Summer Love

Summer Love
Ch 73. Hampa


__ADS_3

POV Fauzan Nur Arkan


Jam 5 pagi, saat aku pulang kerumah, aku dikagetkan dengan ketidakaadaan istriku. Sebagian pakaiannya, sudah tidak ada dilemari. Buku-buku dan absensi, ah sebut saja barang-barang untuknya mengajar. Sudah pergi entah kemana.


Aku merasa bingung, hatiku sudah was-was. Dia tengah hamil, pergi kemana? Apa mungkin rumah mami? Tapi kenapa? Akhirnya karna kecemasan, aku turun kebawah dan pergi kedapur. Berharap bi iyem, Ema atau Eva tau dimana zhari.


"Bi, va, em...." panggilku pada mereka bertiga.


"Iya pak?" Jawab Ema yang tengah mencuci piring.


"Kamu tau ibu pergi nggak? Soalnya barang-barang nya udah nggak ada" ucapku buru-buru.


Tampak kernyitan muncul di dahi Ema, "Aduh bukannya ibu masih tidur ya pak?" Jawab Ema.


"Nggak! Dia pergi, makannya aku nanya. Kalo masih tidur nggak mungkin aku kayak gini" semprotku, entah apa yang difikirkan Ema nantinya. Yang penting aku menemukan istriku.


"Ibu ya pak?" Suara Eva langsung membuatku menoleh.


"Ya, kamu tau va?" Tanyaku.


"Kalo nggak salah liat sih, jam 04.05 aku liat ibu bawa dua koper. Terus dia pergi bareng....." Eva tercenung sebentar, agaknya dia tengah memikirkan sesuatu.


"Bareng siapa?" Tanyaku tak sabar.


"Ah iya, bareng mantan bapak kalo nggak salah. Pas jam segitu, saya mau turun dan nanya ibu. Takut apa-apa, cuma saya urunkan karna mungkin bapak sudah tau?" Eva menatapku.


"Apa?! Bareng Zia?" Hatiku makin tak karuan, pergi kemana zhari? Bareng Zia pula!


"Iya kayaknya nama mantan bapak itu" ucap Eva.


"Okeh makasih infonya" aku pergi dari hadapan mereka dan menarik napas dalam-dalam, jangan berfikiran aneh. Zia juga punya anak, mana mungkin dia mau mencelakai zhari yang tengah hamil.

__ADS_1


Akhirnya aku menelfon Zia, panggil satu sampai empat selalu ditolak. Di panggilan kelima dia mengangkatku.


"Ada apa kamu?" Suara dingin Zia membuat kerutan di dahiku.


"Kata Eva, jam 4 kamu bawa istriku pergi. Dimana dia ya? Jangan bikin aku semakin membencimu!" Tandasku lugas.


"Hah silahkan saja benci aku! Kamu itu nggak lebih dari pria-pria bejad disana zan!" Suara Zia semakin dingin disetiap katanya.


Aku tak paham, "apa maksudmu ya? Siapa yang kamu bilang bejad?" Berondongku emosi.


"Kamu bejad! Semalaman istri kamu menangis gara-gara kamu! Dasar tidak tahu malu!" Zia mematikan panggilan nya sepihak, aku tertegun. Semalaman menangis? Karna apa? Tanyaku dalam hati.


Karna satu informasi tidak membuat hatiku tenang, akhirnya aku berusaha menanyakan hal ini pada mbak lili.


Lagi-lagi panggilanku selalu ditolak, bahkan yang sekarang sampai ke sepuluh kalinya aku menelfon mbak lili. Karna bingung, akhirnya aku menelfon mas firman.


Beruntung panggilan pertama langsung diangkat, "mas kamu tau dimana zhari?" Tanyaku halus.


"Mana mas tau! Kamu udah apain dia?" Suara mas firman terdengar dingin.


Alih-alih memberitahu, nada suara mas firman seperti ingin membunuhku. "Udah cari aja sendiri! Itu urusan Keluarga mu!" Dia mematikan panggilan sepihak.


"Arghhh!!" Aku mengacak rambut frustasi, dimana istriku? Kenapa semua orang seperti membenciku? Ada apa?


Karna ketiga orang tidak bisa aku andalkan akhirnya aku menghubungi setiap keluarga, dari mami Lia, papi Hendrik, mami Nanda, papi Alfi, semuanya aku hubungi.


Tapi lagi-lagi keempat orang itu menolak panggilanku, aku menarik napas dalam-dalam. Mungkin hanya kebetulan bukan?


Untung saja aku masih memiliki tiga orang lagi, ya mungkin saja kedua kakak zhari tau dimana adiknya? Atau mungkin Laila?


Baiklah pertama-tama aku menghubungi mbak Mila. "Ada apa kamu dek?" Suara mbak Mila terdengar tak bersahabat.

__ADS_1


"Dimana zhari mbak?" Tanyaku berusaha sehalus mungkin.


"Nggak tau!" Mbak Mila menutup panggilan sepihak, lagi dan lagi!


"Sit!" Umpatku, aku berusaha tenang dengan mendudukan tubuh disofa.


Hendak saja aku menelfon mas Zidan, sebelum sebuah pesan muncul lebih dulu.


"Jangan pernah berfikir mencari adikku dek! Sudah cukup semuanya, semuanya mungkin harus berakhir! Aku tidak akan membiarkan adik polosku kamu rusak, sudah cukup!"


"Satu lagi, jangan pernah menghubungi kami semua. Kami sudah muak Dengan kelakuan mu dek, ah kamu bukan lagi adik ipar ku, Aku lupa"


Dua pesan mas Zidan semakin mejungkir-balikkan hatiku, sebenarnya ada apa? Merusak? Kelakuan ku? Kelakuan ku yang mana yang bisa merusak zhari?


Karna perasaan yang kian memuncak, aku akhirnya memutuskan pergi kerumah mami Nanda.


Diperjalanan, mobil yang aku kendarai. Serasa lambat macam siput, entah karna jarak yang jauh. Apa memang karna perasaan ku yang tidak sabaran.


Lima belas menitan aku sampai dirumah mami Nanda, tapi lagi-lagi aku mendapatkan penolakan. Huft......


"Pak buka pintunya!" Ucapku pada scurity rumah mami Nanda, dia orang baru.


"Maaf pak, ibu sama bapak. Tidak memperbolehkan Anda masuk" ucapnya.


"Apa? Nggak boleh juga?" Aku menyenderkan kepala pada senderan kursi.


Pelan-pelan aku menyalakan ponsel, menatap foto zhari yang tengah menggunakan pakaian batik. Senyumnya begitu manis, hatiku menghangat. Sayang.... kamu dimana? Kenapa semua orang mendadak membenciku?


Air mataku menetes, selain mami yang hanya bisa membuatku menangis. Zhari juga adalah wanita kedua yang bisa mewarnai hari-hariku, bisa juga menghampakan hatiku. sekarang entah bagaimana nasibku. Harta paling berharga dalam hidupku - keluarga, mendadak membenciku.


aku menghela napas, mungkin zhari tengah ingin sendirian? Bersama semua anggota keluarganya? Tak apa aku tak dianggap menantu ataupun anak dari dua keluarga besar. Yang penting istri dan anakku tidak meninggalkanku juga, tapi nyatanya mereka tetap meninggalkan ku.

__ADS_1


Aku tersenyum pahit, hatiku tiba-tiba hampa. Kosong dan tandus bagaikan Padang pasir, aku hanya bisa mengusap wajah kasar. Pasti ini cuma mimpi, tak mungkin bukan? Wanita semanja, selemah dan serapuh zhari meninggalkan ku? Lagi-lagi aku hanya berangan-angan. Nyatanya dia tetap meninggalkanku!, Dan entah apa alasannya.


...Bersambung........


__ADS_2