
Kami berdua telah sampai ditaman belakang rumahku, tampak gadis itu Duduk dengan masih menekuk wajahnya dengan kesal.
"Kamu kenapa sih Za?" Tanyaku sembari menghela nafas saat melihat wajah kusutnya.
"Bisa ngak jangan panggil aku Za?!" Jawabnya dengan judes.
"Terus apa? Zhari? Gak enak" ucapku yang sepertinya membuat hati gadis itu mencelos.
"Kita batalin aja yuk perjodohan aneh ini?" Sekarang dia meminta persetujuanku Dengan wajah berbinar.
Oh rupanya dia benar-benar gak tertarik sama diriku ini 'ya?
Aku menatapnya dengan sebelah mata, "kamu itu percaya cinta gak sih Za? Kok kamu kaya gak ada rasa sih pas sama aku? Kamu lesbi?" Tanyaku dengan menyipitkan mata ini.
Dia malah mengusap pelipisnya, menggaruk telinga dan sesekali hidung kecil itu. Seperti tak ada ketertarikan dalam pembicaraan ini, "cinta itu hanyalah kata absrut orang yang berhati merah muda!" Jawabnya cuek.
"Terus pandangan mu tentang cinta bagaimana? Kamu itukan masih remaja kaya aku, kenapa gak ada rasa sama lawan jenis sih?" Tanyaku penasaran, tentu jangan ditanya diriku mungkin sudah memiliki rasa pada gadis ini.
"Cinta menurut pandanganku? Menurutku cinta itu adalah do'a, dan sebaik-baiknya cinta adalah mendo'akan nya"
Waw gagasan yang indah! Aku salut sama dia, kok dia yang gak percaya sama cinta jadi bisa sepuitis ini yak?
"Oh" aku menjawab cuek, lantas tak ada pembicaraan diantara kami. Hanya kesunyian yang bertabur kicauan burung yang terdengar.
***
Mereka diam membisu dalam seribu pikiran, menata kalimat untuk diucapkan. Apalagi pikiran zhari tak henti-hentinya mengutuki kelakuan keluarganya, apalagi tadi apa kata papi Fauzan? Dia disuruh manggil ortu si rese ini dengan panggilan papi and mami?
What!?
Zhari menatap langit yang sudah memunculkan sinar mentari, hari ini mungkin akan menjadi hari terheboh sekelas ips2, iya gimana gak heboh coba?
Dia dan Fauzan selalu membuat keributan, selalu gelud, pernah dihukum bareng tapi anehnya mereka selalu mau ngerjain tugas sekolah bareng. Dan sekarang mereka ijin sekolah bareng juga.
Tak jarang juga sebuah bisikan mampir di telinganya, mereka mengira-ngira kalau dia dan Fauzan cocok menjadi pasangan. Hello... dulu zhari sendiri merasa cocok dengannya, tapi entah semenjak tau dia orang yang dijodohkan dengannya. Zhari merasa gak Cocok lagi!
Zhari melirik fauzan, lantas dia melipat kedua tangannya didepan dada. Siap betul Ingin menghujani lelaki itu dengan sebuah pertanyaan.
"Gue mau tanya sama Lo!" Ucap zhari serius.
"Ya apa" jawabnya cuek.
"kenapa mami kamu manggil kamu tiba-tiba mas Ozan? Uhuk.... jangan bilang ini ada hubungannya denganku!" Zhari terbatuk sekali.
Lantas dia menatap zhari "umur kamu berapa?"
"18!"
"Oh Kamu lahir di bulan apa?" Tanyanya yang sekarang malah membuat zhari bingung.
"Maret! Apa sih Lo rese... buat apa nanyain tanggal lahir!" Jawab zhari judes.
"Tanggal berapa?" Sekarang dia malah bertanya hal yang semakin membuat zhari geram.
Pertanyaan macam apa ini?
"25!"
"Hah? Yang bener kamu!" Sekarang suara lelaki
itu tampak terkejut.
Zhari menggaruk pelipis dengan bingung, "ya!" Jawabnya.
__ADS_1
"Ada apa sih?" Tanya zhari sembari menatapnya.
"Gak... gak ada apa-apa" dia melambaikan tangannya, seperti sedang menutupi sesuatu.
Yaudah lah biarkan, biarkan saja....
"Mas Ozan... dek zhari sarapan bareng yuk" suara maminya Fauzan terdengar riang saat mendekati mereka berdua.
Zhari buru-buru berdiri, yah manut lagi dah diri ini. Kenapa dia selalu ngurusin perasaan orang lain, tapi perasaan sendiri gak diurusin?!
"Nanti besok-besok, kalau mau pulang sekolah dek zhari ikut mas Ozan aja ya? Biar dek zhari juga akrab sama mas dan mbak nya mas Ozan, kalo mau nginep dirumah ini juga gak papa kok" ucapan mami Fauzan langsung membuat zhari menelan ludah.
Gosip macam apa yang bakalan terjadi disekolah kalau mereka tau dia dan si rese ini adalah calon suami-istri.
Oh bisa-bisa nama baiknya tercoret lagi!
Zhari hanya mengangguk kikuk, dahlah biar dia hujani pertanyaan soal perjodohan aneh ini saat sampai dirumah.
Kami bertiga berjalan menuju meja makan, sudah ada banyak makanan. Tapi kok tunggu-tunggu, ada yang aneh...
Ikan gurame bakar, cumi goreng krispi sama udang asam manis? Bukankah itu makanan kesukaan nya? terus apa yang ada di depannya ini? Jus alpukat campur susu beruang?
"Mih ini..." zhari berencana bertanya pada maminya, tapi mami Fauzan malah menyela ucapannya.
Negerti kali yak sama ekspresinya?
"Dek zhari ayo makan, udah ada kesukaan adek juga loh..." ucap beliau.
Zhari hanya manut, sambil menarik ujung bibir nya menjadi senyuman tipis. jus alpukat campur susu beruang yang iklannya naga itu, adalah minuman favoritnya dipagi hari.
Dua keluarga ini akhirnya bisa makan bareng dengan ketenangan, walau hati zhari sudah ingin meledak-ledakan amarah.
***
"mih apa alasannya kalian ngejodohin aku?" tanyaku serius.
"biar kamu gak salah pilih pasangan dek!" jawab papi.
"loh kalo alasan gitu pasti pih! sekarang aku mau tanya kenapa gak mbak Mila aja yang dijodohin? dia udah cukup umur!" tawarku.
"enak aja! mbak belum pengen nikah!" sela mbak Mila yang tiba-tiba datang sambil mulutnya itu meminum susu kotak.
"ck dasar perawan tua!" aku melengos dan naik kelantai atas.
"eh gak ya! enak aja mbak perawan tua! cari suami tuh harus yang punya kepribadian sama!" bantah mbak Mila.
aku menghentikan langkah ini dan membalik badan, "ngomong aja gak laku! ck gak usah alasan mbak, jangan pake teori!"
"itu bener loh dek teori!" teriak mbak Mila lagi yang lagi-lagi membuatku ingin memukulnya.
"tuh kan ngomongin teori lagi!" aku cepat berjalan dan masuk kedalam kamar.
aku mengurung diri didalam kamar, pengen nangis tapi gak bisa! pengen jerit dikira gila. aku hanya bisa menahan kesal sambil menikmati senja bertabur gerimis, matahari agaknya bagus tapi kok aneh, antara menikmati dan tidak. bahagia sih ngeliat pemandangan senja yang bertabur gerimis, seperti yang sering kulakukan waktu kecil. cuma semenjak perjodohan ini aku merasa membenci senja.
Keesokan paginya aku dikejutkan oleh pemandangan wajah tampan seseorang yang berbalut baju olahraga didepan kamarku.
"Kamu..." aku menatapnya dengan bingung sekaligus heran.
"Ya Za! Mami nyuruh aku berangkat sekolah nya bareng sama kamu" tampak dia menghela nafasnya.
"Sini ikut aku..." aku menarik tangan Fauzan masuk ke kamarku.
Kalian jangan mengira aku mau apa, aku cuma mau ngucapin beberapa hal sama si rese ini!
__ADS_1
"Za Lo mau apa sih?" Tanyanya bingung saat aku sudah mengunci pintu kamarku.
"Sini sini duduk..." aku mendorong-dorong tubuh tegapnya untuk duduk ditepi ranjang ku.
"Mari kita batalin perjodohan aneh ini!" Ucapku gembira seraya tersenyum.
"Gimana batalinnya Za? Kita aja satu tahun lagi nikah!" Dia menekuk wajahnya.
"A-apa? Gila lo! Jangan bercanda zan! Gila.. gila kenapa harus satu tahun lagi?" Aku kaget dengan ucapan sirese di depanku ini.
Aku memijat kening ini pening, satu tahun lagi... aku baru jadi mahasiswi berapa bulan? Hello... bisa gak sih nikahnya pas aku udah jadi guru? Udah siap juga!
"Ini fakta Za! Gue aja bingung!" Fauzan malah merebahkan tubuhnya di atas kasur ku.
"Kamarmu nyaman juga" ucapnya setelah rebahan di kasur ku beberapa detik.
"Rese banget sih Lo!" Aku mendorong tubuhnya geram, lantas aku berdiri dan keluar dari kamarku.
"Za!" Teriak Fauzan saat pintu kamarku tertutup, Akhirnya dia mau menyusulku kebawah.
"Kalian sarapan dulu yuk!" Tampak mami menghampiri ku dan Fauzan yang baru turun dari lantai atas.
"Masih kenyang mih" aku menarik tangan Fauzan agar lelaki ini cepat mengikuti ku.
"Ckck mau berangkat sekolah kok gak salam dulu sama mami papi?" Sindirnya saat kami sudah ada didepan teras.
"Ck cepat langsung berangkat aja kesekolah" jawabku judes.
Dia manut dan mengambil motor gedenya yang terparkir didepan bagasi rumahku.
"Cepet naik" ucapnya.
Setelah aku menaiki motornya, motor ini langsung melaju Dengan kecepatan stabil.
Tak berapa lama 14 menitan kami sampai disekolah, tampak pak aryo- scurity sekolah menatap kami dengan bingung.
"Wah kalian kok bisa bareng gini sih? Kemarin juga kalian gak berangkat, sama-sama izin. Janjian ya?" Tanya beliau.
"Kebetulan keluarga kami berdua masih kerabat pak, kemarin kami ada acara" jawabku berbohong.
"Oh yaudah silahkan masuk" beliau mempersilahkan kami masuk kedalam.
Fauzan memarkirkan motornya ditempat parkir biasa, lantas dia menghampiriku. "kenapa sih Lo harus bohong segala Za?" Tanyanya.
"Kenapa? Apa kamu mau jadi bahan lelucon satu sekolah? Kita masih SMA dan kelakuan keluarga kita gak ngotak!" Geramku Dengan memukul lengannya gemas.
"Iya juga ya" dia nyengir kuda.
Saat kami sampai dikelas, Laila dan beberapa temanku langsung menghampiriku dan Fauzan.
"Kalian itu beneran cocok jadi pasangan tau..." ucap Tania saat melihat posisi badanku dan Fauzan yang tak ada jarak.
"Beb Lo jangan bilang kalo Lo sama dia itu beneran udah jalin hubungan ya? Kalian selalu kompak dan tak terpisahkan" ucapan Laila membuatku memutar mata ini malas.
Hello.... bukan sekedar cocok menjadi 'pasangan' tapi kami memang sudah mau menjadi pasangan! Resmi negara dan agama pulak! Batinku tersayat-sayat.
...Bersambung........
***
wah kalo Laila sama temen zhari pada tau hal sebenarnya apa ya tanggapan mereka? yuk guys pantengin aja ya :) semoga kalian selalu diberikan kesehatan❤ jangan lupa like, komen, vote dan hadiahnya.
Thanks you👋
__ADS_1