SUAMIKU SANG DOSEN KILLER

SUAMIKU SANG DOSEN KILLER
Bella merasa kesepian


__ADS_3

Di desa Munduk Bali


Dari Balkon Villanya Bella sedang mengamati suasana alam yang begitu asri dan sejuk, hamparan kebun cengkeh, kopi dan kakao sejauh mata memandang membuat Bella merasa damai dan tentram.


Pagi masih sepi, suara serangga malam sudah menghilang hanya gemericik air yang berasal dari sawah di sekitar desa yang terdengar. Sesekali kicauan burung pun ikut terdengar mewarnai pagi, selebihnya kembali sepi.


Bella merasa hidupnya hampa tanpa Ansel disisinya. Sejujurnya dia hanya pura pura tegar saja selama ini padahal setiap malam dia selalu menangis menahan gejolak rasa di dalam dirinya, memikirkan akan seperti apa rumah tangganya nanti, bagaimana dia akan melewati hari hari ke depannya dalam kondisi sedang hamil tanpa suami di sisinya.


Bella melihat cincin nikah yang masih melingkar di jarinya dengan perasaan sedih. Ternyata kondisi dia tak beda jauh dengan Ansel, dia merasa separuh jiwanya pergi.


Bella mengelus perutnya dengan perasaan getir. "Nak, ibu sangat rindu pada ayahmu.." Ucap Bella lirih.


Tok tok tok


Lamunan Bella buyar saat dia mendengar pintu Villanya diketuk.


Bella berjalan ke ruang depan dan membuka pintu. Ibu Laras terlihat sudah berdiri di hadapannya sambil membawa sebuah nampan yang berisikan makanan dan buah buahan.


"Ndo, kamu pasti belum sarapan toh? ibu sengaja bawain makanan buat kamu.." Ibu Laras menyerahkan nampan itu ke tangan Bella.


"Ibu kenapa harus repot repot? aku akan memesan makanan nanti, terima kasih sebelumnya.." Bella pun mempersilahkan pemilik Villanya itu untuk masuk ke dalam.


"Ibu tidak merasa direpotkan kok Bella, kan ibu sekalian masak tadi buat bapak juga, kamu kan lagi hamil, gak baik kalau telat makan, kasihan bayimu ndo.." Ibu Laras duduk disamping Bella sambil mengelus punggung Bella dengan lembut.


Entah kenapa Bella tiba tiba sangat merindukan kehadiran ibunya. Kalau saja ada ibunya disini, dia pasti akan sangat perhatian kepadanya seperti yang dilakukan oleh Ibu Laras ini.


"Kamu tau gak Bella? anak ibu nanti malam mau balik dari jakarta, ibu seneng banget ndo, ibu kangen sekali sama dia, sejak dia pindah ke jakarta, ibu sama bapak ngerasa kesepian disini, jadi pas kamu dateng kesini ibu bahagia banget karna ibu tidak sendirian lagi.." Raut wajah ibu laras tiba tiba terlihat sangat berbinar.


Dari matanya jelas terpancar gurat kerinduan yang mendalam, dia pasti sudah dangat menantikan kepulangan anaknya


"Baguslah, berarti ibu Laras tidak akan kesepian lagi kalau dia kembali, ibu Laras pasti sangat menyayangi anak ibu itu.."


Bella tersenyum sambil menyuap makanan yang ada di tangannya.


Akhirnya seharian itu Bella ikut membantu setiap kegiatan Ibu Laras, Ibu Laras mempunyai usaha tanaman hias, Bella membantu di kebun Ibu Laras untuk mengisi waktu luang dan agar dia tidak merasa jenuh juga.


Malamnya sehabis mandi Bella hendak masuk ke kamarnya, dia membalut rambutnya yang masih basah dengan menggunakan handuk kecilnya.


Klek


Bella membuka pintu dan berjalan dengan meraba dinding untuk menyalakan lampu kamar. Namun karna gelap kakinya tanpa sengaja menyenggol ujung meja hingga hampir saja membuatnya terjatuh kalau saja seseorang tidak menangkap tubuhnya tepat waktu.


Bella merasakan tangannya tengah mencengkram sebuah lengan berotot. Jantung Bella berdegup sangat kencang, perasaannya benar benar takut sekarang, bagaimana kalau orang yang ada dihadapannya sekarang adalah maling atau mungkin pria me sum?

__ADS_1


"Hei siapa kau?" Suara itu terdengar familiar di telinga Bella, rasanya Bella sangat akrab dengan suara itu, tapi siapa?


Bella sedang berusaha mengingatnya namun sesaat lampu pun menyala dan dia kaget melihat seorang pria sudah berdiri dengan menatap ke arahnya, wajahnya kini bisa terlihat dengan jelas dibawah pantulan lampu kamar.


"Alaska!" Bella tercengang.


Alaska sedang berdiri mematung dan tak kalah kagetnya dengan Bella.


"Lo ngapain disini Bella?" Tanya Alaska sambil mendekat ke arah Bella.


"Loh aturan gue yang nanya, lo ngapain disini al?"


Keduanya saling berpandangan kaget.


"Ini Villa nyokap gue Bell, gue baru balik kesini, pantes aja lo gak keliatan di kampus kemarin-kemarin. Ternyata lo disini.."


Bella menelan ludahnya, ternyata anak ibu Laras yang tadi pagi dibicarakan itu adalah Alaska. Oh Tuhan dunia begitu sempit!


Sementara itu kediaman rumah Hamis Wijaya


"Tuan, kami sudah berhasil melacak keberadaan nona Bella lewat kartu atmnya." Ucap seorang pria berbaju serba hitam, dia datang dengan langkah tergesa-gesa, menghampiri Ansel sambil menyerahkan selembar amplop putih dengan logo sebuah bank tertempel di pojok kanan amplop.


Ansel yang sedang duduk langsung berdiri, Wajahnya yang tadi mendung mendadak berubah senang mendengar berita yang di bawa pengawalnya itu.


Ansel buru buru membuka amplop itu, matanya menyipit ketika dia membaca dengan seksama isi amplop itu.


Didalam amplop itu tertulis jika atm Bella digunakan terakhir kali di sebuah supermarket di daerah Bali.


Ansel tampak berpikir sesaat, tiba tiba dia ingat kata kata Bella waktu itu saat dia sedang membahas tentang bulan madu, Bella menyebutkan satu tempat yang ingin sekali dia datangi.


"Bella, aku tau sekarang kamu dimana!" Desis Ansel dengan raut wajah penuh makna.


Tanpa menunggu lama, malam itu juga Ansel langsung menyusul Bella ke pulau Bali. Dia sangat berharap kali ini akan menemukan titik terang tentang pencarian Bella selama ini.


Dia bahkan mengerahkan seluruh bawahannya untuk mencari keberadaan Bella di pulau dewata itu.


Namun ternyata usahanya tak semudah


yang dia bayangkan, di hari ketiga, dia tetap tak menemukan tanda tanda keberadaan Bella.


Namun Ansel tak menyerah, dia melacak tempat terakhir itu dengan membuat sebuah sayembara, siapapun yang berhasil memberikan informasi tentang istrinya Bella akan diberikan hadiah sebesar 1 milyar rupiah.


Ternyata dimana pun itu, uang memang selalu bisa diandalkan. Terbukti, baru saja beberapa jam sayembara itu di umumkan, seorang wanita paruh baya datang dan memberitahukan Ansel informasi tentang Bella.

__ADS_1


"Saya melihat gadis ini naik bus ke arah perkebunan kopi tuan, saya yakin sekali ini dia.." Wanita itu menunjuk wajah Bella yang tercetak di selembar kertas sayembara.


"Apa ibu yakin?" Tanya Ansel sambil menyodorkan kertas berisikan gambar Bella itu untuk di lihat sekali lagi oleh ibu itu.


"Iya tuan yakin.." Jawabnya mantap.


Raut wajah Ansel seketika berubah menjadi penuh kebahagiaan. Dia pun langsung menjalankan motornya menuju area perkebunan desa Munduk.


Kali ini jalanan yang dilewati lumayan menantang adrenalin nya, jalanan itu naik turun dan berkelok kelok, Ansel juga harus melewati tiga danau di kawasan bedugul yakni baratan, buyan dan tamblingan untuk menuju tempat tujuannya.


Tak terasa Ansel sampai di tempat tujuannya pada subuh dini hari, sampai disana matanya sudah dimanjakan oleh pemandangan alam yang terhampar luas di depannya.


Kabut tipis memeluk setiap langkah kakinya, dia berdiri disebuah cottage yang dibelakangnya langsung disuguhkan pemandangan alam berupa perkebunan kakao.


Ansel akhirnya menyewa cottage itu dalam beberapa hari kedepan. Dia memutuskan untuk mencari Bella dengan mengelilingi kampung Munduk seorang diri tanpa para pengawalnya, karna dia sangat yakin Bella pasti ada disalah satu penginapan di daerah sini.


Di Villa milik keluarga Alaska.


"Jadi lo sama Pak Ansel itu udah nikah Bell? pantes aja gue ngerasa ada yang janggal waktu ngeliat Pak Ansel dulu bela belain nyariin lo sendirian di hutan pas lo di culik.."


Alaska menatap Bella dengan wajah terperangah, dia sudah menduga Bella pasti menyembunyikan sesuatu dari dirinya selama ini.


Bella menunduk, hanya sibuk mengaduk susu ditangannya dengan malas.


"Lalu apa tujuan mu kesini Bella? apa kau sedang ada masalah dengan Pak Ansel? Apakah kau tahu Semenjak kau tidak masuk dia juga sudah berhenti mengajar di kampus.."


Bella menoleh kaget.


"Benarkah?"


"Iya. Kurasa dia sedang berusaha mencari keberadaan mu.." Alaska melirik Bella. Wajah Bella terlihat tidak tenang.


"Ada masalah Bell? Sepertinya kalian sedang bertengkar? kalau kau mau, kau bisa cerita padaku.."


"Tidak Al.. aku sedang tidak ingin membahas apapun, untuk saat ini aku cuman pengen menenangkan diriku, kamu gak usah khawatir aku baik baik saja kok, sorry aku lagi pengen istirahat di dikamar, aku masuk dulu ya."


Bella beranjak dari tempat duduknya dan kembali masuk ke dalam Villanya dengan perasaan hampa.


Al bisa merasakan jika Bella berbohong, dia pasti saat ini sedang tidak baik baik saja.


Alaska kenal Bella itu gadis yang sangat rajin, dia tidak pernah meninggalkan kuliahnya sekalipun dalam keadaan sangat genting, jika sampai itu terjadi, maka sudah bisa di pastikan Bella pasti sedang mengalami masalah yang sangat berat sampai sampai dia tidak lagi memperdulikan soal kuliahnya lagi.


bersambung..

__ADS_1


__ADS_2