Summer Love

Summer Love
Ch 22. Desas desus panas


__ADS_3

Keesokan paginya seperti hari-hari sebelumnya, Fauzan menjemput ku dijam 6 pagi. Gak kebayang jam berapa di rese ini bangun.


Aku ngerasa agak kasihan juga sih, iya lah gimana gak kasihan coba? Jarak dari rumah Fauzan kearah sekolah cuma 10 menit, sedangkan dari rumahku kearah sekolah 15 menit, kalau Fauzan ngambil jalur ngejemput aku ya otomatis dijalaninya 25 menit! Karna rumah kami beda jalur.


"Tumben pake jaket?" Di menaikan alisnya karna heran saat melihatku.


"Gak boleh ya?" Aku menatapnya kuyu.


"Boleh, emangnya kenapa sih kamu?" Dia semakin heran, oh tidak buka heran. Melainkan kepada khawatir! Ya apakah dia benar khawatir?


"Semalam aku gak sengaja nurunin ac dibawah suhu 22, tapi tololnya aku ngira itu cuma karna hujan" jawabku sembari memeluk tubuh ini, sungguh masih sedikit merinding.


"Kedokter?" Tanyanya dengan menyentuh dahiku.


"Gak panas juga kok! Beneran merinding emangnya?" Dia mengerutkan keningnya saat merasakan suhu badanku.


"Iya!" Aku memukul lengannya, lantas aku lanjutkan ucapanku. "Cepet jalan! Aku udah minum obat kok" tambahku.


"Oke!" Dia manut dan menaiki motornya.


Setelah motor nyala dan aku bertengkar dibelakangnya, motor ini segera meninggalkan pelataran rumahku.


Sesampainya disekolah kulihat pak aryo menatap kami dengan pandangan semakin penasaran, heran dan dengan segala kekepoan dimata itu.


"Kalian bareng terus! Udah ke lima kali loh? Kalian ini pacaran apa emang kerabat sih?" Tanya pak aryo menatap kami satu persatu.


"Kami cuma kearabat pak!" Ucapku sembari melirik Fauzan yang wajahnya setenang air.


"Oh yaudah masuk gih" beliau mempersilahkan motor yang kami naiki ini memasuki halaman sekolah, bodo dengan segala hal yang ada dibenak semua orang! Lagian kepala sekolahpun udah tau kalo kita ini dekat karna perjodohan.


"Kalo sakit mending aku antar pulang aja za! Kamu kedokter" sarannya yang hanya kudiamkan.


"Nggak ah! Udah mendingan kok badanku" ucapku jujur.

__ADS_1


"Yaudah" dia mengangkat bahunya acuh tah acuh.


 ***


Bisikan-bisikan dikantin sekolah seperti menusuk jantungku, menulikan pendengaran ku, membutakan mataku dan membuat hatiku tersayat akan rasa sakit.


"Dah ucapan mereka emang bener kok" ucap Fauzan disampingku saat melihat diriku mencengkeram erat sendok dan garpu yang tengah kupakai untuk memakan bakso.


"Tapi kan gak harus disebarin!" Jawabku dengan mata yang berembun.


"Udah kok kebanyakan menyakini hubungan kita itu cuma akal-akalan orang yang syirik kamu, Are you okay? jangan nangis lagi" Fauzan masih berusaha menenangkan ku walaupun hatiku tak bisa merasa tenang.


"Bukan itu.... ke - kenapa mereka ngira aku sama kamu, itu...." ucapku dengan suara bergetar, sungguh tak kuat melanjutkan kalimat ini.


"Stt" fauzan menutup bibirku dengan telunjuknya, seperti nya telinga tajam itu mendengar ucapan-ucapan panas dari beberapa siswa dikantin.


"Desas desus nya dia itu buka bo ya?"


"Heh katanya iya! padahal papi nya kaya, maminya dokter, tapi dia masih mau ngejual diri sama Fauzan! Ckck sungguh rakus"


Suara-suara itu membuat hatiku makin tersayat-sayat! Hello.... emangnya kebersamaan itu selalu diartikan dengan suatu hubungan intim? Heh seandainya mereka menjadi diriku! Mereka pasti akan merasa tertekan juga!


Kami itu dekat karna dijodohkan! Bukan melakukan hubungan terlarang! Kalo semisal aku miskin pun! Gak bakalan ada tulisan 'menjual diri' dalam kamus hidupku!


Semakin telinga ini mendengarkan, semakin sesak dadaku. Tiba-tiba air mataku mengalir deras.


"Mereka ngomongin kita dibelakang yang artinya itu memang tempat yang pantas untuk nya" Fauzan mengusap air mataku.


"Za! Ayolah jangan nangis, ini cuma fitnah" dia masih berusaha menenangkan ku yang telah tenggelam akan kesedihan.


"Me-mereka keterlaluan zan!" Suaraku parau disertai getaran didalam nadanya, baru kali ini aku merasa sangat sedih.


"Udah diemin aja, nanti juga mereka tau sendiri kok" dia mengelus-elus punggungku Dengan kasih sayang dalam gerakannya.

__ADS_1


Aku sedikit tenang!


Saat kami berdua memasuki kelas, banyak tatapan mata merendahkan dari semua teman-temanku, terkecuali laila. Ya karna anak itu sedang sakit.


Aku menghela nafas ku, benar juga kata Fauzan. Jangan pedulikan orang-orang itu, lagian yang dapet pahala juga aku kan? Sabarin aja nanti mereka yang malu sendiri kok.


Kami berdua duduk di bangku masing-masing, dulu aku selalu menolak dan emosional terhadap Fauzan. Tapi rasanya jika dipikir-pikir lagi ada untungnya juga Deket sama dia.


Walaupun mayoritas sekolah ini banyak siswa tampan nya, namun soal hati sepertinya fauzan juaranya!


"Dulu dia ogah-ogahan duduk bareng Fauzan, eh nyatanya dia malah menggoda fauzan"


"Dia yang ngegoda apa Fauzan yang menggoda? Nih haha"


"Gak tau intinya dua orang itu gak berakhlak, nanti juga kalau guru tau pasti dikeluarin dari sekolah"


Ucapan-ucapan seperti itu membuat mataku berembun lagi, tapi aku berusaha menguatkan diriku. Kali ini aku paham siapa temanku yang asli dan siapa temanku yang palsu.


Ternyata menilai orang itu teramat murah, hanya dengan desas desus panas dari mulut orang yang syirik padaku membuatku tau wajah-wajah orang yang tak pernah tulus berteman denganku.


"Sudah...." bisik Fauzan seraya memegang tanganku erat.


Aku meremas tangannya, apakah ini adalah cara tuhan menunjukkan padaku bahwa Fauzan itu bukan sekedar dekat karna perjodohan, tapi dia memang tulus?


Untuk kesekian kalinya aku merasa tenang lagi.


...Bersambung........


***


Hemm gak ada akhlak ya yang nyebarin beritanya, Untung ada Fauzan kalo ngak gimana tuh mental zhari? eh btw menurut kalian sifat Fauzan tuh gimana sih? author kadang bingung sama sifatnya juga 😁, ye taulah Fauzan kan lelaki yang dicap rese sama zhari, tapi dia juga lelaki lembut.


okelah jangan pada mikir, mending pantengin aja terus ya :), jangan lupa like, komen, vote dan hadiahnya. semoga kalian selalu diberikan kesehatan ya readers❤

__ADS_1


Thanks you👋


__ADS_2