Summer Love

Summer Love
CH 76. Dengarkan aku sayang


__ADS_3

"Jadi pelukanmu sama wanita itu, ternyata Irene?" Pecah mami Nanda tiba-tiba.


Sekarang aku langsung bingung, "pelukan wanita itu? Mami udah tau duluan?" Tanyaku bingung.


"Ya sejujurnya, pas jam satu. Istri kamu bereng Zia, keliling nyari kamu. Mulai dari rumah mas firman, perusahaan, nelfon mami Lia, dan terakhir club. Pas nyampe club, Riri liat kamu lagi pelukan sama irene. Dia kira Irene wanita selingkuhan kamu mas, seharusnya juga malam-malam bumil gak boleh keluar rumah. Tapi Riri maksa dan malah bikin kondisinya drop" jelas mami Nanda.


"Terus dia dimana mih?" Aku mulai gusar, sampai lupa tujuan paling utama ku kan. Ingin melihat kondisinya.


"Dia lagi dikamar, mami sendiri jadi bingung. Gimana ngejelasin semuanya secara terang-terangan, karna kalo liat sikisnya. Mami yakin, baru ngomong nama kamu aja. Dia langsung nolak" mami Nanda merasa tak enak sendiri.


"Yaudah dimana mih? Aku yang akan jelasin" aku sudah tidak sabar.


"Dia dikamarnya, mas." Tanpa ada yang menyuruh, aku langsung pergi kekamar zhari yang ada dilantai dua.


Dengan langkah cepat, aku sudah ada didepan kamar zhari.


"Dek kamu didalam? Buka pintunya...." aku mengetuk-ngetuk pintu.


"Dek, buka pintunya. Ada yang mau aku omongin" ucapku lagi, tapi sayang. Tidak ada sahutan dari dalam.


"Dek, dengerin aku. Itu cuma kesalahpahaman...." aku masih mengetuk-ngetuk pintu.


"Kesalahpahaman?! Pergi kamu mas! Aku enggak mau ketemu kamu lagi!" Jawaban penuh emosi terdengar dari dalam kamar.


Aku semakin khawatir, khawatir karna mungkin saja emosinya bisa berpengaruh pada anaknya.


"Dek, ini cuma kesalahpahaman. Dengerin aku dulu" ketukan pintu yang awalnya biasa menjadi gedoran.

__ADS_1


"Pergi! Aku enggak mau ketemu kamu lagi. Aku muak, aku benci!" Suaranya bergetar, hatiku merasa nyeri. Hah masalah sepele bisa jadi besar?


"Kamu salah paham! Aku nggak pernah selingkuh, pergi ke club aja. Baru pertama kali! Jangan asal nuduh a---"


Ucapanku langsung dipotong, "aku enggak percaya! Dari dulu kamu orang nya nekat. Iya mungkin pertama kali bagi mataku melihatmu pergi ke club, tapi dibelakangku. Mungkin saja kamu sudah berkali-kali, hah bahkan mungkin banyak wanita yang kamu ti----"


Selaan-nya langsung aku potong, "kamu salah! Aku enggak pernah main perempuan, cuma kamu dek! Kamu!" Aku mulai emosi, tapi masih berusaha aku tahan.


"Kamu emang pembohong handal mas, kamu pelipur luka tapi sekaligus penggoresnya! Aku enggak percaya sama kamu. Aku muak!" Terdengar isakan mulai keluar dari mulutnya, Ingin sekali aku mendobrak pintu dan memeluknya. Tapi disisi lain, takut dia tengah berdiri didepan pintu.


"Dek, dengerin aku dulu..... semuanya bisa dibicarakan baik-baik" aku menarik napas dalam-dalam, jika dia egois. Setidaknya aku jangan, jangan sampai pernikahan ini berakhir ditengah jalan, cukup zona nyamanku yang berakhir.


"Aku enggak mau dengerin kamu! Aku udah engga percaya kamu! Sudahlah mas, aku emang enggak pantes buat kamu. Aku hanya benalu dihidup kamu, aku cuma orang yang bisanya nyusahin kamu." Dia mulai meracau tak jelas.


"Ngomong apa kamu? Siapa yang benalu? Enggak ada! Dek, buka dulu pintunya. Ini cuma kesalahpahaman" aku mulai gusar.


"Mas..." mami Lia dan mami Nanda mencegah ku yang hendak bicara.


"Dek, dengerin dulu suami kamu. Kami udah tau itu cuma kesalahpahaman" ucap mami Lia sambil mengetuk pintu pelan.


"Nduk, jangan sampe omosi bikin kamu keguguran. Inget nduk, semuanya bisa diselesaikan dengan kepala dingin. Masalah dalam rumah tangga, selalu datang silih ganti. Jadi tolong nduk, jangan egois" mami Nanda mulai menasehati sang anak dengan halus.


"Aku muak mih! Aku sakit!" Jawaban zhari langsung membuat hatiku semakin nyeri.


"Nduk, dengerin dulu penjelasan suami kamu. Buka pintunya, apa mau didobrak?" Mami pun mulai tidak tahan.


"Aku bakal buka pintu, asal mami pergi" jawabnya terdengar sumbang.

__ADS_1


"Iya mami pergi" akhirnya mami Lia dan mami Nanda pun pergi.


Ceklek.....


Pintu dibuka, memperlihatkan seseorang yang sangat aku cintai. Ya, walau penampilannya acak-acakan. Matanya sembab dengan lingkaran hitam. Dia tetap cantik dimataku.


Aku langsung memeluk tubuhnya, menutup pintu dengan satu kaki dan memberikan banyak kecupan diwajahnya.


"Lepas mas! Jangan peluk aku dengan tubuh kotormu ini, aku jijik" dia berusaha mendorong tubuhku.


"Sayang dengarkan aku dulu...." aku menatapnya sayu.


Dia memalingkan wajah, "jangan pernah menatapku dengan mata bern*fsu mu itu, jangan peluk aku dengan tubuh kotormu. Jangan cium aku Dengan bibirmu yang sering berbohong, aku muak" ucapnya.


Karna melihatnya seperti ini, aku akhirnya yang mengalah. Aku meraih tangannya dan bersimpuh dibawah, "dek, sumpah demi Allah! Aku nggak pernah main perempuan. Alasan aku pergi tanpa ngasih tau kamu, ya karna aku nggak mau kamu bangun. Aku pengen----"


Lagi-lagi ucapanku dipotong olehnya, "pengen ketemu simpanan kamu, tapi enggak mau aku tahu kan?" Tuduhnya.


"Ya ampun, sampai kapan kamu keras kepala dek? Dengarkan aku dulu!" Aku bangkit dan langsung mendorong pelan tubuhnya keranjang, apalagi hal yang bisa membuatnya luluh jika bukan ranjang?


Dia tampak gemetar, "m-mas? Mau apa kamu?" Wajah takutnya itu malah membuatku gemas.


"Aku suka liat kamu cemburuan, tapi kalau cemburumu bisa menutup hatimu dan mengeraskan kepalamu. Kayaknya aku lebih suka tidak dicemburui" ucapku duduk ditepi ranjang.


"Apa maksudmu?" Dia ikut duduk ditepi ranjang, tapi menjaga jarak denganku.


Aku menoleh kearahnya, senyum sedih bercampur pahit muncul di bibirku. Ingin sekali aku berkata, 'selain i do love you, anna uhibbuki fillah' juga adalah ungkapan cinta paling berharga diatas segalanya. Jika i do love you bermakna selamanya, maka Anna uhibbuki fillah juga bermakna mencintaimu karna Allah. Ya aku mencintainya karna Tuhan, bagiku dia anugrah terindah yang tuhan berikan.

__ADS_1


...Bersambung..........


__ADS_2