
aku berguling-guling diatas kasur, sambil sesekali menatap pintu. sebab Fauzan masih bergeming disana, beberapa kali dia membujuk ku.
"sayang.... iya ayuk katanya mau ke Palembang" bujuknya lagi dengan suara memelas.
"nggak!" tolakku kesal sambil menatap tembok yang datar.
"sayang iya iya, aku salah. semuanya salahku, ayolah masa gini aja ngambek? katanya mau ke palembang, ke papua juga ayok" ucapnya panjang lebar.
"Udah nggak pengen lagi!" balasku.
"duh jangan gitu dong, nanti aku tidur dimana? kamar dirumah ini kan yang bisa kebuka cuma kamar kamu!"
"tidur di ruang tamu juga bisa kan, diruang kerja kamu juga bisa! gitu aja pusing. Kalo perlu sana tidur di kantor atau di hotel!" teriakku lantang.
"apa kata mami sayang, kamu tahu kan cctv rumah ini dipantau mami. kalau mami tau kelakuan aku yang nggak mau ngalah, aku habis!" lirihnya dari balik pintu.
aku menahan tawa gemas, "salah siapa?! tanggung resikonya dong, gak laki amat!" teriakku lagi.
"sayang jangan teriak-teriak... apa kata tetangga!" ucapnya tak masuk diakal, tetangga mana? perasaan rumah ini aja halamannya luas, ditambah pagar tembok yang menjulang, emang tetangga bisa denger teriakanku? enggak kan?
"tetangga mana?!" tanyaku aneh.
alih-alih menjawab, dia malah menggedor-gedor pintu. "sayang, buka dong.... masa aku tidur diluar? kan gak enak!" bujuknya lagi.
"nggak mau!" jawabku sembari menutup telinga dengan bantal.
"yaudah, kalo nggak mau juga gak apa-apa. tadi aku dapet telfon....." dia menjeda ucapannya.
"ya terus?" teriakku.
"satu Minggu aku harus tinggal di Paris sayang, ada kerjaan disana. tadinya mau ngajak kamu, eh yaudah gak jadi. bye-bye aku mau pergi kerumah mami, ngambil pakaian dan pergi ke bandara. Kamu jaga kesehatan, hati-hati. kalau mau minta apa-apa. minta sama mami aja, aku udah ngomong kok sama beliau" jelasnya panjang lebar, aku diam. bibirku terasa keluh, pikiran aneh tiba-tiba muncul di benak ku.
__ADS_1
"Kamu..... mau ketemu Zia kan?" tanyaku sensitif.
"ya engga lah, kan ini urusan kerjaan. makannya kalau aku nggak mau dilirik wanita lain, jangan suka ngambek gitu dong" sindirnya.
ceklek...
aku langsung membuka pintu dan menghambur ke pelukannya, sumpah aku takut dia pergi ninggalin aku. walau cuma seminggu, takut dia malah berpaling dari aku.
"jangan tinggalin aku....." isakku dibahunya.
"lho siapa yang mau ninggalin? kan aku bilang cuma seminggu, lagian junior ku nggak bisa nahan lama-lama dari kamu. makannya jangan suka ngambek, kalo junior ku nggak mau dipake orang lain!" candanya gak ngotak.
aku semakin terisak, "kan kamu udah mikir mau ninggalin aku! hiks... hiks... dari dulu kamu emang gak cinta aku kan? dari dulu kamu cuma terpaksa kan? jahat... jahat..." aku memukul kecil punggung nya.
"duh kalo aku nggak cinta kamu! terus ini apa ha? logika, dek" jawabnya kesal, dia menunjuk perutku dengan gusar.
"ya ini nggak ngejamin kamu cinta aku! diluar sana banyak kok yang ngelakuin ini bukan atas dasar cinta, cuma n*fsu semata!"
"iya-iya terserah kamu, jadi mau nggak ikut keparis. sekalian honeymoon, kan kita belum honeymoon." dia berusaha menenangkan ku.
"Kalo nggak mau keparis, terus kemana? apa mau aku..... tiduri dulu?" bisiknya ditelingaku.
bulu kuduk ku meremang seketika, sesaat tubuhku kaku. hah apa laki-laki cuma bisa mengancam itu? selalu berhubungan tentang ranjang?
"enggak mau! yaudah sana pergi!" aku sadar dan segera masuk kekamar, tapi belum sempat kututup pintunya, Fauzan sudah menahan pintu dengan sebelah badannya.
"iya aku nyesel, aku bakal nurutin apa yang dimaui kamu! nah sekarang apa mau kamu? keparis? ln? Amrik? atau mana? tabunganku masih banyak lho" rayunya.
"emang aku belum pernah ke negara-negara itu ya? perasaan dari hidup sama mami, papi aku sering jalan-jalan. cuma sama kamu aja aku kayak burung, ditaro disangkar terus!" kesalku, menatapnya berkaca-kaca.
"ya karna aku nggak mau kamu pergi sendirian, dek. pengalaman bukan menjamin kamu selamat, apalagi kamu perempuan. nah makannya mumpung aku ada waktu, kamu mau jalan-jalan kemana?" dia masih berusaha membujuk ku.
__ADS_1
"mmmm nggak mau! aku lebih suka dirumah." putusku gusar, moodku dari tadi sudah anjog (turun)
"ayolah ngomong mau kemana? apa perlu aku bius kamu dan bawa pergi kemana pun yang aku suka?" ucapnya ngawur.
"mau kamu apa sih mas? ngebujuk aku apa lagi ngerayu sih?" aku bingung dengan setiap hal yang Fauzan ucapkan.
"apa bedanya dua hal itu?" dia menaik-turunkan alisnya.
"ya kalo ngebujuk, seharusnya kamu elus aku! peluk aku mas! bukan gini, kamu malah ngasih aku embel-embel jalan-jalan?! yang ujung-ujungnya nyuruh aku ngelayanin kamu kan?" tebakku gusar.
"salah kaprah (paham) terus kamu mah, dek! emang aku dimata kamu kaya gitu?" ujarnya tanpa mengingat setiap peristiwa, yang dimana 'aku selalu ditidurinya' sampe hamil kaya gini.
"mas please, aku capek! Udah sana keluar dulu. Kalo perlu kamu pergi kerumah mami, tidur disana. dan belajar gimana ngadepin aku!" aku menatapnya sayu.
dia menerobos masuk dan menggendong ku ala bridal style. "yaudah istirahat" ucapnya menurunkan ku diranjang.
"ya aku mau belajar ngadepin kamu lewat mami, tidur yang nyenyak dek." dia mengecup keningku sambil tersenyum tampan.
"mmm yaudah sana pergi" usirku memalingkan wajah.
"iya sayang...." dia mencubit pipiku dan segera berlalu pergi keluar kamar.
aku menatap tembok datar dan beribu pertanyaan menari-nari dibenak ku, bukannya suami itu kalau istrinya minta apa-apa diturutin ya? apalagi aku sedang hamil.
"hah" decakku kesal.
Dengan susah payah, ku pejamkan mata yang tak ngantuk ini. daripada memikirkan Fauzan, tidur lebih mending!
...Bersambung........
hai geng.....
__ADS_1
maaf cuma bisa up 800 kata😌, nggak ada ide soalnya. apalagi ngeliat babang Fauzan yang bodo amat sama istri sendiri, makin kesel aja hati author.
terimakasih yang masih stay dinovel kacang ini, author do'akan semoga kalian sehat ya, Aamiin😊❤