
Aku melingkup selimut setelah beberapa lama menahan napas, menutup mulutku dan segera berlari kekamar mandi.
Hoekk...
Aku mengeluarkan semua cairan di tubuhku, aroma parfumnya benar-benar membuatku semakin ingin muntah.
Enak sih tapi menyakitkan!
Tiba-tiba sebuah pijatan kecil mampir di tengkukku, bukannya merasa lebih baik aku merasa mual semakin melanda. "Menjauh! Menjauh mas!" Teriakku lemah.
"Ah kenapa?" Fauzan terlonjak kaget dengan sikapku yang mendorong sedikit tubuhnya.
"Parfummu menyengat! Ganti baju! Ganti baju! Please..." mohonku sambil mengeluarkan cairan lagi.
"Okay" dia hanya manut, mungkin tak rela juga melihatku muntah-muntah.
"Udah mendingan?" Tanyanya saat aku keluar kamar mandi dengan tampang acak-acakan.
Aku mengangguk lemah dan naik keatas tempat tidur, menyenderkan kepalaku pada kepala ranjang. Benar-benar lelah! Untung saja kamar Fauzan kedap suara, kalau sesepuh tau bisa gawat! Gawatlah kalau aku hamil masih diatas hubungan palsu!
"Kalau apa-apa makannya ngomong!" Ucapnya sedikit sewot pria itu memijiti kakiku.
"Duh perasaan kamu deh yang ngebuat aku kaya gini!" Bantahku lemah.
Dia menghela napas pasrah, "lain kali kalau gak suka sama aroma menyengat ngomong aja, kalau mau apa-apa juga ngomong aja. Nanti anak kita ngeces lagi" ucapnya lembut yang malah membuatku bungkam.
"Kenapa diem?" Tanyanya sedikit judes.
"Ngak! Aku mau tidur... udah mas" ucapku pelan sambil mengangkat tangan Fauzan dari kakiku.
"Yaudah tidur" dia merebahkan tubuhnya disampingku.
***
Suara lantunan ayat suci menggema merdu mendinginkan hati berasal dari ruang depan. Semoga mampu memberikan ketenangan bagi yang telah mendahului di alam sana, kadang aku menitihkan air mata. Teringat dosa, jujur kadang aku malah bolong ibadahnya. Kapan ya aku tobat? Apalagi dosaku sebesar Semeru.
Kembali kugelengkan kepala, menghamburkan isi otak yang tak jelas. Apalagi setelah mendapatkan pemandangan nista dan perlakuan manis Fauzan Nur Arkan, kupandang dia dari kejauhan tampak gagah dengan balutan kokoh putih dan sarung hitam.
__ADS_1
Mami yang sudah datang menyenggol lenganku lembut sekaligus menyadarkanku bahwa para wanita sudah berkumpul diruang tengah hingga dapur, sesekali mereka membicarakan kebaikan almarhum ataupun masalah kecil keluarga. Aku banyak melamun dari tadi, bahkan saat dapat ciuman dari mami.
"Kamu kenapa dek? Sakit?" Tanya mami yang masih belum ngeh dengan badanku, padahal badan kurus ini sudah sedikit gendut karna hamil.
"Eh ngak mih" aku tersadar dari lamunan dan tersenyum kearah beliau.
"Oh mami kira kamu sakit" celoteh mami sedikit khawatir.
"Mana mbak Mila mih?" Tanyaku mengalihkan perhatian.
"Mbakmu sibuk seperti biasa, berangkat pagi pulang malem bawa setumpuk kerjaan mahasiswi" jelas mami santai Sambil mencomot kue pisang.
"Di zaman digital begini masih pake paper?" Cibirku yang hanya dibalas angkatan bahu tak peduli.
"Assalamualaikum" sebuah salam merdu terdengar didaun pintu.
Suara yang lembut tapi tak asing bagiku itu sontak membuat kami semua menoleh, benar saja. Tak asing karna pemilik suara itu fizya fahriki, mantan pacar suamiku yang masih keukeh mengejarnya! Mau apa dia malam-malam kesini? Dan lagi dia tak sendirian, ada wanita seumuran mami dibelakangnya. Apa itu ibunya Zia juga ya? Ada hubungan apa?
Fizya tersenyum sambil menyalami kerabat Fauzan satu persatu, tak lupa si gadis kecil anaknya itu ikut menyalami kerabat Fauzan juga. "Budhe, Tante.... "
"Tante?" Mami memasang wajah bingung, rupanya beliau juga belum tau mantan Fauzan!
Sambutan yang manis Za!
Mami Lia alias mamerku datang dengan tergopoh, entah mungkin karna perempuan toxic perusak anaknya atau gimana.
Beliau menyalami wanita dibelakang Zia, wanita yang umurnya mirip kaya mami sih kalo liat wajahnya. "Makasih sudah datang. Dek cukup dek fifah aja yang datang, ngak usah repot" ucap mami lia terbata menatap Zia.
Wanita yang bernama fifah itu tersenyum semanis madu, "ngak apa-apa, saya juga ingin silaturahmi dengan keluarga dek Fauzan. Apalagi fizya adik saya kenal dengan Fauzan" ucapnya yang malah membuatku bungkam, fizya? Adik dari fifah? Hah? Masa sih? Kalo liat umur pasti fizya anaknya fifah kan? Ckck ini gimana sih malah buat aku bingung?
Wajah mami tetap datar saat melihat Zia, yeas! Mami Lia benar-benar gak suka perempuan toxic macam Zia!
Zia mencondongkan tubuhnya kedepan mamer dengan senyum manis, "Tante, bisa kita ngobrol berdua?" Pinta Zia sangat berani.
Sumpah ini satu orang punya keberanian berapa sih? Terobsesi banget sih pengen ngerebut suami orang? Ini yakin neh dia beneran mau rebut fauzan? Mau merebutnya diatas istrinya yang tengah bunting? Ckck kelainan kayaknya nih orang.
"Maaf saya masih banyak urusan" mamer segera menolak dengan cepat.
__ADS_1
Syukurlah punya mertua yang galak dan tegas kalau sudah menyangkut keluarganya, statusku aman. Namaku tetap nyonya Azhari Nur arkan, entah kenapa pas ketemu Zia emosi meletup-letup, sabar... inget lagi bunting, jangan merutuki orang dalam diam, apalagi hal kejelekan, bisa gawat sifat anakku nanti! Itu sih kata sepuh.
Mami Lia pergi entah kemana menyisahkan kecanggungan diatas atmosfer, Untung saja Tante uswah segera melerai kecanggungan itu dengan menyuruh fifah dan Zia serta anaknya duduk.
***
Malam makin beranjak kepukul 08.30, acara kirim do'a sudah selesai, begitupun pembagian kue dan makanan. Hadirin pun sudah bubar dengan rapi, menyisahkan keluarga inti yang tengah berkumpul diruang keluarga.
Semuanya berkumpul, termasuk aku. Walaupun mata ngantuk kupaksa untuk ikut kumpul, sebagai suami dan istri aku serta Fauzan duduk beriringan. Dia tampak cuek walaupun kadang tangan kekarnya pura-pura mengibaskan bajuku dibagian perut, gengsi nih ye mau ngelus anak sendiri?
"Pak, Buk, istirahatlah disana Dengan tenang. Kami semua disini, malam ini berkumpul untuk mendo'akan bapak ibu, terimakasih atas kasih sayang yang pernah kalian berikan pada kami, terimakasih telah membawa kami kedunia ini dengan bahagia" buka Om Ahmad dengan menitihkan air mata.
"Saat membersihkan kamar kakek selamet dirumah Tante Laras, kami menemukan sepucuk surat. Nama ini nama yang spesial bagi kakek selamet, papi harap di acara hari ini. Nama itu bisa membacakan surat dari Kakek, semoga bisa mengobati rindu kami pada beliau. Bersediakah?"
Papi Hendrik mengumumkan maksudnya setelah Om Ahmad menitihkan air mata haru, ditangan beliau ada sepucuk amplop putih. Hatiku berdebar menunggu nama siapa yang dimaksud kakek selamet? Karna jujur aku sendiri belum pernah ketemu orangnya dan gak ada yang memperkenalkannya. cuma lewat foto aku bisa liat wajah beliau, selama 2 tahunan bulak balik rumah Fauzan, sebut saja menjalin hubungan dengan keluarga ini.
"Surat ini untuk si mekar" ucap papi sambil menatapku.
Aku bengong dengan nama dari surat itu, Fauzan mencubit lenganku sedikit keras. "Buatmu!" Ucapnya.
"Sa-saya pih?" Tanyaku ragu dan papi mengangguk.
Sepucuk surat untukku? Kakek selamet menulis surat spesial untuk ku? Bahkan beliau tak pernah bertemu diriku? Se spesial itukah aku dikeluarga ini? Baiklah aku terima surat itu dengan gemetar.
"Bersediakah membacakannya untuk kami?" Tawar papi Hendrik.
"Baik Pih" jawabku.
Ku buka amplop putih ini, dan terlihat tulisan rapih kek selamet.
"Untuk si mekar" aku menghela napas pelan.
"Untuk Si mekar, Hari ini dia datang kerumah anak kedua ku. Selayaknya tumbuh tanpa ingin mengenal sinar matahari, kau bersembunyi didalam gelap. Kau tak tersentuh tanah, kau berteman dengan air, kau angkuh, hanya ingin disentuh tangan tertentu. Tetapi kau hebat, disaat semua bunga mekar rusak karna tangan-tangan kotor, kau berbeda. Kemekaranmu tersembunyi, Kau benar-benar angkuh. Wangimu sungguh harum, menyeruak dan memberi kebahagiaan bagi makhluk hidup disampingmu. Kau menunggu hingga waktu datang untuk mencintaimu, Fauzan Nur Arkan adalah waktumu."
Kek selamet menggambarkan diriku sebagai bunga mekar yang tersembunyi, bunga mekar yang angkuh, bunga yang benar-benar tanya bisa disentuh tangan tertentu. Sebut saja semuanya benar, aku memang angkuh, aku gak mau dikuasai Fauzan dalam lembah pernikahan.
Aku duduk begitu saja, tak membalas karna kedua kaki lemas. Pun Fauzan hanya melirikku dengan pandangan terkesima seperti berkata, "pernikahan ini adalah segalanya bagiku dan keluargaku, bahkan bagi orang yang telah pergi selamanya" sepertinya di hatiku hanya memiliki 0% keraguan pada perasaan Fauzan.
__ADS_1
...Bersambung........