Summer Love

Summer Love
Ch 16. Interogasi


__ADS_3

Hening masih menggantung diatas, kami masih saling tatap-tatapan, semakin hening jantungku semakin ingin melompat keluar.


Semuanya gara-gara Fauzan! Ya kenapa dia gak nurut buat lepasin pelukan ini? Okey aku emang salah, aku yang awalnya minta pelukan sama dia! Tapi.... please ending akhirnya kan salah dia!


"Ekhem" pecah suara deheman dari papi Hendrik.


Wajahku semakin pias saat melihat beliau, ya! Aku ini kan calon mantu yang gak sopan! Aku pernah membantah para sepuh saat baru sampai dirumah ini.


Aku menunduk malu, malu... sekali, bukan hanya karna malu dengan mami dan papi, tapi malu karna ada mas firman sama mbak lili.


"Dek..." mami Amelia menghampiriku yang sudah tegang sedari tadi.


"Ya mih" jawabku masih menunduk dalam-dalam.


Tampak helaan nafas panjang dari mami Amelia, dia mengangkat daguku agar wajah ini menatapnya. "Apa yang sedang kalian lakukan?" Tanya beliau halus.


Aku menatap matanya, mata itu begitu tulus tapi mengandung kekecewaan yang mendalam. Entah kenapa aku merasa aku mempunyai dosa dengan keluarga ini, ya aku berdosa karna selalu memberontak! Padahal keluarga ini teramat baik bagiku, buktinya saja saat Mamiku - mami Nanda memberikan daftar makanan terfav aku, keluarga ini selalu menyediakan makanan itu.


Air mataku luluh sudah, kami seperti tertangkap basah akan kelakuan amoral, padahal kami cuma pelukan! Iya pelukan hangat dan nyaman.


"Dek kenapa nangis?" Tanya mami masih dengan nada halus, beliau menyeka air mataku.


"Aku takut..." jawabku setelah sekian lama bibir ini terkunci.


"Takut?" Mami menatapku dengan bingung.


Tangisku makin pecah, aku merasa diri ini teramat tak pantas untuk Fauzan, sebenarnya laki-laki itu adalah laki-laki tertulus yang baru aku temui.


"Mas Ozan! Ikut papi sama mas firman" ujar papi Hendrik tegas.


"Iya pih" Fauzan disampingku menghela nafasnya, lantas laki-laki itu turun dari ranjang dan berjalan mengikuti papi dan mas firman.


"Dek kamu takut kenapa?" Tanya mbak lili yang ikut bingung dengan tingkah ku.


Alih-alih menjawab aku malah menangis tersedu-sedu, sungguh seorang zhari yang terkenal judes dan dingin nyatanya adalah perempuan rapuh.


"Mbak mami mau nelfon mbak Nanda dulu" ucap mami Amelia sembari melihat kearah mbak lili.


"Iya mih" jawab mbak lili.


Lantas wanita ayu itu menatap diriku, "coba ceritakan apa yang kamu takuti dek? Apa mas Ozan mau ngapa-ngapain kamu sampe kamu takut gitu?" Tanyanya yang semakin membuat hatiku teraduk tak enak.


"Bukan" jawabku.


"Terus takut kenapa? Takut karna papi sama mami marahin kamu? Kalian cuma pelukan aja kok, kami juga ngeliat itu" mbak lili mencoba menenangkan ku.

__ADS_1


"A-aku takut Ozan ninggalin aku..." jawabku lirih.


"Selamanya" tambahku makin kacau.


"Cuma sugesti dek... udah ah kaya mas Ozan nya mau kemana aja" hibur mbak lili yang mampu membuat hatiku tenang.


"Iya mbak biar aku yang urus, urusan mas alfy gimana? Dia lagi kesini kan?" Suara mami Amelia membuatku terpaku diam.


"..........."


"Oh iya ya... nanti aku ngurusin dek zhari, lagian dua anak kita itu bungsu semua mbak, jangan dipikirin, udah mbak lanjut aja dirumah sakitnya"


"......."


"Ya tenang aja.. Assalamualaikum"


Mami Amelia menutup panggilan nya, dia berjalan masuk kekamar ini dan menghampiri kami.


"Udah dek itu bener kata mbak lili, kamu cuma sugesti aja. Yuk ikut mami kebelakang, mami mau nanamin bunga yang dibawa mbak Mila kemarin" ucap mami dengan riang.


"Kemarin mbak Mila kesini?" Tanyaku Dengan mengusap air mata.


"Iya! Udah yuk kebawah" mami Amelia merengkuh tanganku dan tangan mbak lili, beliau ini memang gak pilih kasih sih. Pantas aja mbak lili kelihatan nya betah.


Akhirnya kami bertiga turun kebawah dan berjalan ke taman belakang rumah, memang sih kadang aku bertanya-tanya. Taman belakang rumah dan halaman depan rumah ini teramat luas, tapi aneh selalu rapi dan terawat tanpa ada tukang kebun, ternyata mami Amelia lah orang yang merawatnya.


Diruang kerja papi Hendrik tampak ketegangan menggantung diatas, tiba-tiba ruangan yang teramat kaku itu semakin menjadi kaku tatkala kedua lelaki dewasa itu menatap satu anak lelaki dan menginterogasi nya, siapa lagi kalau bukan Fauzan!


"Pih udah aku bilang kan? Dia itu mimpi!" Ucap Fauzan dengan wajah kusut.


"Gak! Papi gak percaya sama hal-hal kaya gitu, dulu... jamannya papi masih pacaran sama mami! Papi gak pernah ngelakuin kontak fisik sama mami kamu, karna nenek sama Kakek kalian itu ngajarin papi buat gak sembarang meluk-meluk kaya gitu, apalah..." papi Hendrik memulai ceramahnya.


"Oh!" Tampak Fauzan agak terkejut dengan ceramah papinya, lantas lelaki itu berdiri dan berdecak pinggang.


"Hebat ya pih... maaf pih, mas aku kurang sopan, bukan apa-apa! Ini hanya soal kenapa papi ngelarang aku pacaran? Sedangkan papi sama mas firman sendiri dulu pacaran?" Tanyanya dengan serius.


"Dek!" Cegah mas firman yang sudah berkeringat dingin melihat papinya.


"Anak ingusan! Semakin jaman maju! Moral dan kehormatan semakin merendah, lihatlah kamu sendiri! Kamu main peluk-peluk dek zhari aja! Kalian tuh belum sah..." ucap sang papi sabar.


"Ck" Fauzan berdecak kesal dan lelaki itu terduduk kembali di sofa. "Apalagi yang mau kalian tanyakan? Ya aku salah!" Ucapnya mengalah.


"Papi mau tanya, kata kamu dek zhari itu mimpi kan?" Tanya papi yang sudah mulai serius.


"Ya!"

__ADS_1


"Terus habis mimpi dia langsung meluk kamu gitu?" Tanyanya lagi.


"Ist! Sudah kubilang iya!... kan udah aku ceritain semua" Fauzan menyenderkan punggungnya di sofa dengan malas.


"Nah! Pertanyaan nya! Kenapa kamu mau bales meluk dia?" Sang papi tersenyum senang.


Skakmat! Akhirnya akan terungkap sudah , batin ayah 2 anak itu.


"Hmm..." Fauzan berfikir dengan serius, dia juga bingung kenapa harus membalas pelukan zhari? Aneh!


"Khawatir" jawabnya sekena mulut berucap.


"Mana ada khawatir sampe kaya gitu dek! Kamu.... udah punya rasa ya sama dia?" Mas firman menyenggol tangan adiknya dengan gemas.


"Gak!"


"Bohong"


"Gak!"


"Bohong! Kamu bohong kan?"


"Gak bohong..."


Kedua saudara itu terus berdebat membuat sang papi mengurut keningnya pening.


"Selama bertahun-tahun ngurus perusahaan baru kali ini papi nyerah ngurusin kamu mas" ucapnya sembari menatap Fauzan dengan kuyu.


"Selama aku hidup juga, baru kali ini aku nemuin spesies manusia kaya zhari!" Celetuknya.


"Heuh ngomongnya ngak suka dia.. tapi udah nyangkut-nyangkut dia pih" ucap mas firman dengan matanya bergeling nakal.


"Apa sih mas!" Ucap Fauzan dengan dingin.


"Papi mau nanya lagi sama kamu mas!" Ucap sang papi yang tampaknya masih ingin mengintrogasi sang bungsu.


"Apa?" Tanya fauzan.


"Kata mami kemarin kalian masuk bk ya? Kenapa sih mas? Kamu ngomong sama mami kalo kalian itu pelukan disekolah? Tapi dek zhari ngomong enggak! Mana sih yang bener? Jadi ini pelukan keberapa kalian?" Tanya papi dengan penasaran.


"Hmmmm.... 4 kayaknya" jawab Fauzan jujur, dia tidak ingin menyembunyikan fakta ini. Toh hanya zharilah wanita yang disenangi keluarga nya.


"Uhuk" papi tersedak kopi saat si bungsu mengucapkan kejujuran nya.


"Be-beneran dek?" Tanya mas firman tak percaya.

__ADS_1


"Eh 6 kali kayaknya" Fauzan mengurut dagunya, tampak sedang berfikir. Padahal dalam hati dia ingin tertawa.


...Bersambung........


__ADS_2