
Bella menggigit bibirnya sendiri, gawat! benar benar keadaannya sudah sangat gawat. Bella melihat sendiri sesuatu yang buruk pasti akan segera terjadi pada perempuan bernama Arum itu kalau dia tidak melakukan apapun untuk menolongnya.
Bella menyalahkan dirinya sendiri, kenapa tadi dia tidak membawa ponselnya. Padahal kalau saja dia membawanya dia bisa menelpon Alaska dan meminta bantuannya.
Bella celingukan ke sekitarnya, tak ada seorangpun di kebun itu kecuali dirinya.
Ketika si pria yang dipanggil Tuan itu semakin maju dan mulai menyentuh tubuh perempuan bernama Arum itu. Refleks Bella melihat sebatang bambu penyangga pohon kopi tertancap tepat dibelakangnya.
Tanpa pikir panjang Bella langsung merayap dan segera mencabut batang bambu yang kira kira seukuran lengannya itu dengan sekuat tenaga.
"LEPASIN DIA!!!" Bella berteriak keras sambil mengayunkan batang bambu itu ke arah tiga pria yang kini tengah menatap kaget ke arahnya.
Arum ikut menatap ke arahnya sambil menggeleng seolah memberi isyarat pada Bella untuk pergi dari sana.
Namun Bella tetap kukuh, dia sudah bertekad akan menyelamatkan Arum dari ketiga pria brengsek ini.
"Wah wah wah siapa gadis cantik ini?" Pria yang dipanggil Tuan itu memperhatikan Bella dari ujung kaki sampai ujung kepala Bella dengan decak kagum. Baru kali ini dia melihat wanita yang begitu cantik parasnya seperti Bella.
Bella mundur saat pria itu mendekat ke arahnya.
"Lepasin dia! kalau engga.."
"Kalau engga apa?" Potong pria itu sambil terus maju dan Bella pun terus mundur ke belakang menyeimbangkan langkah kakinya.
Bella mencoba mengayunkan batang bambu itu ke arah pria itu namun pria itu dengan gampang menghindari gerakan Bella yang mudah ditebak.
Kedua temannya yang memegangi Arum malah tertawa melihatnya. Seolah olah Bella sedang jadi bahan guyonan bosnya.
"Kau tidak akan bisa melukaiku dengan bambu ini sayang, kemari lah, aku mau saja melepaskan Arum asalkan kau mau menggantikan tempatnya.."
"Jangan macam macam ya! kalau gak, saya bakal teriak biar orang orang Dateng kesini dan nangkep kalian semua!"
Ketiga orang pria itu bukannya takut tapi malah tertawa terbahak bahak mendengarnya.
"Kau tau tidak Tuan kita Baskoro ini siapa? dia pemilik perkebunan disini, jadi gak mungkin ada orang yang berani melawannya!" Seru salah seorang pemuda yang masih memegangi Arum.
Jadi nama pria brengsek ini Baskoro.
Bella tersentak kaget ketiga Baskoro tiba tiba saja mencengkram ujung batang bambunya dengan kedua tangannya lalu menariknya dengan keras hingga Bella jatuh terjerembab ke arah Baskoro.
Baskoro tersenyum menyeringai melihat Bella kini ada dalam genggamannya.
Bella sekuat tenaga mencoba melepaskan dirinya dengan menggigit pergelangan tangan Baskoro.
"Ah! sial!" Baskoro tampak kesakitan. Dia melepaskan satu tangannya sambil mengiprat ngipratkan tangan satunya yang berhasil digigit oleh Bella tadi.
"Wanita sialan!" Geram Baskoro sambil mencoba mengejar Bella yang kini sudah kembali memungut batang bambu dan mengayunkannya ke hadapan dua orang temannya.
Arum yang melihat itu ikut membantu Bella dengan menggunakan kakinya dia menginjak kaki salah satu pria disampingnya dengan sekuat tenaga.
BRUUGGH
Pria itu berteriak keras, Bella langsung menghantam badan salah satu pria disamping Arum dengan membabi buta.
Berhasil, satu pria berhasil mundur namun tak lama Baskoro datang dan merengkuh tubuh Bella dari belakang.
"Lepas!" Bella meronta namun pria yang tadi berhasil Bella pukul kembali bangkit dengan wajah marah dia mendekati Bella dan menamparnya.
__ADS_1
Plak
Arum menangis melihat wanita yang menolongnya malah kini terpojok dihadapannya.
Baskoro menyeret Bella ke arah perkebunan dan menjatuhkan tubuh Bella diatas tanah dengan kasar. Bella merasakan nyeri yang luar biasa diperutnya.
Baskoro membungkuk sambil mencengkram dagu Bella dengan kuat.
"Jangan main main dengan baskoro!"
Bella mencoba melepaskan tangan Baskoro yang mencengkram dagunya. Dengan satu hentakan Baskoro mendorong tubuh Bella hingga Bella terbaring ditanah dengan posisi telentang.
Baskoro hendak menyentuh paha Bella namun tiba tiba sebuah tangan mencegahnya.
Baskoro menoleh kesamping, dia melihat seorang pria berbadan tinggi sudah berdiri dengan tatapan buas bak singa kelaparan.
Napasnya terlihat naik turun menahan emosi didada nya.
Bella tercengang, pria itu adalah Ansel suaminya. Ansel terlihat mencekik leher Baskoro lalu memukulnya dengan sangat kuat.
BRUUUGHHH
"Ini karna lo udah berani nyentuh istri gua bangsat!" Ansel mencengkram kerah Baskoro lalu melayangkan satu tinjuan nya lagi.
Kedua temannya langsung bergegas menghampiri Ansel dan mencoba menyerangnya.
Namun bukan Ansel namanya kalau tidak bisa menghabisi para pria itu dengan mudah.
Bak di rasuki setan, Ansel menghajar satu persatu pria itu dengan tangan kosong. Berkali kali mereka berusaha menyerang Ansel namun gagal, mata elangnya selalu bekerja dengan baik disaat genting seperti ini, apalagi jika sudah melihat Bella terluka, tak ada ampun sedikitpun!
Baskoro mengusap darah yang mengalir diujung bibirnya sambil menatap Ansel dengan wajah syok, selama ini tak ada siapapun yang berani melawannya di desa ini.
Baskoro menatap Ansel dengan geram.
"Siapa kau? kau pasti tidak tahu siapa aku? kalau kau tahu aku kau pasti akan berlutut karna sudah melakukan ini padaku!"
Ansel meringis mendengarnya.
"Memangnya siapa kau?"
Baskoro tertawa sambil mengejek.
"Aku adalah orang terkaya di desa ini, aku pemilik 50 persen perkebunan disini! kau tidak akan selamat jika berurusan denganku paham! sekarang bersujud lah jika kau mau aku memaafkan mu!"
Ansel tetap diam, dia menatap Baskoro dengan wajah dingin.
"Dengar baik baik! aku bisa membeli seluruh perkebunan disini detik ini juga! apa kau mau ku buat miskin karna kesombongan mu itu?" Ansel mendekatkan wajahnya sambil menarik kerah Baskoro.
Baskoro tampak tercengang mendengarnya.
"Aku Ansel Wijaya. Aku akan mengirim orang orang ku untuk mengambil alih seluruh perkebunan mu yang kau banggakan itu, jika kau tidak ingin itu terjadi maka segera enyah dari sini dan jangan pernah mencoba berbuat semena mena pada orang lain dan satu lagi, jangan tunjukkan wajah bangsat mu itu dihadapan ku lagi!"
Setelah mengatakan itu Ansel langsung menjatuhkan kembali tubuh baskoro dengan kasar ke atas tanah..
Baskoro kemudian bangkit dengan dibantu oleh kedua temannya yang sudah babak belur tak karuan.
Mereka bertiga segera berlari meninggalkan tempat itu dengan berjalan tertatih ke arah jalanan.
__ADS_1
Arum yang melihat para pria itu telah pergi langsung berbalik dan menghampiri Bella, Bella terlihat kesakitan sambil memegangi perutnya. Terlihat sebuah darah segar mengalir dikedua paha mulusnya.
Ansel tampak panik, dia segera menggendong tubuh Bella kedalam pelukannya.
"Tuan, lebih baik tuan segera bawa nona ini ke puskesmas.."
"Dimana puskesmasnya?" Tanya Ansel tak sabar.
"Aku akan menunjukkannya Tuan, ada di bawah perkebunan didekat pasar.."
Tanpa membuang waktu lagi Anselpun membopong tubuh Bella ke arah jalanan untuk menuju puskesmas yang dimaksud oleh Arum.
Sesampainya di Puskesmas Ansel segera membaringkan tubuh Bella ke atas ranjang. Dokter menyuruhnya menunggu diluar.
Ansel tampak sangat cemas, dia benar benar khawatir melihat keadaan Bella apalagi tadi Bella mengalami pendarahan disaat dia tengah hamil muda.
Ansel mondar mandir tak tenang didepan ruangan itu, Arum yang melihatnya jadi tak enak karna Bella terluka akibat mencoba menyelamatkannya.
"Tuan, maafkan saya, karna mencoba menyelamatkan saya istri tuan jadi terluka.."
Ansel menoleh sambil menahan napasnya.
"Tidak apa apa, pulanglah ke rumahmu, aku akan urus istriku disini, terima kasih sudah mengantarkan kami kesini.."
Setelah mengucapkan terima kasih Arum pun pergi dari tempat itu.
Selang beberapa menit seorang dokter keluar dari ruangan itu.
"Bagaimana dok kondisi istri saya?" Ansel langsung menghampiri dokter itu dengan menatap penuh harap.
Dokter tersenyum sambil menepuk pundak Ansel pelan.
"Tenang pak, untungnya kandungan ibunya tidak apa apa, kami sudah memberikan obat penguat janin agar tidak terjadi hal hal yang tidak diinginkan, kedepannya saya harap bapak bisa menjaga ibu lebih baik lagi ya.."
Ansel menghembuskan nafas lega saat mendengar penjelasan dokter itu. Wajahnya yang sedari tadi tegang perlahan melunak.
Anselpun bergegas masuk ke dalam ruangan menemui Bella.
Jantungnya perlahan berdegup sangat kencang, setelah berminggu-minggu minggu pencariannya akhirnya hari ini dia bisa bertemu lagi dengan Bella.
Ansel berjalan perlahan ke arah ranjang, Bella membuka matanya saat menyadari kehadiran Ansel. Jantungnya berdegup sama cepat. Bella dan Ansel sama sama gugup.
Ansel berdiri disamping ranjang Bella sambil menatap Bella dengan wajah yang sangat bahagia.
Sejujurnya dia ingin sekali memeluk istrinya itu, mencurahkan segala kerinduan yang selama ini dipendamnya, terlebih dia ingin sekali mengusap dan mencium perut istrinya itu.
Namun dia tahu masih ada jarak diantara mereka dan untuk itu dia harus meng clearkan semuanya dulu.
"Bella.." Ansel memanggil lirih. Bella menoleh namun berusaha menunjukkan ekpresi biasa saja.
"Maafkan aku Bella.. aku tau aku salah, kau boleh marah kepadaku, tapi jangan lari terlalu lama dariku.." Ansel mencoba menggenggam lengan Bella namun Bella dengan cepat menarik kembali tangannya.
Ansel sudah menduga, tidak akan mudah baginya untuk mendapatkan maaf dari Bella setelah apa yang sudah dia perbuat, Bella pasti sangat kecewa kepadanya.
bersambung..
mendekati ending nih reader ku sayang, huhu sedih ya..
__ADS_1
Jangan lupa vote nya ya biar yang lain bisa menikmati cerita ini juga.