
Pagi itu Bella terbangun dengan perut yang sangat kram. Apa dia mau datang bulan ya? Bella memegangi perutnya dan hendak berjalan ke arah kamar mandi untuk mengecek.
Namun tiba-tiba saja pandangan matanya kabur, Bella terjatuh didekat meja dan tak sengaja tangannya menyenggol gelas disana.
PRANG!
Ansel tersentak kaget dan langsung bangun dari tidurnya.
"Bella!" Ansel langsung buru buru menghampiri Bella. Bella mencoba bersandar disisi ranjang sambil memegangi kepalanya.
"Bella, kamu kenapa? apa kamu baik-baik saja?" Tanya Ansel dengan wajah yang sangat cemas.
Bella menggeleng dan hendak membereskan pecahan gelas namun tangan Ansel langsung mencegatnya.
"Jangan Bella, kau bisa terluka. Biarkan Bi Iyam nanti yang membersihkan ini semua."
Ansel langsung menggendong tubuh Bella dan meletakkannya diatas kasur dengan perlahan.
"Ada apa? apa kau sakit?" Ansel memegangi kening Bella karna takut kalau Bella demam.
"Badanmu tidak panas.. Ada apa? saya akan telpon dokter untuk datang kesini agar kau bisa diperiksa."
Mata Ansel berkeliaran mencari ponselnya. Namun Bella menahan tangannya.
"Jangan pak, aku kayaknya mau datang bulan, perutku sedikit tidak enak dan aku agak lemas. Aku cuman perlu istirahat saja." Ucap Bella lemah.
"Tapi Bella.."
"Tidak pak kumohon. Sungguh aku hanya perlu istirahat.."
Ansel diam sesaat. Meski merasa sangat khawatir namun akhirnya dia pasrah karna Bella tetap ngotot tidak mau diperiksa oleh dokter.
Anselpun langsung mengambil ponselnya dan segera menelpon seseorang disebrang sana.
"Hallo ndre, batalkan semua urusan saya hari ini!"
Bella menoleh kaget ketika mendengar suaminya berbicara seperti itu.
Apa dia barusan sedang membatalkan semua urusannya karna Bella? Bella langsung menggeleng, jangan geer Bella! jangan geer! tahu diri Bella! ayok tahu diri!
"Bella, jangan bergerak dari kasur. Aku akan menyuruh Bi Iyam kesini untuk membereskan pecahan gelas, jangan nekat menyentuhnya nanti kau bisa terluka, paham!" Ansel sedikit membentak Bella karna dia tahu gadis itu tidak pernah mau nurut kepadanya.
Anselpun langsung pergi keluar kamar dengan langkah terburu buru.
__ADS_1
Bella menggigit bibir bawahnya. Astaga kenapa dia merasa sangat senang diperhatikan seperti ini oleh Pak Ansel. Jantung Bella berdebar sangat cepat. Pipinya bersemu merah. Ya Tuhan apa aku sedang jatuh cinta?
Namun tiba-tiba kram diperutnya kumat lagi. Bella meringis sambil mencengkram seprei nya kuat-kuat.
Tak lama Bi Iyam datang kesana dengan membawa sapu dan penyerok sampah ditangannya. Sementara Bi Sri menyusul dibelakangnya dengan menenteng nampan berisi sarapan untuk Bella.
"Non permisi bibi bersihin dulu ya pecahannya takut kena kaki non.." Ucap Bi Iyam sambil mulai membersihkan pecahan-pecahan gelas dilantai yang berserakan.
Bella mengangguk pelan.
"Non, Bi Sri taruh makanannya disini ya? Apa non mau sarapan sekarang?" Bi Sri meletakan sepiring nasi goreng dan segelas susu disamping meja kasur.
"Nanti aja Bi, tolong taruh disitu aja ya.." Pinta Bella sambil mencoba duduk dan bersandar di kepala ranjang.
"Non, sakit apa? mau bibi pijitin?"
"Gak usah Bi Sri makasih ya. Bella cuman butuh istirahat aja kok nanti juga enakan lagi badannya." Tolak Bella halus sambil tersenyum.
"Bi Sri sama Bi Iyam kaget loh non pas Den Ansel tadi lari lari ke arah dapur, mukanya keliatan cemas banget.." Bi Sri tersenyum geli disamping Bella.
"Iya loh Non baru kali ini toh bibi ngeliat tuan muda kaya gitu.." Bi iyam menimpali.
"Masa sih Bi?"
"Iya suer Non, selama ini aden mana peduli sama orang lain selain Nona Citra adiknya. Pernah loh non waktu itu ada wanita yang seumuran Pak Ansel dateng kesini bawa-bawa bunga sama makanan tapi Pak Ansel tolak mentah-mentah!" Bi Sri berbisik didekat telinga Bella karna takut kalau Ansel tiba-tiba masuk ke dalam kamar.
"Hah siapa bi?" Tanya Bella penasaran.
"Dosen dikampus non, siapa ya bibi lupa namanya kalau gak salah bu Sel.. sel apa ya yem?" Bi Sri malah bertanya kepada temannya Bi Iyam.
"Bu Selvi non.." Jawab Bi iyem.
"Hah?" Mata Bella membulat kontan. Gila Bu Selvi sampe nekat kerumah segala? patut diacungi jempol sih perjuangannya. Dia keren banget apa jatohnya gak tahu malu banget ya?
Bella jadi merasa kasihan pada Bu Selvi. Coba dia bisa memberitahu Dosennya itu kalau sekarang dia sudah jadi istrinya Pak Ansel. Kira-kira apa reaksinya? sudah pasti Bella akan diamuk habis-habisan, ish ngeri!
Kedua pembantunya itupun langsung keluar kamar setelah melihat tuan mudanya masuk kembali kedalam kamar.
"Kenapa kamu menatapku seperti itu? apa kau habis bergosip dengan mereka?" Tanya Ansel ketika melihat wajah Bella yang malah langsung berubah sumringah.
"Tidak!" Jawab Bella singkat.
"Cepatlah sarapan. Setelah itu minum obat pereda nyeri ini. Kau yakin tidak mau dipanggilkan dokter kesini?" Ansel menatap Bella yang pura-pura acuh.
__ADS_1
"Iya, aku akan sarapan nanti, kenapa bapak tidak pergi ke kampus? bukankah hari ini ada kelas pagi?"
Ansel hanya diam. Dia malah ngeloyor pergi ke kamar mandi. Namun tiba-tiba langkahnya terhenti didepan kamar mandi.
"Apa kau mau mandi dulu? atau mau mandi bareng lagi? boleh saja aku tidak keberatan.." Ucap Ansel
HAH? Bella ternganga dan saat sadar jika Pria itu hanya menggodanya saja segera dia pun melemparkan satu bantal ke arah Ansel dengan kuat.
"MENYEBALKAN!"
Ansel tertawa singkat dan langsung masuk ke dalam kamar mandi.
***
Hari itu Bella merasakan aura yang sangat aneh dari suaminya. Seharian itu dia tidak dibiarkan keluar dari kamar. Ansel menyuruhnya untuk istirahat full didalam kamarnya.
Ansel bahkan menyuruh beberapa orang bodyguard untuk berjaga didepan kamar agar Bella tidak nekat untuk pergi keluar. Alhasil Bella menjadi sangat bosan dan uring-uringan sendiri.
Pak Wijaya dan Nyonya Tania bahkan dibuat bingung dengan sikap dari putranya itu. Dia memang tidak menemani Bella di dalam kamar. Namun dia terus bertanya setiap sejam sekali pada orang-orang suruhannya apakah Bella menuruti perintahnya untuk beristirahat atau tidak.
Citra yang melihat itupun tersenyum geli dan mendekati kakaknya yang sedang duduk sambil menonton berita diruang keluarga.
"Aku seneng deh akhirnya kakak aku yang dulu udah kembali lagi.."
"Maksud kamu Cit?"
"Iya semenjak ada kak Bella, kakak jadi keliatan lebih bahagia dan jadi lebih berperasaan aja, buktinya kakak hari ini ijin gak kerja karna khawatir sama kak Bella kan?" Goda Citra sambil menyenggol lengan kakaknya.
"Ngomong apa sih kamu Cit!" Ansel memalingkan wajahnya.
Citra tertawa geli melihat wajah Ansel yang mencoba menyembunyikan rasa malunya.
"Gimana kabar ponakan kaka, apa kau sudah bisa merasakan tendangannya?" Ansel mencoba mengalihkan pembicaraan. Dia menatap perut Citra yang mulai terlihat membuncit.
"Belum kak, tapi aku sudah mulai bisa merasakan kehadirannya di tubuhku.. aku masih gak nyangka kak kalau sebentar lagi aku akan jadi seorang ibu, aku jadi bener-bener nyesel kalau inget waktu itu, ketika hampir saja aku mengakhiri hidupku dan anakku, seandainya aku bisa memutar waktu."
"Sudahlah Cit, kau tidak perlu membahas yang sudah berlalu. Sekarang yang terpenting kamu sudah tahu betapa berharganya diri kamu dan anak kamu ini."
Citra mengangguk sambil mengelus elus perutnya sendiri.
"Kak, apa kakak tidak berniat punya baby bersama kak Bella?"
Hah? Ansel menoleh kaget dengan satu pertanyaan Citra barusan. Ansel hanya diam membisu tak mengeluarkan satu kalimat pun.
__ADS_1
bersambung..