Summer Love

Summer Love
Ch 29. Dua Minggu


__ADS_3

Perjalanan dari butik kerumah mas firman teramat lama, sekitar 35 menit kami baru sampai.


Kami berempat turun dari mobil, terlihat dikursi putih dibawah redupan pohon besar di taman depan rumah mas firman tampak mbak lili sedang duduk sembari mengayun-ayunkan bayi perempuan bernama - Gantari Nur Hya yang biasa dipanggil Hya itu.


Tak lupa juga sang suami dan ayah bayi - mas firman selalu ada disamping mereka, agaknya Hya ini akan menjadi anak yang mendapatkan banyak kasih sayang. toh dia cucu pertama didalam keluarga mami Lia.


Mami Lia dan mamiku berjalan lebih cepat dariku dan Fauzan, mereka ternyata amat gembira melihat bayi mungil cantik itu. Ya kuakui anak mbak lili dan mas firman teramat cantik, yang membuatku merasa ragu apakah anakku nanti akan secantik diriku? Batinku menerka-nerka.


"Ngelamunin apa kamu?" Cegah Fauzan sembari menyenggol lenganku.


Aku menatapnya kesal, "gak usah tau!" Balasku sengit, lantas aku berjalan mendahului nya menuju sekumpulan orang yang tengah bermain dengan baby kecil itu.


"Ucuh.... hya cantik banget" aku mencubit pipi bayi itu dengan gemas yang membuatnya agak terganggu, untung saja Hya tak menangis.


"Dek!" Cegah mami menampek tanganku.


"Apa sih mih? Gak nangis kok Hya nya" bantahku, dengan menekuk wajah kesal.


"Gak papa kok, Hya gak nangis juga" bela mbak lili sembari tersenyum, agaknya rona bahagia itu selalu ada setelah Hya lahir ke dunia.


Beruntungnya kau nak....


"Ekhem" keributan kami dipecah oleh deheman Fauzan, pria rese itu sedang menatapku dengan aneh. Yah memang tak biasanya aku sembrono pada bayi - contoh kecil mencubit pipinya, walaupun kebiasaan itu tak aneh bagi banyak orang tapi... mbak lili dan mami ku kan seorang dokter, mereka pasti mengerti mana yang boleh menyentuh bayi dan tidak, contoh kecil lagi harus mencuci tangan sebelum memegang wajah nya. Karna virus dan bakteri mana ada yang tau?


Suasana canggung sebelum dihentikan oleh mami Lia, memang wanita cantik itu tak pernah menyempatkan dirinya pada situasi-situasi aneh, walaupun yang membuat situasi aneh itu dirinya sendiri.

__ADS_1


"Eum biar mami yang gendong Hya" ucapnya sembari mengambil bayi itu dari tangan mbak lili.


"Wah cantik bener cucu omah..." ucapnya girang sembari tersenyum lebar kearah bayi itu.


Kami semua hanya tersenyum melihat mami Lia yang teramat bahagia, Aku jadi bertanya-tanya bagaimana reaksi Mamiku sendiri ketika aku punya anak nanti? Sit! Kenapa pikiran liarku kemana-mana? Tak mungkin aku bisa hamil anak pria rese itu! Amit-amit.....


"Wah mami jadi inget kapan ya mami bisa punya cucu?" Ucap Mamiku sedih seraya menatapku dan Fauzan bergantian.


Hatiku bergetar, rasa sakit merayapi. Dicampur rasa ngeri yang membara, aku paling benci kalau soal bahasan kearah 'penukaran benih' atau lebih tepatnya membuat anak!


Aku melengos sembari mengeluarkan ponselku, berpura-pura sedang melihat sesuatu.


"Nanti mbak, kan dua minggu lagi..." jawab mami Lia sembari matanya itu melirik kearahku dan Fauzan.


"Iya nih kalo aja nikahnya pas 5 tahun lalu, udah punya berapa cucu kita" Mamiku makin memanas barai diri ini yang sudah tak tahan.


"Kamu kenapa sih?" Fauzan mengernyit saat aku melepaskan lengannya.


"Anter aku pulang! Cepet..." kesal ku sembari mendorong tubuhnya.


"Ampun belum nikah aja udah kdrt kamu!" Ucapnya sembari memasuki kemudi.


Aku tak membalas, langsung saja kumasuki mobil pria ini sambil mempertahankan wajah kesal ku. Gimana gak kesal coba? Hidupku berubah drastis setelah perjodohan aneh ini menyapa, ditambah aku harus hamil anak pria ini.... pria ini!..


Fauzan menjalankan mobilnya setelah menghela nafas beberapa kali, "kamu beneran gak mau hamil anak aku nanti?" Tanyanya yang membuatku terhenyak kaget.

__ADS_1


"Dari awal perjodohan ini konyol! Aku gak pernah setuju! Kita juga harus buat kontrak pernikahan!" Jawabku ngegas.


"Kamu masih belum percaya cinta?" Dia menatapku sebentar dan mengalihkan pandangan lagi ke jalanan.


"Eum..." aku diam membisu, apa yang pria ini katakan memang benar adanya, sedari dulu aku tak pernah percaya akan cinta! Walaupun benih-benih cinta itu sudah tumbuh lima setengah tahun lalu dihati ini.


"Aku bisa kok buat kamu percaya akan cinta" ucapnya lagi karna melihatku tak menjawab pertanyaan nya yang pertama.


"Ee.. A-apa benar?" Tanyaku ragu sembari menatapnya.


"Yah kau akan tau bagaimana rasanya mencintai seseorang, yang dulu cinta kau anggap menye-menye itu akan malah membuat hatimu berbunga" jelasnya.


Aku masih ragu, mencari kebohongan diraut wajah pria ini. Tapi sayang agaknya ucapan itu memang benar, jadi orang yang menye-menye itu sebenarnya hatinya berbunga? Benarkah?


"Tapi... kamu benarkan?" Tanyaku masih banyak rasa ragu, bagaimana pria ini mau membuatku percaya cinta? Sedangkan hatiku saja sepertinya benar mencintai dia?


"Ya apa kau tak percaya?" Dia menatapku dengan lekat saat mobil ini berhenti di lampu merah.


"Oke?" Aku mengangguk malu dan melengos kearah jalanan.


Perjalanan dilanjutkan dengan keheningan, tampaknya kami memikirkan sejuta skenario aneh setelah menikah. Tepatnya 2 Minggu lagi kehidupan kami akan berubah, Apakah aku akan melakukan malam pertama dengan pria ini? Harus wajib ya? Sebelum itu terjadi aku ingin menuntut nya membuat kontrak pernikahan!


20 menitan, tepatnya adzan Dzuhur berkumandang kami sampai di pelataran rumahku, aku turun dari mobil dengan cuek. Tanpa terimakasih tanpa tahu diri, yah kuakui aku agak egois.


"Percayalah Za!" Teriaknya sebelum aku menutup pintu mobilnya lagi.

__ADS_1


Aku tak membalas, hanya mampu menatap kepergian mobilnya sebelum aku sendiri memasuki rumahku.


...Bersambung........


__ADS_2