Summer Love

Summer Love
Ch 64. jalan keluar yang manis


__ADS_3

hari-hari selanjutnya, aku mulai melakukan aktivitas seperti biasa. berangkat jam setengah 7 pagi dan pulang di jam 2 atau 3 sore, mungkin kalau jadwal ngajar hanya ada 2 jam atau 4 jam-an aku akan pulang satu jam setelah jadwal ngajar mengajarku selesai.


seperti saat ini, karna hari Jum'at jadwal mengajarku cuma satu jam di jam ke-2, aku memutuskan pulang saat jarum jam menunjukkan pukul 10.


ku tunggu suami tercinta menjemputku, katanya dia tengah diperjalanan. maksa banget ya aku mau dijemput? padahal Jhony pun bisa menjemputku.


"Za Lo mau pulang? Ck anter gue yuk ke mall dulu" Laila menghampiriku yang tengah berjalan hendak keluar dari lingkungan sekolah.


"oh kayaknya gak boleh deh sama 'dia nya" jawabku sambil tersenyum.


"duh ibu Azhari yang udah ngebucin, gini amat dah! lagian Fauzan juga bakal ngijinin Lo kok buat ke mall." gerutu Laila.


"yaudah sekarang aku tanya." aku berhenti berjalan dan menatap Laila, "satu jam lagi Lo kan ada kelas? emang cukup ke mall satu jam?" tanyaku penasaran.


"beres itu mah! aku udah ngasi tugas kok ke anak kelas Mipa3 nya" ujarnya terdengar riang, aku menghela napas panjang.


"yaudah sana ambil tas Lo, nanti aku nyuruh Fauzan dulu buat ngantar kita ke mall" putusku sedikit gusar.


"Udah" Laila mengangkat Sling bag kecilnya kedepan wajahku.


"Ck yaudah" aku langsung berjalan didepannya.


"gitu aja kok cemberut? bumil emang gitu kah?" Laila memasang senyum gemas.


aku melipat bibir sedikit kesal dan menatap nya tajam, "bisa nggak si perawan tua ini cepet nikah? biar nggak ngusilin hidup aku terus?"


"wouh...... perawan tua? nggak salah denger nih gue? perasaan umurku lebih muda 4 bulan dari lo deh?" jelasnya tak suka.


"ya makannya karna lebih muda dari aku, Lo itu perawan tua" aku tertawa sambil menepuk pundak Laila yang masih cemberut.


"ya terserah Kanjeng ratu!" Laila mengalah, wajah terhempas badai nya itu terpaksa atau memang tulus diberi pelangi. Karna tiba-tiba saja dia tersenyum manis kearahku.


"gue jadi penasaran habis Lo ngomong cuma masuk angin pas di perkemahan itu, gimana sih reaksi Fauzan?" Laila menatapku.


"yah begitu" aku mengangkat bahu acuh, agak malas kalau membahas masa lalu.


"gitu gimana?" laila masih menatapku dengan penasaran.

__ADS_1


Tinn...


suara klakson mobil mencegah ku memberikan jawaban pada Laila, aku mendongak dan menatap mobil Pajero warna hitam itu berhenti tepat didepan kami.


Fauzan turun dari mobil dengan kaca mata hitam yang masih bertengger dihidung mancungnya.


"la" sapa Fauzan ramah pada Laila sambil tersenyum manis kearaku.


"yuk sayang, katanya mau ke dokter?" ucapnya manis, tanpa memperdulikan wajah Laila yang melongo.


aku mencium tangan Fauzan dan dibalas kecupan hangat di kening ku, aku tersenyum manis kearahnya. "anter aku ke mall dulu ya mas? Laila juga ikut" ajakku manja, sumpah aku kayak manas-manasin Laila, hah mungkin aja dengan begini perawan itu cepet nikah hehe.


"buat apa?" jawabnya menggerutu.


"eumm... ka-kalo nggak bisa, gak usah za, zan. a-aku pergi sendiri aja" Laila langsung mengurunkan niatnya saat pertanyaan tak sopan meluncur dari mulut suami rese ku.


"nggak papa la, gak papa kan mas?" aku menatap Fauzan dengan tajam, dan mencubit perutnya dengan keras. berharap pria ini sedikit mengerti.


"awh... ya-iya nggak papa la" ucapnya terpaksa sambil tersenyum.


Dengan Canggung laila masuk kedalam mobil, dia duduk sendirian dikursi belakang. karna si rese - fauzan melarangku ikut duduk dibelakang juga, katanya dia bukan sopir.


diperjalanan suasana tampak hening, aku Bingung mau berkata apa. kan agak malu juga kalau kebar-bar an ku pada Laila diketahui sang suami, walaupun kenyataannya Fauzan juga tau aku sedikit bar-bar.


"Kamu beli apa emangnya?" tanya Fauzan menatapku dengan tatapan dalam.


aku salah tingkah, tapi segera ku kuasai situasi. "nggak tau, liat aja nanti" jawabku.


"liat aja nanti, ujung-ujungnya beli banyak barang" gerutu Fauzan sambil tersenyum, dia mencubit pipiku dengan tangan kirinya. tampak mencairkan suasana, namun tidak Dengan laila yang hanya menjadi nyamuk bagi kami.


"ya daripada duitnya gak kepake" balasku mengelus pipi Fauzan, sumpah aku benar-benar manasin Laila yang hanya memainkan jari jemarinya dengan canggung. yaudah lah nggak papa biar si perawan itu juga cepet laku, cepet nikah. biar nggak rese dan kepo sama pernikahan ku.


tanpa terasa dua puluh menit kami sudah sampai di mall, kami turun dari mobil bersama-sama. Fauzan menggandeng tanganku dengan mesra, tampak tak rela jika aku berpisah darinya.


"kemana dulu?" tanyanya dengan menyentuh hidung mancung ku.


"la kemana?" aku menatap Laila yang berkali-kali menghela napas.

__ADS_1


"supermarket, mau beli kebutuhan bulanan" jawabnya memaksakan senyum tipis.


"oke"


aku dan Laila tengah memilih-milih berbagai kebutuhan pokok dan cemilan, rupanya mall tengah dibanjiri diskonan. benar kata Fauzan, ujung-ujungnya aku beli banyak barang. jiwa ke emak-emak an ku muncul kalau soal beginian, lumayan kan uang jajan yang diberi Fauzan masih bisa ku hemat-hemat. eh bahkan ini nggak hemat sama sekali lho, nyatanya aku malah pake kartu Fauzan, Bukan kartu sendiri. hehe istri macam apa aku ini?


saat tengah membantu Laila membawa banyak belanjaannya ke kasir, seseorang memanggil namaku. bukan, bahkan itu bukan nama. semacam panggilan khusus, ya suaranya tak asing.


"beb.." panggil nya lagi dengan suara keras.


aku tertegun, Laila dan Fauzan pun sama. kami membalik badan berjamaah dan menemukan sesosok laki-laki dewasa berkacamata kotak tengah menghampiri kami.


"maaf cari siapa ya?" tanyaku sedikit memperhatikan wajahnya, kalau soal suara dan panggilan aku yakin dia Naufal. cuma, kok agak beda wajahnya?


"Beb ternyata benar itu kamu, ya ampun aku rindu kamu beb. aku baru pulang dari Amrik, nanti malam kita dinner yuk?" Naufal menghampiri ku dengan girang, hendak saja dia akan memelukku sebelum Fauzan maju menjadi benteng akan kegilaan teman SMA kami.


"maaf Anda siapa? dia istri saja!" ucapnya judes dan curam, langsung badmood kayaknya.


"ah apa?" Naufal menubruk badan fauzan dan tertegun, mencerna ucapan yang baru dia dengar.


"ya zhari istri saya! Anda siapa? manggil orang kok nggak sopan?" jelasnya lagi sambil menurunkan kaca mata hitamnya.


"istri? Kamu....." Naufal menyipitkan matanya sambil menatap Fauzan dengan dalam, "kamu Fauzan?!" pekiknya tak percaya setelah menatap Fauzan dengan lama.


"ya dan siapa Anda?, kalau mau dinner Ayuk bareng saya?" fauzan mengulurkan tangannya dengan senyum pahit.


"oh jadi bener ya, bidadari biru sman 66 udah nikah? aku kira itu cuma rumor" Naufal mundur selangkah dengan lemas.


"ya dia nikah dengan saya, saya tanya sekali lagi. anda siapa?" fauzan makin tidak sabar, kecemburuan nya sudah diambang batas.


"maaf kamu nggak perlu tahu siapa saya, maaf kelancangan saya. saya permisi" Naufal membalik badan dan pergi, dia cukup sadar untuk tidak merebut istri orang.


aku menggebuk tangan Fauzan, "gitu banget sih? kan bisa diselesein dengan baik-baik" ucapku menggerutu sambil memikirkan bagaimana perasaan Naufal tentang cinta pertamanya? sebut saja aku, karna dia pernah bilang kalau aku gadis pertama yang bisa merebut hatinya.


"dih gitu banget sama fans, ini tuh yang dinamain jalan keluar yang manis!" ucapnya sok paling benar.


"manis dari mana nya?" aku menggeleng pelan kepalaku.

__ADS_1


"ekhem" Laila berdehem yang membuatku dan Fauzan terfokus lagi pada belanjaan.


...Bersambung..........


__ADS_2