
4 Minggu 4 hari telah berlalu setelah Fauzan 'menculikku' ke Magelang, tepatnya awal bulan November ini. musim sudah berganti menjadi musim penghujan, gerimis melanda sejak kemarin sore.
yang hanya bisa ku lakukan disaat-saat seperti ini, cuma rebahan dan membaca buku (kalau memang sedang tidak mengajar). tapi untuk saat ini aku tengah mengecek absensi tugas siswa, yang rata-rata banyak dan belum dikumpulkan. agak susah jadi guru disaat ulangan semester menyapa tapi sedikit siswa yang mengerjakan tugas, memangnya merekap nilai untuk raport sangat mudah? tentu itu pekerjaan yang tidak mudah.
aku beranjak dari meja kerjaku dan pergi keruang keluarga. duduk disana dan mengelus perutku yang sudah sedikit membuncit, tak terasa pernikahan dari perjodohan ini sudah aku lalui selama 71 hari atau samadengan 2 bulan 10 hari.
air mataku menetes tanpa terasa, tak menyangka saja. lelaki yang dulunya Adalah pathner geludku disekolah, sekarang menjadi suami yang siap siaga untuk ku. walau kadang tidak peka.
bahkan sekarang, benih yang dia tanam dirahimku sudah menjadi janin yang sehat. hanya saja aku belum tau di perutku ada anak kembar atau hanya sebiji? (eh maksudnya tunggal), jika kutimbang-timbang dari besarnya perut dengan n*fsu makanku yang kian meningkat. aku percaya kalau ini kembar.
aku mengusap layar ponselku, yang menunjukkan foto pernikahan kami. semakin kulihat foto itu semakin tersenyum getir aku, dimana-mana pengantin akan menunjukkan senyuman paling manisnya. alih-alih seperti itu, aku hanya berwajah datar, sungguh seperti lelucon. mungkin kalau tau ujung-ujungnya kaya gini, aku juga akan memberikan senyuman termanis ku. ah ini hanya perkara waktu.
drtt....
getaran ponselku yang tengah kupegang, langsung membuatku melihat si pemanggil, benar saja Fauzan tengah menelfon ku.
"Assalamualaikum mas" ucapku lembut.
"wa'alaikumsalam dek, maaf ya hari ini aku pulang habis isya-an kayaknya. soalnya kamu tau kan, udah mau akhir tahun. aku lagi ngejar proyek" suara Fauzan tampak terdengar lelah.
"gak papa mas, udah ah kayak disini nggak ada orang aja. mami Nanda juga mau nginep katanya" aku berdiam diri setelah mengatakan itu, sangat rindu hati ini pada mami Nanda yang ceriwis. sama mas Zidan yang jail, papi yang kadang baperan dan kakak paling ajaibku (mbak Mila)
mereka semua tidak kulihat lagi semenjak terbongkar nya kehamilan ku, ya it's okay aku paham, mami Nanda wajar saja kalau sibuk. baliau selalu stanbi dirumah sakit, papi menikmati masa tuanya sendiri dan kadang membantu mas Zidan yang kesusahan. dan mbak Mila pasti sibuk dengan setumpuk berkas mahasiswanya, mungkin hanya mami Lia lah yang selalu renggang, buktinya satu sampai tiga kali dalam seminggu beliau mengunjungi ku.
"baguslah, aku nggak terlalu khawatir" balas Fauzan menghela napas lega.
"iya mas, jangan lupa makan ya? apa mau aku anterin makan siang?" tawarku sambil menatap jam dinding yang menunjukkan pukul 11 siang.
"Kalo kamu nya nggak kecapean ya nggak papa dek, cuma perginya bareng Jhony ya? awas jangan sampe berani-beraninya sendiri!" ucapnya khawatir.
"iya" aku langsung menutup panggilan dan berjalan kemeja makan.
setelah menyiapkan makan siang untuk Fauzan, aku mengganti daster dengan baju casual seperti biasanya.
aku menghampiri Jhony yang tengah mengopi bersama pak Ryan, "Jon anterin aku ke perusahaan dong" ucapku padanya sambil menenteng paperbag yang berisi makanan.
"oh iya, bentar Bu" Jhony menyudahi mengopinya sebelum mengambil mobil yang ada di bagasi.
__ADS_1
setelah mobil diambil, aku masuk dan mobil pun segera meluncur ke perusahaan papi Hendrik.
tak lama mobil ini sampai didepan perusahaan, "saya tungguin apa gimana Bu?" tanya Jhony sebelum aku keluar dari mobil.
"pulang aja Jon, nanti aku dianter Adit atau mas Ozan. makasih ya" jawabku sambil tersenyum.
"iya Bu sama-sama" Jhony mengangguk sambil tersenyum.
aku masuk ke perusahaan dan disambut ramah oleh staf dan karyawan yang berlalu lalang, padahal kalau aku pikir-pikir. baru dua kali ini aku ke perusahaan, tapi udah sangat-sangat disambut baik. okelah mungkin kesan yang paling menonjol, karna aku istri dari gunung es (Fauzan Nur Arkan)
aku menaiki lift dan segera kelantai atas, lantai 15. memang gedung ini hanya terdiri dari 15 lantai. belum sebesar perusahaan papi yang berdiri dengan 24 lantai.
Tok... tok...
ketukku pada ruangan Fauzan.
ceklek....
pintu dibuka dengan memperlihatkan wajah Adit yang lelah. "eh mbak udah Dateng, masuk aja udah ditungguin tuh sama mas Ozan nya" ucapnya sebelum berlalu pergi keluar ruangan.
"Assalamualaikum mas" salamku lembut sebelum menutup pintu.
"eh dek udah dateng aja, sini duduk" Fauzan menepuk pahanya, aku hanya menunjukkan wajah bingung dan aneh.
"gak papa duduk dipangkuan aku kan lebih enak" jelasnya setelah melihat wajahku.
"oh oke" aku tersenyum dan menuruti perintahnya.
"masak apa? kayaknya enak?" tanya Fauzan saat aku mengeluarkan tapware plastik dari paperbag.
"kayak biasanya, tapi sekarang ada rendang" jawabku membuka satu persatu tutup tapware.
"wah kayaknya enak, suapin dong yank" rengeknya bak bayi yang baru bisa jalan.
"iya" aku tersenyum dan segera menyuapi Fauzan.
"kalau makan jangan sambil kerja mas, makan ya makan. kerja ya kerja" kesalku saat melihat Fauzan baru beberapa suap makan langsung berkutat dengan laptop nya lagi.
__ADS_1
"perusahaan lagi ada masalah dek, selain ngejar proyek. ada bug yang mau mencuri data perusahaan juga, aku lagi usaha ini." jelas Fauzan sambil melirikku sedikit.
"oh yaudah lanjutin" aku melengos dengan bibir mengerucut, duh hormon ku gini lagi! kenapa sih dek? Dady kan lagi kerja, gak harus sensi juga dong! kan mommy yang tercoreng jadinya.
"yes! berhasil....." Fauzan menggebrak meja dengan keras, sampai membuatku tercengang. bahkan aku mengelus dada karna terlalu shock.
"kenapa sih? suka banget bikin aku jantungan?" tanyaku sambil menatap laptop Fauzan yang menunjukkan file-file dokumen perusahaan.
"akhirnya...... aku bisa memblokir bug nya" Fauzan tersenyum dan menciumi pipiku.
"emang susah ya ngeblokir itu?" tanyaku aneh.
"susah dek, sini suapi aku lagi" Fauzan memulai mode manja nya lagi.
"duh makan sendiri aja!" aku menaruh tapware dan beranjak dari pangkuannya.
"dek kenapa sih, duh hormonnya naik lagi ya?" Fauzan sepertinya sudah paham dengan setiap perubahanku.
"kayaknya!" aku duduk di sofa dengan cuek.
"duh jangan gini dong, cup... cup...cup" Fauzan duduk disampingku dan menciumi setiap inci wajahku.
"aduh mas, ini dikantor" aku mulai risih.
"terimakasih sayang.... terimakasih kamu udah mau mengandung anakku, terimakasih untuk semuanya. Terimakasih telah memberikan hidupmu untuk mengurusku" Fauzan menatapku berkaca-kaca, dia bahkan menciumi setiap buku jari jemari ku.
hatiku melembut, aku tersenyum manis kearahnya dan menyentuh wajah tampannya. "terimakasih kembali karna telah mengajariku artinya cinta, tanpamu aku nggak akan bisa percaya laki-laki. Terimakasih...." air mataku menetes dan segera saja kupeluk lelaki ini Dengan erat.
jika bertanya apakah summer pernah mengecewakan? jawabannya tidak, summer tak seburuk yang aku bayangkan. Karna summer membawaku pada orang yang tepat.
...Bersambung........
hallo geng.....
author kembali dengan sejuta keluh kesah😂, Weh gak terasa babang Fauzan udah sampe chapter 68 aja😌 menurut kalian bayi mereka nanti kembar atau sebiji nih? yaudah daripada mikirin itu nambah beban, mending like, komen, vote dan Hadiahnya ya man teman🙌
thanks you🙌😊
__ADS_1