanya butuh istirahat penuh saja untuk beberapa hari ke depan agar kondisinya bisa secepatnya pulih kembali.." Ucap dokter saat selesai memeriksa Bella.


Zio dan Sasya sangat lega mendengarnya.


"Yasudah kalau begitu saya permisi dulu ya.."


"Iya dok terima kasih banyak.." Ucap Zio.


Dokter dan susterpun kembali pergi meninggalkan ruangan Bella.


"Sya, Pak Ansel gimana?" Tanya Bella dengan raut wajah yang seketika berubah cemas.


Sasya dan Zio saling berpandangan, Sasya mendekati Bella dan mengelus lembut tangannya.


"Bell, Pak Ansel baik-baik aja, yang penting sekarang lo harus sembuh dulu ya.." Sasya mencoba memberikan senyuman ketennagan padahal dia tidak bisa menutupi kebenaran dari Bella, Bella bisa menebak dengan cepat kalau Sasya pasti sedang berbohong karna dia ingat betul kondisi terakhir dari suaminya itu.


"Jangan bohong, katakan yang sebenarnya gimana kondisi Pak Ansel Sya!" Paksa Bella sambil setengah membentak karna dia tidak mau dibohongi dalam keadaan khawatir begini.


Sasya tertunduk, Zio langsung buru-buru mendekat dan berdiri disamping ranjang Bella dengan wajah yang terlihat pasrah.


"Bella, keadaan Ansel sekarang masih belum stabil, tapi kamu tenang aja, Ansel pasti akan baik-baik aja, kamu gak usah terlalu banyak pikiran ya, yang penting sekarang kita prioritaskan kesembuhan kamu dulu Bell.."


"Belum stabil gimana Pak Zio? Tolong kalau ngasih info jangan setengah-setangah!" Sentak Bella. Bella mencoba untuk duduk namun Sasya dan Zio buru-buru mencegahnya.


"Bell, jangan banyak gerak dulu!" Ucap Sasya sambil menekan bahu Bella agar Bella tetap tiduran.


"Gue mau liat keadaannya Ansel Sya! awas jangan halangin gue!" Bella mencoba menepis lengan Sasya namun dengan bantuan Zio jelas saja Bella tidak akan bisa berkutik.

__ADS_1


"Kalian bisa minggir gak sih?!" Teriak Bella sambil mencoba memberontak.


"Bella, dengerin saya oke!" Zio menatap lurus ke Bella. Bella mendengus kesal karna dia tak juga diberitahukan kondisi sebenarnya Ansel.


"Oke saya akan kasih tau kondisi suami kamu Bella, Ansel koma Bella, keadaannya.." Zio terdiam sejenak sambil melihat mata Bella yang mulai berkaca kaca.


"Keadaannya masih kritis sampai sekarang Bell.."


Sontak Bella semakin lemas, tangisnya seketika pecah, Bella teringat kembali kejadian malam itu saat Pak Ansel tertembak tepat didepan matanya. Pria itu tertembak karna berusaha menyelamatkan dirinya dari para preman sialan itu.


"Gara-gara gue Pak Ansel harus ngalamin ini semua!" Bella mengutuk dirinya sendiri. Sasya memeluk Bella dan mencoba menenangkannya.


"Bella, denger! ini semua udah takdir, kalaupun pak Ansel tertembak karna berusaha nolongin lo, itu bukan salah lo Bell! Pak Ansel udah melakukan hal yang benar dengan menyelamatkan lo dari para preman itu, dan gue yakin Pak Ansel juga gak nyesel udah ngelakuin hal yang benar, jadi jangan nyalahin diri lo lagi ya.."


Zio mengangguk membenarkan ucapan Sasya barusan. Zio kagum pada Sasya, pemikiran gadis ini begitu bijaksana.


"Bella.. Ansel nolongin kamu karna kemauannya sendiri, jangan nyalahin diri kamu lagi ya, sekarang kita doakan saja semoga Ansel cepat melewati masa kritisnya.." Zio menepuk bahu Bella, Bella masih terus menangis memikirkan keadaan Ansel.


Rasanya dia ingin sekali bertemu Ansel dan memeluk pria itu untuk mengucapkan terima kasih karna sudah berkorban nyawa untuk menyelamatkannya.


Kejadian malam itu sudah membuat Bella sadar, sadar akan satu hal, ternyata Bella telah jatuh cinta pada Dosen Killer nya sendiri, pada suaminya yang selama ini selalu ribut dengan dirinya, yang sikap arogan dan kejamnya selalu membuatnya jengkel setengah mati tapi tanpanya hidup Bella ternyata sangat hampa dan membosankan.


"Bella.. boleh saya tanyakan sesuatu?" Tanya Zio, Bella menatap Zio dan mengangguk pelan.


"Apa kamu masih ingat wajah para penculik itu?"


Bella menggeleng.


"Waktu itu kondisinya di dalam gua sangat gelap, senter diarahkan ke wajah mereka hanya sesekali jadi saya gak terlalu ingat wajah mereka pak.."


"Apa kamu tau kenapa para preman itu menculik kamu?"


Bella menggeleng lagi mendengar pertanyaan Zio.


"Saya tidak tahu pak, tapi saya sempat mendengar jika mereka sengaja menjadikan saya pancingan agar Pak Ansel mau datang kesana dan setelah itu mereka akan dapat imbalan.."


"Imbalan?" Zio tersentak kaget.


"Iya, imbalan.. sepertinya mereka disuruh oleh seseorang untuk melukai Pak Ansel lewat saya.."


Sekarang Zio mulai paham apa yang dilihat Inyong waktu itu saat dia mendengar Kevin dan Sarah sedang menyebutkan kata 'Rencana untuk Ansel' pasti yang dimaksud mereka rencana ini, Bella sengaja diculik untuk dijadikan umpan.

__ADS_1


Zio langsung merogoh hpnya, dia menekan tombol panggilan salah satu orang suruhannya.


"Periksa gua dan sekitar lokasi kejadian didalam hutan cemara, ingat bawa apapun yang bisa menjadi barang bukti!" Ucap Zio sambil menutup telponnya.


Bella mengerutkan keningnya dengan tatapan bingung.


"Bapak sudah tau pelakunya?"


"Tidak Bella, ini belum 100%, tapi mungkin sebentar lagi kita akan tahu siapa pelakunya.." Jawab Zio dengan wajah serius.


***


Setelah Bella tenang, Zio pun kembali ke depan ruang ICU untuk melihat kondisi Ansel. Sahabatnya itu masih belum juga melewati masa kritisnya. Zio termenung didepan ruangan sambil memperhatikan tubuh Ansel dengan banyak bantuan alat-alat medis yang menempel di sekujur tubuhnya.


Tuan Hamis dan Nyonya Tania akan kembali kerumah sakit besok karna harus mengurus Citra dulu di jakarta, mereka tidak ingin Citra curiga soal kakaknya.


Tuan Hamis juga menitipkan Bella kepada Zio dan menyuruh Zio untuk mengabari keluarga Bella dikampung, namun saat Zio hendak menelpon keluarga Bella, Bella mencegahnya, dia tidak ingin ayahnya kena serangan jantung lagi karna mendengar kondisinya saat ini. Jadi biarlah mereka tidak diberitahu dulu untuk saat ini.


Dua hari berlalu sejak kejadian itu, kondisi Bella semakin membaik sementara Ansel masih diruang ICU meskipun dia sudah tidak kritis lagi tapi Ansel masih koma sampai saat ini.


Seseorang terlihat berjalan setengah berlari ke arah Zio yang sedang duduk di kantin rumah sakit.


"Pak, maaf saya sedikit terlambat.." Ucap seseorang dengan pakaian serba hitam. Zio mempersilahkan pria itu untuk duduk disampingnya.


"Bagaimana? apa kau sudah menemukan sesuatu disana?" Tanya Zio.


Pria itu mengangguk dan memberikan sebuah kotak hitam yang masih dikunci lalu meletakkannya diatas meja dihadapan Zio.


"Ini pak, silahkan bapak lihat sendiri."


Zio memandangi kotak itu dengan perasaan yang campur aduk. Perlahan Zio membuka kuncinya dan dengan menarik nafas dalam-dalam akhirnya dia memberanikan diri melihat ke dalam kotak itu.


Seketika kedua bola matanya membulat, Zio ternganga melihat benda didepannya yang sudah dibungkus dengan plastik transparan.


"Pistol ini.." Zio menatap pistol didalam kotak itu dengan tatapan tajam.


"Itu pistol yang digunakan pelaku untuk menembak Pak Ansel, kami akan segera mengirimnya ke pusat penyelidikan forensik untuk mengetahui siapa pemilik pistol ini melalui sidik jari yang menempel disana.."Ucap Pria suruhan Zio itu.


"Bagus! kamu sudah melakukan tugasmu dengan baik, jangan sampai ada yang mengetahui soal ini sampai kebenarannya terungkap!" Pinta Zio yang langsung dibalas anggukan oleh pria dihadapannya.


bersambung..

__ADS_1


__ADS_2