
"Maling?" Suara keras fauzan membuatku terbangun dari sofa dan berjalan keluar, melihat sumber suara.
"Iya pak, tadi malem saya ketiduran. Untung saja pintu sama jendela rumah ini kuncinya susah dibuka, alhasil mereka gak jadi maling" jawab pak Ryan - scurity rumah ini.
"Tuh kan bener mas tadi malem itu maling!" Selaku dengan bangga, karna tadi malem Fauzan tak sempat mempercayaiku.
"Oh yaudah kalo gitu nanti saya pasang cctv aja, biar kejadian ini gak terulang lagi" usul Fauzan sembari matanya itu menatap diriku.
"Baik pak, maaf ya pak" pak Ryan membungkuk dan pergi, mungkin beliau merasa bersalah kali ya?
Aku melipat kedua tangan di depan dada dan menatap Fauzan. "Tuh kan mas! Kalo tadi malem kamu keluar, pasti kamu udah digebuki maling. Amit-amit!" Ucapku padanya.
Dia memiringkan kepalanya kearahku, "dan apa kamu akan khawatir?" Tanyanya mesra.
"Dan apa itu disebut khawatir? Sejujurnya aku cuma memanfaatkan kamu aja tadi malem, biar aku gak mati konyol!" Alibiku.
"Oh jadi pelukan itu sekedar pemanfaatan?" Fauzan tak mau kalah.
"Iya! Kenapa kamu menikmati nya?"
"Karna aku melihatmu ikut menikmati nya juga!"
Aku terdiam, aku kalah lagi! Kenapa tak diam saja? Walaupun memang aku menikmati pelukan laki-laki ini.
Kembali kepalaku terasa dipukul benda berat, sudah kewajiban fauzan menjagaku. Dan sudah kewajiban ku pula harus merasa khawatir akan keselamatan nya, hanya saja hati kami masih belum pas. Mungkin aku yang harus banyak diam, menuruti semua titahnya, asalkan kesucianku tak terenggut oleh nya!
***
__ADS_1
Aku menatap aneh kearah jus alpukat campur susu beruang didepan ku ini, siapa yang membuatkan nya? Bukankah yang hanya bisa membuat minuman ini hanya aku, mami Lia dan mami Nanda saja? Dan tugggu!.... kenapa rasanya teramat pas? Seharusnya kalau yang membuat ini bi iyem, alpukat nya tak akan sepas ini? Terkadang kebanyakan dan terkadang kekurangan, jika memang yang membuat bi iyem atas suruhan mami atau Fauzan.
Aku menatap Fauzan yang tengah menikmati sarapannya.
"Kenapa?" Tanya Fauzan menatapku juga.
"Apa... kamu yang buat ini mas?" Tanyaku ragu sembari mengangkat jus ini.
"Iya, dan kenapa kamu bertanya?" Dia balik bertanya dan mengangkat salah satu alisnya.
"Eum kok bisa pas?" Tanyaku lagi.
"Bisalah dek!" Dia berdiri dan mendekat kearahku, hatiku mulai tak karuan. Mau apa dia?
"Ma-mau apa kamu?" Gagapku gemetar.
"Dek! Kita baru nikah dua hari, dan setelah nikah kita gak melakukan honeymoon. Kamu mau kan honeymoon?" Tanyanya dengan memegang daguku lembut.
"Dek! Kamu butuh kejernihan pikiran juga kan? Kita honeymoon keparis yuk?" Ajaknya lagi yang sekarang mata itu menatapku dengan harapan.
"Paris?" Aku menatap wajah Fauzan juga, melihat keseriusan laki-laki ini. Dan benar saja wajahnya amat serius.
"Iya" jawab Fauzan.
Aku tercenung sebentar, Paris? Negara itu baru aku kunjungi tiga kali setelah menyetujui perjodohan aneh ini. Walaupun sudah tiga kali ke negara itu, aku merasa masih ingin kesana. Dan disini aku mulai bimbang.
"Aku..... ini kan cuti terakhirku!" Tolakku yang akhirnya menemukan alasan.
__ADS_1
"Kamu bisa nambah masa cuti dek! Percayalah kita keparis yuk?" Dia duduk di kursi sebelah ku.
"Ngak mas! Aku takut!" Jujurku dengan menggelengkan kepala ini.
Dia menghela napasnya, "susah juga membuatmu percaya cinta, apa hatimu itu benar-benar sekeras batu dek?" Dia menatapku dengan kekecewaan.
Aku menatap matanya dengan ketidakenakan, apakah dia kecewa padaku? Benarkah? Harusnya aku yang kecewa padanya bukan? Ditinggal dihari kedua menikah?! Kenapa dia yang jadi kecewa? Dan lagi! Hatiku bukan batu! Apa sikap berontakku dia anggap aku tak punya hati? Sial! Gengsi telah menguasai ku!
"Ngak mas! Hatiku bukan batu!" Belaku dengan berderai air mata.
Sejujurnya jika 11 tahun lalu aku tak mengalami skenario buruk, mungkin aku sangat bahagia menikah dengan pria ini. Bahkan aku rela mengandung anak untuk nya, namun rasa trauma selalu menghantui ku. Bagiku semua laki-laki itu sama! Sama-sama mesum!
"Dek, jangan nangis gitu...." Fauzan gelagapan, dia merasa heran kenapa istrinya itu menangis? Buru-buru lah lelaki ini mengusap air mata zhari.
"Aku capek, aku mau istirahat mas... jangan ganggu aku, besok aku harus ngajar lagi" zhari berdiri dari duduknya dan pergi meninggalkan Fauzan, hatinya merasa teraduk-aduk. Antara bahagia diperhatikan suaminya, rasa takut akan traumanya, dan rasa amarah akan tuduhan suaminya.
Gadis itu masuk kekamarnya, mengunci pintu dan terduduk dibawah nya. Dia melipat kaki dan menangis sejadi-jadinya, apakah tak ada seseorang yang bisa mengerti dirinya? Memberinya kekuatan saat dia down? Dan lagi seseorang yang benar-benar menghilangkan rasa traumanya? Kenapa suaminya itu menuduhnya? Dia hanyalah gadis yang sedang terluka? Apa kedinginan hatinya itu pertanda dia tak punya hati? Zhari merasa itu gagasan yang konyol.
Zhari mendongak saat dia selesai dengan isakannya, gadis itu berdiri dan berjalan kearah jendela. Membuka gorden dan menatap cuaca yang cerah, apakah summer itu benar-benar menghancurkan hidupnya? Tak bisakah summer menyebalkan ini menjadi summer love? Harusnya bisa jika Fauzan mampu menghilangkan rasa traumanya!
"bisakah kau memberiku cinta summer?" gumam zhari lirih, dia tak benar-benar percaya dengan suaminya. Apalagi setelah Fauzan menuduhnya tak punya hati, memang dialah yang terbawa perasaan. Tapi, bukankah dia juga harus menyaring kata-kata nya?
...Bersambung........
***
wah siapa nih yang kalo ngomong suka nyeplos, hati-hati ya guys dalam berbicara. Karna hal yang menurut kita biasa, belum tentu biasa juga bagi orang lain.
__ADS_1
maaf ya kalo novel author masih gaje, jangan lupa like, komen, vote, dan hadiahnya ya readers. semoga kalian selalu diberikan kesehatan❤
thanks youđź‘‹