
Kakiku benar-benar lemas, air mata pun sudah menetes dari pelupuk nya. Disaat hamil seperti ini hatiku makin sensitif, aku memegang kepala pusing. Dan menyenderkan kepalaku pada senderan sofa, Fauzan mendekati telingaku dan berbisik. "Kalau capek tidur aja, masuk" ucapnya penuh khawatir, ya dia ngehkawatirin anakku bukan aku!.
"Ngak" bantahku lemah, ngak enak juga ninggalin semua orang hanya karna pengen tidur. Apalagi disaat kami semua tengah berbagi air mata haru.
Tetapi, sebuah tepukan tangan memecah keharuan kami. Kami semua menoleh kedaun pintu yang berbatasan dengan ruang tengah yang masih dibersihkan pembantu rumah ini. Fizya, perempuan berbisa itu sedang menatap remeh sambil mengepakkan kedua tangannya. Wajah dan sikapnya sama, kurang ajar!
"Manis sekali, sayang semuanya sandiwara! Perlu kubacakan kontrak pernikahan kalian juga?" Si laknat mengacungkan selembar kertas kecil keudara.
Sepertinya itu kertas dan tulisan tangan yang kukenali? Biadab! Dari mana dia mendapatkan itu?
Tapi otakku cepat-cepat berpikir keras pada kejadian 2 Minggu lalu, kejadian kami berdua bertemu dicafe.
Aku menahan tawanya dalam-dalam pada ucapan kurang ajar Zia, "Maaf mbak fizya fahriki! Kami menikah hanya keterpaksaan? Kayaknya Lo salah deh, kami menikah itu atas dasar cinta! Kami udah ngelakuin malam pertama! Ditambah.... Fauzan juga kayaknya bakal ilfil kalo sama Lo! Apalagi anak Lo kan, anak hubungan gelap Lo sama pacar Lo yang dulu! Ckck Fauzan itu udah jadi milik gue, sejak lima setengah tahun lalu! So gak ada harapan buat Lo merebutnya!"
Drtt....
Drtt...
Ponselku bergetar didalam Sling bag, lantas aku mengambilnya dan tanpa sadar sebuah kertas kecil jatuh, aku tak peduli, aku melihat nama dilayar 'suamiku tercinta' agak shock awalnya, kenapa ada nama kontak bernama suamiku tercinta? Apa Fauzan?, tapi aku segera menutupinya.
"Halo mas..." sapaku lembut sekali.
"Dek kamu dimana? Aku gak jadi keperusahaan, kata mas firman nanti dia kerumah. Ini aku udah ada di supermarket lagi, dimana kamu? Udah pulang?" Suara cemas Fauzan terdengar.
"Aku ada di cafe mas!" Jawabku sambil mata ini menatap keluar cafe, berharap Fauzan benar datang ke sini. Mataku juga tak luput melirik Zia yang sudah acak-acakan, wajahnya tampak kacau.
"Oke nanti aku kesana" fauzan menutup panggilan sepihak.
Bang! Bagaikan ditampar kapal induk. Akhirnya aku ingat dari mana dia mendapatkan kertas laknat yang teracung di udara itu, kertas yang ku kira struk supermarket itu ternyata kontrak aneh Fauzan.
Kenapa aku sebodoh ini sih? Kenapa Barang haram itu masih kubawa kemana-mana? Bukanya disimpan aja dirumah. Kalau kayak gini runyam kan?, Aduh ngarang cerita apaan nih?
Wajah Zia girang bukan main, senyum miringnya tercipta licik. "Manis sekali, sayang semuanya cuma sandiwara! Perlu kubacakan isinya? Yakni kontrak pernikahan kalian juga" Acung Zia lantang dengan sebuah kertas tipis ditangannya.
Pandanganku menajam kearahnya, tak kan ku biarkan dia mengacau selama napas ini masih berhembus. "Jangan membual mbak!" Ancamku dingin.
Zia tertawa kosong, "aku tak membual!" Lalu pandangannya mengedar keseluruhan ruangan. "Saya tak membual!" Teriaknya lantang.
"Dek, itu beneran kertas kontrak?" Bisik Fauzan bingung. Matanya menelisik penuh selidik, kedua tangannya sudah berkacak pinggang dengan kepala miring sebab tak habis pikir dengan kenekatan si mantan.
Aku meliriknya, "dia sedang membual, mas!" Jawabku ketakutan.
"Tri Azhari sebagai pihak pertama dan Fauzan Nur Arkan sebagai pihak kedua. Satu, pihak kedua tidak perlu membuat kontak fisik dengan pihak pertama kecuali atas kesepakatan bersama" Zia benar-benar membacakan isi kontrak laknat itu dengan lantang.
Demi dunia dan seisinya, kenapa dia harus 'seberuntung itu?
Zia menyeringai, "Bagaimana?" Tanyanya puas penuh kemenangan.
__ADS_1
"Ozan, zhari ada apa ini?" Papi Hendrik sudah paham Dengan situasi, pandangan beliau tak santai lagi. Sementara itu para kerabat mulai berbisik-bisik.
"Pih... pih... itu cuma-" aku terbata tak enak hati.
"Apa yang kamu lakukan Za?" Tanya fauzan memperkeruh suasana, matanya sudah hendak membakar hutan.
"Silahkan kalian jelaskan kekeluarga! Bahwa pernikahan kalian cuma sandiwara, palsu!" Zia tersenyum penuh kemenangan sambil menyodorkan kedua tangannya bangga.
Papi Hendrik menarik pundak fauzan kasar. "Ozan, apa kamu mau melempar kotoran kerbau ke wajah papi?" Papi mulai emosi, wajahnya sudah menajam seperti pisau dapur.
Aku gelagapan, berusaha menata klarifikasi. "Itu cuma permainan antara aku dan mas Ozan, dan ngak pernah berlaku sama sekali!" Bentakku pada Zia, meski hati ini sudah gentar ingin lari.
"Ri, jelaskan ke mami apa semua ini benar, nduk?" Mami nanda datang dengan wajah kacau, kesedihan tampak jelas terpancar dikedua matanya.
Aku makin gugup, kedua kaki ku mulai oleng teratur.
"Kenapa kalian memainkan lembaga pernikahan?" Suara papi Hendrik makin meninggi saat bisikan-bisikan makin seru, mata angkernya itu menatapku dan Fauzan silih berganti.
"Pantes zhari tak kunjung hamil, ternyata kalian...." mami Nanda menutup mulutnya karna terlalu shock.
"Riri mau mempermalukan papi iya?" Papi Alfi mendekatiku untuk memulai penghakiman. Bukan, lebih kepada hukuman bagiku. "Apa menikah dengan Ozan berat bagimu, nduk?" Desah papi dengan kecewa.
"Kontrak itu hanya omong kosong!" Pecah Fauzan lantang. "Saya dan zhari telah menjalani kehidupan pernikahan yang sesungguhnya, melakukan kontak fisik selayaknya suami dan istri." Urainya jujur ditengah bisikan yang makin seru.
Aku menunduk, mulai menata kalimat selanjutnya untuk menyakinkan semua orang. Badanku maju selangkah kearah Fauzan dan kutatap semua mata yang tengah menatap kami dengan gusar, "Benar, itu hanya permainan buatan mas Ozan agar saya semakin dekat dengannya. Sejujurnya saya telah mencintai mas Ozan selayaknya suami, hanya...." suaraku tertahan dengan air mata. "Saya gengsi, malu mengakuinya jujur saja..."
"Kami saling mencintai!" Imbun Fauzan dengan suara tegas.
Kulirik papi Alfi yang sudah duduk di kursi, tangannya mencengkram ujung meja. Aku mendatangi beliau hingga berjongkok didepannya, berupaya menyakinkan Papi sekuat tenaga. "Pih Riri sudah menjalani pernikahan selayaknya pasangan lain, percayalah pada Riri pi!" Bujukku lembut Dengan suara bergetar.
Namun, papi hanya bungkam saat mami Nanda mendekatiku. "Nduk, jangan bermain-main seperti ini, itu dosa nak!" Mami menyesali tindakanku. "Mas Ozan jangan manut kalo zhari minta yang aneh-aneh"
Fauzan mengangguk dengan penyesalan, wajahnya kusut dengan bibir mengerucut . Sikap badannya lemas, kendur dan kuyu seperti telah melakukan dosa besar.
Gantian mata Zia yang menyala-nyala seperti api, "Bohong! Kalian semua bohong!" Teriak Zia seperti orang gila. "Fauzan mana mungkin kamu melupakanku? Kamu sudah berjanji akan mencintaiku selamanya! Kamu tak ingat?" Ucapnya keras.
Fauzan menatapnya dingin, "jangan mengacau lagi! Pergilah!" Fauzan mengusir Zia halus.
Fauzan masih menjaga batas sabarnya. Namun, perempuan itu tak cukup puas, "kamu lupa dengan semua hal indah yang pernah kita lalui?" Suara manjanya mengorek kuping ku.
"Pergi!" Usir Fauzan keras sambil tangannya menunjuk pintu.
Wajahnya merah padam penuh emosi, kesabarannya masih diambang batas. Namun, perempuan didepannya tak gentar. Dia malah memasang badan dengan percaya dirinya.
"Aku mau kita mulai lagi zan, aku gak mau kamu terjebak dipernikahan yang salah" ujar Zia menyebalkan.
Fauzan tak bisa berbuat kekerasan karna Zia seorang wanita, pantang baginya menyakiti fisik walau mulutnya bengis. Ya memang lawan Zia bukan Fauzan tapi aku.
__ADS_1
Dengan gontai kuhampiri wanita berkulit putih itu, kutatap wajahnya dengan judes. Lantas kutarik lembut anak kecil yang hanya diam dibelakangnya, sampai semua orang bisa melihat wajah gadis kecil itu.
Alisku naik satu dengan senyum penuh remeh, "mbak masih gentar mau merebut Fauzan hanya untuk menggantikan sosok ayah untuk anak mbak?" Ucapku Penuh sarkasme.
Wajah Zia langsung menajam, matanya nanar dia menatapku gusar. "Diem Lo!"
Dadaku makin membusung, tak kendur aku terus memepetnya kesisi lain dengan mata yang judes ini. "Kenapa? kamu udah buka aibku Dengan mas Ozan! Mau aku buka juga aibmu?" Ucapku mendekati wajahnya, Untung kami sama tinggi jadi pas kalau bertengkar.
Zia mencengkeram tangan kananku, tak mau kalah. Aku menjambak ekor rambutnya Dengan tangan kiriku, dia terpekik kesakitan. Aku tak peduli tanganku sakit atau memerah, anggap saja ini tindakan lancangnya yang selalu menjewer telinga anaknya.
Seisi ruangan kaget bukan main, karna si kelem zhari tiba-tiba bertaring. Termasuk Fauzan yang terpengarah melihat tindakan ku. Kali ini, ngak perlu elegan, urat juga penting dalam sebuah pertengkaran. Apalagi sesama wanita ngak afdol kalo ngak jambak-jambakan.
Fauzan melepas cengkraman Zia pada tanganku, "jangan sentuh istriku seenak hatimu, ya!" Larangnya bak pahlawan terbaikku.
Dia mendekati badanku dengan halus, "dek, lepaskan! Kamu ngak pantes kaya gini" Fauzan berbisik di telingaku.
Sesaat tanganku mengendur, akal sehat ku kembali. Aku masih seorang istri dari ceo sebuah perusahaan, yang mengemban nama baik suamiku termasuk guru yang mengemban nama baik sekolah dan lembaga pendidikan, Tak perlu berlebihan, itu sudah lebih dari cukup.
Masuklah pengalihan lain dari sudut ruang, "mami tau bakal kayak gini" mami Lia datang terogopoh kepada kami.
Mami Lia menatap Zia dengan tajam dan mata membara. "Fizya, sudahlah. Tidak ada gunanya kamu mengacau hubungan Fauzan dan zhari lagi. Hubungan kalian sudah selesai! Tidak seharusnya kamu datang kesini dengan berharap kosong" ucap beliau dengan beringas.
"Papi, tak perlu khawatirkan hubungan Ozan dan zhari, mereka akan baik-baik saja. Percayalah pada mami" mami Lia menatap papi Hendrik lekat, "ini semua tak lebih dari penyesalan seseorang yang memiliki anak tanpa seorang suami, masih berharap kosong akan hubungan lama" mami lia menatap Zia penuh dengan sindiran.
Sudah jelas siapa yang terobsesi! Jelas Zia!
Suasana hening sebab fizya menunduk kehabisan energi, dia dipermalukan habis-habisan malam ini. Selain terbongkar nya kontrak laknat aku dan Fauzan dia juga menanggung cacian. Sementara itu, bisikan-bisikan makin seru. Semua orang penasaran dengan apa yang terjadi. Namun tak satupun dari aku dan Fauzan memperjelas semuanya.
"Ya sudahlah pulang! Kamu bikin mbak malu!" fifah menyeret adik laknatnya dengan tangan kanan, sementara tangan kirinya memegang tangan keponakannya.
Pandangan Zia kacau, dia menolak tangan kakanya dengan sekuat tenaga. "Tunggu mbak!... Aya harus memperjelas semuanya." Ronta Zia tak suka.
Tapi fifah tak kalah tenaga dengan Zia, sebelum undur diri. Fifah memohon maaf pada mamerku dengan wajah kacau. "Mohon maaf mbak, atas kesalahpahaman ini! Saya mohon izin"
Zia digered kakaknya dengan sekuat tenaga. Sebelum hilang dari pandangan, aku meneriakinya dengan sebuah senyuman tipis. "Tahu kenapa mbak mudah sekali dihapus dihati mas Ozan? Karna mbak sendiri tak mampu menjaga kehormatan mbak!" Ucapku lantang.
"Woahhh..." seru suara halus beberapa mulut diruangan ini, pemandangan ini terlalu mengagetkan.
"Jadi mantannya Ozan itu hamil diluar nikah? Dan terobsesi meraih Ozan untuk jadi pengganti ayah untuk anaknya?" Simpul salah satu pembisik dengan nada yang seru.
"Mohon izin mbak!" Fifah segera meminta izin lagi dan kembali menggered adik laknatnya.
Wanita toxic itu akhirnya pergi dengan keadaan kacau, pun kakanya yang entah merupakan kenalan mami Lia atau apa. Kuedarkan pandangan keseliling ruangan yang kacau, ada papi alfi yang terduduk lemas dan mami Nanda yang memijit-mijit pundaknya. Ada papi Hendrik yang memijit kening pening, dan ada mbak lili dengan mas firman yang masih shock. Terakhir, ada wajah Fauzan yang terlihat gemas, dia menggeredku cepat kesebuah ruangan.
...Bersambung.........
Kontrak pernikahan mereka udah terbongkar, kira-kira setelah ini apa lagi ya?🤔 Yaudah deh jangan mikirin itu. di bab 57 author kasih bonus sampe 1700 an kata, tapi..... untuk satu Minggu kedepan author gak bisa janji untuk up setiap hari, dikarenakan Senin besok author mau melakukan ulangan akhir semester didunia nyata🙂, mohon do'anya ya readers🙏 syukur-syukur author bisa up.
__ADS_1
jangan lupa pantengin aja, di fav kalo bisa biar tau up nya author. jangan lupa juga dukung author dengan like, komen, vote dan hadiah. semoga readers sekalian selalu diberikan kesehatan dan yang mau melakukan ulangan semester kaya author juga, semoga dilancarkan. Aamiin........
thanks you semuanya👋❤