Summer Love

Summer Love
Ch 40. Sejujurnya aku tak menyesal


__ADS_3

Beberapa jam kemudian, Fauzan membawa sebuah nampan makanan ditangannya sambil menatap tanpa daya kearah gundukan dibawah selimut.


"Za please maafkan aku! Aku dijebak, ayolah kamu makan, kamu bisa sakit." bujuk Fauzan.


"Ngak mas! Kamu ngelanggar kontrak! Ka- kamu...." zhari hanya bisa menahan isakannya dengan lemah, dia sadar tak seharusnya dia tak memberikan fauzan haknya. Namun, bukankah itu semua sudah diatur kesepakatan bersama?


"Za aku gak bisa melampiaskan nya sama wanita lain! Hanya kamu yang berhak mendapatkan hak ku! Hanya kamu yang berhak merasakan tubuhku! Ayolah kerjasamanya? Bagaimana kalau aku mati karna nahan hal itu?" Fauzan menaruh nampan diatas nakas sambil badannya itu naik keatas ranjang.


"Aku kecewa sama kamu mas! Setidaknya kamu ngomong kalau kamu mau minta hak mu sekarang! Agar aku bisa sedikit ikhlas mas!" Isak zhari masih menutupi tubuh polosnya dengan selimut.


"Za.... sampai kapan hubungan kita kaya gini? Sampai kapan kamu tak mau membuka hatimu Za?! Sampai kapan? Andai jika aku tak dijebak, kamu mungkin tak akan mau aku sentuh kan? Mulutmu itu menolak! Tapi lihat Za... lihat reaksimu tadi! Tubuhmu tak menolak, kamu mencintaiku kan? Kamu hanya tak mau mengungkapkan nya saja! Kamu terlalu trauma!" Racau Fauzan sedikit tak berdaya.


"Ngak mas!" Bantah zhari sambil menggelengkan kepalanya dibawah selimut.


Fauzan membuka selimut itu hingga memperhatikan wajah zhari yang sembab dengan air mata, pria itu sebenarnya tak tega. Hanya saja bagaimana? Dia mengusap air mata zhari dan memegang dagu wanita itu agar menatapnya.


"Za kamu jangan membuatku membenci diriku! Jujurlah kamu itu mencintai ku kan? Kamu hanya gengsi! Kamu jangan nangis, ayo... kamu mau apakan aku? Silahkan Za pukul aku kalau kamu benar-benar benci sama aku!" Ucap Fauzan dengan mata merah.


Zhari hanya membisu, pikirannya merasa bahwa Fauzan itu bukanlah seperti lelaki yang membuatnya trauma dulu. Tapi, hati jahatnya berkata Fauzan hanyalah mempermainkan hatinya, disisi lain hati nuraninya berkata 'fauzan juga mencintainya', disinilah dia merasa dilema.


"Za kamu jangan seperti ini, are you okay? Aku gak bakal ngulangin ini lagi tanpa persetujuan mu!" Janji Fauzan yang masih terus mengusap wajah istrinya.


"Aku mau mandi mas" jawab zhari setelah hening, dia sedikit mendorong tubuh Fauzan dan beranjak dari ranjang sembari menutupi tubuhnya menggunakan selimut.


"Kamu bisa jalan Za?" Tanya Fauzan sedikit khawatir, dia takut wanita itu menahan rasa nyeri di pangkal paha nya, walaupun dia melakukan itu dengan kelembutan.

__ADS_1


"Bisa!" Jawab zhari sambil terus berjalan kearah kamar mandi.


***


Keesokan harinya, saat zhari turun kebawah dia melihat Fauzan sedang menikmati sarapannya. Buru-buru gadis itu berbalik dan hendak naik keatas lagi, jujur dia memang menikmati percintaan nya dengan Fauzan, dia juga sejujurnya tak menyesal. Hanya saja dia kesal kenapa Fauzan mau bekerja sama dengan seorang wanita? Apalagi wanita itu yang menjebaknya!


Fauzan yang melihat istrinya itu hendak naik keatas, buru-buru beranjak dan mengejar zhari.


Pria itu menangkap tubuh langsing istrinya dari belakang dan membopongnya sampe ke meja makan.


"Ahh lepas mas!" Teriak zhari sambil memukul lengan suaminya.


"Kemarin kamu gak makan! Sekarang mau gak makan juga? Sini biar aku suapi!" Jawab Fauzan yang mendudukan zhari diatas pangkuannya.


"Jangan kaya gini!" Ronta zhari sambil berusaha melepaskan tangan Fauzan yang mengunci tubuhnya.


"Ngak mau!" Tolak zhari sambil melengos.


"Dek makan!" Suara Fauzan naik satu oktaf, mungkin kesabaran nya sudah sedikit menipis.


Zhari menatap wajah serius Fauzan, rahang pria itu sedikit mengeras. Mungkin terlalu capek mengurusi istrinya yang suka semena-mena.


"Oke!" Jawab zhari sambil mau menerima suapan dari Fauzan.


Zhari terus mengunyah makanan yang disuapi Fauzan, makanan rasanya sedikit hambar. Entah karna hatinya yang kacau atau karna mata Fauzan yang tak beranjak dari menatapnya.

__ADS_1


"Udah mas kenyang" ucap zhari setelah piring yang berisi makanan nya Hampir habis.


"Minum" Fauzan menyodorkan jus alpukat campur susu beruang itu kearah Mulut istrinya.


Zhari meneguk jus itu sampai habis, dan tangan kecilnya kembali berusaha melepaskan tangan Fauzan yang masih mengunci tubuhnya.


"Lepas mas!" Ronta zhari.


"Ngak! Temani aku makan" jawab Fauzan sambil menggeser piring zhari dengan piringnya yang masih berisi makanan hanya baru beberapa suap dia makan.


"Ck" zhari berdecak kesal dan melengos.


Selesai sarapan, Fauzan masih tak ingin melepaskan istrinya. Dia masih nyaman pahanya menjadi pangkuan istrinya, terlihat wajah kesal zhari yang tadi sudah terlihat sedikit merah karna marah.


"Aku gak kekantor, temani aku" dalil Fauzan sambil membuka laptopnya, mereka masih ada dimeja makan. Entah pria itu seperti tak ada malunya, padahal Eva, Ema dan bi iyem selalu memperhatikan mereka.


"Mas...." suara zhari memelan setelah hening beberapa saat lalu, dia lelah memberontak.


"Apa?" Tanya Fauzan tanpa melihat istrinya.


"Aku capek! Mau istirahat" jawab zhari sambil wajahnya itu kini menatap suaminya.


"Yaudah bentar" Fauzan menyimpan file dan mematikan laptop, setelah itu Fauzan kembali membopong tubuh istrinya kelantai atas.


Zhari hanya pasrah, dia pasrah apa yang akan dilakukan suaminya. Walaupun hatinya masih kesal.

__ADS_1


...Bersambung.........


__ADS_2