
Fauzan Nur Arkan POV
Awalnya aku berniat mengajak zhari ke pulau seribu untuk menggantikan honeymoon kami yang tak ada, namun aku terbawa pikiranku sendiri. Aku kesal kenapa zhari selalu memberontak walaupun gadis itu kadang manut.
Lebih tepatnya saat kemarin, Laila hanyalah alasan belaka. Padahal sikap dialah yang membuatku memperbanyak sabar, mungkin karna itu aku memarahinya. Padahal niat hati ingin memberinya kejutan.
Malam tadi dia mungkin benar-benar sakit hati, dan benar saja dia memberontak ingin pulang saat dia bangun dari tidurnya di pulau seribu. Aku pikir-pikir lagi kok dianya juga sensitif sih? Pada akhirnya aku memvonis bahwa istriku pasti hamil!
Paginya aku memang benar bertemu seorang dokter kandungan, tapi sayang dia sedang honeymoon bareng suaminya. Tentu saja tak mau diganggu, tapi dia memberikanku testpack.
"Ini pak silahkan suruh istri Anda mengeceknya, maaf saya tak bisa" ucap dokter kandungan pada saat itu.
Lagipula akhir-akhir ini aku selalu melihat zhari sering merasa ngantuk, buktinya perjalanan dari Jakarta kepulau seribu cukup memakan waktu, tapi gadis itu masih bergeming didalam tidur lelapnya. Aku jadi aneh dia itu lelah karna mengajar apa lelah karna benar-benar hamil?
Namun karna akupun sudah mempunyai testpack ditangan, aku yakin istriku pasti sedang hamil. Tentu anak siapa lagi yang dia kandung kalau bukan anakku, dia hanya tidur denganku.
Pada saat zhari menyatakan dia bergaris dua, aku sangat bangga. Sebentar lagi aku akan menjadi seorang papa, apalagi mami Nanda yang katanya gak sabar pengen nimang cucu, Serasa hidupku akan bahagia pada saat itu. Namun, kenyataan harus aku lewati lagi. Mungkin semesta belum mengijinkan ku menjadi seorang papa saat sang dokter menyatakan bahwa zhari tak hamil.
Aku menghela napas gusar setelah mengambil vitamin di depo farmasi.
"Mas kan alatnya yang rusak" ucap zhari sambil memakai seat belt nya.
Aku menatapnya setengah hati, "seneng ya gak jadi hamil anak ku?" Sindirku sinis.
Dia menatapku lebih sinis, "Ck! Memangnya wajahku kelihatan seneng?" Tanyanya cuek.
Aku hanya mengangkat bahuku acuh, dan langsung saja kutanjap pedal gas mobil ini.
Dalam perjalanan kami hanya diam membisu, beberapa kali aku menghela napas. Agak kecewa sebenarnya, tapi mau bagaimana lagi? Otakku jadi teringat dengan pernikahan mas firman dan mbak lili, betapa mengagumkannya pernikahan mereka? Menantikan seorang anak hadir ditengah-tengah keluarga kecil mereka selama 8 tahun.
Ah aku jadi harus bersyukur, mungkin sekarang belum saatnya saja aku menjadi seorang papa. Logikanya umur pernikahan kami baru 3 mingguan, bagaimana hamil secepat itu?
Kembali kulirik teri betinaku, dia sedang menatap jalanan dengan pandangan yang entah menikmati pemandangan jalan atau otaknya sedang memikirkan sesuatu. Sebenarnya dia itu udah cinta aku belum sih? Duh gimana sih cara naklukin dia?
Sekitar 20 menitan aku sampai dirumah, memang rumah sakit yang aku datangi untuk memeriksa Teri adalah rumah sakit yang jauh.
Aku melepas seat belt dan menatap si teri yang kepalanya masih melihat keluar jendela, tapi kok dia bergeming sih? Tidur lagi?
__ADS_1
"Za..." aku menggoyangkan bahunya pelan.
"Emm jangan ganggu mas, aku ngantuk" gumamnya pelan.
"Tidur didalam aja!" Aku masih menggoyangkan bahunya.
Karna tak ada jawaban, aku terpaksa harus menggendongnya masuk kedalam rumah. Se kesalnya aku sama dia, aku tetap peduli padanya. Walaupun mungkin kadang omonganku suka menyakiti hatinya.
Saat aku sudah menaruhnya diatas kasur, dia menahan tanganku. "Kamu kecewa mas?" Tanyanya pelan tanpa membuka mata.
"Enggak" jawabku yang perlahan-lahan melepaskan tangannya.
Aku menutup pintu kamar zhari dan masuk ke kamarku yang ada disebelah.
***
Sore harinya saat aku pulang dari kantor, aku tertegun melihat mami Nanda yang tengah mengomel. Disebelahnya ada zhari yang Hanya menunduk kaku, ada apa ini? Aku merasa heran sendiri.
"Assalamualaikum..." ucapku menghentikan Omelan mami.
Mami Nanda menatapku dengan tajam, aku merasa punggungku tiba-tiba tegang. Ada apa sih mamer ku ini? Mertamu dirumahku sambil ngomel-ngomel? Duh biasanya beliau bareng mami Lia, dimana mami Lia? Aku kok makin merasa aneh aja sih.
Sial! Mereka tau kalau aku sama zhari tidur terpisah? Keringat dingin tiba-tiba mengucur didahiku. Pasti aku lagi yang bakal disalahin! Duh ini kenapa sih teri! Sebenarnya kenapa jadi ketahuan?!
Mami Lia turun kebawah sambil matanya itu menatapku tajam, lebih tajam dari mami Nanda. Aku hanya bisa menahan ludah, fix pasti ini gara-gara si teri!
"Kamu bohongin kami ya mas?" Ucap mami Lia saat sudah menghampiriku.
"Bo-bohongin apa?" Tanyaku tergagap tegang.
"Ck gak usah alasan! Kalian itu selama 3 Minggu nikah tidur pisah terus?" Sela mami Nanda.
Aku hanya diam membisu, harus dijawab gimana? Duh si teri lagi! Kenapa bisa ketahuan sih?
"Ee.. i - itu mi, an-anu..." racauku tak jelas.
"Anu apa? Jujur mas! Kalian itu selama ini cuma ekting?" Semprot mami Lia.
__ADS_1
Aku menghela napas tabah, "ya!" Jujurku pada akhirnya.
"Ck tau gini kalian tidur dirumah mami aja! Gak usah pindah kerumah sendiri!" Ucap mami Nanda tajam.
"Ya kami cuma ekting mih! Selama ini juga kami cuma ekting! Dari dulu kalian bisanya cuma maksa-maksa kami! Dari mulai sekolah bareng, kuliah bareng, sampai aku mengajar saja kalian selalu nyuruh mas ozan buat anter jemput aku!, dan sampai kami menikah pun kalian masih mengatur-atur kami?" Zhari berdiri dari duduknya, ucapan gadis itu makin memperkeruh suasana.
"Mami gak maksa dek! Kalian itu suami istri, harus tidur satu kamar. Kenapa pisah-pisah?" Mami Nanda merendahkan suaranya.
"Ck mami pasti kan maksa-maksa pengen aku cepet hamil? Pengen aku cepet punya anak? Biar mami punya cucu?" Jawab zhari.
"Dek! Udah kenapa kamu selalu berontak? Sekarang kalian harus tidur sekamar! Dirumah ini... semua kunci kamar, cctv akan diawasi mami! Kalian itu mau sampe kapan kaya kucing sama anjing?" Sela mami Lia yang mungkin sudah tak tahan.
"Mih gak usah sampe diawasi segala" aku gusar sendiri.
"Gak! Pokonya malam ini kalian tidur sekamar! Mami bakal minta bi iyem, Eva sama Ema buat mindahin barang-barang mas ozan ke kamar zhari. Dan juga mami mau nyuruh pak Ryan buat masukin rekaman cctv ke ponsel mami! Semua kunci kamar rumah ini selain kamar kalian! Bakal mami pakaikan kunci digital, cuma mami yang bisa buka kamar itu!" Tegas mami Lia yang tak mampu aku jawab.
"Duh jangan kaya gitu juga dong mih!" Keluhku pada akhirnya.
"Udah mas Ozan nya juga! Mau sampai kapan pernikahan kalian kaya gini? Sampe kami meninggal terus kalian cerai?! Mas Ozan pengen mami meninggal ya?" Mamiku alias mami lia mengusap sudut matanya.
Aku mengendurkan punggung ku, "udah dong mih.... iya ya! Kami bakal tidur sekamar!" Ucapku menenangkan beliau.
"Kalo kalian beneran mau tidur sekamar, kalian juga harus cepat-cepat buat cucu laki-laki buat mami! Biar papi kalian juga bangga" ceplos mami lia setelah aku menenangkan nya.
"Oh apa jangan-jangan kalian tuh belum ngelakuin malam pertama ya? Ngaku kamu mas!" Mami Lia mencubit perutku.
"Duh kenapa bahasnya kesana sih mi? Udah mih udah!" Aku meringis.
"Kalian bohong kan? Tidur aja pisah! Gimana udah ngelakuin nya?" Pepet mami Nanda.
"Ya udah!" Aku gelagapan sendiri, lantas aku mengedarkan pandangan ku kearah si teri yang hanya melengos dengan mengusap-usap pelipisnya.
"Itu bener dek!" Mami Nanda menyenggol anak gadisnya.
"Hmm" gumam zhari malas.
"Kalo udah terus kenapa kalian tidurnya pisah? Ditambah zhari juga belum hamil?" Mami Lia menatap kami satu persatu.
__ADS_1
"Mungkin belum saatnya mih!" Ceplosku malas.
...Bersambung........