
Kami hanya sarapan berempat, karna mas firman sama papi lagi dikantor. Gak tau bahas apa aja di kantor itu, aku serasa bukan ahli waris dari keluarga ini. Ya gimana gak ngerasa gitu coba? Aku masih cetek ilmu, eh malah disuruh masuk jurusan ips. Gak banget!
"Mas kata mami Nanda kamu anterin dek zhari pulang gih, katanya ada budhe Siti lagi kunjungan. Padahal mami masih pengen sama dek zhari...." mami memandangku dengan sedih, seperti tengah meratapi mawar kecintaannya yang mati karna cuaca panas tahun lalu.
"Ada budhe Siti mih?" Tampak zhari yang sedang mengambil kue buatan mbak lili itu teramat berbinar saat mendengar nama budhe nya. Hmmm kok aku jadi bertanya-tanya ya? Seperti apa budhe siti itu?
Aku juga punya budhe dari mami, tapi sayang beliau adalah orang yang paling sombong, kata mami dari waktu mereka hidup bareng pun... budhe ku selalu menyombongkan diri, selalu iri sama mami, apalagi pas ngeliat mami nikah sama papi, beuh dia kaya kepanasan Jenggot sampe mutusin tali persaudaraan.
Kuhilangkan rasa penasaran ini, sembari menatap teri yang sedang makan kue buatan mbak lili. Sambil sesekali menatap mami meminta jawaban beliau.
Setelah sekian lama menunggu, akhirnya si teri itu dapet anggukan dari mami. Tentu saja dia langsung menarik tanganku, memintaku segera mengantarnya kerumah.
"Tunggu!" Ucapku ngos-ngosan saat tangan kecilnya terus menarikku sampai di bagasi.
"Apa?" Dia menatapku dengan tidak sabar, ya Tuhan... ngerti gak sih satu makhluk ini? Pertama penampilan ku sudah acak-acakan karna masalah 6 bulan! Kedua dia juga harus ngambil tas sama pakaian nya kan!
"Tas!" Ucapku langsung ngeloyor pergi, kalau bukan aku yang ngambilnya bisa gawat! Ya iya gimana gak gawat, penampilan acak-acakan kaya gini mana pantas mertamu dirumah orang, sekalipun rumah itu rumah camer - calon mertua.
Aku kembali lagi kebawah, sekarang rambutku sudah rapih, badanku pun lebih wangi dari yang tadi.
"Sudah?" Tanyanya sambil mengambil tas ditanganku.
"Ya!" Aku pergi ke bagasi, mengeluarkan si Rambo - alias motor gedeku.
"Cepet naik" ucapku saat sudah menaiki Rambo.
Motor ini pun segera kukendarai menuju rumah sang camer. Hemm ternyata weekand tahun ini aku ngapelin seorang gadis, bedanya yang sekarang berstatus (calon) suami-istri, sedangkan yang dulu berstatus (cinta monyet)
__ADS_1
Sekitar 20 menitan kami sampai dirumah si teri, memang perjalanan agak cepat karna jalanan Jakarta gak sepadat dijam-jam pegawai berangkat kerja.
Tanpa mengucapkan terimakasih atau mengajakku masuk, si teri malah ngeloyor kedalam rumah. Tanpa memperdulikan wajahku yang sekusut keset ini.
Aku mematikan si Rambo, lantas aku berjalan kearah rumah ini. Ah sudah biasa! Pembantu rumah ini pun sudah kenal denganku, ya gimana gak kenal kemarin kan aku ngejemput dia buat berangkat bareng!
"Assalamualaikum" ucapku saat sudah didepan pintu rumah yang sedikit terbuka ini.
"Wa'alaikumsalam, eh ini mas Ozan ya? Calon suami ponakan saya ya?" Tampak seorang wanita yang amat mirip wajahnya dengan mami Nanda menjawab salam ku.
Kurasa ini adalah budhe Siti!
"Eh iya.." aku salting akan ucapannya, langsung saja kucium lah punggung tangan beliau.
Beliau merangkul tanganku dan menyeret diri ini masuk kedalam, entah aku kurang paham mau dibawa kemana diri ini? Lagi si teri kemana pulak!
"Eh iya ini Budhe Siti ya?" Tanyaku ragu, sembari menatap beliau.
"Ya! Saya sudah lama gak kejakarta, pas kesini lagi eh dapet kabar si ponakan kecil udah mau dinikahin aja" jawabnya dengan sumringah.
Aku menelan ludah, uh uh... sudah direncanakan toh!
"Budhe..... zhari udah bisa Rajut kaos ka...." suara sumringah si teri langsung membuatku menatapnya, lantas dia pun tak melanjutkan ucapannya.
"Eh rajut apa dek?" Tanya budhe yang belum ngeh sama ucapan si ponakan.
"Eumm... nanti aja budhe, zhari mau naik dulu" ucapnya dan pergi begitu saja.
__ADS_1
Aku menatap seluit kepergiannya, kenapa dia gak ngelanjutin ucapannya aja sih? Rajut? Apa kaos kaki biru ditangannya itu rajutan tangan si teri? Benarkah? Kok aku gak tau ya bakat gadis itu.
"Ekhem mas biasalah anak gadis, dia suka malu padahal kan kamu calon suaminya sendiri" kikik budhe saat melihatku hanya menatap tangga yang membawa si teri itu keatas.
"Eh" aku terlonjak kaget dan menatap budhe Siti lagi.
"Mas diminum nih" suruhannya, "tadi budhe sengaja udah buatin susu coklat. Kata mbak Nanda, mas Ozan tuh suka susu coklat...." tambah budhe sembari menyuruhku memakan kue kering dimeja dan tentunya meminum susu coklat yang tergeletak itu.
Aku hanya mengangguk tak enak dan mulai meminumnya pelan-pelan, masih agak panas sih. Emang aku gak terlalu suka es, makannya susupun diseduh pakai air panas atau anget.
"Mas Ozan jangan sungkan-sungkan ya sama keluarga saya! Tenang aja kok, nanti kapan-kapan bakal budhe kenalin sama keluarga budhe, kebetulan yang kejakarta cuma budhe sendiri" ucap beliau saat aku sudah menaruh gelas susu ini lagi.
"Iya budhe" aku mengangguk mengiyakan lantas aku menatap budhe dengan pandangan tak enak.
"Budhe maaf Ozan masih ada tugas yang belum dikerjakan, apa... Ozan bisa undur diri?" Tanyaku ragu.
"Oh gak papa kok mas, budhe disini lama juga kok. Masih bisa ketemu" jawabnya seraya berdiri, aku pun ikut berdiri.
"Iya maaf ya budhe!... aku pamit dulu, Assalamualaikum" ucapku sembari mencium tangan beliau dan pergi.
"Wa'alaikumsalam, hati-hati ya mas!" Jawabnya yang langsung kubalas Dengan meseman.
Aku pergi dari rumah si teri, ngerasa gak enak kalo gak ada siempu rumah yang selalu buat aku darah tinggi itu.
Hari ini adalah hari paling bersejarah ku didalam catatan hidupku, bisa dibilang hari ini adalah catatan baruku. Dimana aku merasa senang saat mengantar si teri kerumahnya.
Hemm apakah benar aku mencintainya?kurasa hanya takdir yang mampu menjawabnya.
__ADS_1
...Bersambung........