
3 hari kemudian, terlihat diriku sedang menatap hujan yang teramat deras dari lantai dua rumahku.
Waktu terus berjalan, semakin hari hujan semakin deras saja. Semakin hari pula musim akan berganti, dan semakin hari lagi pernikahan aneh pasti menyapaku.
Aku menumpu wajahku dengan tanganku, sembari memikirkan hal apa yang membuatku terbebas dari perjodohan aneh ini.
Drtttt
Drtttt
Getaran benda pipih disaku kemejaku, membuat diri ini mau tak mau mengambil nya.
08781573xxxx memanggil....
Dahiku berkerut saat kulihat nomor tanpa nama ini, namun karna takut ini nomor temanku, ku angkatlah panggilan ini.
"Hallo" sapaku lembut.
"Za? Ini nomor kamu bukan?" Suara Fauzan membuatku membulatkan mata ini.
"Ya! Ada apa?" Tanyaku judes.
"Kamu siap-siap Za, nanti aku jemput" jawabnya yang langsung mematikan panggilan sepihak.
"Ah ini kan hujan, gimana Kam......" aku melempar ponselku saat melihat dia sudah mematikan panggilan nya.
Sit! Dihujan sederas ini! Dia mau menjemputku pake apa? Motor? Gak lah bisa kehujanan! Apa dia minta sopir mami Lia buat ngejemput aku? Atau dia yang ngejemput aku pake mobil sendiri? Gak lah masa ia dia udah bisa naik mobil? Kok aku ngerasa aneh sih.
'Bodo! Bodo! Mau dia ngejemput apa kagak, yang penting aku gak mau hipertensi lagi!' batin ku bulat, sembari mengambil ponsleku dilantai.
Aku melihat jam di ponselku, tampak jam menunjukkan pukul 4 sore, ac kamar udah aku matikan tapi udara rasanya masih sedingin es. Akhirnya aku memutuskan untuk masuk kedalam selimut alias tidur!
***
"Za... woy bangun!" Goncangan ditubuhku yang teramat kuat membuatku membuka mata ini.
"Ahhh..." aku shock bukan main saat kulihat Fauzan di sampingku dan langsung saja kudorong badan tegap nya.
"Aduh..." keluh Fauzan saat badannya sudah ambruk dilantai.
Aku terduduk sembari menampar pipiku berkali-kali sambil terus bergumam, "ini cuma mimpi! Ini cuma mimpi Za!" Gumamku udah macam orang gila.
"Hentikan Za! Ini bukan mimpi" Fauzan menarik tanganku agar aku berhenti menampar diri sendiri.
"Hah bukan mimpi 'ya?" Aku langsung merasa malu saat melihat mata hitam Fauzan.
"Ya!" Jawabnya yang langsung duduk disampingku.
"Setengah jam aku nungguin kamu dibawah! Nyatanya kamu malah tidur, yaudah aku masuk aja ke kamarmu, lagian mami kamu gak ngelarang juga" jelasnya sembari menatapku.
__ADS_1
"Macam Sultan aja ya! Udah dapet akses kekamar berlian macam ku?!" Sindirku yang mulai ngeh sama semuanya.
"Ck jangan ngajak debat dulu Napa Za? Capek aku harus nyocot terus" dia merebahkan tubuhnya di atas kasur ku.
"Eh btw gue kalo nginep disini bisa lah tidur di kamarmu, gantian!" Dia menatapku sembari menaik turunkan alis itu.
Aku memutar mata ini malas, "gak boleh!" Bantahku dingin.
"Kamu kesini naik apa? Bukannya pas kamu berangkat masih hujan ya?" Tanyaku setelah hening sesaat.
"Hmm naik mobil" ucapnya pendek.
"Dianter?"
"Nyetir sendiri..."
Aku membuka mulutku ternganga, hah? Dia udah bisa naik mobil? Walaupun gak aneh juga, tapi jujur aja sih aku aja yang udah belajar 3 kali bareng pak Parjo gak bisa-bisa tuh. apa ini yang disebut kelebihan 'laki-laki? tapi aku masih gak percaya!
"emang udah punya SIM?" tanyaku Masih tak percaya.
"iya" jawabnya sabar.
"Kaget?" Tanyanya sembari melihat wajahku.
"Enggak tuh" aku menormalkan kembali ekspresi wajahku.
"Iseng, mau nyoba nyetir sendiri" dia bangun dari tidurnya, duduk dan menatap mataku. "Soalnya mami cuma bolehin aku nyetirin mobil pas mau ngapelin kamu" tambahnya serius.
Aku agak tersipu malu, tapi masih saja kupasang wajah setenang mungkin. "Oh jadi cuma itu ya? Terus mana yang katanya mau ngejemput aku?" Sindirku.
"Gak jadi! Males pas tau kamunya molor" jawabnya ringan.
"Yaudah aku juga gak mau bareng kamu terus! Mending kamu pulang aja gih! Kan udah dikasih 50 menit dari berangkat - pulang, buat nyetirin mobil!" Putusku sembari bangun dari dudukku.
"Mau kemana kamu?" Dia melihat kepergianku yang sedang berjalan kearah kamar mandi.
"Mau mandi" jawabku cuek.
"Oh" lantas kubalik badanku saat mendengar jawabnya, terlihat Fauzan sedang menyenderkan punggungnya dikepala ranjang ku sembari memainkan telfon nya.
"Bisa gak keluar dulu?" Tanyaku lesu.
"Bawa aja bajunya kekamar mandi, biar langsung dipake disana" alih-alih keluar, dia malah memberiku saran.
"Ck" aku menghentakkan kakiku kesal, lantas aku membuka lemari dan mengambil piyamaku. Lumayan tidur 1 jam - an membuatku agak segar.
15 menit aku keluar dari kamar mandi, bau harum buah langsung menyeruak di kamarku. Lantas kulihat laki-laki itu masih duduk di posisi Sama, agaknya dia teramat serius memainkan ponselnya.
Aku mengabaikan nya dan memilih duduk didepan meja rias ku, memberi vitamin pada wajah ini dan menyalakan hairdryer untuk mengeringkan rambut ku.
__ADS_1
"Kamu suka wangi buah sama bunga ya?" Tiba-tiba aku terlonjak kaget saat kulihat ada tangan yang mengambil beberapa minyak wangiku.
"Boros juga kamu" tambahnya setelah melihat merk minyak wangi itu.
"Hmmm dibeliin mas Zidan kok" bohongku yang jelas - jelas gak masuk akal.
"Heh Jan boros-boros jadi wanita tuh! Perbanyak menabung" nasihatnya sembari menaruh botol-botol minyak wangi itu ditempat semula.
"Kenapa? Duit papi kok yang aku pakai" jujurku jengah dengan semua nasihat-nasihat lelaki ini.
"Kalo udah nikah duit siapa yang dipakai?" Jawabnya sembari menatapku yang masih berkutat dengan hairdryer.
"Kamu" ucapku ngasal.
Ups! Sialan! Kenapa mulut bisa keceplosan gini sih?
"Udah Nerima rupanya?" Dia menganggukan kepalanya, entah itu tanda meremehkan ku atau tanda mengerti. Yang jelas aku merasa gugup.
"Gak kok!" Bantahku mempertahankan wajah ini.
"Aku mau pulang, besok kamu bujuk mami kamu biar gak nyuruh aku buat ngejemput kamu! Capek tau bangun pagi-pagi buta! Gak bisa begadang" dia menatapku lekat.
Oh rupanya tujuan awalnya kesini cuma buat itu? Alasan!
"Bodo! Suruh siapa kamu begadang?" Tanyaku.
"Papi! Puas?" Dia semakin menatapku lekat dan itu membuat tulang punggung ku agak merinding.
"Buat apa?" Berondongku masih nyaman beradu bacot sama dia walaupun tulang-tulang punggung ku kaku.
"Teri! Teri! Aku kan salah masuk jurusan! Tapi pas kuliah Aku disuruh masuk jurusan bisnis! Ya pastinya aku belajar dunia bisnis!" Jelasnya.
"Kalo aku gak mau gimana?" Aku tersenyum meremehkan kearahnya.
"Aku beliin kamu buku sejarah sebanyak tokonya pun boleh"
"Kalo masih gak mau?" Bantahku alot.
"Yaudah nilaimu bakal anjlog" ancamnya.
"Kalo masih gak mau juga?" Aku memiringkan kepalaku menatap matanya.
"Yaudah siap-siap bolos setiap hari" dia berbalik dan pergi dari kamarku.
Aku menatap kearah pintu Dengan pandangan tak bisa dibaca, rasanya semakin aku dekat semakin hati ini benar memiliki rasa.
Benarkah aku mencintainya?
...Bersambung........
__ADS_1