Summer Love

Summer Love
Ch 27. Itulah cara mengatasi masalah!


__ADS_3

Aku dan Fauzan saling tatap-tatapan, hemm apakah kami harus menyetujui syarat itu? Harus banget gitu ya?


Aku menghela nafas panjang dan mengangguk kaku, lantas Fauzan pun sama setelah melihatku mengangguk.


"Baiklah keputusan sudah kita ambil! Keputusan ini jangan ada yang mengingkari karna keputusan ini telah disaksikan banyak orang!" Ucap papiku dengan nada mengancam.


Aku memutar mata malas, banyak orang apa? Yang cuma hadir keluarga inti doang! Well jangan terlalu absrut pih!


"Yaudah bentar lagi kan mau asyar, kami permisi dulu" ucap mami setelah melihat jam diarlojinya.


Aku berdiri, namun langsung ditahan mami Lia, "dek zhari jangan pulang dulu! Nanti sore aja biar dianterin mas Ozan" ujarnya sembari memegang tanganku.


Aku menegang sesaat, hal apa yang bakalan mereka paksa lagi? Setelah semua ini?


"Kalo gitu kami titip dia ya mbak, maaf tadi kurang sopan" mami nyengir kuda dan malah pergi begitu saja tanpa ku?


Aku dicekal mami Lia sembari mata ini menatap kepergian keluarga ku, hal apa yang bakalan dilakuin keluarga Fauzan? Apakah mereka akan memarahiku? Sit! Aku tak siap!


Setelah mobil keluargaku pergi, mami Lia tersenyum mantapku alih-alih ingin memarahiku.


"Dek zhari keputusan udah diambil, tapi kalian tetep kami paksa buat dekat satu sama lain, cinta akan tumbuh seiring berjalannya waktu" ucapnya puitis sembari menatapku.


Aku menelan ludah dan kulirik lah Fauzan yang wajahnya cemberut, huh kok cemberut nya masih tetep tampan aja sih? Batinku menjerit.


Aku menggaruk kepala dengan tangan yang tak dicekal, canggung betul kalau bahasannya udah kearah cinta.


"Yaudah sana dek zhari ikut mas Ozan keatas 'ya?" Ucapnya lagi seraya mendorong tubuhku pelan agar dekat dengan Fauzan.

__ADS_1


Lantas mami Lia menatap sang bungsu, "mas Ozan sana ajak dek zhari keatas. Kalian kan udah sering bareng? Gak bakalan canggung kan?" Tanyanya.


"Ngak mih" jawab Fauzan sembari tangannya menyenggol tanganku agar mengikuti langkah nya keatas.


Aku hanya manut, Untung saja mereka tak memarahi ku, bagaimana rasanya dimarahi orang lain? Yang bahkan statusnya saja masih gantung! Ups ya seperti itu rasanya sakit, tapi untungnya aku tak merasakan hal konyol macam itu.


Kaki ini melangkah menyeimbangi kaki panjang Fauzan, walaupun aku terbilang tinggi dan kakiku panjang juga tapi langkahku agak kewalahan menghadapi langkah Fauzan.


Lantas dia membawaku kekamarnya, biasalah kami memang selalu dikamar. Tapi gak sampe macem-macem, kami cukup sadar diri.


Saat fauzan menutup pintu, aku merebahkan tubuhku diatas kasurnya yang terkadang aku rindukan. Ya gimana gak rindu coba? Dua Minggu ful aku nginep dikamar ini, dan untuk si empu kamarnya? Dia malah tidur diruang tamu, agak aneh sih... well jangan dibahas lagi!


Fauzan berjalan kearahku dan duduk disampingku, lantas dia berkacak pinggang.


"Bisa ngak jangan suka buat masalah?" Tanyanya sembari menatapku serius.


"Ck, ngomong kekamu sama saja membatalkan rencana!" Tuduhnya.


"Hadeh gue gak se sembrono itu dodol!" Tepisku malas.


"Ck!" Dia melotot kearahku.


"Yah terserah kamu juga sih, yang penting pilihanmu agak menguntungkan ku. Aku bisa keparis dan aku juga akan membatalkan perjodohan ini sepenuhnya, well terimakasih telah menyumbangkan otak cerdasmu" jawabku santai dan merebahkan tubuhku lagi.


Lantas lelaki ini memiringkan kepalanya menatap kearahku, "kamu gak penasaran kenapa aku ngebuat dua pilihan?" Tanyanya yang tiba-tiba membuatku bangun dari rebahan lagi.


Sejujurnya aku memang agak penasaran juga sih...

__ADS_1


"Kenapa?" Tanyaku menatapnya serius.


"Karna aku gak tega ngeliat anak orang mati cuma gara-gara paksaan keluarga ku yang ingin punya cucu" jawabnya yang seketika membuat wajahku merah padam karna amarah.


"Kamu!" Aku memukul lengannya dengan keras.


"Ha ha, ngak kok! Gak kaya gitu..." kekehnya sembari menangkap tanganku yang terus memukuli lengannya.


"Ya terus!" Aku berkacak pinggang sembari melotot kearahnya.


"Karna kita itu butuh kepala dingin, saat kamu pergi gak tau kemana dan keluarga kita keluar buat ngejar kamu. Aku pergi ke kamarku dan merenungkan taktik rencana, karna saat kepala dingin tindakan yang kita lakukan akan benar, dan itulah cara mengatasi masalah dengan benar!" jelasnya.


Aku diam membisu, benar juga ucapannya, kenapa aku melakukan hal sembrono?


"Ngerasa ya?" Tuduhnya yang melihat diriku hanya menatap kearah bawah.


"Eumm" aku bergumam malu, dan merebahkan tubuhku sembari memunggungi nya.


"Kamu terlalu emosian Za! Makannya kamu jadi malu sendiri" terdengar suara badan lelaki ini ikut berbaring disampingku.


"Hmm" aku hanya bergumam tanpa melanjutkan pembicaraan.


Karna aku sudah cukup tau bagaimana cara mengatasi masalah, yaitu dengan kepala dingin.


Sayup-sayup mataku terasa seperti diberi bobot yang teramat besar. Kantuk telah menyerang ku, akhirnya aku tertidur dikamar lelaki ini.


...Bersambung........

__ADS_1


__ADS_2