
Diandra perlahan membuka kedua matanya. Dia melihat Renata tengah menulis sesuatu di meja kerjanya.
"Ren.." Panggil Diandra dengan suara yang terdengar lirih.
Renata meletakan pulpennya dan langsung berjalan ke arah ranjang Diandra.
"Di, kamu udah sadar? apa yang kamu rasakan Di? apa aku perlu membawamu ke rumah sakit? kondisimu sedang lemah sekarang. Tekanan darahmu sangat rendah." Tanya Renata dengan wajah cemas.
"Gak usah Ren.. aku emang suka kaya gini, cuman perlu istirahat, nanti juga enakan kok." Diandra menggeleng pelan.
Kedua bola mata Diandra menyapu seisi ruangan seperti sedang mencari sesuatu.
"Ren, siapa yang bawa aku kesini? tadi seingat aku, aku lagi di lorong, aku ketemu sama Ansel Ren, tapi setelah itu aku.."
"Iya, Ansel tadi yang udah bawa kamu kesini." Renata memotong ucapan Diandra.
Diandra menatap Renata.
"Kamu gak ngasih tau dia semuanya kan?"
Renata terdiam. Dia menghela nafas panjang.
"Maafin aku ya Di, tapi ku rasa Ansel berhak tahu biar dia gak salah paham lagi sama kamu.."
Diandra tampak berpikir. Dia jadi teringat saat di lorong tadi Ansel sempat ingin mengejar seorang wanita.
"Ren, aku takut Ansel sudah punya wanita lain di hidupnya.."
"Kenapa kamu ngomong gitu?"
Tanya Renata heran.
"Tadi pas di lorong dia kayak mau ngejar seseorang dan wajahnya kaya cemas gitu.."
"Siapa?"
"Kalau gak salah namanya tadi Bella, kamu kenal gak Ren?" Diandra menatap Renata dan berharap mendapatkan informasi.
Renata mencoba mengingat-ngingat.
"Kayaknya dia mahasiswinya Ansel Di, waktu itu dia pernah dibawa Ansel kesini karna ada kecelakaan kecil saat pelajarannya Ansel, tapi kurasa gak ada hubungan spesial deh.."
Diandra hanya diam, kenapa ya rasanya dia merasa kalau Ansel seperti sangat peduli pada gadis itu. Apa mungkin wanita itu kekasih Ansel? Jika memang benar, apa Ansel bisa melupakan dia segampang itu dan berpaling ke lain hati?
Diandra memijit kepalanya sendiri. Sekarang sesal itu menusuk lebih dalam dihatinya. Kenapa dia gegabah sekali. Harusnya dia jujur saja pada Ansel soal kondisinya ini. Mungkin sekarang hubungannya dengan Ansel tidak akan hancur seperti ini.
Mungkin dia masih bisa bersama sama dengan pria yang dicintainya itu, setidaknya sebelum dia menjemput waktu terakhirnya di dunia ini.
__ADS_1
"Kamu gak usah banyak pikiran Di, aku belum pernah denger gosip apapun soal Ansel. Setahuku juga dia belum menikah.."
Renata mencoba menenangkan Diandra yang terlihat gusar.
Sementara itu dirumah dikontrakkan Sarah waktu menunjukkan pukul 15.00 wib.
"Sayang, kamu kenapa sih kok kelihatanya cemas banget dari tadi?" Tanya Sarah sambil menatap Kevin di dalam kamarnya.
Kevin menemui Sarah untuk mencari ketenangan, karna di rumah dia selalu di hantui ketakutan tentang nasibnya nanti jika sampai kakak iparnya itu berhasil menangkap para preman suruhannya.
"Aku bingung Sar, apakah rencana kedua kita bakal berhasil?"
Kevin balik menatap Sarah, dia merebahkan dirinya di kasur di dalam pangkuan gadis itu.
Sarah mengelus rambut Kevin dengan lembut.
"Kamu harus yakin pasti berhasil. Lagi pula keluarga wijaya sangat menyayangi Citra kan? kamu harus bisa mengambil hati Citra lebih dalam lagi biar Citra percaya sama kamu seutuhnya.."
Kevin tampak termenung menatap lampu di atas atap.
"Dengar Kev, kamu harus mengadu domba Citra dengan Bella dan Ansel. Buat Citra hanya percaya pada ucapan mu, sehingga nanti ketika Ansel mengatakan sesuatu yang buruk tentang kamu dia tidak akan percaya!" Ucap Sarah sambil memelintir ujung rambutnya sendiri.
"Kalau soal itu sih gampang, tapi bagaimana jika para preman itu tertangkap dan mereka mengatakan semuanya? bisa tamat aku Sayang! kamu tahu sendiri kan gimana orangnya Pak Ansel itu."
Sarah jadi ikut gelisah mendengar ucapan Kevin. Benar kata Kevin, kalau masalah preman, itu memang masalah yang tidak bisa mereka cari jalan keluarnya selain menjauhkan mereka dari jangkauan Ansel agar tidak dapat di temukan.
"Memang dimana para preman itu sekarang Kev?" Tanya Sarah.
Kevin kemudian bangkit dari pangkuan Srah dan duduk sambil memeluk kedua lututnya.
"Aku suruh mereka keluar kota dan berpindah pindah tempat, tapi yang jadi masalah, sekarang mereka malah memeras aku terus menerus! sialan memang! kerja gak becus malah minta uang terus, kalau gak turutin mereka ngancem bakal bongkar semuanya, ah bangsat!"
Kevin meninju kasur dengan sekuat tenaga. Dia kesal bukan main jika teringat lagi nasibnya yang apes karna kegagalan rencananya itu. Sarah mendekati Kevin dan mengelus-ngelus punggungnya.
"Sabar sayang, kalau kamu emosi kita gak bakal bisa berpikir jernih buat rencana selanjutnya.."
Kevin hanya diam. Dia benar benar di ujung tanduk sekarang! maju kena mundur pun kena.
Dikediaman keluarga Hamis Wijaya, waktu menunjukkan pukul 19.10 wib.
Bella baru selesai mandi setelah mengerjakan makalahnya tadi sore, dia memakai handuk yang terlilit di dadanya.
Bella pun memakai piyamanya untuk segera bergabung makan malam dibawah bersama yang lainnya.
Ansel belum pulang, Bella segan untuk menelpon suaminya karna kejadian tadi siang.
Bella turun ke bawah namun hanya melihat Citra dan Kevin saja.
__ADS_1
"Papah sama mamah kemana Cit?" Bella duduk diujung tempat makan. Kevin melirik ke arahnya sesekali saat Citra sibuk dengan makanannya.
"Keluar kota kak, mungkin baru balik besok sore.." Jawab Citra.
Kevin terus mencuri pandang pada Bella. Gadis itu benar benar selalu membuatnya penasaran. Hanya Bella yang belum pernah berhasil dia sentuh.
Jiwa laki lakinya begitu tertantang untuk menaklukan Bella namun sayangnya gadis itu malah menikah dengan Ansel yang sekarang menjadi kakak iparnya. Meskipun mereka sudah memiliki kehidupan masing masing namun Kevin masih menyimpan perasaan pada Bella.
Bella yang menyadari tatapan Kevin menjadi sangat risih. Dia mencoba tak memperdulikan dan tetap melanjutkan makannya.
Tak lama terdengar suara pintu yang di buka dari depan. Pasti itu Ansel. Bella menoleh dan benar saja, suaminya itu baru saja kembali dengan menenteng jas ditangannya. Dia terlihat langsung menaiki tangga tanpa menoleh ke arah meja makan.
Bella jadi sedih, apa cuman perasaanya saja? tapi kenapa dia merasa Ansel acuh padanya?
Sampai mereka selesai makan, Ansel tak juga ikut bergabung dengan ketiganya.
"Kak, kak Ansel kenapa gak turun? apa dia sakit ya?" Tanya Citra sambil menatap Bella.
"Aku juga belum tau Cit, nanti coba aku cek ke atas.."
Kevin menyipitkan matanya, sepertinya Bella terlihat sedih dari raut wajahnya. Apa mereka sedang bertengkar? Kevin mencium sepertinya ada sesuatu yang telah terjadi diantara Bella dan Ansel.
Bella langsung naik ke atas kamarnya diikuti tatapan Kevin yang mengekor. Kevin mengelus elus dagunya Sepertinya dia harus mencari tau apa yang sebenarnya terjadi.
^^^*****Klek*****^^^
Bella membuka pintu, dia melangkah ragu masuk ke dalam kamar. Bella tak melihat Ansel disana. Kedua bola mata Bella langsung tertuju ke arah pintu kamar mandi yang sedang tertutup, terdengar suara gemericik air yang jatuh ke lantai. Suaminya pasti sedang mandi didalam sana.
Bella menarik nafas lega. Dia buru-buru membaringkan diri di atas kasur dan menarik selimut untuk menutup tubuhnya. Bella akan pura-pura tidur.
Bella bingung mau bersikap seperti apa dengan Ansel setelah kejadian tadi siang. Dia ingin marah, tapi dia tahu Ansel tidak bersalah karna yang memeluk duluan adalah wanita itu.
Dan tentang Ansel yang menggendong Diandra ke ruang kesehatan, memang apa yang salah dengan itu? Dia harusnya senang karna suaminya sudah menolong orang lain. Lagi pula siapapun yang ada di posisi Ansel pasti akan melakukan hal yang sama bukan? Bella terus mencoba berpikir positif.
^^^Klek^^^
Bella mendengar pintu kamar mandi yang terbuka. Bella langsung bergegas memejamkan kedua matanya.
Ansel menoleh kaget saat mendapati Bella sudah tidur di atas kasur. Ansel langsung pergi ke arah lemari dan memakai bajunya.
Dia lalu berjalan perlahan ke arah kasur. Ansel menatap punggung Bella dengan seksama. Dia pun membaringkan tubuhnya disamping Bella. Jantung Bella langsung berdegup dengan sangat cepat, wangi sabun mandi langsung tercium semerbak dari badan Ansel.
Sungguh sebenarnya Bella ingin sekali memeluk Ansel dan bertanya tentang Diandra. Tapi apalah daya Ansel bahkan tak mencoba menjelaskan apapun kepadanya tentang kejadian tadi siang.
Ansel hanya diam menatap punggung Bella tanpa bersuara. Mulutnya kelu, dia tidak tau harus menjelaskan kepada Bella mulai dari mana.
Beberapa menit berlalu tak juga ada pergerakan dari Ansel, padahal Bella sangat menunggunya. Bella mulai goyah, apa mungkin memang benar jika Ansel masih memiliki rasa pada wanita itu. Perlahan lahan mata Bella berkaca kaca. Bella menangis dalam diam.
__ADS_1
bersambung..