Summer Love

Summer Love
Ch 23. Serapuh kayu


__ADS_3

Fauzan Nur Arkan POV


Desas desus Panas yang disebarkan satu orang disekolah membuat diriku menahan kegeraman, gimana gak geram coba? Kami difitnah melakukan hubungan terlarang diluar pernikahan? Hello.... kalo itu bener, aku bakalan mau nikah setelah lulus!


Aku menahan rasa geramku saat melihat zhari yang menahan air matanya, semakin kulihat dia semakin hatiku sakit, teringat akan mami yang menangis dulu karna aku pacaran.


Sejujurnya aku bisa saja memukuli mereka (teman laki-lakiku) tapi ku ingat kata mami - sabar, itu kunci dari segalanya, apalagi kalau ditambah dengan ikhlas.


"Udah lagian ibu etin kan tau?" Rayuku masih berusaha menenangkan nya.


"Ini gak bisa dibiarin zan!" Tampak zhari mengepalkan satu tangannya.


"Udah ah liat aja nanti"


Aku masih berusaha menenangkan nya, tapi hati wanita itu benar kata mami, hati wanita itu serapuh kayu. Selembut kapas dan sekuat baja, semakin hati itu dihantam dan tidak berdampak pada orang yang memilikinya, semakin hati itu sekuat baja. Karna ada pepatah yang mengatakan, 'orang yang sering diterjang badai tak akan merasa terganggu dengan gerimis'


Dan aku mengakui itu, mungkin ini adalah pengalaman pertama zhari dibuly! Ya jelasnya dia kan wanita yang cantik, anggun dan berkelas, jelas gak pernah dibuly.


Merasa putus asa karna melihatnya terus menangis, akhirnya aku menghubungi Mamiku, Menceritakan semuanya.....


Pak Asep memasuki kelas dan membuat orang-orang yang berbisik tadi terdiam di tempat masing-masing.


"Zhari kenapa kamu nangis?" Tanya beliau sembari menatap zhari dan menatapku bergantian.


"Me-mereka....." tampak wanita itu hendak menjelaskan sesuatu sebelum akhirnya terpotong oleh suara dingin.


"Siapa yang menyebarkan desas-desus amoral itu?" Aku dan zhari menatap ke Sumbar suara, tampak ibu etin sedang menatap teman-teman ku sembari menghela napas panjang.


Oh mungkin mami udah ngelapor ya? Secepat itu?


Kelas tiba-tiba hening akan ucapan itu, jelaslah mereka kan berbicara dari mulut ke mulut gak ada bukti sama sekali!

__ADS_1


"Kalian pernah mendengar ayat Al-Quran yang menjelaskan tentang , 'menggibahi seseorang sama saja seperti memakan bangkai saudaranya?" Tanya beliau.


Kelas masih hening, bahkan suara isakan zhari pun berhenti.


"Ibu mohon maaf ini ada apa ya?" Tanya pak Asep bingung sembari menatap wajah ibu etin.


Ibu etin melambaikan tangannya sepertinya dia mengisyaratkan 'nanti dibahas'.


"Kalian pernah merasakan sakit hati? Ini terkhusus wanita! Pernahkan sekolah mengajarkan muridnya untuk saling menyakiti? Saling membuly sesama wanita? Coba kalian renungkan, jika kalian berada diposisi zhari. Bagaimana perasaan kalian? Sakit hati? Sedih? Pasti! Ibu cuma mau bilang jangan menyebarkan berita yang belum jelas kebenarannya karna itu akan menjadi fitnah!!" Ibu etin memulai mode ceramahnya, aku hanya diam mematung dan mendengarkan dengan seksama.


"Tapi itu benar adanya buk!" Teriak seseorang yang memecah keheningan, langsung saja dia menjadi pusat perhatian.


"Kebenaran nya? Ibu ingin tahu kalian mendapatkan berita amoral seperti itu dari siapa? Kalau tidak ada yang mau mengaku! Ibu Giring semua kelas 12 ke ruang guru!" Tegas beliau.


Tiba-tiba hening itu digantikan dengan suara berisik kawan-kawan ku yang tengah berdiskusi akan berita ini.


"Satu lagi! Ingat hati wanita itu serapuh kayu! Sekali kalian bakar dengan bara api, sekali kayu itu habis. Artinya sekali kalian menyakiti seseorang, sekali seseorang itu tidak ingin berteman dengan kalian lagi!" Suara ibu etin kali ini langsung memecah keributan tadi menjadi hening.


"Kalo gak ada yang ngelapor ibu gak tau gimana mental kamu nak, apalagi empat setengah bulan kalian ujian." Ucapnya sembari menatap zhari.


"Ma-makasih Bu" zhari menatap kepala sekolah dengan penuh terimakasih, hello... lihatlah disampingmu mbak! Akulah orang yang menolong mu!


"Jangan berterimakasih kepada ibu, nanti ibu usahakan mencari tau orang dibalik semua ini 'ya?" Jawab ibu etin yang membuat zhari mengangguk seketika.


Setelah itu beliau berdiri tegak dan menatap semua teman-temanku, "nanti ibu bakalan selidiki kasus ini, ibu jamin siapapun dalang dibalik insiden macam ini. Sekolah akan mengeluarkan nya!" Tukasnya dengan tegas.


"Permisi pak, saya mau ngurus hal-hal ini lagi" beliau berbalik dan mengangguk kearah pak Asep yang masih terlihat bingung wajahnya.


Pak Asep balas mengangguk dan menatap kami semua, "Baiklah sekarang waktunya pelajaran bapak, kalian buka catatan kemarin yang belum bapak jelaskan" titahnya yang langsung kami semua turuti.


***

__ADS_1


5 hari penyelidikan akan desas desus konyol itu menghasilkan hasil yang memuaskan, ternyata orang dibalik semuanya tak lain adalah kawan zhari dulu. Maksudnya teman zhari saat masa smp.


Dia bernama meli, meli juga sudah dikeluarkan dari sekolah. Alasannya membuat berita konyol itu karna dia cemburu akan kedekatan ku dan zhari, Sejujurnya aku gak pernah tau meli-meli itu kaya apa orangnya, karna kan dia jurusannya ipa.


Aku menatap zhari yang tengah membaca novel fiksi dengan malas, tampaknya dia tidak membaca melainkan hanya membolak-balik halaman bukunya saja.


"Kenapa sih kamu?" Tanyaku heran.


Dia menghela nafasnya, "gak kerasa tinggal empat bulan sebelas hari lagi kita ujian, aku gak bisa mikir hal apa yang bakal membuat hidupku makin pelik dari insiden konyol ini"


"Pernikahan maksudmu?" Tanyaku sembari mengambil paksa buku novel digenggamnya.


"Ya!" Dia menatapku kuyu dan melempar buku novel lain yang masih tergeletak didepannya kearahku.


"Duh bisa gak jangan suka main kasar?" Tanyaku sembari mengelus pipi yang terkena lemparan buku novel itu.


"Gak!" Dia melengos dan menumpu wajah cantiknya.


"Ck" aku berdecak kesal lantas aku berdiri, "dah aku mau pulang, awas Lo jangan nangis terus" ucapku sembari menatap nya.


Dia mendongak dan kembali menatapku malas, "nangis karna apa? Karna penghianatan teman yang cemburu sama aku?" Jawabnya.


"Kenapa bahas kesana? Ya maksudku kamu jangan nangis mikirin pernikahan konyol ini, nanti aku usahain kok biar kita gak jadi nikah" ucapku.


"Diusia muda" tambahku yang seketika membuat wanita itu memukul lenganku.


"Itu namanya sama saja kamu masih berharap sama perjodohan ini!" Ucapnya dingin.


"Aku cuma bercanda kok, yaudah aku mau pulang" sebelum mendapatkan jawabannya aku langsung ngeloyor pergi dari kamar gadis ini, ya aku memang sedang ada dirumah si teri. Biasalah paksaan orang tua!


...Bersambung........

__ADS_1


__ADS_2