
Jam 1 pagi aku bisa tidur lelap, dan jam 3 harus bangun karna terganggu suara berisik murid-murid yang tengah berlari kearah lapangan.
Aku mengucek mataku dan mengibaskan kain tenda, melihat sekeliling dan rasa anehku tadi malam masuk lagi kedalam diriku.
Duh sebenarnya ada apa sih? Kok kaya ada yang ngincer aku? Ckck apa saingan rekan kerja Fauzan ya? Kaya di film-film gitu! Amit-amit...
Aku menggelengkan kepalaku pelan, lantas aku keluar dan mengambil air wudhu. Cuma wudhu karna mau shalat malam juga bingung, nanti dikira pengen dapet pujian lagi. Ck males aku!
Aku memegang ponselku lama, mau nelfon Fauzan takut ganggu pria itu. Mau bangunin Laila yang ada nanti dia malah curiga, serba salah perasaan! Tapi entah setelah aku wudhu rasa aneh itu kian menjauh dariku, mungkin takut kali ya?
Akhirnya aku memutuskan keluar dari tenda, melihat murid-murid yang tengah berkumpul dilapangkan.
"Hemm enaknya ngapain ya? Kayaknya guru-guru selain pembina Pramuka masih tidur deh" gumamku pelan.
"Eh ibu zhari, udah bangun Bu?" Tanya sebuah suara.
Aku membalik badan dan menemukan sosok laki-laki berbadan tegap, dia adalah pak Hery - duda dua anak yang jadi pembina Pramuka.
"Eh iya pak" aku tersenyum kikuk.
"Awas loh bu jangan lupa baca-baca do'a, tadi malam saya liat ada yang ngincer ibu. Mungkin ibu sedang hamil" ceplos pak hery yang malah membuatku menelan ludah.
"Masa sih pak?" Aku menatap sekeliling, wajahku pias. Pak Hery adalah guru yang bisa melihat makhluk halus, duh kalo bener masa sih aku hamil?
"Iya! Untung pertahanan ibu kuat, kayaknya ibu ngandung anak laki deh" jelas beliau lagi.
"Aduh aku gak tau pak, masa sih aku hamil? Paling cuma perasaan aja!"
"Yaudah terserah ibu, intinya saya udah ingetin loh. Saran saya sih besok pagi ibu minta pak Fauzan jemput aja, daripada anak kalian kenapa-kenapa. Saya permisi dulu bu" beliau berlalu pergi.
Pagi-pagi buta hatiku sudah teraduk dengan dua hal, pertama apa benar ada makhluk halus yang ngincer aku? Kedua apa benar juga aku hamil? Masa sih? Perasaan kami ngelakuin nya pake alat kontrasepsi!
Ditengah gundahnya hatiku dan suara tegas beberapa dewan pramuka, tiba-tiba perutku teraduk-aduk....
Aduh apa aku pengen muntah ya?
__ADS_1
Aku buru-buru pergi ke toilet, memuntahkan cairan dari tubuhku. Wajahku makin pias saat kembali kuingat omongan pak Hery.
Benarkah aku hamil? Ngak! Kayaknya ini cuma masuk angin!
***
"Ibu zhari mending pulang aja, daripada ibu disini sakit nanti kami mau ngomong apa sama suami ibu?"
"Pulang aja Bu, bahaya loh disini. Ibu lagi hamil, semalam ibu diincer sama makhluk halus. Udah Bu telfon aja pak Fauzan nya"
Ucapan-ucapan dari cemasnya beberapa guru membuatku makin pening, dari jam 3 pagi sampe jam 7 aku mual-mual dan muntah, sebenarnya kenapa sih? Udah minum obat masuk angin tapi kok gak reda-reda ya?
"Za Lo masih kuat kan? Gue udah nelfon Fauzan!" Laila datang dengan membawa air minum.
"Hmm udah Bu saya nunggu suami saya aja, kalian lanjutin aja. Aduh kayaknya saya beban ya" aku tersenyum kerah para guru.
"Yakin ibu masih kuat?"
"Mbak gak papa nih kita tinggal?" Tambah Devi.
"Iya" aku tersenyum, "udah ada Laila, maaf ya ngerepotin"
"Lo gak ngomong sama gue kalo lagi hamil! Ck tau gini dari kemarin gue larang Lo ikut!" Gumam Laila.
"Aduh aku gak tau ini kayaknya cuma masuk angin aja deh la, masa sih aku hamil? Fauzan aja ngehaluin nya pake k*ndom masa hamil?" Jawabku.
"Bisa aja lakik Lo curi-curi kesempatan! Jelasnya dia kan udah pengen punya anak"
Aku tersenyum lemah, "kayaknya ngak deh! Udah ah ini beneran masuk angin! Duh mana lagi pusing. Kamu udah nelfon fauzan nih bener? Jangan sampe aku makin jadi beban disini!"
"Iya udah, lakik Lo langsung kesini pas gue nelfon. Kayaknya dijalan deh" Laila mengangkat tasku dan menaruhnya didekat pintu keluar tenda.
***
45 menit Fauzan sampai di Buperta, pria itu amat khawatir. Dia khawatir karna tadi malam zhari mengadu kedinginan, takut penyakit gadis itu parah.
__ADS_1
"Bu zhari nya mana ya?" Tanya Fauzan saat dia sudah sampai di lokasi perkemahan mereka.
"Oh ada di tenda pojok sana pak, oh iya pak wajah ibu zhari udah pucat mending langsung bawa ke dokter aja. Yah!" Jawab salah satu guru.
"Iya makasih Bu, maaf ya istri saya merepotkan kalian" Fauzan tersenyum kikuk dan pergi kearah tenda zhari.
Sesampainya ditenda, pria itu hanya melihat istrinya yang tengah duduk dengan menekuk kedua lututnya. Hanya ada zhari entah Laila kemana.
"Za kamu baik-baik aja kan?" Fauzan masuk dan menyentuh dahi istrinya.
"Aku gak papa mas, kayaknya masuk angin deh." Jawab zhari mendongak menatap wajah suaminya.
"Yaudah kita pulang, kamu bisa jalan sendiri kan?" Fauzan menatapnya ragu, sebenarnya dia ingin menggendong tubuh istrinya, tapi siapa yang akan membawa barang-barang zhari?
"Udah Lo gendong aja istri Lo, biar gue yang bawa barang dia" tiba-tiba Laila datang dan menatap malas kearah Fauzan, dia malas kenapa sahabatnya itu bisa menikah dengan pria macam Fauzan? Yang udah ngebet pengen punya anak!
"Okay" jawab Fauzan yang langsung membopong tubuh lemas zhari dan keluar dari tenda.
Beberapa murid dan guru hanya menatap mereka Dengan sedikit kagum, agaknya mereka mengira pernikahan zhari dan Fauzan dilandaskan cinta.
"Saya permisi Bu" ucap Fauzan saat berpapasan dengan salah satu guru.
Zhari didudukan dikursi depan, Fauzan menurunkan kepala kursi sedikit kebelakang agar istrinya bisa menikmati perjalanan Dengan santai.
"Makasih la" ucap Fauzan pada Laila yang tengah memasukan barang-barang zhari ke dalam bagasi mobil.
"Ya, Lo periksa tuh istri Lo. Kayaknya dia hamil" jawab Laila yang langsung ngeloyor pergi.
"Hamil?" Fauzan merasa heran, pria itu buru-buru masuk kedalam mobil dan menatap istrinya.
"Sayang kamu hamil?" Tanyanya ragu.
"Kata siapa?" Zhari menatap suaminya.
"Laila?"
__ADS_1
"Ck cuma masuk angin mas, yaudah cepet pulang!" Titahnya yang segera dilakukan Fauzan.
...Bersambung........