
"Apa sih kalian!" Aku mendorong tubuh Laila pelan, lantas aku berjalan kebangku ku dengan cepat.
"maaf aku mau masuk" ucap Fauzan dengan dingin.
"Oh ya maaf" ketiga teman ku itu tersenyum kikuk, mereka menyingkir dan membiarkan Fauzan masuk kedalam.
Fauzan duduk disebelahku, dia memiringkan kepalanya sedikit untuk menatapku.
Aku merasa risih, "apa sih lo?!" Tanyaku.
"Kalo dipikir-pikir kita itu beneran jodoh Za! Kita gak sengaja ketemu disini, sekelas bareng, parahnya kita duduk satu bangku. Sering ngerjain tugas bareng dan satu lagi, kita pun dijodohin bareng" dia berbisik lembut di telingaku.
Aku sedikit merinding, sial! Kenapa aku jadi gini sih?
"G-gak! Gak gitu juga konsepnya" aku menolak dengan gugup, gerogi betul.
"Karna kamu gak percaya cinta Za!" Ucapannya yang sekarang membuatku terkesiap.
"Jangan bawa-bawa cinta Napa! Aku gak bakalan percaya sama kata itu! Lagipula kalau kita beneran nikah... a-aku gak akan mau satu kamar sama kamu" bantahku dengan pelan.
Kami sedang menjalankan mode - bisik berbisik.
"Oh gak mau ya? Padahal habis nikah kamu tuh bakal tinggal dirumah keluargaku" dia tersenyum senang.
"Kamu cuma membual!" Ucapku dengan jantung berdebar kencang.
"Aku gak membual Za! Coba aja bayangin kalau kita beneran nikah satu tahun lagi, kita masih harus tinggal dirumah orang tua! Itu karna apa? Karna kita masih kuliah" dia sekarang menatapku dengan serius.
"Gue gak sudi ngandung anak Lo" aku mengacak rambutku frustasi.
"Ngandung anak ku? Lo udah mikir kesana ya?" Tampak Fauzan tersenyum mengejek.
Sial! Keceplosan aku...
"G-gak bukan it..." suara ku tiba-tiba terpotong oleh suara riang seseorang.
"Beb kamu kemarin kemana aja sih? Izin kok gak ngechat aku? Terus juga.." lelaki itu berhenti dan menatap Fauzan dengan dingin, "Lo juga kenapa kemarin ikut-ikutan dia izin? Dan cepet Lo pindah duduk dah.."
Lelaki berkacamata yang ketampanan nya gak beda jauh sama Fauzan itu mengibas-ibaskan tangannya, seperti isyarat mengusir Fauzan.
"Emm Naufal bisa gak jangan panggil aku Beb lagi? Kita bukan pasangan, oke?" Aku berbicara halus pada laki-laki yang bernama Naufal itu.
Capek betul ngadepin satu orang ini, dia pengagum rahasiaku tapi mulutnya gak bisa dijaga, manggil orang main dengan kata 'beb' gak terima aku! Tapi, pas mau dijudesin gak tega juga. Ckck hati wanita!
__ADS_1
"Kenapa sih beb? Salah kamu juga kenapa gak mau terima aku! Udah hampir tiga tahun aku ngejar kamu! Sekarang aku cuma mau manggil kamu beb, kamu malah nolak juga?" Tampak naufal sedang menahan tangisnya, ya dia terbilang lelaki cengeng.
"Ha ha..." gelak tawa renyah terdengar, aku menatap aneh ke makhluk yang ada disampingku ini.
"Kenapa Lo ketawa?" Tanyaku menatapnya tajam.
"Tadi apa Lo bilang? 'beb'? Bebek kali ya!" Fauzan mengangkat jarinya dan menunjuk naufal dengan mode - masih tertawa terbahak-bahak.
Aku menengahi kepelikan ini, karna tak tega juga melihat Naufal yang tampak hendak menangis.
"Naufal maaf ya, kamu boleh kok panggil aku Beb, tapi inget loh ya! Aku bukan pasangan kamu!" Tegasku dengan mengulas sebuah senyum tipis.
"Beneran boleh?" Tanya lelaki itu antusias betul!
"Hmmm" aku mengangguk mengiyakan, lantas makhluk yang masih tertawa itu tiba-tiba berhenti dari tawanya.
Dia menatapku tajam sembari menggeram, "Lo main seenaknya aja!" Ucapnya.
"Naufal boleh gak kamu pergi?" Tanyaku, mengabaikan Omelan Fauzan.
"Makasih beb" lelaki itu tersenyum dan mengusap sedikit sudut matanya, lantas dia pergi dari hadapanku.
"Kenapa sih Lo!" Aku melotot kearah Fauzan setelah Naufal pergi.
"Diem gak lo!" Teriakan lelaki rese ini langsung kubungkam dengan tangan kecilku.
"Eumm... lepasin!" Fauzan menarik-narik tanganku dari mulutnya, namun tenagaku lebih kuat darinya, entah setan apa yang merasuki ku.
Fauzan meronta dengan masih menarik tanganku, tampak badan kami sudah sangat dekat satu sama lain. Dan itu menghasilkan pemandangan yang aneh jika dilihat mata memandang.
Kawan-kawanku menatap kami dengan bengog, mungkin baru ngeliat aku se agresif ini ya?
"Diem gak lo! Udah gue bilang sebelumnya kan!" Aku masih menahan dan meneriakinya dengan emosi, tentu semuanya karna kepelikan hidupku yang tak pernah aku bereskan.
"Wow"
"Zhar Lo menang telak!"
"Fauzan menye-menye!"
"Ha ha ha..."
Gelak tawa serta dukungan dari kawan-kawan ku, membuatku menampakkan senyuman aneh didepan lelaki rese ini.
__ADS_1
"Pyuh... gila lo Za! Psikopat!" Fauzan akhirnya berhasil keluar dari cengkraman ku, dia sekarang menatap ku dengan tajam.
Oh oke... mari kita cetak poin hari ini! Semoga poin ini mampu mengeluarkanku dari peliknya hidup berdampingan dengannya!
"Lo yang psikopat! Udah gue bilang omongannya dijaga!" Jawabku emosi.
"It's okey girl, kamu telah memancing emosi ku!" Fauzan menarik tanganku dan membuat badan ini masuk kedalam pelukannya.
Ending macam apa ini!
"Woah...." kawan-kawan ku semakin membuka mulutnya lebar, karna Melihat aksi kami.
"Lepasin gue zan!" Teriakku sembari meronta keluar dari pelukannya.
"Ini pembalasan gue Za..." jawabnya halus, tepat di telingaku.
"Kamu jahat!" Ucapku lirih, sembari membenamkan wajah ini didada bidangnya. Mau keluar juga gimana udah kepalang basah, tapi gak tau juga pelukan lelaki rese ini sedikit membuatku nyaman.
"Ada apa ini ngumpul-ngumpul?" Suara tegas seseorang tiba-tiba membuatku dan Fauzan diam membeku ditempat, masih dengan keadaan berpelukan.
"Eh i.. g-gak ada apa-apa pak!" Salah seorang temanku menyembuhkan fakta ini.
Jantungku berdebar kencang, tapi otakku sulit memproses. Dan bodohnya aku malah memeluk lelaki rese ini dengan erat.
"Za... pak Asep!" Ucap Fauzan dengan suara pelan.
Aku masih memeluknya erat, kok rasanya malah nyaman banget ya meluk dia? Intinya gak tau gimana reputasiku, yang penting aku tenang!
"Ada apa ini?" Tanya pak Asep lagi saat melihat teman-temanku hanya diam membisu.
Lantas aku tidak tau apa yang beliau lakukan intinya jantungku tiba-tiba berhenti berdetak saat suara yang mematikan menusukku dari belakang.
"Ya Ampun.... ini masih pagi! Kalian berpelukan dipagi hari? Disekolah pulak! Sini ikut bapak keruang guru" ucap beliau dengan dingin.
"Za ayo..." suara lesu Fauzan terdengar di telingaku, sembari dia berusaha melepaskan pelukanku.
Aku melepaskan pelukan nyaman ini, dan membalik badanku. Tampak ada pak Asep yang berdiri tegak sembari menatap kami dengan tajam.
Guru muda ini guru yang paling aku benci kelakuan nya! Teriak ku dalam hati.
Aku dan Fauzan menunduk malu, lantas kami digiring pak Asep menuju ruang guru.
Betapa memalukannya kelakuan ku!
__ADS_1
...Bersambung........