Summer Love

Summer Love
Ch 32. Semuanya karna trauma


__ADS_3

Tri Azhari POV


Jadi ini rasanya menikah? Biasa saja! Cuma ganti status di KTP dan dikintilin cowok kemana-mana, gak ada capeknya karena tetua menyuruh Fauzan mengikuti pergerakanku, aku bergerak. Dia bergerak!


Jadi, ini rasanya mencium tangan cowok? Walau setengah hati, rasanya tak ada yang istimewa. Ya karna berasa cium tangan papi, udah. Pas dikecup pipiku itu yang luar biasa, luar biasa kesalnya! Berasa kayak ditabok apa gitu. Untung reflek aku gak menampar nya, bisa dipelototi sesepuh kalo aku nampar suami.


Dan demi apa aku harus duduk berdua dengannya di pelaminan penuh bunga ini, indah. Tapi kok aneh , antara suka dan tidak. Bahagia sih jadi pengantin, Namun aku tidak menikmatinya. Gengsilah kalau sampai menampakkan senyum bahagia, lagian ini pria tak ada hentinya melirikku.


"Ngak makan?" Bisik Fauzan setelah menatapku sekian lama.


"Ngak" jawabku pendek.


Aku sudah kenyang dengan aroma bebungaan ini, pesta yang indah jika aku menjalaninya Dengan normal. Apalagi jika aku benar-benar sudah tau Fauzan mencintaiku.


"Nanti kamu masuk angin" Fauzan terus memaksa.


Aku menoleh malas dan mengibaskan ekor gaunku dengan anggun, "apa pedulimu?" Tanyaku dingin.


Entah semenjak H-1 pernikahan aku berubah pikiran - dari yang berupaya ingin menerima pernikahan ini ke - tidak ingin menerimanya karena aku merasa bahwa hidupku benar-benar akan hancur, cinta? Walau rasa hati aneh namun aku selalu menepisnya. Sepertinya kebahagiaan tak akan datang kehidup ku setelah menikah.


Fauzan tertawa sinis, "bagus, kita tak perlu saling mengurus ya, kan?"


"Ya!" Jawabku pendek.


"Mbak, dan mas Ozan silahkan menikmati hidangan" suruh mbak Mira anggota wo yang mengurus pernikahan ini.


Fauzan bangkit dan berjalan mendahului, tak peduli. Aku pun tak perduli akan itu, walau jalanku susah karna kebaya ini. Aku bisa jalan sendiri!.


"Mbak perlahan jalannya! Hati-hati kesandung!" Pesan mbak Mira.


"Sini" Fauzan menahan langkahku dengan tangan kanannya yang teracung.


Ditangan itu tersemat cincin platinum putih yang berpasangan denganku.


"Ngapain?" Tanyaku cuek.


"Aku bantu turun" ujarnya dengan ekspresi wajah seperti pria ini amat mencintaiku.


"Ngak usah!" Tolakku pelan takut menimbulkan kecurigaan.


Dia menghela nafasnya dan mendekati telingaku, "aku tau kamu gak mau, please deh Za! Lakuin aja daripada orang curiga"


Sialan! Percikan apa barusan? Kenapa panas betul ditelingaku? Kulirik wajah Fauzan yang sedang tersenyum tipis, dasar manusia sejuta wajah yang sangat kubenci!


"Plak!" Kutepuk keras tangannya dengan wajah ditekuk-tekuk kesal.

__ADS_1


"Good girl" gumamnya puas.


 ***


Jam sudah menunjukkan pukul 22.30. suasana pelataran luas rumah zhari belum juga sepi, selain semarak dengan karangan bunga bertuliskan "Happy wedding Tri Azhari dan Fauzan Nur Arkan" halaman juga ramai dengan acara pertunjukan wayang kulit semalam.


Sebagai manusia berdarah jawa, kedua keluarga itu tak memiringkan tradisi dalam setiap perhelatan. Termasuk untuk pesta pernikahan bungsu mereka, wayang kulit semalam suntuk pantas untuk diselenggarakan.


Sesepuh Keluarga terlihat bahagia dan khidmat mengikuti alur cerita pewayangan, beda dengan kedua pengantin.


Zhari dan Fauzan tampak tak banyak berbicara, bahkan keduanya mengambil selangkah menjauh. Zhari tampak duduk bersama maminya, di deretan paling depan. Sedangkan Fauzan memilih menepi dengan ponsel yang terus dimainkan nya, Entah sedang apa pria itu.


"Zan, kamu gak nemenin istri?" Tegur Firmansyah - sang kakak.


Fauzan menoleh dan menyimpan ponselnya, "mas sendiri kenapa gak nemenin mbak lili sama Hya?" Tanyanya.


"Mbak mu udah pulang duluan, Hya nangis terus" jawabnya.


"Oh" Fauzan mengangguk singkat.


"Lo mas Ozan kok gak masuk kamar pengantin? Itu istrinya kasihan udah capek!" Pecah papi Hendrik yang membuat fauzan gelagapan.


"Eng.... anu pih, nanti..." jawab Fauzan terbata.


"Anu apanya? Udah sana! Kasihan zhari udah capek itu!" Tunjuk papi Hendrik kearah zhari yang berulang kali memijit lengan dan kakinya.


Mengundang bisikan usil dari Putri tertua dirfansyah - Kamila. Dia berbisik usil sembari melihat adiknya yang ditarik Fauzan.


"Mih apa zhari serius mau melakukan penukaran benih? Bukannya keduanya tidak suka pernikahan ini?" Bisik Kamila aneh.


"Heh, kamu gak perlu mikirin hal itu mil, kamu masih perawan." Sang mami menutup mulut usil Kamila.


Kembali pada zhari dan Fauzan yang tengah sibuk sendiri, "lepasin mas!" Ronta zhari kesal.


"Udah waktunya kita berdua aja!" Jawab Fauzan yang membuat zhari merinding.


Fauzan menggandeng zhari Dengan sejuta ekspresi. Seperti sedang menahan sesuatu untuk meletus, bukan hasrat muda - mudi. Zhari digiring kekamarnya dilantai atas, dikamar yang penuh bunga mawar dan wanginya yang semerbak itu akan menjadi saksi untuk mereka.... bertengkar!


"Mau apa kamu mas?" Lawan zhari saat dirinya dilempar ke atas kasur.


Fauzan tersenyum sinis sembari melempar ponselnya disamping kasur, "bukankah ada yang harus kita bereskan?" Tanyanya dengan wajah nakal.


"Apa kamu meminta hak mu sebagai suami?" Tanya zhari meninggi.


"Kenapa salah?" Tanya Fauzan yang membuat zhari diam, tak ada yang salah. Hanya saja perasaan mereka yang belum tepat.

__ADS_1


"Aku gak akan pernah ngasih kamu kehormatan ku, zan!" Ujar zhari dengan dada naik turun.


"Wait? Zan?" Semprot Fauzan keras.


Sabar sedikit zan! Jangan balas kebencian anak ini! Aku sedang berupaya merayu hatinya, untuk takluk di lututku. Batin Fauzan mengendur emosi.


Untung suara gamelan dan pertunjukan wayang kulit sedikit berisik, menyamarkan suara aneh dari mereka.


"Terus apa? Mas? Sayang? Cinta?" Sengit zhari tak kalah beremosi.


Fauzan mendekati zhari, hingga gadis itu berdiri kemudian terdorong Kedinding. Jantung berdebar kencang, hati tak karuan dan napas tersengal. "Mau apa kamu?" Tanya zhari gemetar.


Lelaki itu menimpa tembok dengan telapak tangan kanannya, pandangan mata tajamnya menyipit, "sebenarnya apa alasanmu membenci ku? Berikap agresif hanya menyita emosimu Za!" Katanya mesra.


"Jangan panggil aku seperti itu!" Ujar zhari melengos, bisa meledak hatinya.


Fauzan menarik lembut dagu lancip zhari, "kenapa za? Kamu membenciku? Suka tak suka, kamu sudah menerima pinangan ku!" Tanya Fauzan melembut.


"Coba cerita ada masalah apa kamu sama aku?" Tanya Fauzan pelan suaranya yang lembut itu mulai merasuk kedalam hati zhari.


Air mata zhari luluh begitu saja, dia hanya gadis yang menutupi lukanya dengan kedewasaan. jujur hatinya masih dihantui rasa trauma 11 tahun lalu. Semuanya bukan soal Fauzan, lelaki itu sebenarnya teramat baik. Gak ada buruknya malah, apalagi dia berjanji akan membuat hati zhari percaya adanya cinta. Membuat pandangan nya berbeda akan laki-laki.


"Kau tahu kejadian 11 tahun lalu, aku benci lelaki! Aku gak percaya cinta! Dan aku gak suka kebergantungan!" Ucapnya bergetar dengan isakan.


"Apa yang salah soal 11 tahun lalu? kamu bisa menghilangkan trauma itu, percayalah! Jika Nasi sudah menjadi bubur, Kenapa kamu tak menikmatinya saja? Masih ada cuiran ayam dan kerupuk, cukup nikmat!" Hibur fauzan santai, lelaki itu malah menatap lekat wajah cantik zhari yang berbalut riasan natural.


"Kamu belum mengenalku Za! Aku berbeda dengan mereka!" Imbun Fauzan lirih.


"Aku sudah mengenalmu! Tapi aku benci laki-laki! Mata kotornya dan wajah bernafsunya membuatku muak!" Teriak zhari makin menderaskan air mata dipelupuknya.


Fauzan mengusap lembut air mata zhari, "aku berbeda Za, aku tak seperti laki-laki yang pernah membuatmu trauma. Aku bukan mereka" jawabnya sembari tersenyum tipis.


"Aku tau! Aku benci pikiranku! Aku benci pandanganku! Luka ku tak pernah sembuh, sampai.... sampai keluarga anehku mulai menjodohkanku dengan mu!" Zhari menundukkan kepalanya saking frustasi karna kepelikan Yang tak pernah berhenti ini.


"Jadi semuanya benar-benar karna trauma dan Aku tak tahu bagaimana menghilangkan trauma mu, hanya saja percayalah Za! Tak semua laki-laki memiliki pikiran seperti itu, semuanya hanya waktu. Kamu butuh ketenangan sementara" Fauzan duduk ditepi kasur bertabur kelopak mawar itu, membiarkan zhari terbebas sedikit.


Zhari hanya diam, dia terduduk dilantai sembari melipat kakinya. Bahunya tergoncang sedikit, emosi akan rasa trauma yang merayapi hatinya membuat dia leluasa menangis. Memang selama lima tahun dia tak pernah menangis, seingatnya terakhir dia menangis saat dia memberontak akan pernikahan mudanya dulu.


Zhari masih membenamkan wajahnya didalam lipatan kaki, "kalo aku ngak menghormati sesepuh, aku gak bakal Sudi nikah sama kamu!" Ucap Zahri terisak.


"Ya sama!" Timpal Fauzan sekenanya, dia terlalu jengah mengalah dengan satu makhluk ini, kehidupan lima setengah tahunnya berubah drastis saat zhari datang kehidup nya. Hal yang paling membuatnya jengkel adalah..... selalu ia yang mengalah.


Zhari mengangkat wajahnya yang sembab, "maksudmu?" Tanyanya.


"Aku masih bisa dapetin perempuan yang benar-benar normal, lembut dan penyayang. Bukan kaya kamu! Tampilkan kalem tapi omongan bar-bar" ceplos Fauzan santai.

__ADS_1


"Harusnya aku yang ngomong itu, FAUZANNN.." teriak zhari kesal.


...Bersambung........


__ADS_2