SUAMIKU SANG DOSEN KILLER

SUAMIKU SANG DOSEN KILLER
Inyong tahu sesuatu


__ADS_3

Dua jam lebih Zio dan Sasya setia menunggu di depan ruang operasi. Belum terlihat tanda-tanda operasi akan selesai.


Zio menunggu dengan cemas sambil sesekali melirik ke arah pintu operasi.


Selang satu jam pintu akhirnya terbuka, seorang dokter terlihat keluar dari ruang operasi dengan ekspresi yang tidak mengenakan. Zio dan Sasya langsung menghampiri dokter tersebut untuk menanyakan bagaimana kondisi Ansel.


"Maaf, kami sudah berusaha semampu kami, operasi sudah selesai dilakukan, peluru yang menancap di dada pasien juga sudah berhasil kami keluarkan tapi..."


Dokter seperti ragu untuk melanjutkan kalimatnya.


"Tapi karna kondisi pasien yang saat dibawa kesini sudah dalam kondisi yang sangat kritis, ditambah lagi luka di dadanya yang sudah mengalami infeksi, akibatnya kondisi pasien sekarang semakin melemah, kami dengan berat hati menyampaikan jika Pak Ansel sekarang sedang mengalami koma, kami belum bisa memastikan kapan masa kritisnya akan lewat.."


Zio dan Sasya bagai tersambar petir di siang bolong. Zio meluruh lemas, tubuhnya seakan hilang keseimbangan. Sasya buru-buru memegangi lengan Zio agar pria itu tidak jatuh.


"Tapi, Pak Ansel pasti bisa sembuhkan dok?" tanya Sasya.


Dokter menarik nafas perlahan.


"Keajaiban selalu ada Nona, kita doakan semoga beliau cepat melewati masa kritisnya ini.. Saya permisi dulu ya." Ucap Dokter itu sambil menepuk pundak Zio dan Sasya.


Zio teduduk dilantai sambil memeluk kedua lututnya, dia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Sebenarnya pantang baginya untuk menangis, apalagi saat ini ada seorang wanita disampingnya.


Itu akan melukai harga dirinya sebagai seorang laki-laki. Namun hari ini, detik ini sesuatu yang haram baginya itu malah dia lakukan. Zio terisak tanpa suara. Dia tak bisa menahan air mata itu untuk jatuh karna baginya Ansel lebih dari seorang sahabat.


Dia adalah kakak, ayah dan juga partner dalam segala hal, Ansel lah yang selalu ada disaat saat tersulit di hidupnya. Saat orang tuanya bercerai dan dia memutuskan untuk keluar dari rumah Ansel lah satu-satunya sahabat yang mau menampungnya.


Disaat yang lain menjauhinya karna dia sudah tidak memiliki apa-apa hanya pria itu yang dengan suka rela memberikannya pekerjaan di salah satu perusahaan miliknya. Baginya, Ansel lebih dari sekedar sahabat, dia sudah menjadi keluarga dalam hidup Zio.


"Pak, semua pasti baik-baik saja. Kita harus optimis Pak Ansel bisa melewati ini, kalau bapak aja lemah begini, yang nanti menguatkan Pak Ansel siapa?" Ucap Sasya sambil ikut duduk disamping pria itu.


Zio mengangkat kepalanya perlahan lalu menyenderkan tubuhnya ke dinding.


"Kamu benar Sya.. tapi saya tak tahan ketika melihat Ansel terbaring di dalam sana dengan kondisi yang sekarang.. Seandainya saya boleh meminta, saya akan meminta biarlah saya saja yang menggantikan posisinya.." Ucap Zio sambil menatap sendu ke arah ruang operasi.


Sasya takjub dalam hatinya, ternyata selama ini penilaiannya pada pria ini salah besar. Meskipun dia sering melihat laki-laki ini dikerubuti cewek-cewek ternyata dia punya satu sisi baik yang Sasya tidak tahu, dia sangat peduli pada kesusahan orang lain.

__ADS_1


"Pak, saya percaya, setiap musibah yang terjadi dalam hidup kita pasti ada hikmah didalamnya.." Sasya mengelus pundak Zio. Zio seketika menoleh dan menatap Sasya dengan seulas senyum tipis yang tersungging di mulutnya.


"Terima kasih ya Say, kamu sudah membantu saya menolong Ansel dan Bella.."


"Kenapa bapak harus terima kasih, Bella sahabat saya dan Pak Ansel adalah suaminya Bella, jadi sudah kewajiban saya menolong mereka berdua.."


Zio senang mendengarnya, gadis ini ternyata sangat baik meskipun sedikit jutek.


***


Malam itu menjadi malam yang panjang bagi semuanya. Pagi telah menyapa di pelupuk mata, Tuan hamis dan keluarganya datang kerumah sakit sekitar pukul 06.00 pagi.


Seluruh keluarga Tuan Hamis Wijaya langsung menghampiri ruang ICU untuk melihat keadaan Ansel dan Bella.


Nyonya Tania berdiri didepan kaca ruangan sambil menangis histeris melihat putranya yang kini terbaring lemah didalam ruangan dengan berbagai alat medis yang terlihat menempel di sekujur tubuhnya.


Tuan Hamis mencoba menenangkan istrinya dengan mengelus-elus punggungnya padahal sebenarnya dia juga sangat terpukul melihat keadaan anaknya itu.


"Zio, bagaimana ini bisa terjadi, Bella dimana?" Tanya Tuan Hamis saat Zio datang menghampirinya.


Tuan Hamis sedikit terlihat lega mendengarnya.


"Syukurlah kalau Bella tidak apa-apa.."


Namun Nyonya Tania malah murka dan marah.


"Semua ini terjadi gara-gara gadis kampungan itu! dia yang udah bawa sial buat Ansel. Gara-gara mau nyelamatin dia Ansel sekarang malah jadi kaya gini kan pah!"


"Mah, hentikan omong kosong mu itu! gak ada yang mau musibah ini terjadi. Ansel sudah berbuat benar dengan menyelamatkan istrinya dari bahaya. Kalau kamu dalam bahaya apa Papah harus diam saja?" Celoteh Pak Hamis yang tak habis pikir dengan jalan pikiran istrinya itu.


Nyonya Tania akhirnya diam dan tak mampu membalas ucapan suaminya.


"Apa Citra tau soal keadaan kakaknya?" Tanya Zio yang penasaran karna tidak melihat Citra datang.


"Citra belum tau, kami takut jika dia stress memikirkan keadaan Ansel. Itu akan berakibat buruk bagi bayinya. Biar saja untuk saat ini dia taunya Ansel dan Bella sedang ikut kamping diperkemahan.." Suara Pak Hamis terdengar berat.

__ADS_1


Pak Hamis menatap Ansel yang sedang terbaring di dalam ruangan. Dia melihat bekas luka di sekujur tubuh anaknya. Matanya tiba-tiba menyiratkan amarah yang terpendam.


"Zio, saya akan menyuruh orang-orang saya untuk menyelidiki ini, tolong kamu bantu urus dan usut sampai tuntas siapa yang udah berani menembak Ansel!" Pinta Pak Hamis, kali ini nada suaranya telah berubah menjadi lebih berapi-api.


Zio mengangguk, lalu kemudian dia pamit pergi untuk mengecek keadaan Bella dan teman-temannya Bella yaitu Inyong dan Sasya.


Sesampainya didepan kamar Bella, Inyong dan Sasya sedang duduk sambil menyenderkan kepala mereka ke dinding. Mereka pasti sangat kelelahan karna semalaman ini tidak tidur. Zio pun langsung menghampiri mereka dengan membawa 2 botol air minum ditangannya.


"Say, inyong.. Kalian lebih baik diantar pulang saja ya sama bodyguardnya keluarga pak wijaya. Biar Bella dan Ansel saya yang urus disini.." Zio menyerahkan botol minuman itu ke tangan Sasya dan Inyong.


"Tapi pak, saya tidak tenang kalau Bella belum siuman.." Ucap Inyong lirih. Sasya pun mengangguk setuju dengan perkataan Inyong. Dia tidak akan meninggalkan rumah sakit ini kalau Bella belum sadar.


"Kalian perlu istirahat, kalau kalian sakit nanti siapa yang bakal nemenin Bella lagi? lagi pula kita masih punya satu tugas penting setelah ini.."


Sasya dan Inyong saling berpandangan.


"Tugas penting apa?" Tanya Inyong dan Sasya berbarengan.


"Kita harus membantu Pak Hamis mencari pelaku penembakan dan penculikan yang udah bikin Ansel dan Bella celaka!"


Inyong langsung terperangah mendengar perkataan Pak Zio, dia tiba-tiba ingat sesuatu yang dia dengar saat di perkemahan tadi malam.


Inyong ingin bicara namun mulutnya terasa kelu.


"Kenapa Nyong? kamu keliatan gelisah?" Tanya Zio yang menangkap raut gelisah diwajah Inyong.


"Pak, sebenarnya saya mendengar sesuatu saat Kevin dan Sarah sedang mengobrol.. mereka.. mereka.."


Inyong takut melanjutkan kata-katanya.


"Mereka ngomongin apa Nyong?" Tanya Sasya gemas karna melihat Inyong tak juga buru buru melanjutkan kalimatnya.


"Mereka sedang ngomongin rencana buat Pak Ansel, tapi gue juga gak tau rencana apaan soalnya yang mereka omongin dikit doang.."


Zio dan Sasya langsung berpandangan. Mereka melongo dan akhirnya menyadari satu hal, Fix dugaan Zio, pasti Kevin yang sudah merencanakan ini semua.

__ADS_1


bersambung..


__ADS_2