Summer Love

Summer Love
Ch 63. Summer love


__ADS_3

Fauzan menyusulku kekamar, tapi sayangnya pintu kamar aku kunci. aku terisak dibawah selimut, apakah Fauzan itu tidak bohong? tapi kenapa aku ragu?


"dek, buka pintunya...." suara Fauzan dibarengi gedoran pintu tetap membuatku bergeming.


"dek! buka pintunya!" suara Fauzan mulai meninggi, aku yakin seperti apa rupa wajah tampannya itu. pasti sudah memerah karna amarah.


"ngak! Kamu jahat mas! jahat!" teriak ku menanggapi Fauzan.


"dek, ini hanya salah paham. ayo buka pintunya..." Fauzan masih berusaha menahan amarahnya.


"ngak! hiks... hiks.... mas tau aku lagi hamil! kenapa mas diem-diem masih suka hubungan sama Zia? hah?" ucapku dari balik pintu, aku terduduk dibawanya dan menangis.


"dek, ayolah buka dulu pintunya. selesaikan dengan kepala dingin, dek!" suara fauzan mulai memelan.


"aku benci! aku benci kamu!" aku masih meneriakinya dengan isakan.


"dek, kamu buka pintunya atau aku dobrak? selesaikan dengan dingin dek!" suara Fauzan tampak putus asa, tiba-tiba hatiku kembali dilanda rasa sakit. apa aku terlalu berlebihan? menuduhnya?


hening, tak terdengar lagi suara Fauzan selain suara isakan ku sendiri. apa Fauzan meninggalkanku? benarkah? berarti benar, suamiku masih berhubungan dengan mantannya.


aku menghapus air mata yang masih bercucuran, ku intip Fauzan dari lubang pintu. ternyata benar, Fauzan sudah tidak ada lagi. kemana dia? alih-alih membujuk, malah pergi entah kemana.


aku memberanikan diri membuka pintu, karna rasa penasaran pun sudah melanda sejak tadi.


saat ku buka pintu kamar, dua tangan kekar tiba-tiba memelukku dan mendorong badanku agar masuk ke dalam kamar lagi.


"M-mas?" aku shock dengan perubahan peristiwa yang tiba-tiba.


"sayang, masakanmu enak lho. masa dianggurin gitu aja?" bujuknya dengan mendudukanku ditempat tidur.


"makan aja sendiri, sekalian ajak Zia biar ngak sepi!" jawabku sambil membelakangi nya.


"Kamu boleh kok berumah tangganya sama aku, tapi cintanya sama Zia. ngak papa biar cinta kalian berakhir indah!" imbunku lagi yang terdengar sarkastis.


"hus! ngomong apa sih? masa suaminya di suruh kaya gitu?" Fauzan berusaha melunakkan suasana, bahkan dia mengelus punggungku Dengan lembut.


"sana pergi! bajumu kotor, nanti kasurnya gatel!" usirku judes sambil mendorong tubuhnya - yang ternyata bagian perutnya.


"nggak mau! nanti kamu tambah marah!" tolaknya sambil meraih tanganku.


ku kibaskan tangannya marah, "sana!" usirku kesal, aku berontak menjauhkan tangannya dari tubuhku.

__ADS_1


"nggak!" tolaknya sambil melompat kekasur, Fauzan memelukku dari belakang dengan erat. si menye-menye manja itu menempel seperti permen karet.


"jangan marah dong, dek! sumpah demi apapun, aku nggak ada apa-apa sama Zia. semuanya sudah berakhir sejak 8 tahun lalu" bujuknya tiada henti.


"bahkan dia tadi curhat habis kena rampok dan anaknya sakit, aku juga nggak peduli." imbun Fauzan yakin.


aku bergeming, si barbar itu kena rampok? dan anaknya sakit? kenapa dia curhat ke Fauzan? apa mau mengiba-iba? are you crazy Azhari! kenapa kamu masih berpikiran aneh, Zia kan emang nggak punya rasa malu!


"harusnya peduli dong, dia 'kan sedang cari perhatian" ujarku masih membelakangi nya.


Namun, sentuhan dari ujung hidung bangir membuatku tercekat. "Hemm, aroma mu enak banget, wangi buah ya?" pujinya dengan suara bergairah.


"Hentikan!" larangku dengan napas tak nyaman.


rasa aneh yang memacu napasku datang lagi.


"aku suka baumu, dek" bisik Fauzan dengan deep voice kesukaan ku.


tanpa ada yang menyuruh, mataku terpejam. merasakan setiap sentuhan ujung hidung mancung Fauzan, hingga sampailah hidung itu ditengkuk ku. dia mengecup nya sekali.


"Buat apa aku toleh-toleh kalau istri dirumah saja sudah sesempurna kamu, dek. kalau aku nggak tau diri, udah aku suruh kamu berhenti jadi guru. ku penjara saja didalam rumah," celoteh Fauzan menggelikan.


"biar hatiku tentram kalau pulang kerja" jawabnya dengan berbisik ditelinga ku.


otomatis, bulu halusku berdiri serempak. sial, Fauzan memang hebat dalam urusan beginian. semoga saja dia tidak notic sesuatu saat kami berhadapan, mataku melengos saat menatap tatapan Fauzan yang sedikit aneh.


"aku udah tanya lho sama dokter Lisya nya" ucapnya tiba-tiba.


"ya terus?" aku melirik wajahnya yang sedikit penuh pertimbangan itu.


"katanya boleh, asal kalau kamu nya nggak mau ya jangan dipaksa" jawabnya jujur.


aku langsung memasang wajah angkuh, mungkin ini pembalasanku. "ya udah, Jangan paksa aku! aku nggak mau" tolakku.


"Duh jangan gini dong, dek. sini biar aku manjain" Fauzan mulai menjamah ku.


"nggak mau! kamu kotor, kamu bau....." tolakku enggan, ku dorong dadanya.


"di kamus seorang fauzan nggak ada istilah kotor sama bau dek, sini aku manjain..." Fauzan menarikku dalam pelukannya.


dia menindihku lembut, dalam sebuah pelukan. rasanya nyaman sekali, hangat seperti mantel yang tebal. apalagi matanya semesra ini, namun. keintiman kami terganggu karna sebuah getaran halus disaku celananya.

__ADS_1


"mas firman?" ucapnya pendek sambil menatap layar ponsel.


"yaudah angkat" ucapku tak enak.


pluk! Fauzan melempar ponselnya ke sembarang arah dan membingkai wajahku lagi. "Biar aja! mas firman aja aku tolak, apalagi panggilan tak penting lainnya. aku janji, dek. nggak akan Nerima telpon dari wanita itu lagi!"


"Ck sok manis" cibirku.


dia mengecup bibir bawahku, "gimana rasanya, manis kan?" ucapnya nakal, memang bibirnya terasa manis.


"heum kok enak?" aku menatapnya buram, karna tak fokus.


"sini aku kasih yang lebih enak" Fauzan mulai mel*mat bibirku habis tanpa permisi.


kurasakan tangannya mulai kemana-mana, membuka resleting gaunku dengan satu tangan, bergelirya lincah kesana kemari hingga membuatku meng*rang kecil. bahkan, aku mulai beringas membuka kancing kemeja nya satu persatu. ku balik tubuh Fauzan dan menatapnya.


"hanya aku yang bisa melepas seragammu, bukan siapapun apalagi perempuan itu!" bisikku ditelinganya, Fauzan menatapku mesra.


kubalas fauzan seperti dia melakukannya padaku.


"nikmati aku sayang" ucapnya nakal.


aku menggigit bibir gemas lantas mulai mengecup lehernya, lelaki gagah satu ini tak mau kalah. ganti, aku yang dibalik dibawah badannya. dia mulai melakukan ayunan itu, seperti malam-malam sebelumnya. dia akan membawaku kepuncak asmara di penghujung sore menuju Magrib.


"kalau sakit atau gimana-mana bilang ya, dek?" ucapnya lembut.


"hemm" aku hanya berdehem tanpa bisa banyak bicara, sakit? perasaan lebih banyak enak nya deh.


suara-suara lembut kami berpadu dengan udara yang mulai sedikit berubah, musim akan berganti ke musim hujan. udara memang dingin, tapi dibawah selimut kami sepanas musim kemarau yang telah menjadi teman sehari-hari. hingga pada saatnya Fauzan melepas kehangatan pada tubuhku.


"aku cinta kamu Za" ucapnya letih sambil mencium hidungku.


dia rebah diatasku, memejamkan matanya letih. sesekali menata napasnya yang tersengal menjadi lebih pelan dan lembut, kadang mengecup pipi dan keningku tanpa bersuara. sesekali juga mengusap perutku yang masih sedikit rata, sedangkan aku. hanya bisa merangkai rasa yang baru terjadi sembari mengelus Rambut tipisnya.


aku mulai candu atas dirimu, mas Ozan.


...Bersambung.........


woh😭 maaf readers author baru up lagi, dua hari ini kepala author udah mau meledak. banyak pikiran And kerjaan🙇, mohon ya tetap stay sama cerita author. kalau nggak salah mungkin akhir tahun bisa end nih cerita, cuma kurang tau authornya bisa up setiap hari apa nggak😥


mohon maaf ya, thanks you untuk yang masih setia🙏❤

__ADS_1


__ADS_2