Summer Love

Summer Love
Ch 45. Tuhan masih membelaku


__ADS_3

"Kamu kenapa ketawa?" Tanya Fauzan heran saat melihatku terkikik sendiri, jujur aku gak bisa nahan tawa pas ngeliat ekspresi pria ini.


"Ngak!" Wajahku langsung dingin lagi.


"Ayo ngaku? Kamu ngetawain aku ya?" Dia mencubit pipiku dengan gemas.


"Duh sakit mas!" Aku menampek tangannya, "aku mau pulang!" Tambahku keras kepala.


"Ngak!" Bantahnya keukeh.


Aku melotot, "jam berapa ini? Aku mau pulang!"


"Ck kalo aku gak mau ya gak mau!" Dia membopong tubuhku.


"Mas lepas! Kamu mau apa? Aku gak mau!" Teriakku sambil meronta dari gendongannya.


"Aku juga gak bakal nidurin kamu!" Dia menaruh tubuhku diatas ranjang, lantas dia menaiki ranjang juga. Tidur disebelahku dan menutup selimut, aku menatap kelakuan nya dengan aneh.


"Aku mau pulang!" Aku duduk dan melepas tangan Fauzan yang menyentuh pinggangku.


"Ck jauh-jauh aku bawa kamu kesini! Udah disini kamu malah pengen pulang!" Dia ikut duduk disampingku.


"Bodo!" Aku melengos.


"Ayolah kalo mau pulang besok kita pulang, tidur yuk?" Dia mendekat kearahku, menarik badanku pelan dan menidurkan ku dengan sayang.


Aku hanya diam membisu, udah lelah batinku ngurusin kepelikan ini. Ditambah masalah kehamilan, apa aku beneran hamil? Duh kok aku nyesel ya? Ck sebenarnya aku pengen hamil pas umurku 26 an, kenapa harus 23?


"Tidur....." dia mengangkat kepalaku pelan dan menaruh lengannya dibawah kepalaku. Aku hanya diam dan menatap langit-langit dengan bimbang, apa ini cobaan yang mau Tuhan berikan lagi? Membuatku cepat-cepat hamil? Padahal kami aja baru ngelakuin itu 3X duh kenapa aku terlena sih?


"Tidur sayang...." ucapnya mesra sambil menarik badanku kedalam pelukannya.


"Nanti kita periksa ya, mungkin kamu beneran hamil" tambahnya dengan mengusap kepalaku lembut.


"Hmm" aku tak menjawab, mending milih tidur daripada harus mikirin hal yang aneh-aneh.


***


Pagi harinya saat aku baru bangun dari tidur, aku menatap aneh kearah meja yang terisi penuh makanan. Lebih tepatnya banyakan buah sama sayur-sayuran.


Aku menguap dan mengucek mataku, rasanya kok malas ya turun dari ranjang? Lebih pengen banyak tidur. Duh apa jangan-jangan aku beneran hamil ya?


Aku menidurkan tubuhku lagi dan menutup mataku, bodo amat mau dibilang istri tukang molor atau apa, yang penting aku istirahat sejenak.


"Loh masih tidur?" Suara Fauzan mampu mengusik tidurku.


"Masih ngantuk" alibiku masih dengan mata tertutup.


"Yaudah lanjutin aja, nanti kalo udah laper makan aja" pesannya yang tak kubalas apa-apa.


Beberapa jam kemudian, "Nih cek" fauzan menyodorkan sebuah testpack kearahku saat aku baru saja bangun.

__ADS_1


"Dapet dari mana?" Tanyaku tanpa mengambil benda kecil itu.


"Gak sengaja tadi ketemu sama dokter kandungan yang lagi liburan juga, tadinya udah seneng biar bisa langsung dicek. Eh dokternya gak bisa katanya ini hari dia cuti setelah menikah, jadi yaudah dia nyerahin testpack" jelasnya panjang lebar.


"Oh" jawabku cuek sambil berlalu keluar kamar ini, pengen ngeliat pemandangan laut.


"Oh?!"Fauzan mengejarku.


"Ck aku tuh gak hamil mas!" Bantahku dingin.


"Bisa jadi Za?!" Fauzan tetap keukeh.


"Ngak!" Tolakku lagi.


"Mending cek Dulu! Kalo beneran hamil kan enak" ucapnya lembut. "Cek yuk, kalo anak kita kenapa-kenapa gimana?" Dia memelukku dari belakang.


Aku melepas tangan nya, "Kamu pengen banget ya punya anak?" Tanyaku aneh.


"Pasti" jawabnya tegas campur semangat.


Aku menghela napas gusar, "yaudah mana, kalo hasilnya negatif gak usah nangis!" Aku mengadahkan satu tanganku.


"Gak akan nangis! Karena Aku yakin kamu hamil Za!" Dia memberikan ku testpack itu.


"Yaudah aku cek dulu" ucapku cuek Sebelum masuk kekamar lagi.


"Tunggu" Fauzan menghentikan langkahku.


"Semoga di perut mommy bener ya ada kamu sayang" dia mengelus perutku dengan lembut.


"Ck" aku menampek tangannya, dan masuk kekamar mandi.


Aku berdiri didalam kamar mandi setelah memeriksa urinku. Jantungku hampir mencelos, ya tuhan.... aku hamil? Hamil? Masih agak kurang percaya, tapi kakiku sudah lemas duluan. Kenapa aku harus hamil? Arghhh harusnya tiga tahun lagi! Kenapa harus sekarang? Aku ingin menangis sendiri.


"Za apa kamu baik-baik aja?" Tanya Fauzan sambil menggedor pintu.


"I-iya mas" jawabku bergetar, sial! kenapa aku harus hamil sekarang?


"Udah belum?" Tanyanya lagi tidak sabar.


"I-iya..." aku menarik napas dalam-dalam dan keluar dari kamar mandi.


"Mana hasilnya?" Dia mengadahkan satu tangan kekarnya.


"D-dua garis mas!" Jawabku terbata sambil menyerahkan testpack itu.


"Tuh kan apa aku bilang! Kamu itu hamil! Sini duduk.... kamu belum makan, kamu harus makan!" Tegasnya yang langsung mendudukanku disofa ruangan ini.


"Duh kayaknya itu testpack nya rusak deh mas! Gak mungkin aku hamil!" Ucapku saat Fauzan membawa sepiring makanan.


"Alat gak mungkin bohong!" Dia duduk disampingku.

__ADS_1


"Makan" tambahnya sambil menyodorkan sendok penuh makanan kearah mulutku.


"Ngak mau!" Tolakku.


"Yaudah mending kita pulang sekarang! Kita periksa kerumah sakit!" Tegasnya yang langsung berdiri dan mengambil ponsel dan kunci mobil.


"Oke!" Tantangku tak takut, karna aku yakin gak mungkin aku hamil. Setauku orang hamil bakalan ngalamin yang namanya morning sickness 'bukan? Sedangkan aku ngak!


Dalam perjalanan kami hanya diam membisu, ck buat apa dia ngajak aku kepulau seribu kalau ujung-ujungnya kaya gini? Ckck mendingan rebahan dirumah!


Aku menatap jalanan dengan kesal, lagi-lagi kenapa ini harus terjadi di musim panas? Yang makin membuatku membenci musim ini saja!


"Perjalanan jauh, apa kamu gak mau makan dulu? Nih roti" dia menyerahkan sekantung kresek kearahku.


"Gak n*fsu!" Tolakku dingin.


"Yaudah tidur aja, mata kamu gak ngantuk apa?" Dia mengelus pucuk kepalaku dengan satu tangan sambil matanya masih fokus ke jalanan.


***


"Maaf pak istri Anda sedang tidak hamil" jelas dokter setelah memeriksa ku.


"Mungkin dokter salah cek kali!" Bantah fauzan keukeh.


"Maaf pak itu memang benar, di USG tak menampilkan tanda-tanda kehamilan. apalagi melihat istri Anda yang tak kunjung telat menstruasi" jelas dokter dengan sabar.


"Oh iya ibu Azhari apa mencelupkan testpack nya lama?" Tanya dokter kearahku.


Aku tercenung sebentar, "oh iya Bu saya lupa, saya mencelupkan nya lama" jawabku.


"Lain kali jangan lama-lama ya Bu, nanti ujung-ujungnya kaya gini. Maaf pak yang salah bukan alat USG kami, tapi memang istri bapak yang mencelupkan testpack nya lama" dokter itu menatap Fauzan.


"Oh jadi bener gak hamil dok?" Lirih Fauzan, rupanya dia sedikit kecewa.


"Iya maaf ya pak, apa ada hal yang masih saya bantu?" Dokter sedikit mengusir kami secara halus, mungkin karna gak enak diluar masih banyak ibu hamil yang mau periksa.


"Tidak Bu, terimakasih!" Ucapku girang sambil berdiri dan berjabat tangan dengan nya.


Dokter itu sedikit menatap kami aneh, mungkin heran kali ya? Harusnya aku sedih gak jadi hamil, tapi aku malah girang. Ck biarlah apa kata dokter itu, yang penting aku sedikit bersyukur gak jadi hamil. Ternyata Tuhan masih membelaku!


"Iya sama-sama, semoga dipertemuan selanjutnya ibu sama bapak benar-benar akan menjadi orang tua" do'anya.


"Tunggu dok!" Fauzan menghentikan senyuman girangku.


"Iya pak masih ada yang bisa saya bantu?"


"Saya mau minta vitamin kesuburan dok" jelasnya yang langsung membuatku menelan ludah.


"Oh boleh pak, saya catat saja ya resepnya. Biar bapak yang mengambilnya sendiri didepo farmasi rumah sakit ini" dokter itu segera mencatat sesuatu di kertas kecil.


"Terimakasih dok" ucap Fauzan sambil menerima kertas yang bertuliskan resep vitamin.

__ADS_1


...Bersambung.........


__ADS_2