
Kami berempat telah keluar dari ruang guru, tampak Mamiku dan mami Amelia - mami Fauzan menatap kami dengan serius.
"Kalian itu berantem terus ya?" Tanya Mamiku penuh selidik.
"Ya! Dia nya rese mih!" Jawabku sembari menghindari kontak mata dengannya.
"Dia yang rese mih! Dia mancing emosiku!" Fauzan tak kalah menuduhku.
"Heuh... mbak mereka ini kucing sama anjing, udah deh yang penting kita tau. Ternyata mereka itu satu kelas, satu tempat duduk pulak" sekarang mami Amelia yang berucap dengan riang.
Aku mendelik kesal, sedangkan Fauzan wajahnya tampak kusut. Sekusut keset buluk.
"Kalian tuh masuk kesini karna ribut terus apa ada yang lain sih?" Mami Amelia mulai mencurigai sesuatu.
"Ya!"
"Enggak!"
Aku dan Fauzan memberikan dua jawaban yang berbeda, tentu saja itu membuat kedua wanita didepan kami makin mencurigai sesuatu.
"Yang bener yang mana?" Tanya Mamiku dengan menatap kami satu persatu.
"Kami cuma ribut mih!"
"Enggak mih! Gak cuma ribut, kita juga pelukan malah" kejujuran Fauzan membuatku menatapnya tajam.
Gila! Satu orang ini kenapa sih gak bisa diajak kerjasama?
"Ekhem jadi mana yang bener nih..."mami Amelia Menaik turunkan alisnya, seperti sedang menggodaku dan Fauzan.
"Fauzan bohong!"
"Kamu yang bohong!"
Lagi-lagi kita berdua memberikan jawaban yang berbeda, kenapa sih satu orang ini pengen banget ya ngeliat aku menderita?
"Mana sih dek yang bener? Jangan buat mami bingung coba?" Mamiku mulai mencurigai kalau aku yang bohong.
"Mih Fauzan bohong...." jawabku setengah merengek.
"Mih jangan percaya dia! Dia yang bohong!" Sekarang Fauzan yang malah berbicara, nadanya cukup serius.
"Udah-udah mbak, mending biarin mereka masuk kelas dulu. Nanti pas pulang kita tanyain aja! Oh iya buat mas Ozan, jangan lupa pulangnya bonceng dek zhari lagi ya? Bawa langsung aja kerumah kita" ucap mami amelia, berniat menengahi kepelikan tapi berujung kehancuran.
"Gak mau mih! Aku gak mau pulang sama dia..." jawabku to the poin.
"Nurut aja dek! Kamu gak bakal bisa keparis nanti, kalo gak nurut" Mamiku menatapku tajam.
"Ck buat apa keparis kalo syaratnya harus sama dia!" Aku melengos dan pergi dari hadapan mereka.
"Yaudah sana mas Ozan susul dek zhari juga" tampak dibelakang ku kedua wanita itu sedang mendorong-dorong si rese.
"Ya mih, Assalamualaikum..." jawab Fauzan pasrah.
"Wa'alaikumsalam..."
***
__ADS_1
Fauzan Nur Arkan POV
Setelah pamit Dengan dua sepuh itu, aku menyusul ikan teri. Ya sengaja aku namain gadis jutek itu ikan teri.
"Kamu kenapa sih gak jujur aja? Kamu juga nyaman kan sama pelukanku?" Tanyaku saat sudah berjalan beriringan dengannya.
"Apa sih?! Aku cuma malu" jawabnya dengan dingin.
"Malu? Apa yang harus kamu malu kan? Bukankah kita sudah dijod....." ucapanku tiba-tiba terpotong oleh suara dinginnya.
"Jangan bahas hal itu disini!" Ucapnya.
Aku bungkam, masih mending manut saja sama satu makhluk ini.
Walaupun badannya kecil, kurus, ramping, dan jangkung. Tapi tenaganya jangan ditanya! Aku sampe kalah tadi.
Kami berdua telah sampai dikelas, tampaknya dikelas sedang ada jam kosong. Karna mayoritas semuanya sedang berkutat dengan gadjet.
Aku dan ikan teri duduk di bangku masing-masing, kulirik lah si Teri betina ini. Dia sedang menumpu wajahnya dengan kedua tangan, tampak sedang berfikir.
Aku mengambil air minum ku, rasanya tenggorokan haus sekali, setelah berdebat Dengan ikan teri.
"Kalo jujur, menurutmu apa yang bakal dilakuin 2 keluarga kita?" Tanyanya tiba-tiba.
"Uhuk" aku tersedak setelah mendengar pertanyaan itu.
Perlakuan terkutuk apa yang akan dilakukan dua keluarga? Aku kok jadi merinding ya?
"Kenapa sampe mikir kesana?" Tanyaku balik.
"Ya... takut aja gitu, nanti mereka mau apa-apa lagi" ikan teri sedikit menggoncangkan badannya.
"Kamu terlalu banyak berfikir" ucapku dan menenggak minuman ini lagi.
***
Pulang sekolah aku membonceng si ikan teri, tapi gak langsung disekolah. Dia memilih jalan kaki sekitar 1 km dari sekolah, katanya biar gak ada yang curiga.
Okelah aku manut, lagian kaki dia sendiri kok yang pegel.
Sekitar 20 menitan motor gede ini sudah sampai di pelataran rumahku, aku manut sama mami biar gak diomelin.
"Harus banget ya kerumahmu?" Tanyanya dengan wajah ditekuk.
"Gue takut diomelin" jawabku sekenanya. Males betul ngurusin orang ini.
Akhirnya si Teri itu mau masuk kedalam rumahku, setelah beberapa negosiasi. Dia pasrah!
Kami melepas sepatu kami masing-masing dan mulai masuk kedalam rumah.
"Assalamualaikum...." ucap kami berdua berbarengan.
"Wa'alaikumsalam, eh nurut juga kamu mas bawa dek zhari kerumah. Yok dek makan dulu, udah ada mas firman sama mbak lili" Mamiku langsung menghampiri kami berdua.
Oh rupanya mas sama mbakku kunjungan kerumah.
Aku mengangguk paham, lantas aku berjalan santai menuju anak tangga. Mau ganti baju aku.
__ADS_1
"Eh mas Ozan... ajak dek zharinya dong" teriakan Mami membuatku menghentikan langkah ini dan membalik badan.
"Gak baik mih berdua-duaan terus" jawabku cuek.
"Gak baik kalo kamu nya macem-macem!" Mami mulai memelototiku dengan tajam.
"Ck" aku berdecak kesal, lantas aku pasrah. "Yaudah" ucapku setengah cuek.
"Sana dek ikut mas Ozan" mami mendorong tubuh teri itu hingga gadis itu menekuk wajahnya kesal.
"Ya mih!" Jawabnya, yang seketika membuatku menelan ludah.
Oh anak ini rupanya sudah mau kah menerima perjodohan aneh macam ini? Aku membatin dengan sedikit rasa gembira.
Kami berdua menaiki anak tangga dan masuk ke kamarku, aku mulai menaruh tas ditempat biasa, melepas kaos kaki. Dan melepas pakaianku.
Aku lupa kalau dikamar ini ada ikan teri.
"Ahhh..." teriakan ikan teri itu tiba-tiba membuatku tersadar akan kehadiran nya.
"Pake baju sana...." tampak gadis itu mengibas-ibaskan tangannya, mungkin malu ya ngeliat aku bertelanjang dada?
"Apa sih! Gaje kamu... nanti juga kalau udah nikah kamu bisa ngeliat badanku" ucapku cuek.
***
Tri Azhari POV.
Aku menelan ludah saat lelaki rese ini mengatakan hal seperti itu.
Apa dia berfikir aku mau ya melakukan sesuatu hal intim dengannya nanti? Membayangkan nya saja sudah membuatku ngeri.
"Apa sih lo! Cepet pake baju..." aku berteriak masih dengan menutup wajah ini.
Sejujurnya pemandangan terkutuk itu mampu menghipnotis ku!
Iya gimana gak ke hipnotis coba? Ternyata badan yang berbalut baju setiap hari itu, rupanya teramat kekar.
Ya ampun... aku mulai menyukai hal-hal mistis.
"Kalo suka jangan sok-sok an gak suka!" Ucapnya seperti mengerti gerak-gerik ku yang kadang-kadang membuka jemari sedikit, biar bisa ngeliat badannya.
Ups!
"Apa sih... cepat pake baju!" Suaraku merendah, wajah ini begitu panas. Malu woy!
"Ck" dia berdecak kesal.
"Siapa juga yang mau langsung pake baju? Aku mau mandi tau!" Tambahnya, setelah itu terdengar suara pintu tertutup.
Rupanya si rese sudah memasuki kamar mandi!
Aku membuka wajah ini, rasanya kok tiba-tiba ac kamar jadi gak ngaruh ya sama badan aku?
Aku memilih merebahkan tubuh ini diatas ranjang lelaki rese itu, sejujurnya aku nyaman sih tidur dikamar dia..
Wangi kamarnya itu loh yang bikin aku nyandu.
__ADS_1
Tanpa sadar mataku mulai ngantuk dan aku tertidur pulas setelah beberapa menit berkutat dengan gadjet.
...Bersambung........