Summer Love

Summer Love
Ch 20. Gagal bolos


__ADS_3

Keesokan paginya aku bangun kesiangan, sit! Ku lupa bahwa hari ini adalah hari Senin plus ditambah mami memintaku menjemput siteri.


Buru-buru lah aku beranjak dari ranjang dan bebersih diri dikamar mandi, selesai bebersih aku langsung saja turun kebawah.


"Mas kamu kesiangan! Tadi mami Nanda nelfon, katanya dek zhari ngambek gara-gara kamu masih molor!" Protes mami saat aku sudah sampai dibawah tangga.


"Iya mih, makannya Ozan buru-buru nih.... Assalamualaikum" jawabku yang langsung mencium tangan beliau.


"Wa'alaikumsalam, hati-hati mas" pesannya yang tak kubalas apa-apa.


Aku mengeluarkan si Rambo dari kandangnya - alias bagasi. Dan menjalankan motor ini.


"Pak...."


Tinn..


Tinn....


Dalam keadaan genting, pak Yayan - si scurity rumah kemana pulak! Udah nih gerbang dikunci lagi!


"Eh... mas maaf mas" kulihat seorang pria setengah baya sedang tergopoh-gopoh datang kearah gerbang.


"Maaf mas" ucap pak Yayan penuh penyesalan saat sudah membuka gerbang itu.


"Iya pak makasih!"


Aku langsung saja menancap pedal gas ini dengan kecepatan tinggi. Sial! Jam sudah menunjukkan pukul 06.45 yang artinya..... bisa telat datang kesekolah!


 ***


Tri Azhari POV


Waktu terus berputar seperti tak ingin berhenti untuk membantuku. Hatiku was-was tak karuan, kenapa si rese itu belum datang? Ditambah lagi kenapa keluarga ku malah nyuruh aku buat nungguin dia? Jelasnya apa Fauzan udah dalam perjalanan?


Hatiku makin was-was saat aku mendapat telfon dari Laila, katanya hari ini kedatangan pengawas disekolah. Kalo ada yang telat hukumannya berat.


Duh.... semenjak Fauzan datang ke hidupku, diri ini seperti boneka!


"Mih udah jam tujuh! Mending aku berangkat sama pak Parjo aja sih!" Aku menatap mami yang sedang berkutat dengan gadjet nya.


"Tunggu dek! Kata mami lia mas Ozan lagi dijalan" jawabnya yang langsung membuatku mengacak rambut ini kesal.


Lantas mataku berbinar saat kulihat papi turun kebawah, dia sudah rapi dengan pakaian kantornya.


"Pih! Anterin aku kesekolah pih!" Ucapku pada beliau.


"Eh" tampak papi agak kaget denganku, dia memandang mami sebentar dan memandangku. "Mas Ozan udah dijalan dek! Gak baik ah main dianterin - anterin segala" jawaban sederhananya langsung membuatku pias.


"Paling 5 menit lagi dek mas Ozan datangnya, kata mami Lia dia udah berangkat dari jam 06.45" tambah mami yang makin membuatku kesal.

__ADS_1


Ozan! Ozan! Ozan! Pada ngerti gak sih kalo anaknya ini udah telat? Buat apa bangun subuh-subuh kalo berangkat nya dhuhur?! Lama-lama bisa hipertensi!


"Arghhh" aku menghentakkan kakiku frustasi, mau ngeloyor langsung ke pak Parjo, pasti beliau gak mau ngentarin aku.


Aku mengambil ponselku, lantas ku masuki aplikasi WhatsApp. Tapi tiba-tiba wajahku makin pias saat ku ingat aku tak punya nomor Fauzan! Sial! Mana aku gak tau lagi yang mana nomor si rese itu saat mencarinya digrup kelas.


"Mih....." aku menatap mami dengan keputusasaan.


"Tungguin aja dek!" Alih-alih mengabulkan rengekanku, mami malah mengulang kalimat yang membuatku hipertensi itu!


"Yaudah kalo gini mending aku gak berangkat aja!" Putusku pada akhirnya, dan langsung saja aku pergi dari hadapan mami.


"Dek!..." panggilan mami aku hiraukan, udah jengah dengan semua ini! Diriku merasa seperti boneka.


Saat ingin ku buka pintu kamar ini, tiba-tiba pendengaran ku menangkap suara motor. Ya! Itu motor Fauzan, oke aku gak jadi ngambek, lagian kasian juga sama si rese itu yang udah jauh-jauh menjemput ku.


Lantas aku berbalik, dan berlari turun kebawah, "Assalamualaikum mih" salamku pada mami yang hanya melongo melihat tingkah ku.


"Cepet berangkat" saat aku keluar rumah, kulihat si rese itu sedang memarkirkan motornya.


"Bisa gak kita bolos?" Tanyanya sembari menatapku.


"Cepet rese! Upacara udah dimulai dari tadi!.... bisa gak jangan ngebuat aku makin kena hipertensi?!" Aku memelototi nya dengan tajam.


"Oke?" Dia manut dan menyalakan motornya lagi.


Sekitar 20 menitan motor yang kami kendarai telah sampai didepan gerbang sekolah yang sudah tertutup ini, upacarapun agaknya masih berlangsung namun mungkin sudah sampai detik-detik akhir.


"Salah macet za!" Bantahnya, "Ada pak aryonya?" Tambahnya yang ikut turun dari motor juga.


"Gak ada! Ini gara-gara kamu!" Aku menunjuk tangan kecilku kewajah laki-laki ini.


"Ck!" Dia berdecak kesal.


"Bolos bareng aja yuk?"ucapnya sembari menaik turunkan alis itu.


"Bolos! Bolos! Kalo bolos kita mau pergi kemana?!" Aku memelototi nya.


"Kayaknya enak deh kalo kita pergi ke toko buku, yah... untuk mencari buku sejarah baru" tawarnya yang seketika membuatku menimbang-nimbang.... Hem agaknya usulan si rese ini patut diacungi jempol, lagian salah siapa juga yang ngebuat kita jadi bolos? Salah keluarga lah!


"Boleh jug...." ucapan ku terhenti saat kudengar suara pak aryo.


"Wah kalian telat ya? Mau masuk apa pulang aja?" Tanya pak aryo.


"Kalo masuk kita dihukum apa pak?" Tanyaku yang mulai menimbang memasuki sekolah.


"Nanti tergantung berapa menit kalian telat sih!, Yaudah mau masuk gak nih? Soalnya upacara baru saja bubar"


Ucapan pak aryo membuatku menoleh kearah lapangan, memang sudah banyak orang-orang yang berhambur pergi kekelas masing-masing.

__ADS_1


"Baik kami masuk saja pak" putusku pada akhirnya, lumayan juga sehari... masa aku harus bolos di penghujung masa SMA ku?


"Za ini kan tidak se....." kupukul lengan Fauzan kesal saat lelaki itu ingin membahas pembolosan.


Akhirnya kami menyerah, Fauzan memarkirkan motornya ditempat biasa. Lantas kami berjalan memasuki kelas.


"Loh kalian telat?" Tanya Bu Yanti saat kami sudah hampir sampai didepan kelas.


"Eh" aku terkejut akan kehadiran beliau, "emm ya Bu kami telat, jadi apa hukumnya?" Tanyaku was-was walau dalam hati semoga saja sekolah tak memberikan hukuman.


"Sejujurnya kalo telat gini cuma bending sama pust-up aja sih, tapi berhubung ada pengawas kayaknya kalian disuruh bersihin toilet" jawab Bu Yanti yang seketika membuatku menelan ludah ini.


Memang Bu Yanti wali kelas ku, tapi beh jangan ditanya seperti apa ketegasan nya! Liat aja pas aku nolak Fauzan buat duduk disampingku. Apa yang beliau katakan? Terima saja hanya sebentar! Cih.


"Harus ya Bu?" Tanya Fauzan yang sepertinya juga merasa enggan dengan hukuman ini.


Ibu Yanti mengangguk.


Beberapa menit kemudian kami berdua sedang berkutat dengan alat kebersihan ditangan, agak jijik sih tapi ya harus gimana.


"Kalo tau gini mending bolos aja za!" Keluh Fauzan seraya tangan kanannya menyikat kloset dan tangan kirinya menutup hidung.


"Harus banget ya nutup hidung? Walau aku jijik juga gak kaya gitu perasaan" sindirku sinis.


"Ck ya kamu kan calon ibu rumah tangga! Gimana disamain sama aku yang jadi tulang punggung?" Jawabnya sengit.


"Ckck kasian yang bakal jadi istri kamu nanti, kasian ngeliat suaminya gak bisa bersihin toilet cuma gara-gara jijik" sindirku lagi.


"Kamu mengasihi diri sendiri! Ckck gak bisa mikir" jawabnya yang seketika membuatku bungkam.


Sit! Aku lupa siapa yang bakal jadi istrinya! Bukankah aku....


"Belum tentu!" Bantahku tak ingin dianggap calon istrinya.


"Kalo tentu gimana?" Dia berhenti dari aktivitas nya dan mengangkat alis kearahku.


"Ya.... ya liat aja nanti!" Aku tergagap gerogi, jujur aja sih walaupun aku agak gak Nerima sama perjodohan ini. Kalo ngeliat sikap Fauzan - si calon suamiku, membuatku berfikir dua kali.


"Heh" dia melengos dan melanjutkan aktivitas nya.


"Kamu kenapa sih?" Aku mulai merasa sepi saat lelaki ini mencueki diriku.


"Semuanya gara-gara kamu!" Jawabnya judes.


"Maksudmu bolos?" Tebakku sembari menggaruk kepala.


"Iya teri! Gara-gara kamu kita gagal bolos!" Dia memelototi ku tajam, sepertinya sudah jengah karna membersihkan dua toilet.


"Yaudah nanti a-aku bakal gak kaya gitu lagi kok, tanggung masih 3 toilet lagi zan" rayuku padanya.

__ADS_1


"Ya!" Dia manut walaupun wajah tampan itu masih memasang ekspresi kesal. Oh apakah gagal bolos ini membuatnya makin tertekan?


...Bersambung........


__ADS_2