Summer Love

Summer Love
Ch 55. Kalah telak


__ADS_3

"Mas maksudmu apa sih?" Sidangku pada fauzan saat pria itu pulang dari kantornya di jam 11.00


Dia melirikku sedikit dan melengos, "apa?"


"Maksud kamu apa sih ngak ngomong ke aku kalo ada acara keluarga! Kan aku jadi gak enak sama mami" aku berkacak pinggang.


"Santai aja kali, itu kan acara keluargaku. Kamu gak wajib ikut, lagian tubuh kamu rentan terhadap lelah. Kamu gak boleh kelelahan!" Sindirnya nyeplos bak klepon.


"Oh keluargamu ya? Jadi aku itu sebenernya siapa sih? Hah!" Aku menggoyangkan bahunya.


"Ck kamu aja anggap aku apa?" Dia menampek tanganku.


"Suami!" Jawabku cepat.


"Heh" dia melengos seperti tak ingin melanjutkan pembicaraan.


"Mas kamu kenapa sih? Nyebelin tau!"


"Nyebelin? Perasaan dari dulu aku emang nyebelin" Dia menatapku dan mengangkat alisnya.


"Wah gak bisa didiemin nih! Udah aku baikin! Kamu kenapa sih aneh?" Aku meremas jari jemariku jengkel.


"Za!" Tekan fauzan sambil pria itu menatapku, "ini udah sesuai kontrak, jadi seharusnya kamu seneng!" Ingatnya menyakitkan.


Aku bungkam dan tanpa sadar mataku sedikit panas, "yaudah intinya habis Dzuhur kita berangkat bareng!" Putusku sambil pergi menghindarinya.


Disela-sela langkah kakiku yang cepat, air mata sudah menetes dari pelupuk nya. Kenapa kata-kata nya seperti membuatku semakin menyesal? Kenapa aku merasa menyesal karna telah menyakiti hatinya? Haruskah aku bahagia dengan kontrak ini? Tapi kenapa aku malah merasa sedih? Seperti kehilangan separuh jiwaku? Apa karna aku hamil? Apa anak di perutku ikut merasa sedih juga?


Aku masuk kedalam kamar dan menangis dibawah selimut, aku kadung malu...


Sekitar sejam-an aku menangis dan beranjak dari ranjang saat kudengar masjid disebrang rumah sudah melantunkan azan Dzuhur.


Aku membersihkan diri dan berusaha menghilangkan mata sembab ku, aku gak mau kelihatan lemah didepan Fauzan. Okay kalo dia beneran pengen sesuai kontrak! Mending aku gak usah sedih! Masih banyak waktu untuk aku bahagia sebelum aku melahirkan.


Selesai mandi, aku sholat Dzuhur sendirian. Berdandan, Memoles wajahku dengan makeup natural dan segera turun kebawah.


Dibawah terik matahari yang menyengat aku dan Fauzan pergi kerumah megah keluarga Fauzan untuk melakukan acara 1000 hari meninggalnya Kakek selamet, Kakek Fauzan dari keluarga papi Hendrik.


Dalam mobil kami hanya diam membisu, aku menatap jalanan sambil otakku berfikir. Apa kalau aku ngidam makanan Fauzan akan mencarikannya? Kayaknya enggak kan? Tiba-tiba saja diriku ingin makan pempek Palembang, Ck ayolah nak! Jangan pengen makan aneh-aneh ya? mommy sama Dady lagi gak baikan. Batinku sambil mengelus perut ini.


'duh kenapa makin pengen aja sih?' aku mengusap wajah kasar saat memikirkan pempek Palembang yang sangat nikmat.


"Kalo mau apa-apa ngomong aja" tiba-tiba suara Fauzan membuatku menoleh.


"Ngak" tolakku langsung memalingkan wajah lagi.


"Yaudah" jawabnya cuek.


Saat sampai dirumah Fauzan. Halaman luas rumah ini tampak terisi banyak mobil, agaknya semua keluarga papi Hendrik datang. Lantas dibawah teriknya panas matahari Yang amat menyengat, Fauzan keluar lebih dulu tanpa memperhatikanku apalagi peduli.


Aku turun dari mobil dan menutup wajahku dengan tangan, hendak saja aku melangkahkan kaki. Namun, tiba-tiba ada badan tegap seseorang yang tengah memayungiku.


Aku mendongak dan menatap Fauzan, "makasih" ucapku lembut sebelum berjalan beriringan dengannya.


Saat sampai dirumah, kulihat mbak lili dan Tante uswah tengah memasukan bolu pandan keplastik dengan lincah.


"Mbak" sapaku lembut sambil ikut duduk disampingnya.

__ADS_1


"Eh dek udah Dateng aja" Tante uswah tersenyum kearahku.


"Iya Tan, lagi gak ngajar juga" aku balas tersenyum dan mencium punggung tangan beliau.


"Dek, ajak mas Ozan makan ya?" Pinta mami Lia yang tiba-tiba datang kearah kami.


"Err...." aku bingung menata kalimat.


"Iya mih" jawabku pasrah.


Dengan langkah ragu, aku menghampiri Fauzan. Lalu gelak canda itu berhenti karna mereka mengalihkan perhatiannya padaku, karna aku sudah biasa nampang didepan banyak orang. Maka sikapku satai saja, "mas, disuruh makan sama mami" kataku cuek.


Fauzan menatapku sekilas lalu menatap layar HP-nya "kamu duluan aja" abainya.


Aku melipat bibir gemas, "sekarang mas!" Tekanku sambil menatapnya tajam.


"Zan, udah diajak makan istri itu" olok sepupu Fauzan, yang entah anak Om Ahmad, Tante uswah atau Tante laras.


"Ck" Fauzan berdecak kecil.


"Wuuuw, dek Ozan udah Nerima dong kalo udah jadi bapak-bapak" olok mas Farhan yang tiba-tiba datang dengan anaknya yang masih kecil, dia langsung duduk disamping fauzan.


"Iya nih mas" celetuk Fauzan menyebalkan.


Aku masih berdiri menunggunya, menunggu fauzan menggandeng tanganku. Agak sarkas sih berharap sama es macam dia, tapi yaudah deh.


Eh si empu yang kutunggu malah ngeloyor pergi, tanpa peduli padaku? Aku melipat bibir sedikit sedih.


Aku vs Fauzan (0-1)


***


"Permisi, bapak biar saya ambilkan" tata suaraku lembut sekali, seperti saat aku berhadapan dengan ibu rosi - si kepala sekolah sman 66.


Fauzan terkesima, "ngak usah!" Tolaknya sombong.


"Tidak apa-apa pak" bantahku pelan, maksa lah harus!


Mangkok sudah ada di tanganku, aku menuangkan kuah di soto dan menaburkan keripik melinjo diatasnya. Dituangkan semuanya dengan halus, tanpa tetesan, lantas kusodorkan pada fauzan yang sudah duduk manis dikursi makan. Tak lupa kutuangkan air putih kedalam gelas, sehalus menuang wine digelas tinggi. Sumpah Fauzan hanya terkesima melihat aksiku.


Hehe guru kok dilawan, walau aku dikenal manja bak anak mami aku tau kok caranya menyajikan makanan untuk suami.


"Wah mas Ozan beruntung ya punya istri kaya dek zhari" celetuk salah satu kerabat yang membuat fauzan tersipu, tengsi nih ye!


Aku vs Fauzan (1-1)


Fauzan cuek, dia lebih milih menikmati hasil karyaku didepan matanya, "tunggu sebentar mas" tahanku saat dia hendak menyeruput kuah soto.


"Apalagi dek?" Tanggapnya kesal, terbukti saat dia menekan bibir pada kata 'dek.


Kuangkat piringnya lantas kuletakan serbet putih diatas nya, "begini baru benar, biar Kuah soto tak mengotori meja." Celotehku perhatian.


"Err gak usah alay!" Ucapnya sewot sambil membelakangi ku, mulai terdengar denting sendok dan kecapan dari mulutnya.


Yash, emosi sudah mengganggu Fauzan! Aku kangen debat bareng dia!


Dia menjeda makan dan menekan sendok Dengan gemas. "Makan aja kamu, daripada kubakar nih meja!" Ancamnya judes.

__ADS_1


"Ewh serem!" Celetukku tanpa takut.


Aku vs Fauzan (2-1)


Namun, kayaknya ini saatnya dia balas dendam. Saat hendak menyantap soto menemani Fauzan, tangan kekar itu menggeser piring ku, "apaan sih?" Ceplosku bingung.


"Punyamu kuah nya masih panas, pake punyaku aja dek" balas Fauzan dengan senyum kecil.


"Ngak! Punyamu banyak cabe nya" tolakku hendak mengambil mangkok.


"Ngak kok udah aku tambahin kecap" kami berselisih aneh dimeja makan.


"Aku gak suka soto yang ada kecapnya!" Tolakku masih enggan.


Fauzan mendekati telingaku "kalau gak mau dicap aneh sama mami dan papi, mending terima" bisiknya bernada ancaman.


"Apa?" Desakku pelan sambil menelusuri ruangan dan ngeliat papi Hendrik tengah menatap kami dengan bingung.


Sial! Kutukku dalam hati.


"Tapi itu pedes mas! Aku lagi hamil!" Aku masih menolak keukeh, semoga saja kehamilan menyelamatkanku!


"Ngak usah alasan, mending nurut apa aku tiduri?" Ancamnya lagi mesum.


"Kurang ajar!" Kutukku pelan dan merampas mangkok didepannya kasar.


"Makan yang lahap ya dek!" Ucapnya girang sambil mengelus pucuk kepalaku.


"Mas juga" balasku menunjukkan percikan cinta kami.


Lega, pandangan aneh papi Hendrik tak ada lagi. Beliau berlalu sambil menggeleng dan terkekeh pelan, aku versus Fauzan 2-2! Kurang ajar! Aku gak mau kalah telak.


Malam mulai merayap, karna dipercepat cuaca panas yang tak kunjung berganti. Acara kirim do'a selepas isya mulai dipersiapkan, itu sih bagian laki-laki. Perempuan sudah dibelakang untuk urusan dapur dan lainnya. Namun, khusus untuk aku. Mami Lia menyuruhku istirahat dikamar fauzan, tau aja kalo sekarang badanku cepet lelah.


Aku merebahkan tubuh letih dikasur empuk Fauzan setelah melaksanakan sholat magrib bersama-sama diruang tengah lantai bawah rumah ini, nuansa kamar abu-abu hitam berasa kelam kayak jiwanya Fauzan. Namun, wangi lembut dari softener membuatku makin geli. Seorang Fauzan masih mau aja seprainya bau softener selembut ini? Anak mami banget iya 'kan? Jadi Fauzan si judes dan pemaksa itu benar-benar sayang sama maminya, dari jaman SMA dulu dia salah jurusan cuma gara-gara mau Nebus dosa ke mami Lia? Se sayang itu dia sama mami nya.


Ceklek! Suara tuas pintu terbuka, aku langsung pura-pura tidur.


Ternyata, sipemilik kamar masuk dengan wajah datar. Mau apa dia kesini? Aduh mana aku gak bisa berbuat Apa-apa, akhirnya aku cuma bisa merem walaupun segaris mengintipnya.


Ah dia mau apa? Fauzan menurunkan celananya hingga melorot, sampai aku bisa melihat samar kulit kuningnya. Sejenak bayangan pada malam-malam kami bercinta itu muncul, argghhh! Ah b*kong kenyal penuhnya itu, pasti terbentuk dari aktivitas lari-lari paginya. Rasanya kenyal karna aku pernah meremasnya saat bercinta, argghhh! Dan bagian menonjol dibalik celana hitam itu! Aduh! Gawat kalau aku mengap-mengap pas merem, pasti ketahuan!


Untung berhenti saat dia memakai sebuah sarung hitam. Oh dia menukar celananya dengan sarung hitam? Fyuh lega, namun tak berlangsung lama. Karna Fauzan melepas kaos kerahnya dan memamerkan lagi bagian atas tubuhnya.


Dada yang montok bak ayam boiler, keras dan membuat nyaman. Perut ala roti Maros srikaya yang entah gimana cara bikinnya itu memulai picingan mataku. Otot bisep dan Trisep dilengannya, sumpah gak kuat! Aku cuma bisa berlagak membalik badan menghindari pandangan nista mendebarkan itu. Berlagak suci, padahal aku telah dinodai nya secara sukarela.


Lalu terdengar suara tangannya yang meraih botol parfum, menyemprot tiga kali seperti nya. Sejenak aroma lembut kopi menguar kehidungku, aromanya benar-benar enak. Andai saja situasi kami bener, mungkin aku akan menghambur ke pelukannya. Tapi.... kayaknya enggak deh, semakin ku hirup aroma parfumnya, semakin merasa mual perutku. Duh aku hanya bisa menutup hidung.


Tak kudengar suara apapun, selain suara dari aktivitas nya. Dia menaiki tempat tidur dengan lembut, tanpa ingin membangunkan ku. Bahkan, apa yang dilakukannya sekarang? Dia menarik selimut hingga menutupi tubuh atasku. Fauzan terdengar memencet remot Ac untuk menurunkan suhu, mungkin aku takut dingin. Manner macam apa ini?


Kenapa aku berdebar parah? Dibalik kejudesan dan tingkah anehnya, Fauzan masih perhatian padaku, pada hal sekecil itu? Sumpah, perasaan macam apa ini? Gengsi oh gengsi! Kenapa kamu harus ada? Dan berapa skor kami sekarang?


...Bersambung........


ayoo mana nih yang udah nungguin zhari takluk ditangan Fauzan? akankah dua orang ini cepat baikan dan membongkar kehamilan zhari? pantengin aja terus ya readers😉


jangan lupa like, vote, komen, hadiah dan kalau bisa share ya😅, ah author banyak maunya.... yaudah minimal like dan komen juga gak papa, semoga kalian selalu diberikan kesehatan ya readers❤

__ADS_1


Thanks you👋


__ADS_2