Summer Love

Summer Love
Ch 60. Bukan (Hanya) perang saudara


__ADS_3

Arunika hangat mulai menembus suasana yang cerah, mampu mengubah musim panas yang akrab menjadi lebih angkuh. Karna musim masih panas, hawa panas menjadi teman sehari-hari. Namun, tidak dengan zhari. Perempuan cantik itu sedang tak bersahabat dengan sang summer, wajah cantiknya sedih. Namun, dia masih merasa hangat saat mentari pagi menyapa punggungnya lewat kaca lebar lantai tiga rumah sakit tempatnya bersedih itu.


Tetap saja. Zhari tak menjeda wajah sedihnya, zhari dengan rambut dicepol berantakan terlihat menunduk. Kedua tangan putih yang berhias gelang emas itu terlihat memangku wajahnya, mata lentiknya sembab dengan riasan kemana-mana. Sedikit bengkak, bibir tipis puncatnya menandakan kelelahan tengah melandanya, pun karna lipstiknya telah dihapus sang suami dengan manisnya tadi malam. Dia tak lebih lelah dari mengurusi murid-murid pembangkang disekolahnya.


Semenjak malam tadi, zhari menemani sang papi berbaring dirumah sakit. Gadis ayu itu tak memperdulikan kesehatannya sendiri yang tengah berbadan dua, Tekanan darah sang papi naik karna shock atas perbuatan anak bungsu dan menantunya itu, kelihatannya normal. Tapi, ternyata tengah bermain peran.


Tentu, zhari merasa bersalah. Itulah mengapa dia tidur dengan duduk demi tak beranjak dari sisi papinya. Wanita ayu itu sudah biasa tidur Dengan keadaan duduk saat merekap nilai murid-murid nya disekolah, pun suaminya selalu setia memindahkannya ketempat tidur.


Tiba-tiba wajahnya yang menunduk itu mendongak tatkala merasakan ada goncangan pelan dari tubuh sang papi. Wajahnya yang kusut mendadak cerah saat melihat sang papi memegang tangannya meski lemah.


"Ri..." desah sang papi memanggil si bungsu dengan sayang.


Zhari langsung tersenyum lega dan mengangguk semangat, "pi?" Balas zhari pelan.


Zhari mengelus pundak sang papi Dengan lembut, "papi liat Riri? Mana yang sakit? Bilang sama zhari, pih" berondong zhari antusias, hatinya lega melihat wajah sang papi mulai segar dengan ulasan senyum.


Namun, tiba-tiba senyum itu lenyap berganti dahi berkerut dan bibir mengerucut. "Anak nakal!, Sudah puas bikin papi tidur dirumah sakit?" Sindir sang papi emosi.


Bahkan, sekarang sang papi melengos kearah lain. Yang membuat zhari kelimpungan, "pulang aja kamu!" Usir sang papi dingin.


"Maafin Riri pi, maafin Riri, ya? Semua salah mas ozan juga bukan zhari doang" bela zhari dengan sedih, tangannya berusaha meraih tangan sang papi yang terlipat di dada.


"Ck" terdengar decakan tak suka dari belakang, Fauzan datang mendekati zhari dengan wajah tak setuju. "Enak aja semuanya salah mas ozan doang?" Tudingnya kesal.


Pandangan dingin sang papi beralih pada Fauzan, Omelan tak ragu meluncur dari bibirnya. "Mas ozan, juga! Kenapa mau mengamini permintaan Riri?" Semprot papi lemas.


Fauzan mengangguk tak enak, dia menggaruk kepala belakangnya dengan kikuk. "Maaf pi, sebenarnya saya juga masih berusaha menaklukkan zhari" ucapnya bernada putus asa.


"Jadi sebenarnya kalian itu gimana" Pecah mami Nanda dari arah lain, beliau mendekat dengan masih menggunakan jas putih dokternya, sedikit rehat dari jam kerjanya dirumah sakit ini.


"Gimana apanya, mi?" Tanya zhari terbata.


"Apa masih kayak orang asing? Belum melakukan penukaran benih? Tapi kata mami Lia kalian udah!" Ceplos sang mami yang membuat wajah zhari dan Fauzan merah padam karna malu.


"Kok diem?" Pojok sang papi, "jadi, kami ini gak bakalan dikasih 'cucu?" Sambungnya kecewa, wajah lemahnya menjadi sedih.


Bungkam, keduanya diam lagi dan saling berpandangan karna bingung mau menjawab apa. Haruskah kehamilan zhari dibongkar sekarang? Lagi kenapa urusan ranjang harus dibahas dipukul 10 pagi? Apalagi dibahas dengan orang tua di situasi seperti ini? Itu cukup menggelikan.


Fauzan mengalihkan situasi dengan sebuah suruhan kepada sang istri. "Dek, kamu ganti baju aja gih. Nih aku bawain dari rumah" Fauzan menyodorkan paperbag kearah zhari yang masih aneh wajahnya.


"Ee... iy-iya mas!" Perempuan itu terbata sambil mengambil paperbag ditangan Fauzan.


Dia beringsut keluar kamar perawatan sang papi menuju kamar mandi, lebih baik membersihkan diri agar enak dipandang mata. Sejenak menghindar dari situasi aneh atas pertanyaan tidak senonok barusan.

__ADS_1


Lagipula penampilannya sudah acak-acakan seperti baru terkena angin musim panas yang kencang, berantakan tidak ada dalam kamus seorang zhari. Dia terbiasa tampil cantik, rapi dan mempesona.


Sementara suasana didalam kamar masih sama, kedua orang tua zhari masih saja menghujani Fauzan dengan pandangan penasaran. Banyak pertanyaan yang ingin mereka ajukan pada fauzan, lelaki berbalut toxedo hitam yang meninggalkan meeting dengan kliennya itu makin memutar bola mata malas, Canggung menghadapi mertua disituasi seperti ini.


"Jadi mas Ozan bagaimana dengan perempuan semalam?" Tanya mami penasaran, matanya itu menatap tajam penuh selidik yang makin membuat fauzan salah tingkah.


Namun, ceo muda itu harus bisa menguasai situasi. Ditatapnya mertua penuh keyakinan, "saya sudah selesai dengannya, mi" jawab Fauzan jujur.


"Beneran?" Tukas papi yang langsung diangguki mantap oleh Fauzan.


"Lah kok dia masih berani mendatangimu, mau merusak pernikahan kalian?" Berondong mami dengan mata yang masih penuh selidik.


Fauzan menggeleng, "saya kurang paham, mi. Namun, saya pastikan dia gak akan berbuat aneh-aneh."


"Apa kamu mencintai anak kami mas?" Tanya papi lemas, wajahnya menatap sang mantu penuh harap.


Fauzan menatap sang papi kuat, Tak ada keraguan. "Tentu, pi. Namun, Riri yang masih berusaha mencintai saya. Sangat sulit membuatnya percaya cinta, saya terus berusaha." Fauzan terlihat tenang walau hatinya cemas.


Mami mengelus pundak mantunya. "Kami tau seperti apa Riri, dia itu gengsian. Tapi dia baik."


"Iya, mi" jawab Fauzan pendek, sembari mengangguk dan tersenyum.


Sang papi masih belum tampaknya, hingga mengeluarkan pertanyaan merisaukan. "Tapi kamu beneran gak bisa kasih kami cucu mas?" Kontan membuat hati Fauzan kembali teraduk.


"Mas Ozan" tekan mami, "tolong pikirkan nasib kami yang ingin punya cucu ini, kami berharap besar pada pernikahan kalian ini." Mami meremas tangan menantu dengan gusar.


"Iya mih" ucap Fauzan pasrah.


'mana sih ni teri? Gak balik-balik!' kutuk fauzan dalam hatinya.


Dia menunggu sang istri tersayang kembali dari kamar mandi, dan tak lama kemudian. Terdengar suara gaduh dari luar, zhari yang sudah cantik dalam jumpsuit warna coklat ditarik Kamila yang memakai blazer formal warna hitam. Rambut Cepol guru muda itu terlihat berantakan lagi karna ulah kakaknya.


Keduanya saling bersanding dengan situasi tak akrab. "Mbak gak nyangka dek, kamu bikin papi pingsan! Kenapa kamu sejahat itu sih dek?" Kamila mengomel sambil menarik-narik tangan zhari yang manyun.


"Lepasin Napa, mbak! Riri bukan troli!" Ronta zhari kesal, dia mendorong kuat lengan Kamila. Tapi tenaga Kamila tak kalah kuat.


Kamila melotot, "ngak! Harusnya mbak yang marah, mending kamu gak usah nikah kalau cuma buat rusuh!" Kamila masih menggelontorkan amarahnya.


Zhari menatapnya dingin, "terus apa bedanya sama kamu? Berapa kali kamu buat papi pusing karna gagal dijodohin!" Sindirnya tajam.


Mami Nanda menatap keduanya dengan mata sayu dan lelah, "aduhh" keluh mami sambil memijit kening. "Kalian tau tempat gak sih?"


Mami kemudian terduduk di kursi sebelah ranjang papi sambil terus memijit keningnya. "Aduh pi, kepala mami pusing. Suruh mereka keluar aja!" Usir sang mami lesu, papi mulai tak nyaman.

__ADS_1


Tingkah sang mami makin aneh karna mendorong kedua putri cantiknya kearah pintu, "kalian keluar aja!" Usir mami sambil mendorong keduanya.


"Ngak mau! Kamila mau nemenin papi!" Putus Kamila ngeyel.


"Ngak mau! Riri, yang nolong papi!" Balas zhari kekanakan.


Kalau sudah bertengkar, sifat asli mereka keluar. Dan lelaki yang bernama Fauzan itu hanya bisa melongo melihat tingkah istrinya yang aneh itu, ya aneh ya imut. Zhari menyembunyikan sifat aslinya dari kalemnya sebagai seorang guru.


Pandangan Fauzan makin pilon saat melihat adegan kakak dan adik itu, "awwh!.. jangan Jambak aku ya!" Teriak zhari keras karna Kamila mencengkeram rambutnya.


Zhari tak habis pikir kalau sifat kekanakan Kamila masih ada, sudah lama dia tak pernah perang fisik dengan sang kakak yang selalu terlihat serius itu. Mungkin ini kesempatan yang tepat.


"Aku ngak bakal sentuh kamu! Kalau kamu gak nyakitin papi!" Teriak Kamila masih emosi, tangannya masih saja dipakai untuk menjambak sang adik.


Zhari menyiapkan 'amunisi' balasan. "Kayak kamu gak pernah nyakitin papi aja! Bulan lalu kamu nyemplungin kontrak kerja mas Zidan kedalam air karna kesel kan? Yang malah bikin papi setres seminggu!" Zhari tak mau kalah menjambak rambut panjang sang kakak.


Wajah sang papi mendadak datar, "jadi kontrak kerja mas Zidan basah karna dicemplungin kamu mil?" Desah Papi lirih, pandangan matanya kosong.


"Ya ampun!" Mami Nanda menutup wajahnya karna malu, sedih juga melihat suaminya tau kontrak kerja bernilai milyaran itu hangus gara-gara si sulung.


Mungkin sudah waktunya Fauzan menghentikan konflik saudara ini, dia maju dan membuat batas antara zhari dan Kamila. "Stop, mbak!" Tahan Fauzan sambil memegang erat lengan Kamila. "Jangan sakiti zhari, dia lagi hamil mbak!" Belanya tegas.


Zhari dan Kamila terkesima dengan sikap tegas Fauzan. Zhari terpesona pada kejantanan Fauzan saat membelanya, sedangkan. Kamila merasa bahwa sentuhan tegas Fauzan tadi sangat berbeda dengan para pengusaha yang dikenalnya, seorang ceo sedang membela wanitanya dan itu keren. Pikir Kamila.


"Apa semua pengusaha seperti kamu, dek?" Tanya Kamila melongo, dia selalu aneh tentang hubungan manusia. Perempuan dan laki-laki.


"Iy -iya?" Tegas Fauzan tak percaya, sempat melongo dua detik bahkan.


Tapi Kamila tersadar dari kekagumannya saat mengingat bait terakhir kalimat Fauzan, bahkan orang tua zhari pun di buat melongo dengan kalimat sang menantu.


"Tu-tunggu!" Tahan mami sambil mengangkat tangannya.


"I-ya?" Jawab fauzan dan zhari berbarengan.


"Mi, tadi mas ozan ngomong itu beneran ngak?" Tekan papi gusar, matanya penuh harap.


"Ngo-ngomong apa?" Fauzan tergagap bodoh, tak ingat dengan kalimat yang terlontar dari mulutnya barusan.


Zhari hanya bisa menepuk jidat pusing, kenapa Fauzan sebodoh itu? dimana otak pintar nya itu? Jadi hari ini bukan hanya perang saudara ya? Pikir zhari kacau.


...Bersambung........


aduh gengs maap baru up lagi😥, soalnya kepalaku masih pusing buat ujian dua mata pelajaran besok. ditambah aku kayaknya lagi ngalamin winter's block deh🙇 maap kalo nanti jarang up ya, serius aku lagi ngak punya tabungan bab lagi😭 ahhh.... menyebalkan, tapi yaudah nanti in sya Allah author paksain, kayaknya stess gara-gara ujian semester ini🙇😁

__ADS_1


__ADS_2