Summer Love

Summer Love
Ch 71. Aku tak percaya


__ADS_3

Ba'da isya semua keluarga pulang kerumah masing-masing, termasuk para orang tua. Menyisakan aku dan Fauzan yang tengah berhadap-hadapan didalam kamar.


"Ck masih marah kamu?" Fauzan berdecak heran saat melihat wajah cemberutku.


"Eh!, kan aku udah bilang! Jangan suka deh ngomong ceplas-ceplos kaya gitu, emang urusan pribadi harus banget diumbar ya?" Aku melipat kedua tanganku didepan dada.


"Lho itu kan hanya klise? Nggak monohok dek, emang aku ngomongnya secara detail ya?" Bantah Fauzan tak mau kalah.


"Ya itu memalukan! Gak nyadar apa masih banyak sepupu kamu yang dibawah 18 tahun? Ckck nggak mikir"


"Cuma ngomong malam sampai pagi aja dibilang monohok, emang mereka ngerti?" Fauzan menggelengkan kepalanya tak habis pikir.


"Kamu aja umur dibawah 18 tahun udah ngerti nggak waktu dulu?! Udah kan! Nggak mungkin belum" mata tajamku menusuk netranya.


"Ya ampun dek, udah deh urusan sepele aja diributin. Udah udah tidur, kamu nggak boleh begadang." Fauzan berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Ya kamu udah bikin aku malu" alih-alih menurutinya untuk tidur, aku malah menangis.


"Duh, iya iya maaf kalo aku salah. Nanti nggak diulangin lagi" Fauzan ngelagapan, dia mengelus-elus punggungku agar tenang.


"Ya aku sedih aja, kamu bilang 'ngelakuin itu dari malam sampai pagi' nyatanya kamu maksa aku kan setiap mau itu" tangisku berubah menjadi isakan.


"Iya aku lupa, lupa kalo dari dulu salahku. Semuanya salahku, udah dong jangan nangis" Fauzan kini memelukku, berusaha menenangkan amarah dihati ku. Mungkin berusaha menurunkan hormon juga.


"Dari dulu kamu emang gini! banyak bohongnya, catatan kriminal kamu di kamusku cuma berbohong!" Aku memukul kecil punggungnya.


"Ya iya aku emang pembohong, udah jangan nangis lagi" ucapnya masih berusaha menenangkan ku.


"Jahat! Jahat!...." aku terus memukul punggungnya.


"Dek, percayalah. Aku nggak akan ngulangin lagi, nggak akan bohong lagi. Udah dong cantiknya ilang kan, cup... cup" Fauzan kini menciumi keningku.


Lambat laun aku mulai tenang, tak terdengar lagi isakan dari mulutku. Pelan-pelan, namun pasti. Aku mulai tertidur dipelukan Fauzan.


****


Deringan ponsel Berulang kali membangunkan ku yang tengah tertidur lelap.


Tanpa melihat id penelepon, aku langsung mengangkat saja panggilan itu.

__ADS_1


"Ya hallo? Dengan siapa?" Tanyaku Masih dengan mata sedikit tertutup.


"Za, ini kamu kan? Aku zia!" Suara dari sebrang sana membuatku segera sadar dan langsung duduk.


"Kok kamu tau nomor aku, mbak?" Tanyaku mengernyit.


"Nggak usah mikirin itu Za, aku mau tanya sama kamu" jawab Zia tergesa-gesa.


"Nanya apa sih? Malem-malem kamu ganggu aku tidur aja, mbak." Aku menatap jam dilayar hp.


"Duh jangan mikirin itu dulu! Aku mau tanya, suami kamu lagi bareng kamu nggak?" Reflek aku menengok kesamping tempat tidur, tidak ada Fauzan. Kemana? Lagi diruang kerjanya kah? Mungkin juga.


"Nggak ada, mungkin lagi diruang kerjanya. Ngelembur kali" jawabku.


"Apa? Serius?" Suara Zia terdengar kaget.


Sekarang aku yang dibuat bingung, "ada apa sih mbak? Fauzan palingan lagi diruang kerjanya. Mau ada perlu ya? Masih mau ngambil dia dari aku?!" Tuduhku langsung.


"Jangan nuduh dulu, aku nggak bakalan berani ngambil dia lagi. Apalagi kamu lagi hamil, cuma heran aja..." suara Zia memelan.


"Heran kenapa sih?" Aku masih belum mengerti dengan maksud Zia.


"Mbak lagi ngelindur ya? Lagi mimpi atau apa sih? Ini jam 1 malem lho, aku harus bolak-balik nyari Fauzan seisi rumah? Paling-paling ada diruang kerjanya." Balasku heran, aku fikir dia tengah ngelindur.


"Duh dek! Bisa nggak jangan keras kepala dulu? Coba cek aja, kalo diruang kerjanya nggak ada. Coba kamu bangunin pembantu rumah kamu, tanyain dia pergi kemana. Jangan bikin mulutku kering tanpa apa-apa!" Zia mulai sewot.


Aku tak kalah sewot, "lho mbak yang nggak jelas! Nelfon aku malem-malem cuma buat nanyain Fauzan? Mau mbak apa sih? Bisa nggak ngelupain dia? Bikin hidupku tenang?"


"Ck bener ya kata orang-orang, kamu itu keras kepala! Coba aja cek diruang kerjanya. Kalo nggak ada bangunin semua pembantu rumah kamu, tanyain scurity sekalian." Tampak helaan napas terdengar dari mulut Zia.


"Ini mbak tujuannya mau apa dulu?! Jangan bikin aku malem-malem bolak-balik, naik turun tangga nggak jelas. Emangnya itu nggak bikin lelah?" Aku masih tak habis pikir dengan Zia.


"Kalo kamu kaya gini terus, aku nggak bisa biarin kamu! Bentar aku mau otw kerumah kamu Za. Tunggu disana, ada hal yang mau aku sampein" Zia mematikan panggilan sepihak.


"Lho? Kok sewot sendiri? Ckck" aku menaruh ponsel dinakas dan turun dari ranjang.


Aku masuk ke kamar mandi dan mencuci muka, tiba-tiba aku jadi ingat ucapan Zia tadi. 'coba cek diruang kerjanya, kalo nggak ada Bangunin pembantu rumah kamu. Jangan bikin mulutku kering tanpa apa-apa' maksud dia apa sih?


Tapi aku berusaha tidak berfikiran negatif, mengecek boleh kali ya? Iya daripada aku penasaran juga dengan maksud Zia.

__ADS_1


Akhirnya aku turun kebawah dan pergi keruang kerja Fauzan, ruangan itu tampak gelap. Kalo ngelembur, biasanya lampu nyala. Tapi.... ini? Perasaan tak enak mulai muncul di hatiku.


Ceklek....


Aku membuka pintu dan menyalakan lampu, kuedarkan pandangan dan tak menemukan apa-apa selain tumpukan berkas-berkas yang rapi.


Tak kutemukan Fauzan, kemana? Kok mendadak aku jadi kepikiran ucapan Zia.


"Mas?" Panggilku sambil berjalan kemeja kerjanya.


"Laptopnya nggak ada, kemana?" Gumamku sambil membuka laci meja, tak kutemukan laptopnya.


Tingnong....


Suara bel rumah langsung membuatku beringsut, aku mematikan lampu kerja Fauzan dan segera pergi keruang tamu.


"Mbak? Ini serius nggak ngelindur?" Aku mengucek mataku karna semakin dibuat bingung saat melihat tamu yang datang.


"Ah sudahlah, gimana Kamu udah ngecek kan? Nggak ada kan dia nya?" Berondong nya tak sabar.


"Tunggu, pertama-tama mbak tau nomor ponselku dari siapa? Yang kedua tau rumah aku juga dari siapa? Dan terakhir jelasin tujuan mbak yang sebenarnya! Jangan bikin aku bingung" ujarku lugas.


"Pertanyaan satu dan dua dari mbak fifah, yang ketiga. Kamu jangan shock ya? Aku cuma nggak mau kamu disakiti aja" Zia mulai mengeluarkan ponselnya, dia menggulir layar dengan wajah serius.


"Coba kamu perhatiin, ini Fauzan bukan? Kalo iya. Berarti bener suami kamu selingkuh!" Ucapnya sambil menunjukkan sebuah foto.


"Ahh nggak mungkin mbak, baru juga tadi sore empat bulanan anaknya. Mana mungkin selingkuh" jawabku percaya diri sebelum melihat foto yang diberikan Zia.


Wajahku tiba-tiba pias, semua warna seakan hilang. Bahkan aku merasa seolah-olah dunia sepi senyap, ditengah gelapnya malam. Aku merasa ada beribu-ribu jarum menusuk hatiku, suamiku! Fauzan... dia selingkuh! Tapi, aku harus percaya dia, nggak mungkin. Pasti, ini cuma kesalahpahaman.


"Mungkin ini orang lain" ucapku setelah beberapa kali menguatkan hati kalau itu bukan suamiku.


"Ini beneran dek, Fauzan! Mata Kamu min ya?" Zia menatapku heran.


"Aku tak percaya mbak!" Bantahku, aku yakin itu bukan Fauzan.


...Bersambung........


Hmmm kira-kira babang Fauzan kemana ya?😌 ada yang bisa nebak?

__ADS_1


__ADS_2