
Sudah hampir 30 menit Bella disana. Berusha mengetuk-ngetuk pintu kontrakan rumah Sarah. Tapi tak ada sahutan, sunyi, sepi dan lengang.
Bella pun merogoh Hp di dalam tasnya dan segera menekan nomor Sarah. Nihil! sama saja tak jawaban dari Sarah.
Bella hendak pergi meninggalkan kontrakan itu namun langkahnya terhenti ketika dia melihat sebuah mobil berhenti tepat di depan halaman kontrakan Sarah. Mata bella menyipit tajam dan seketika mulutnya ternganga. Hah? itukan mobilnya Kevin.
Belum selesai keterkejutan Bella, tiba-tiba sesosok pria turun dan segera bergegas membukakan pintu di dibagian kursi samping pengemudi. seseorang yang amat sangat Bella kenal itu membantu Sarah turun dari bangku. Seseorang itu tak lain adalah Kevin.
Kevin dan Sarah belum menyadari kehadiran Bella didepan rumah. Saat Kevin membuka pintu pagar Sarah tercekat. Jantungnya seolah berhenti berdetak. Matanya menatap lurus-lurus gadis yang kini tengah diam memperhatikannya. Sial! kenapa Bella ada disini?
"Bell, lo ada disini?" Ucap Sarah buru-buru yang membuat Kevin sontak menoleh dan mendapati Bella kini berada hanya beberapa langkah saja darinya. Kevin langsung melepaskan tangan Sarah, wajahnya berubah panik dan kaget.
"Sarah.. Kevin?" Bella mentap tajam ke arah Kevin. Mau apa si brengsek ini bersama Sarah? beberapa pertanyaan kini muncul dikepala Bella.
"Ini loh Bell, tadi gue kebetulan ketemu Kevin di klinik, gue abis berobat Bell gak enak badan makanya gue udah dua hari ini ijin gak masuk kuliah.." Ucap Sarah berbohong. Untung dia sadar pasti Bella ke kontrakannya sekarang untuk menanyakan kenapa dia tidak masuk kuliah, jadi dia bisa menjadikan itu sebagai alasan kebohongannya.
Sarah pun berusaha bersikap sebiasa mungkin supaya Bella tidak curiga. Sarah melihat Kevin dan berharap semoga pria disampingnya ini mengerti maksud dari ucapannya.
"Iya.. kan Kevin?" Sarah mencubit punggung Kevin membuat laki-laki itu tersadar seketika.
"i-iya bener Bell, tadi kita gak sengaja ketemu di klinik. Yaudah karna gue kasihan gue anterin aja dia balik, gue cabut duluan ya!" Kevin langsung berbalik dan buru-buru pergi meninggalkan tempat itu. Dia tidak ingin Bella sampai curiga dan menanyainya macam-macam jadi lebih biak dia pergi saja.
Bella berpikir sejenak namun seketika dia langsung menghampiri Sarah yang hendak tersungkur jatuh ke tanah.
"Eh, Sarah lo kenapa? ya ampun yaudah ayo kita langsung masuk ke dalem aja, ayo biar gue bantu!" Bella membantu memapah tubuh Sarah.
Sara pura-pura lemas dan memegangi keningnya.
"Aku cuman agak pusing Bell. Tapi udah gak apa-apa kok!"
__ADS_1
"Yaudah lo tiduran dulu ya, biar gue bikinin teh anget, oke!" Bella segera berlari ke dapur dan membuatkan segelas teh untuk sahabatnya. Kecurigaannya seketika sirna saat melihat Sarah sakit. Mungkin memang benar pertemuan Sarah dan Kevin tadi hanya kebetulan saja.
Bella memukul kepalanya sendiri. 'Betapa bodohnya dia, hampir saja dia curiga kepada sahabatnya sendiri'.
Sementara itu di dalam kamarnya, Sarah duduk dengan menggigit bibir bawahnya sendiri. Dia masih merasa sedikit cemas. Untung saja tadi sarah langsung kepikiran alasan membohongi Bella. Kalau tidak dia dan Kevin mungkin akan ketangkap basah oleh gadis itu. Lain kali Sarah harus lebih hati-hati lagi!
3 hari berlalu, waktu yang ditakutkan Bella pun sudah tiba, hari pernikahan Kevin dan Citra akan dilaksanakan besok dikediaman keluarga besar Wijaya, segala persiapan telah dilakukan mulai dari dekorasi nan megah bergaya fancy.
Hiasan bunga mawar serba pink dan putih yang terpajang cantik di setiap sudut ruangan. Lampu-lampu berhiaskan diamond menggantung cantik menambah kesan mewah.
Seluruh undangan sudah disebar. Banyak yang tak menyangka pada awalnya karna pernikahan Citra yang begitu mendadak. Tapi tak ada yang berani berspekulasi karna mereka takut dengan keluarga Tuan Hamis Wijaya.
Bella duduk diatas sofa kamarnya sambil melihat layar Tv namun matanya malah tak fokus sama sekali. Pikirannya melayang kemana-mana. Bella terus memikirkan Citra, Bella merasa kasihan sekali pada adik iparnya itu karna harus menikah dengan pria brengsek seperti Kevin.
Bella berharap Kevin tidak melakukan kesalahan pada Citra setelah menikah nanti seperti yang Kevin telah lakukan padanya dulu.
Bella menoleh saat pintu kamarnya terbuka. Ansel datang dengan membawa tas kerjanya. Ansel merebahkan dirinya dikasur. Wajah tampannya terlihat dangat capek dan lesu.
"Bagaimana perasaanmu?"
Tanya Pak Ansel sambil melihat ke arah Bella.
"Maksud bapak apa?"
"Iya bagaimana perasaanmu melihat orang yang kau cinta akan menikah besok pagi?"
Kontan Bella melotot sebal. Apa maksud dari perkataan suaminya. Sepertinya dia mulai ingin menuduh Bella lagi.
"Saya sudah pernah bilang sama bapak. Saya itu tidak tahu hubungan antara Kevin dan Citra! Saya juga merasa telah di bohongi oleh Kevin, terserah bapak mau percaya atau tidak! Saya tidak peduli!"
__ADS_1
Ucap Bella dengan nada sedikit ngegas. Emangnya Pak Ansel doang yang bisa merong-merong!
Ansel tersenyum kecut mendengar ucapan Bella. Punya nyali juga gadis ini menjawab perkataannya! Diapun bangkit dan membuka dasi yang melekat di kemejanya, dibukanya nya dua kancing kemeja dari atas kerah bajunya sehingga lehernya yang jenjang bisa terekspos di depan Bella.
Ansel mendekat ke arah Bella. Bella gugup dan sontak langsung melompat dari atas sofa, Bella pun mundur ke arah lemari. Ansel malah dengan sengaja menakutinya. Ditatapnya Bella dengan tajam. Semakin mendekat dan semakin mendekat sampai Bella kian terpojok ke sisi ruangan.
"Bapak mau apa hah?" Tanyanya Galak.
"Yang biasanya seorang suami mau pada istrinya.."
Jawaban Ansel membuat jantung Bella berirama tak karuan! Jangan-jangan psikopat ini mau menyerangnya lagi!
"Sa.. saya sedang halangan loh pak!" Kilahnya berharap Ansel tak nekat dan segera mengurungkan niatnya.
Sontak Ansel tertawa geli mendengar perkataan Bella. Sepertinya Balle memikirkan malam pertama waktu itu. Ternyata setakut itu Bella pada dirinya atau dia cuman sedang pura-pura sok suci saja? Penolakan Bella malah membuat Ansel semakin tertarik untuk menguji gadis itu.
"Saya bilang jangan mendekat pak! kalau tidak saya.."
"Saya apa?" Ansel dengan sengaja semakin mendekat, di bungkukkan wajahnya agar bisa setara dengan wajah Bella. Bella kontan langsung menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Ansel malah menggendong tubuh gadis itu. Bella berontak dan memukul-mukul dada Ansel. Tapi Ansel tak bergeming dan sudah jelas juga Bella tidak akan sanggup melepaskan dirinya dari dekapan Ansel yang begitu erat.
Ansel membaringkan tubuh Bella diatas kasur. Kedua tangan Bella dikunci disamping kepalanya. Ansel mendekatkan wajahnya di leher jenjang Bella. Ansel meninggalkan jejak merah disana dengan mulutnya. Jantung Bella berdegup sangat kencang. Bella berusaha sekuat tenaga melepaskan cengkraman Ansel.
"Ingat baik-baik. Kamu adalah milik saya, tanda ini akan selalu saya berikan ketika kamu mulai lupa posisi kamu!" Ansel berbisik ditelinga Bella.
Mata mereka seketika saling bertemu. Ansel memperhatikan wajah cantik dengan riasan simpel didepannya itu. Gadis ini seandainya saja tidak melakukan kesalahan kepadanya dengan cara menyakiti adiknya Citra, mungkin dia tidak harus menyakiti gadis ini dengan cara yang dia sendiri sebenarnya tidak suka.
bersambung..
__ADS_1