Summer Love

Summer Love
Ch 14. Terimakasih


__ADS_3

Kami berpelukan, tampaknya kepala Fauzan menelusup ke leher jenjangku, aku merasakan air menetes di kulitku.


Laki-laki ini menangis? Aku terpaku dan tiba-tiba aku merasakan rasa sakit dihati ini. Dadaku pun tiba-tiba sesak, sial apakah hatiku sudah terikat dengannya?


Aku hanya bisa menenangkan nya dengan mengelus-elus punggungnya, walaupun hatiku pun butuh ketenangan. agak aneh sih. Kami - sipembuat onar disekolah selama sepekan ini nyatanya tak seperti ekspektasi mereka yang selalu menganggap kami kucing dan anjing.


"Terus apa respon yang diberikan papah Zia?" Tanyaku ragu disela-sela penenangan ini.


"Untungnya ada mas firman, akhirnya Zia - si pelacur itu jujur juga, dan tentu saja papanya sangat malu dengan dia, aku merasa lega. Namun awas saja! Memangnya menyakiti itu tak membuat bekas luka?" Jawabnya dengan serak.


"Kamu... sebenarnya apakah mencintai Zia?" Tanyaku semakin ragu bin penasaran.


Dia semakin mengencangkan pelukannya, aku agak sesak tapi ya gimana nyaman juga sih pelukan satu orang ini.


"Stt jangan bahas itu Za!" Jawabnya semakin tersedu.


Laki-laki sekekar, sekuat, dan sedingin dia mampu menangis tersedu-sedu hanya karna difitnah? Agak aneh sih, benar-benar aneh!


"Ee.. zan, memangnya ada hal memilukan ya antara hubungan kalian dahulu?" Tanyaku yang ikut mengeratkan pelukan ini, benar-benar nyaman!


"Ya Za! Selama tiga hari aku udah nentang mami sama papi! Aku udah bela sipelacur itu tapi ujung-ujungnya kami putus" jawabnya.


"Minta maaf gih" saranku yang sudah mengerti akan kesedihan nya.


"Udah! Makannya sebagai ganti Aku Nebus dosa kemereka, aku manut buat masuk jurusan ips! Selama sisa sma ku, dan lagi aku manut saat aku disuruh pindah kesekolah mu, terus aku juga gak berontak sama perjodohan aneh ini karna aku masih mau Nebus dosa kemereka" jawabnya serak.


"Perasaan ku bagaimana?" Tanyaku cemberut saat kata-kata perjodohan itu keluar dari bibirnya.


"Mari kita lihat satu tahun ke depan" ucapnya.


Lantas dia langsung melepaskan pelukan kami dan menatap netraku yang penuh emosi ini.

__ADS_1


"Aku bakal berusaha kalau kita itu nikah pas umur kita minimal 24 tahun! Karna diumur itu juga kita sudah siap, kamu juga sudah menjadi guru!" Tambahnya.


"Gak ada niat buat batalin hal konyol ini?" Tanyaku mengernyit.


"Aku baru mau berusaha Za! Setidaknya kalau kita gak bisa lepas dari hal konyol ini, kita masih bisa menikah diusia yang matang!" Jawabanya serius.


"Hoh" aku mengangguk paham.


"Btw makasih" ucapnya sembari menatapku dengan pandangan malu.


"Hemm" aku melengos, berpura-pura ngambek padahal amat tergoda akan bibir itu.


"Za... Makasih" ucapnya lagi sembari menarik-narik tanganku, kekanakan amat sih mas? Ups!


"Apa sih?!" Tanyaku judes.


"Kamu marah? It's okey Za aku emang bejat oke? Tapi aku gak pernah mau melakukan hal-hal yan...." dia nyerocos gak jelas, lantas aku langsung membungkam bibirnya Dengan bibirku.


Aku menciumnya Dengan bringas, sungguh setan telah merasuki jiwaku!


Entah setan apa pula yang merasuki Fauzan dia membalas ciumanku, setelah bercerita dari hati kehati, berpelukan mesra, sekarang bertaut bibir dengan indah. Sungguh semoga saja setelah ini tidak ada hal lain lagi.


Setelah beberapa lama, kami melepaskan tautan bibir kami. Nafas kami tentu saja tersengal - sengal.


Aku menatapnya malu, "maaf" ucapku sembari melengos malu.


"Makasih" dia malah menjawab dengan ucapan terimakasih? Aku membalik wajah ini dan menatapnya dengan bingung.


Seperti mengerti jalan pikiranku, dia hanya tersenyum manis melihatku. "Terimakasih untuk ciumannya, jujur saja dari tadi aku sudah menahan agar tidak menciumu, karna takut itu ciuman pertamamu dan trauma akan masa lalumu, nyatanya kamu begitu beringas. Pasti ini sudah ciuman kebeberapa kali ya?" Tuduhanya ngawur.


Plakkk

__ADS_1


Aku mengambil sebuah buku dinakas dan melemparkan nya tepat di wajah laki-laki ini.


"Itu ciuman pertama tau! Jangan suka sudzon deh! Adanya pasti kamu yang udah bekasan kan? Ih kenapa juga aku tertarik sama bibir mu" aku menatapnya tajam.


"Ini juga ciuman pertamaku tau!" Dia menjawab omelanku dengan mengusap bibir basahnya.


"Enak loh Za! Lagi yuk?" Ajaknya seraya menaik turunkan alisnya.


Aku mendorong tubuh kekar itu lantas aku menatapnya lebih tajam dari belati, "tidur di sofa gih! Dan jangan sampe menginjakkan kaki ke daerah ranjang lagi! Atau aku akan... aku akan mendorongmu dari lantai 24 diperusahaan papi!" Ancamku yang mulai ngawur.


"Ha ha, iya ikan teri aku juga gak mau mati konyol di tanganmu" jawabnya sembari mengambil satu bantal dari tempat tidur dan berjalan menuju lemari untuk mengambil selimut.


"Kamu...." aku mengambil guling dan melemparnya.


"Ya santai dong, sana gih tidur. Tenang aja aku gak bakalan macam-macam kok, paling bener kata mami cuma satu macam" kikiknya geli, aku malah semakin beringas dengan ucapan nya itu.


Lantas ku ambil buku tadi dan berjalan kearah Fauzan, kupukuli lah si lelaki rese ini.


"Ampun nona! Ampun.... " dia mencengkal tanganku karna keberingasan ku yang terus memukulinya dengan buku.


"Udah sana tidur, iya maaf!" Dia mendorong tubuhku keranjangnya lagi, dan lantas laki-laki itu mengambil guling yang tergeletak dilantai.


"Nih" ucapnya sembari menyerahkan guling itu kepadaku.


Aku menerimanya dengan wajah datar, lalu aku menelusupkan semua badanku dibawah selimut, sambil sesekali melihat Fauzan yang sudah merebahkan tubuhnya di sofa.


Aku masih mengawasi lelaki itu Walau dia sudah menutup matanya, takut saat-saat kututup mata ini lelaki itu malah akan menerkamku, amit-amit jabang kembang....


Akhirnya jam 12 malam aku mulai tertidur, karna gak kuat begadang kalau untuk terus ngawasin satu orang itu.


...Bersambung........

__ADS_1


__ADS_2