
Esoknya dikediaman keluarga Hamis Wijaya.
Bella membuka kedua matanya, dia merasa kram diperutnya benar benar tak tertahankan, namun Bella mencoba mengatur rasa sakit itu dengan menggigit bibir bawahnya.
Bella mendengar suara gemericik air di kamar mandi, sepertinya Ansel sedang mandi. Bella pun duduk dan mengambil segelas air disamping meja ranjangnya. Dia berharap kram perutnya segera hilang.
Tak lama Ansel keluar dari kamar mandi dengan menggunakan handuk yang terlilit dipinggangnya. Dia tak menatap Bella dan langsung berjalan ke arah lemari untuk memakai bajunya.
Bella berpikir mungkin Ansel masih kesal kepadanya, Bella mencoba menahan hatinya yang masih terasa sesak akibat semalam Ansel membentaknya.
Bella mencoba bangkit dan berjalan ke arah kamar mandi sambil menahan sakit diperutnya.
Para keluarga pun telah berkumpul dibawah untuk sarapan pagi. Ansel terlihat turun seorang diri tanpa Bella, Citra dan Kevin saling berpandangan, sepertinya rencana mereka berhasil untuk membuat perselisihan diantara suami istri itu.
"Kak Bella kemana kak?" Tanya Citra saat Ansel telah duduk disebelahnya.
"Dia sedang mandi."
Jawab Ansel singkat. Ansel menatap Citra.
"Bagaimana keadaanmu Cit? apa kau merasa lebih baik?"
Citra mengangguk.
"Iya kak, kak jangan terlalu keras pada kak Bella, dia kan tidak sengaja menumpahkan minyak itu.." Citra pura pura membela Bella padahal dia sedang membuat Ansel lebih yakin kalau Bella lah yang sudah menjatuhkan minyak itu sehingga dia terpeleset.
"Tetap saja dia teledor, kau bisa celaka bersama bayimu Cit, kakak cuman ingin dia lebih hati hati lagi lain kali."
Ansel terdengar masih sangat marah dari nada bicaranya.
Pak Hamis dan Nyonya Tania hanya geleng geleng kepala melihatnya.
"Ansel panggil Bella dan suruh dia makan, semalam dia tidak makan kan? nanti kalau istrimu sakit gimana?"
Pak Hamis mencoba menasehati putranya itu.
Ansel diam sejenak, dia memang masih marah tapi dia tidak bisa mengabaikan kesehatan Bella. Akhirnya dia setuju untuk pergi ke atas dan memanggil Bella untuk sarapan.
"Kak, biar aku saja yang panggil kak Bella!" Ucap Citra seraya berdiri mendahului Ansel.
Ansel hanya mengangguk pelan. Citra pun segera berjalan ke atas kamar Ansel untuk memanggil kakak iparnya.
Tok tok tok
Bella yang berada didalam kamar langsung berjalan ke arah pintu dan membukanya.
"Kak, ayo kita sarapan bareng.." Ajak Citra kepada Bella. Citra pura pura bersikap baik agar Bella tidak curiga pada dia tentang aktingnya kemarin.
"Cit, apa kau sudah baik baik saja? maafkan kakak Cit, tapi serius Cit kakak gak ngerasa numpahin minyak itu.."
Citra membatin, jelas saja dia tidak merasa, karna memang bukan Bella pelakunya melainkan dirinya sendiri.
"Aku tidak apa-apa kak, ayo kita turun.."
"Cit, apa pak Ansel tidak mengatakan apa-apa?" Bella berharap Citra naik keatas karna disuruh oleh Ansel.
Citra tersenyum.
"Tidak kak, aku datang kesini karna inisiatif ku sendiri, kak Ansel sudah ku suruh kemari tapi dia menolaknya tadi.." Citra sengaja berbohong agar Bella tambah sedih.
Citra menyadari wajah Bella yang sedikit pucat. Tapi dia malah bersikap masa bodo.
Citra pun akhirnya turun bersama dengan Bella. Bella melihat ke arah Ansel, Ansel hanya menoleh ke arahnya sekilas lalu dia kembali sibuk dengan makanannya. Ansel tak menyadari wajah Bella yang pucat.
__ADS_1
Akhirnya merekapun sarapan bersama dengan suasana yang cukup hening, Ansel tidak berkata apapun selama sarapan, dia fokus hanya pada makanannya.
Setelah selesai makam Ansel pun berdiri dan hendak pergi namun Bella berusaha membuka mulutnya.
"Apa bapak mau pergi sekarang?" Ucap Bella sambil menatap punggung Ansel karna suaminya itu membelakanginya dan tak mau menoleh.
Ansel terdiam sejenak, dia menahan nafas karna masih merasa kesal kepada Bella.
"Iya, aku ada urusan sebelum pergi ke kampus aku akan mampir ke suatu tempat. Tenang saja aku akan menyuruh sopir mengantarmu ke kampus." Setelah berkata itu Anselpun kembali pergi dan tak menghiraukan Bella lagi.
Bella merasa sedih sekali Ansel mengacuhkannya seperti itu.
***
Bella berjalan dilorong kampus, pikirannya benar benar kosong, dia merasa perasaannya sensitif sekali akhir akhir ini, dia mudah menangis tiba tiba padahal hanya karna hal sepele.
"Bella!" Alaska menepuk bahu Bella dari belakang. Bella menoleh kaget dan baru menyadari kehadiran pria itu.
"Udah tiga kali gue panggil baru noleh pas ditepuk pundaknya, lo ngelamunin apa Bell?" Alaska mengangkat satu alisnya.
"Eh, iya Al. Maaf gue gak denger tadi.."
"Iya jelas aja gak denger, lo lagi bengong.. tunggu dulu deh," Alaska melihat Bella dengan seksama, dia menyadari wajah Bella yang lesu dan pucat.
"Lo sakit Bell? apa masuk angin lagi?" Tanya Alaska sambil berusaha memegang kening Bella namun Bella yang sadar langsung memundurkan tubuhnya sehingga Alaska tidak jadi menyentuhnya.
Bella menggeleng cepat sambil tersenyum.
"Engga Al, gue baik baik aja kok, gue duluan ya mau nyari Sasya sama Inyong.." Bella kemudian pergi meninggalkan Alaska yang kini tengah memandangi punggungnya yang mulai menghilang dari pandangan.
Sementara itu di apartemen Zio, Ansel terlihat sedang menyusun beberapa berkas ditangannya.
"Dua minggu lagi acara ulang tahun pernikahan orang tuaku Zi, kita harus persiapkan semuanya, jangan sampai ada yang terlewatkan, gue mau semuanya sesuai harapan kita, dan pastikan temukan para preman itu secepat mungkin!"
"Lo kenapa men? apa ada masalah lagi sama Bella?"
Ansel menggeleng.
"Gak ada apa-apa cuman ada insiden kecil aja dirumah."
Zio tampak berpikir sambil ikut duduk disamping Ansel.
"Men, gue sebenernya mau ngasih tau lo kalau gue sama Sasya udah jadian."
Ansel menoleh kaget, namun sedetik kemudian dia tersenyum bahagia.
"Sasya yang sahabatnya Bella itu?"
Tanya Ansel memastikan.
"Iya." Jawab Zio malu malu.
Ansel menepuk bahu Zio sambil menggoyang goyangkan tubuh sahabatnya.
"Selamat ya, gue lihat sih Sasya anak yang baik, semoga hubungan kalian lancar!"
Zio mengangguk sambil senyam-senyum sendiri.
Setelah beberapa saat berbincang akhirnya Ansel memutuskan untuk kembali ke kampus karna dia ada kelas siang ini, kebetulan dia akan mengajar di kelasnya Bella.
Ansel melangkah masuk keruang kelasnya. Bella tampak duduk didekat tembok sambil menyenderkan kepalanya, saat dia sadar kehadiran Ansel Bella buru buru membetulkan posisi duduknya.
Ansel hanya menatapnya sekilas lalu kembali sibuk dengan berkas yang ada ditangannya.
__ADS_1
Dua jam lebih akhirnya Bell pulang pun berbunyi, Bella merapihkan buku-bukunya dan memasukkannya ke dalam tas dengan buru-buru. Dia ingin menghampiri Ansel namun pria itu malah langsung pergi keluar kelas tanpa memperhatikan Bella.
Sasya yang menyadari keganjalan itu langsung berbisik di telinga Bella.
"Bell, lo lagi marahan ya sama pak Ansel?"
"Iya Sya. Dia marah sama gue.." Jawab Bella lirih. Sasya mengerutkan keningnya.
"Marah kenapa Bell?"
"Kemaren malem pas gue masak Citra jatoh karna nginjek minyak, tapi gue gak ngerasa numpahin minyak Sya serius."
"Terus pak Ansel gak percaya sama lo?"
Tebak Sasya.
Bella mengangguk.
"Sabar ya, mungkin dia cuman emosi sesaat aja Bell.." Sasya mengelus punggung Bella.
Bella hanya menarik nafas panjang dan berusaha tidak menangis. Perasaannya benar benar sensitif sekali.
Sementara itu di kelas Kevin, kevin mengirimi pesan pada Sarah.
from: Kevin
'Sayang aku lagi pengen nih, ke gudang belakang ya.. oke?"'
Sarah yang membuka pesan itu langsung melotot melihatnya, dia menoleh ke arah Kevin. Kevin terlihat mengedipkan satu matanya dan memberi kode agar Sarah mau mengikutinya.
from: Kevin
'aku tunggu disana oke!'
Sarah kembali melihat ponselnya dan ketika menoleh ke arah Kevin untuk protes ternyata pria itu telah menghilang dari tempat duduknya.
Akhirnya Sarahpun bangkit dan berjalan ke belakang gedung tempat dimana gudang berada.
Dia melihat pintu gudang yang sedikit terbuka, Sarah celingukan kesana kemari dan memang area itu sepi sekali tak ada orang satupun yang lalu lalang disana.
Sarah melangkah masuk kedalam, dia melihat gudang begitu rapih walau sedikit berdebu. Banyak bangku bangku kuliah yang tidak terpakai yang diletakan disana.
Klek
Terdengar suara pintu tertutup. Sarah menoleh kaget ke arah pintu, ternyata Kevin sudah berdiri disana dan terlihat sedang menguncinya.
"Sayang..aku kangen banget.." Ucap Kevin sambil memeluk Sarah dengan mesra.
"Kenapa kita tidak ke kontrakan saja sih!" Sarah membalas pelukan Kevin,
"Memang kenapa disini? aku masih takut sayang saat tau ada cctv dikontrakkan mu!"
Kevin dan Sarah memang sudah beberapa hari ini memutuskan tidak bertemu di kontrakan dulu karna dia berjaga jaga takut ada yang mematainya lagi jika mereka bertemu disana.
"Aku tidak tahan saat melihatmu dikelas tadi.." Kevin langsung memagut bibir Sarah dengan brutal sementara tangannya berkelana kedalam baju sarah dan berusaha meraih dua gunung kembar milik gadis itu. Sarah terpekik sambil membalas ciuman itu.
Sarah merasakan jari jari Kevin mulai memelintir area sensitifnya. Berkali kali Sarah menggeliat manja dan menikmati setiap sentuhan dari Kevin.
"Ah, kevin!"
Kevin semakin menjadi dia lalu menyibakkan rok Sarah hingga pantat gadis itu kini terlihat didepan matanya.
bersambung..
__ADS_1