
Aku masih melamun di teras rumah mami, bagaikan pecundang yang menyedihkan. Meminta dikasihani orang-orang, bahkan aku lupa waktu. Entah ini sudah jam berapa, jika melihat sinar mentari yang sudah diatas ubun-ubun. Aku yakin ini sudah masuk waktu Dzuhur.
Karna diam tidak bisa merubah apa-apa, akhirnya aku memutuskan pergi dari sini. Aku harus memikirkan kesehatanku terlebih dahulu, hanya ada satu tempat yang bisa mendengar keluh kesah ku. Tuhanku, dialah satu-satunya yang mengerti aku sekarang. Bahkan dia juga yang akan memudahkan masalah ku kali ini, dengan semangat menggebu-gebu akhirnya aku pergi dari rumah mami.
Benar saja, setelah sholat Dzuhur dan berdo'a dengan lamanya. Hatiku mendadak sedikit tenang.
Aku turun kebawah, mengisi perut terlebih dahulu sebelum pergi lagi kerumah mami. Mungkin kali ini, tidak ada penolakan, semoga.
Dengan semangatnya, aku pergi kerumah mami Nanda. Seperti saat pagi, pertama-tama aku mendapat penolakan. Sebelum Tuhan mengirimkan perantara, ya tak disangka. Papi Alfi dan mas Zidan pulang kerumah, yang pada akhirnya membuatku berhasil masuk kedalam.
"Pi? Mas?" Sapaku bersemangat, ingin sekali aku bertanya pada mereka.
Mas Zidan tidak menanggapiku, tapi papi alfi masih berusaha beramah tamah. Aku jadi berfikir, apa Papi belum tau? Hal ini?
"Papi tau apa yang kamu hadapi sekarang, papi juga nggak tau permasalahan utamanya. Papi bolehin kamu masuk, kamu harus berterus terang dengan anak papi. Pecahkan masalah kalian, sebentar lagi kamu jadi ayah mas. Tolong segera perbaiki" pesan papi sambil menepuk pundakku.
Bagaikan ada setitik cahaya digelapnya dunia, aku mengangguk dengan semangat. "Makasih pih" jawabku sambil mencium tangan beliau.
Papi hanya mengangguk dengan wajah tak terdefinisikan, beliau menyuruh ku masuk kedalam.
Dengan rasa lega, aku masuk kedalam. Tapi hal yang tak terduga menghampiri ku, kedua orang tuaku sudah ada didalam. Mata mami seperti sembab karna menangis, aku semakin dibuat Bingung. Hati legaku berubah menjadi tegang lagi.
"Mih? Pih?" Sapaku menghampiri mereka.
Mami bangun dan langsung menepuk-nepuk kedua pipiku, seperti ingin menceramiku saat aku ketahuan pacaran dulu.
"Kenapa mas? Kamu capek sama pernikahan ini? Kamu bosan sama zhari? Kamu...... mami nggak percaya mas!" Ucap mami lia berderai air mata.
Hatiku mendadak nyeri, permasalahan pertama belum aku ketahui alasannya. Dan sekarang mami pun menuduhku juga? Ada apa ini.
__ADS_1
"Mih? O-ozan nggak tau, apa kesalahan Ozan. Bahkan Ozan nggak tau kenapa kalian tiba-tiba benci Ozan, mih.... ozan cuma mau ketemu istri ozan, ijinin mih." Aku menghapus air matanya, walaupun air mataku sendiri sudah mau menetes.
"Mas, kamu sudah bikin mami kecewa. Mami nggak percaya, anak mami! Anak mami yang paling mami percayai. Malah menyakiti hati mami, kamu kenapa mas!" Mami semakin menepuk-nepuk pipiku dengan keras.
"Sudahlah mih, namanya hillaf. Kapan saja datang, udah dong. Kasian dia, mami nggak liat, tadi dia nungguin diteras rumah sampe Dzuhur" papi Hendrik mulai menengahi, mungkin beliau juga tidak tega melihatku yang menyedihkan.
Aku hanya diam, bibirku keluh. Otakku seperti berhenti berfungsi untuk mencerna berbagai ucapan yang mereka lontarkan.
Papi merangkul bahuku, beliau menyuruhku untuk duduk. Aku hanya menurut.
"Mas tolong jelasin sebenarnya tadi malam kamu kemana?" Tanya papi Hendrik, beliau menatapku dengan penasaran.
"Tadi malem?" Ulangku yang langsung diangguki nya.
"Tadi malem, pas jam sebelas. Aku dapet telfon dari sekertaris nona Hira, direktur perusahaan dersd group. Katanya data-data kerjasama antar perusahaan sedang ada yang meretes, karna mereka percaya aku mampu mengatasi hal seperti itu. Akhirnya mereka meminta tolong, demi perusahaan papi juga, nah karna aku nggak tega bangunin zhari. Akhirnya aku pergi jam setengah 12 tanpa menitip pesan, dan ini malah jadi masalah besar" aku menghela napas.
"Bukan itu maksud papi!" Papi Hendrik agaknya tidak mempercayai ku.
"Mas, jujur sama kita. Selain kamu mengatasi masalah Perusahaan, apalagi yang kamu lakukan? Bukannya kamu pergi ke club 'ya?" Ujar papi tepat sasaran.
Aku terdiam, berusaha menata kalimat yang bagus. Apa ini permasalahan nya?, Baiklah aku akan jujur tentang semuanya.
"Diam mu kami anggap benar mas!" Tandas papi.
"Jadi, kamu beneran mas? Kamu beneran selingkuh?!" Kontan jantungku hampir copot saat kata-kata itu keluar dari mulut mami.
"Apa maksud mami? Siapa yang selingkuh?" Aku balik bertanya, siapa juga yang mau selingkuh? Hanya pria gila yang akan menyakiti hati istri dan anaknya.
"Siapa? Kamu nggak nyadar ya?! Kamu kan yang selingkuh? Pergi ke club malam-malam dan pulang kerumah jam 5 pagi? Hah mami udah nggak percaya kamu mas!" Mami langsung terduduk lemas.
__ADS_1
"Apa? Aku ke club bukan buat selingkuh, aku cuma....." kata-kata ku terhenti, ingin sekali aku berkata. 'aku cuma gak sengaja liat sepupu' tapi apa itu bisa dianggap valid?
"Cuma apa? Cuma ketemu wanita simpanan kamu kan?" Tuduh mami, aku hanya bisa diam. Sekarang emosi mami sedang tidak baik, jadi percuma saja aku membela diri.
"Mami udah gagal Didik kamu mas, mami nggak tau mau gimana lagi. Kamu anak mami yang paling mami banggakan, karna sering dapet prestasi. Tapi nyatanya, hidup rumah tanggamu lebih menyedihkan dari mas firman yang delapan tahun tidak dikasih keturunan" mami benar-benar kecewa padaku, terlihat dari nada suaranya.
"Mih, tapi su-sungguh. Aku nggak selingkuh, aku ke club karna aku li--"
Belum juga selesai aku bicara, mami langsung menyela. "Sudahlah mas, nasi sudah jadi bubur. Gimanapun istri kamu, sudah muak. Mami nggak tau gimana dapet mantu kaya dia lagi" mami sudah mulai tak jelas.
"Mih ngomong apa sih? Dia kan masih istri aku, masih mantu mami." Tegasku.
"Ya sekarang masih, tapi setelah dia melahirkan. Mungkin dia bukan lagi mantu mami, tapi anak mami" ucapan mami semakin tidak jelas saja.
"Ya Allah mih, sumpah demi Allah! Aku nggak pernah selingkuh. Aku juga ke club bukan buat minum-minuman, main perempuan atau apalah. Aku cuma liat sepupu disana, anak Tante Laras! Irene!" Akhirnya aku jujur juga.
"Apa hubungannya sama irene? Jangan ngadi-ngadi kamu mas, Irene masih sma. Mana mungkin dia pergi ketempat itu!" Mami menolak dengan keukuh.
Aku menghela napas panjang, mungkin sudah saatnya aku jujur. Karna percuma juga, mereka tengah salah paham.
"Iya mih, bener itu Irene. Pas jam setengah satu, hampir setengah satu. Aku liat Irene nangis didepan club, pas aku tanya. Dia bilang, pacarnya itu... siapa namanya ya aku lupa, intinya pacar dia maksa dan nyuruh irene buat mabuk-mabukan. Emang Irene masih anak sma, tapi pacarnya udah seumuran aku! Bahkan lebih tua kayaknya. Terus..." tanpa ada yang meminta atau menyuruh, aku berhenti sejenak dan meneguk air putih dimeja. Kering tenggorokan karna terus berdebat soal kesalahpahaman.
"Terus apa?" Suara mami lirih.
"Ya terus irene ngajak aku kedalam club dan nyuruh aku buat nonjok pacarnya. Ya aku nurut buat nonjok pacar dia, tapi alih-alih nonjok. Irene malah meluk aku mih! Aku yakin, dia lagi manas-manasin pacarnya. Udah itu aja, siapa yang selingkuh?" Aku menundukkan kepala dengan frustasi.
"Kalo mami nggak percaya juga, yaudah telpon Tante Laras. Tanyain, anak gadisnya pulang jam berapa, dalam kondisi apa. Berjam-jam aku nenangin dia sebelum pulang kerumah" tambahku letih.
Semuanya diam, sepertinya mereka sudah mempercayaiku. Baiklah aku sedikit lega, memang salahku juga menuruti Irene, tapi bagaimana lagi? Kami kan bersaudara.
__ADS_1
...Bersambung..........
akhirnya terungkap juga ya readers😌