SUAMIKU SANG DOSEN KILLER

SUAMIKU SANG DOSEN KILLER
Rencana Kevin


__ADS_3

"Pak, suatu hubungan itu harus dilandasi kepercayaan, jika aku tidak percaya pak Ansel sama saja aku tidak percaya juga pada cintanya padaku.." Perkataan Bella membuat Zio bungkam, dia tak tahu lagi sebenarnya terbuat dari apa hati gadis yang ada dihadapannya ini.


Meskipun Bella lebih muda darinya tapi terbukti pikiran Bella ternyata jauh lebih bijaksana darinya.


"Bell, sebenarnya aku kemari karna ada yang ingin aku sampaikan pada Ansel.."


Zio menatap sekeliling ruangan, sepertinya suasana cukup aman untuk membicarakan soal Kevin dan Diandra.


"Ada apa pak? apa semuanya baik baik saja?" Tanya Bella sambil menatap Zio yang raut wajahnya tiba tiba berubah serius.


"Apa Ansel sudah memberitahumu masalah Kevin dan Sarah?" Zio memelankan suaranya, sangat pelan hingaga Bella harus memasang kupingnya baik baik untuk menangkap setiap ucapan yang keluar dari mulut pria itu.


Deg


Jantung Bella tiba tiba berdetak lebih cepat, sepertinya dia tahu kemana arah pembicaraan Zio.


"Bell kok ngelamun? " Zio menepuk lengan Bella hingga gadis itu menoleh seketika.


"Sebenarnya.. Saya sudah tau tentang perselingkuhan mereka, Sasya dan Inyong juga sudah memberitahu semuanya." Ucap Bella akhirnya, Zio menarik nafas dalam dalam. Ternyata benar dugaannya, Sasya pasti tidak akan tahan untuk tidak memberitahu semua kepada Bella.


"Lalu, bagaimana rencana kamu selanjutnya Bella?"


Bella menggeleng pelan.


"Entahlah pak, aku juga bingung, aku cuman memikirkan Citra, entah bagaimana perasaannya saat tahu semua ini, aku sangat khawatir pada kandungannya.."


"Kau benar Bella, Ansel pun terus memikirkan perasaan adiknya jika nanti dia membongkar semua kebusukan Kevin.."


"Apa Pak? jadi pak Ansel mau membongkar semuanya?" Bella memekik kaget.


"Iya, Bella.."


"Tapi kenapa pak Ansel tidak memberitahu hal itu pada saya?"


Zio terdiam sesaat. Dia melihat Bella yang tampak gelisah.


"Dia pasti berat untuk mengatakan semuanya padamu mengingat Sarah kan sahabat baikmu Bell, Ansel pasti tidak ingin kau sedih.."


Bella menarik nafas dalam dalam, jadi Pak Ansel juga sudah tau semuanya, kalau sampai perselingkuhan itu dibongkar bagaimana nasib Citra nanti? Kevin memang benar-benar laki laki brengsek!


"Memangnya apa yang sudah pak Ansel rencanakan?" Bella jadi penasaran.


Mata elang Zio memperhatikan sekitar setelah yakin tak ada yang akan mendengar mereka Zio pun membuka mulutnya.


"Ansel akan membongkar semua kebusukan Kevin pas perayaan ulang tahun pernikahan orang tuanya Bella, yang ku dengar seperti itu."


Bella ternganga, berarti tidak lama lagi karna setahu dia ulang tahun pernikahan Pak Hamis dan Bu Tania akan berlangsung minggu depan.


Tanpa mereka sadari ternyata sedari tadi Kevin telah menguping pembicaraan mereka dari awal dengan sangat jelas, dia bersembunyi dibelakang pintu kamar tamu tepat membelakangi posisi Bella dan Zio sehingga mereka tidak menyadarinya.

__ADS_1


Kevin terlihat gusar dan menahan emosi. Dalam hati dia mengutuk nasibnya sendiri, dia ngeh sekarang tentang Cctv yang ditemukan oleh Sarah, ternyata Cctv itu memang sengaja ditaruh di kontrakan Sarah untuk memata-matainya, dan sudah jelas sekarang yang menaruh itu semua adalah kedua kutu kupret si Sasya dan Inyong!


Jadi selama ini mereka semua sudah tau semuanya tapi mereka pura pura seolah olah tidak terjadi apa apa untuk mengelabui dirinya. Ternyata Ansel malah telah menyiapkan jebakan besar untuknya!


"Sialan sialan sialan!" Makinya geram pada nasibnya yang menurutnya super sial. Kevin menarik nafas berang, dia harus segera memikirkan cara untuk menyelamatkan dirinya dari kehancuran telak.


Sementara itu ditempat lain Sarah terlihat keluar dari sebuah klinik dengan memegang hasil tes kehamilan ditangannya. Wajahnya terlihat berbinar bahagia.


"Sayang, kita harus beri tahu ayahmu soal kehadiranmu ini, dia pasti sangat senang!" Ucap Sarah sambil mengelus-ngelus perutnya sendiri.


Dirumah kediaman Hamis Wijaya waktu menunjukkan pukul 19.30 wib.


Bella memperhatikan kotak kecil dengan hiasan pita merah melingkar di tengah tutupnya yang sebelumnya sudah dia isi dengan tespek kehamilan didalamnya, dia sengaja ingin memberi kejutan kepada Ansel.


Bella tak sabar melihat reaksi Ansel saat dia tahu tentang kehamilannya.


Ansel sudah pulang sore tadi namun dia belum sempat bicara pada suaminya karna Ansel terlihat sibuk mengurus beberapa masalah di kampus yang sempat tertunda hari ini.


Setelah balik dari rumah sakit, pria itu langsung sibuk dengan berkas berkas ditangannya karena itulah Bella jadi tidak tega untuk mengganggunya.


Sekarang Bella tengah menunggu Ansel selesai mandi, tak lama pria itu terlihat keluar dan langsung memakai bajunya dengan terburu buru.


"Pak, aku ingin memberitahukan sesuatu.." Ucap Bella sambil menghampiri Ansel, kotak kecil itu Bella sembunyikan dibelakang tubuhnya.


"Nanti saja ya Bella, aku harus segera kembali kerumah sakit, tadi dokter menelpon dan katanya kondisi Diandra sedang kritis, dia tiba tiba tak sadarkan diri lagi.."


Bella terenyuh sesaat, padahal dia ingin sekali memberikan kabar bahagia ini pada Ansel tapi sepertinya urusan Diandra lebih penting bagi Ansel.


"Bella maaf, aku pergi dulu ya, bicaranya nanti saja setelah aku kembali dari rumah sakit." Potong Ansel. Ansel mengecup kening Bella dan segera berjalan dengan tergesa-gesa ke arah pintu kamar tanpa memberikan Bella kesempatan lagi untuk bicara.


Bella menatap kotak kecil ditangannya dengan perasaan sedih dan hancur.


Tok tok tok


Bella tersadar ketika dia mendengar suara ketukan, Wajahnya yang mendung seketika berubah sumringah lagi, jangan jangan Ansel tidak jadi pergi! Bella buru buru membuka pintu namun wajah sumringah itu mendadak hilang.


"Citra? ada apa?" Tenyata bukan Ansel melainkan Citra yang ada dihadapannya kini.


"Kak, aku boleh masuk gak?"


"Boleh Cit, ayo masuk.." Bella meletakan kotak kecil itu di laci mejanya lalu menyuruh Citra duduk di bangku. Saat Bella hendak menghampiri Citra lampu tiba tiba saja mati, suasana menjadi sangat gelap.


"Loh kok mati lampu?" Tanya Bella heran.


Dan tak lama terdengar benturan yang cukup kencang didekatnya.


BRUUGHHH


"AH, PERUTKU!"

__ADS_1


Suara teriakan dari Citra mengangetkan Bella. Bella langsung meraba raba ujung meja untuk mencari keberadaan citra, suasana sangat gelap sehingga Bella tidak bisa melihat apapun dengan jelas.


"Citra kamu gak apa apakan Cit?" Bella tampak panik mendengar Citra mengerang kesakitan


"PERUTKU SAKIT BANGET!" Pekik Citra.


"Tolong siapapun yang ada di luar tolong bawakan senter kemari!" Bella berteriak kencang dan tak lama lampu kembali menyala.


Bella melirik ke arah sofa , Bella terpana, matanya tiba tiba membulat seketika. Citra sudah terkapar dilantai, darah segar terlihat mengalir dari kedua pahanya menuju ke ujung kakinya.


"CITRA!" Bella buru buru menghampiri Citra.


"Ya Tuhan Cit, kamu kenapa bisa jatuh?" Tanya Bella panik.


Citra terus meringis menahan sakit yang luar biasa. Tak lama Kevin masuk dan kaget melihat kondisi istrinya yang begitu mengenaskan.


"Citra! kamu kenapa sayang?" Kevin memeluk Citra dengan erat, dia menatap ke arah kaki istrinya yang kini telah dibanjiri darah.


"Aku gak tau Kev, tadi ada yang narik aku dan ngedorong aku ke arah meja, perut aku sakit banget Kev.." Ucap Citra sambil meringis kesakitan.


"Bella! apa yang sudah kamu lakuin ke Citra?"


Bella terperangah kaget.


"Aku gak ngapa ngapain Citra Kev! sumpah! bukan aku yang udah ngedorong Citra.."


"Terus siapa? kan cuman kamu yang ada dikamar ini sama Citra!" Kevin tampak emosi dan menatap Bella dengan tajam, padahal sebenarnya yang mendorong Citra tadi tak lain adalah dirinya sendiri.


"Lebih baik kita bawa Non Citra kerumah sakit den, kasian itu perutnya.." Bi Iyam akhirnya mengusulkan karna Kevin keliatannya malah lebih sibuk menyalahkan Bella.


Akhirnya Kevin membawa Citra kerumah sakit dimana tempat Diandra dirawat. Sesampainya dirumah sakit, Citra langsung di larikan ke IGD, Bella terlihat cemas menunggu diluar ruangan.


Namun Kevin malah tersenyum puas dalam hatinya, rencananya untuk menciptakan masalah baru dirumah keluarga Hamis berhasil.


Dengan ini Ansel pasti akan sibuk mengurus Citra dan dia berharap perhatian pria itu akan teralihkan dan akhirnya Ansel melupakan rencananya untuk membongkar semua kejahatannya selama ini. Meskipun dengan ini dia harus mempertaruhkan nyawa anaknya sendiri


"Ada apa ini?" Suara Ansel mengagetkan Bella dan Kevin.


"Citra kenapa Bell? bi Iyam tadi nelpon saya Citra katanya pendarahan, ada apa? kenapa bisa?" Ansel terlihat panik, dia mencoba mengintip dari balik kaca pintu namun hanya tirai hijau yang terlihat disana.


Bella menangis terisak.


"Citra tadi jatoh pak, sepertinya perutnya terbentur meja.."


Ansel terperangah syok.


"Bella yang mendorongnya tadi, Citra sendiri yang mengatakan kepada saya jika Bella tidak suka Citra membawa Diandra kerumah, pasti karna itu dia dendam pada Citra." Kevin tampak emosional padahal itu hanya akting.


"Diam kau! aku tidak akan percaya pada ucapan mu, aku akan mendengarnya langsung dari mulut Citra.."Ansel menatap Kevin dengan tajam. Wajahnya terlihat gusar, dia berharap adik dan keponakannya selamat didalam sana.

__ADS_1


bersambung.


Huhu sedih ya, thor juga yang nulisnya sedih ni, yuk jangan lupa vote cerita ini biar thor rajin upnya, terima kasih.


__ADS_2