Summer Love

Summer Love
Ch 6. Dia......?


__ADS_3

Buk


"Maaf" ucapku lirih, saat aku tak sengaja menabrak badan tegap seseorang.


Lantas kuusap air mata ini, dan mendongakkan kepala.


"Lo?" Ucapku kaget, seraya mundur dua langkah.


"Za? Lagi apa Lo Disini?" Tanyanya bingung, sembari menatapku dari ujung rambut sampe ujung kaki.


Fauzan semakin mengernyitkan dahinya saat melihatku berhias dengan makeup natural. "Lo lagi apa sih disini? Acara pake makeup segala?"


Aku mengabaikan pertanyaannya, langsung saja aku menghambur ke pelukan lelaki rese ini, padahal kami baru empat hari kenal. Tapi, rasanya dia Sudah sangat berarti bagi hatiku. Dan anehnya aku tak sadar bahwa lelaki ini berada didalam halaman rumah Om Hendrik.


Sudahlah rasa sedihku sudah kalang kabut, aku langsung saja menangis sejadi-jadinya dibahu Fauzan.


"Lo... kenapa sih?" Tanyanya masih dengan bingung.


"Peluk aku.... hiks hiks" aku terisak sembari memukul punggungnya Dengan pukulan kecil.


Diapun manut, mungkin tak tega kali 'ya? Ngeliat aku nangis kayak gini.


"Sebenernya Lo lagi kenapa sih Za? Terus kenapa Lo ada disini sih?" Dia masih memberondongku dengan pertanyaan.


"Gue capek! Gue capek zan! Kenapa... kenapa kepelikan ini gak ada habisnya?" Aku mengabaikan pertanyaannya lagi, dan mengoceh mengeluarkan unek-unek yang selalu ku tahan..


"It's okey girl, kalau memang dengan memukulku kamu bisa tenang, teruskan" ucapnya seperti sedang meringis menahan pukulanku.


Diapun memilih mengelus punggungku, dan mengusap kepalaku.


Seketika sedikit demi sedikit bahuku mulai tak tergoncang lagi, aku mulai tenang...


"Makasih" ucapku setelah tenang, aku melepaskan pelukanku.


"Kamu kenapa sih?" Tanyanya dengan masih memasang wajah bingung.


"Gue cuma capek zan, gue cuma pengen kabur dari perjo......" ucapanku tetiba terpotong oleh beberapa suara riang.


"Wah kalian udah saling kenal ya?" Tanya Mamiku antusias.


"Dek zhari udah kenal sama Ozan? Masuk sekolah sama kah?" Tanya Tante Amelia dengan gembira.


Aku terpaku ditempat, apalagi Fauzan yang sekarang wajahnya semakin bingung.


"Nah mumpung kalian udah kenal.... Kita lanjutin aja perjodohan nya, oke?" Sekarang suara pipiku yang terdengar paling riang.


"Tu-tunggu!" Tiba-tiba Fauzan mengangkat tangannya, sembari mengusap pelipis karna bingung. "Apa maksudnya ini pih, mih? Perjodohan? Perjodohan macam apa yang kalian bicarakan?!"

__ADS_1


"Ozan! Ini tamu spesial yang mami bicarain, calon mantu mami" sekarang mami Fauzan mendekat ke arahku, lantas wanita itu merangkul bahuku.


"I--ini maksudnya dia?" Tunjukku linglung kearah Fauzan.


"Iya dek zhari! Ozan lah yang mau dijodohin sama kamu" jawab mami Fauzan dengan halus.


"Di-di..." aku shock bukan main, dan tiba-tiba penglihatan ku menggelap, aku pingsan!


 ***


Sayup-sayup aku mendengar suara kokokan ayam, aku terbangun dari tidurku.


Baju jumpsuit tadi malam telah diganti dengan piyama. Aku memegang kepala ini karna pusing, lebih pusing lagi saat melihat kamar ini bukan kamar ku!


Oh good jam berapa ini? Aku mengucek mataku yang masih berat, sambil sesekali memonitori kamar bernuansa abu-abu hitam ini.


'tunggu kamar siapa ini?' aku membatin heran, setelah mencium seprai yang aromanya khas seseorang.


Tok...tok.. tok..


Cklek..


Suara ketukan pintu dibaringi dengan suara knop pintu membuatku terdiam.


"Za udah bangun?" Tanya sebuah suara yang sangat aku kenal! Dia hanya diam diambang pintu sambil menatapku datar.


"Kamu tidur di kamarku! Cepet turun kebawah, semalaman kamu tidur disini!" Jawabnya jutek.


Rupanya dia terganggu karna aku tidur di kamarnya, tunggu! Kalau aku tidur di kamarnya, lantas... siapa yang mengganti bajuku? Jangan bilang kalau itu dia?


"Siapa yang ganti baju aku tadi malem?" Tanyaku sembari memelototi dia dengan kesal.


Kulihat dia menghela napasnya, "mami kamu yang gantiin baju kamu Za!" Jawabnya.


"Lalu, kenapa mami gak bawa aku pulang aja?" Tanyaku lagi, masih dengan nada yang Tidak menyenangkan.


"Mami aku gak bolehin kamu pulang za! Udah cepet turun kebawah. Nanti aku yang diomelin"


"Ck" decakku kesal, lantas ku turun dari ranjang ini.


Aku keluar dari kamar Fauzan diekori lelaki rese itu, "pantes aja baunya gak asing" gumam ku pelan, namun masih terdengar olehnya.


"Ya gimana Za! Kita udah dijodohin, ya otomatis kamu kalo nginep disini tidurnya dikamar aku lah" jawabnya cuek.


Aku menghentikan langkahku, kubalik badan ini dan menatapnya tajam. "Apa-apaan ini! Aku bukan wanita yang suka tidur di ranjang orang! Apalagi itu kamar kamu! Dan ya satu lagi! Aku gak bakalan tidur dirumah ini lagi, untuk esok, lusa dan selamanya!" Tegasku.


 ***

__ADS_1


Fauzan Nur Arkan POV


Aku sedikit terkesima dengan ketegasan gadis ini, tapi sayang dia teramat jutek.


"Ya gue juga gak mau!" Jawabku langsung memasang wajah datar dan dingin lagi.


"Ck" tampaknya gadis itu berdecak kesal.


Aku pun sama didalam hati, kenapa orang yang telah menjadi teman sebangku ku, teman phatner geludku, dan teman phatner belajarku sekarang sudah mau menjadi teman hidupku.


Takdir rasanya... teramat lucu.


Kami berdua menuruni anak tangga, waktu sudah menunjukkan pukul 5 pagi. Tapi kayaknya aku sama zhari tidak diperbolehkan sekolah.


Kami berdua duduk diruang keluarga, tepatnya dimana sudah ada mami sama papi ku, ditambah mami zhari tak luput ketinggalan.


"Mi..." tampak gadis itu mulai merengek disamping maminya.


Aku masih berwajah datar, namun dalam hati rasanya kok gemas ya ngeliat dia? Kaya lucu aja gitu.


Dia dingin and judes, tapi... kok dia bisa manja juga ya? Apa ini definisi 'aku pemalu untuk semua orang, peramah untuk setengah orang, perangai gila untuk yang tertentu dan bermanja untuk yang istimewa'


"Apa sih dek! Bentar..." jawab maminya, ups maaf dia juga udah mau bakalan jadi mamer ku - mami mertua hehe.


"Ekhem" pecah suara deheman dari papiku yang membuat gadis yang bermanja tadi langsung terdiam.


"Dek zhari... kalau gak sungkan panggil aja Om sama Tante ini, mami dan papi . Oke?" Tanya papiku yang tiba-tiba membuatku menelan ludah.


"Ozan juga panggil Tante sama om, mami dan papi ya?" Sekarang suara mami zhari yang berbicara.


Aku menelan ludah lagi dan mengangguk, dalam hati sudah pasti ini akan terjadi.


Dan untuk gadis itu? Jangan ditanya wajahnya sudah sekusut keset buluk.


"Mi zhari mau sekolah..." rengek gadis itu dengan manja, seakan ucapan kedua sepuh ini hanyalah angin lalu.


"Dek zhari sama Ozan ijin sehari! Kalian sana habisin waktu berdua!" Sekarang Mamiku yang menjawab rengekan gadis itu.


"Mi...." tampak zhari masih merengek disamping maminya.


"Mas Ozan nya juga, sana ajak dek zhari ketaman belakang..." mami mendorong tubuh ku, begitu juga dengan zhari, dia didorong maminya.


Kayaknya hal ini udah direncanain sejak aku lahir deh! Kompak bener.


Akhirnya aku dan gadis itu terpaksa pergi ketaman belakang rumah, dia masih menekuk wajahnya dengan kesal. Tentu saja bibirnya masih manyun! Geli aku.


...Bersambung........

__ADS_1


__ADS_2