
Di awal bulan September , terik matahari makin hari makin panas saja. Berbeda dengan hubungan ku dengan Fauzan, makin hari hubungan kami makin aneh. Kadang ekting, kadang mesra, kadang debat, kadang juga saling tuduh. Ya gitulah pernikahan atas dasar perjodohan.
Macam hari ini, aku sedang mengintrogasi suamiku sendiri diruang perpustakaan. Sembari mata ini melotot aku duduk menyilangkan kakiku.
"Jujur mas kamu ya yang mecahin parfumku yang dari mbak Mila?" Tanyaku.
"Parfum yang mana dek? Aku aja udah gak masuk kamar kamu lagi" Jawab Fauzan.
"Ck kemarin aku liat kamu masuk kamar aku mas! Jujur kamu udah mecahin parfumku kan?"
"Ck! masa sih kamu gak percaya sama suami sendiri Za?"
"Ngak mas! Kamu itu pinter bohong!" Aku masih menatapnya tajam.
"Duh kok cuma gara-gara parfum aja gini sih? Iya iya aku yang mecahinnya!" Jujur Fauzan pada akhirnya.
"Argghhh kamu gak tau mas, itu parfum mahal ditambah dari Paris! Kamu tau kan aku suka Paris! Suka segala hal dinegara itu!" Aku mengusap wajah kasar, rasa ingin menangis tapi malu karna hidupku juga sekarang benar-benar bergantung sama Fauzan.
"Ayolah masa masalah parfum aja kamu kaya gini? Nanti aku ganti!" Tawar Fauzan.
"Ck itu aromanya enak mas! Aku baru pake dua kali dan kamu mecahinnya seenak jidat!"
"Ayolah aku liat mas farhan yang ngilangin perhiasan istrinya aja gak diomelin kaya gini" Fauzan masih berusaha menawar.
"Ayolah ayolah!" Aku memanyunkan bibir. "iya gak diomelin! Tapi mas Farhan disuruh tidur diluar kan?" Tambahku tersenyum kearahnya, skakmat!
"Ayolah harus berapa kali aku bilang, bakal aku ganti kok!"
"Ngak mas! Kalo mau ganti hari ini juga!" Tolakku kekeuh.
"Kalo harus hari ini juga! Ada hal yang harus dibereskan hari ini juga Za!" Balas fauzan tak mau kalah sambil laki-laki itu berdiri dan menghampiriku.
"Beresin apa mas?!" Aku menatapnya tajam.
"Kamu kalo lagi kesel suka nyeselin tapi gemesin! Jangan salahin aku!" Ucap Fauzan sebelum membopong tubuhku.
"Ahh... mas kamu mau minta hak mu lagi?" Tanyaku saat laki-laki ini masih membawa tubuhku kelantai atas.
"Iya apa salah?!" Tanyanya balik.
"Aku belum siap hamil mas! Kamu gak pake alat kontrasepsi!" Aku berusaha lepas dari gendongannya.
"Ngak! Aku mau kamu cepet hamil! Biar kamu gak terus-menerus kaya gini!" Bantah Fauzan keukeh.
***
Beberapa jam kemudian, aku membalang bantal dan buku-buku kearah Fauzan.
"Duh kok kamu kasar sih?" Ucap Fauzan sambil terus menghindar.
__ADS_1
"Ih kan udah aku bilang! Kamu harus pake k*ndom mas! Kalo aku hamil gimana?" Aku histeris sendiri.
"Ya kan tujuannya kita melakukan ini biar kamu hamil? Biar mami cepet punya cucu! Gimana sih!" Fauzan berjalan santai kearah kamar mandi.
"Mau kemana kamu mas? Keluar dari kamarku!" Teriakku sambil berlari kearah kamar mandi.
"Nah mau apa? Tenagaku tetep lebih besar dari kamu Za!" Ucap Fauzan menangkap tubuh polosku.
"Uh mas lepasin! Keluar gak dari kamar aku?" Aku meronta.
"Ngak! Kalo kamu kaya gini terus, setiap hari aku bakalan tidurin kamu Za!" Ancamnya.
Aku mengangkat kepalaku, udah macam istri yang gak punya etika, "sok kalo bisa?!" Ucapku Penuh dengan kepercayaan, lantas aku mendorong tubuh fauzan dan melempar kimono kearahnya.
"Keluar gak!" Teriakku.
"Ck iya-iya! Ujung-ujungnya tercampakkan juga!" Keluhnya yang langsung memakai kimono dan berjalan kearah pintu.
"Heh emangnya kamu doang?" Gumamku pelan.
***
"Ulang tahun Arya?" Ejaku aneh pada pesan yang dikirim Fauzan.
Tin...
Tin...
"Dek pulang!" Ucap Fauzan yang melihatku masih berdiri didepan gerbang sekolah.
"Aku mau pergi sama Laila, boleh gak?" Tanyaku menatapnya sayu.
"Ngak! Kamu gak boleh kemana-mana, nanti malem kan ada pesta ulang tahun Arya, dibaca belum sih pesanku?" Jawabnya.
"Ck iya, bentar!" Aku berjalan kearah mobil, memasukinya dan segera memasang seat Belt.
"Hallo la..." aku memulai panggilan dengan Laila saat mobil Fauzan sudah melaju.
"Jadi gak za?" Tanya Laila disebrang sana.
"Maap ya gue gak jadi nemenin Lo" aku menatap jalanan, merasa tak enak hati sudah berjanji malah tak menempati.
"Oh yaudah deh, lain kali aja. Bye..." Laila menutup panggilan sepihak.
Aku menghela napas gusar, "harusnya kamu ngizinin aku nganter Laila dulu! Kan jadinya gak enak." Ucapku.
"Biarin Laila pergi sendiri! Salah siapa belum nikah" seloroh Fauzan dingin.
Aku menatapnya aneh, "jujur mas, kenapa kamu langsung dingin gini sih? Emang Laila pernah punya salah sama kamu?!"
__ADS_1
"Ngak! Aku cuma gak suka kamu jadi kaya gini gara-gara Laila" jelasnya yang makin membuatku menatap aneh.
"Bisa gak jangan natap aku gitu?" Fauzan rupanya sedikit risih dengan mataku.
"Jawab aku mas! Yang jujur, kamu lagi kenapa sih?" Aku menepuk bahunya.
"Enggak! Gak kenapa-kenapa...." bantahnya.
Aku hanya bisa pasrah dengan sikap aneh suamiku sendiri, kenapa dia jadi dingin sih kalau aku ngomongin Laila? Terus juga dia ngomong aku kaya gini karna Laila? Apa sih salahnya Laila? Kok aku malah curiga ya? Takut kalau sahabat ku sendiri hendak menusukku dari belakang, kek difilm-film gitu! Baik didepan nikung dibelakang, duh kenapa sih aku mikir gini? Gak mungkin lah Laila mau ngegoda Fauzan! Dari masa sekolah pria satu ini sikapnya dingin. Paling sama aku yang nggak, kembali aku menggebuk kepalaku karna pikiran konyol ini.
Malam harinya aku menggaruk kepalaku saat melihat fauzan yang bersikap aneh lagi, dia menggelengkan kepalanya kearahku. "Ganti! Punggung kamu kelihatan, kalau mami tau gimana? Gak pantes, pake pakean yang tertutup aja!"
"Udah enam kali loh aku ganti baju mas? Kamu bilang aku harus pake gaun, pas aku pake gaun kamu ngomong nya gak pantes, aku pake dress apalagi! Jadi mau kamu apa sih? Mau aku pake gamis?" Protesku kesal.
"Nah iya pake gamis aja!" Dia mengangguk kearahku.
"Ck" aku berjalan kearah lemari dan memilih gamis, sejujurnya aku sendiri gak suka pake dress, gaun dan semacamnya walaupun pakeanku sendiri masih dibilang belum tertutup Sempurna.
Setelah prosesi debat panjang dan memilih baju untuk dipakai, pada akhirnya aku tetap memakai gamis untuk pergi kepesta ulang tahun Arya. Lebih tepatnya sepupu Fauzan, memang keluarga dari papi Hendrik amat banyak. Sepupu Fauzan aja jumlahnya kalo gak salah 9, pertama Adit, Farhan dan Arya. Sisanya aku masih ingat-ingat lupa, karna ketemu mereka selain Adit , Farhan dan Arya cuma saat kami menikah.
Saat sudah sampai dirumah Tante Laras - ibu arya, aku langsung digered mami Lia kearah para ibu-ibu duduk, biasalah palingan gosipin aku! Ck males sebenarnya.
"Wah mbak Lia nih kalo milih mantu suka yang bagus-bagus bener sih? Pertama si lili, udah dokter, cantik dan sekarang dek zhari, guru, cantik lagi. Pasti anaknya nanti kaya Hya, gen nya bagus-bagus" kikik tante uswah saat aku dan mami Lia sudah duduk di sofa.
"Heh bisa aja" mami Lia melambaikan tangannya, antara malu dan bangga. Entahlah.
"Kalo dari dulu tau dek zhari, mending Tante nikahin kamu sama anak Tante" ujar Tante Laras sedih.
"Siapa mbak?" Mami Lia menatapnya bingung.
"Surya! Siapa lagi? Masa iya aku mau jodohin Arya sama dek zhari, umur Arya kan masih 19 tahun" jelasnya.
"Ehhe kan udah jodoh Tan..." aku kikuk sendiri, walaupun kendati hatiku masih penasaran dengan orang yang namanya Surya. Kalo Surya lebih baik dari Fauzan kenapa aku gak dinikahin sama dia aja? Terus juga Surya sepupu yang mana pula? Perasaan pas aku nikah gak ketemu tuh sepupu Fauzan yang namanya Surya? Rerata umurnya masih dibawah 18 tahun, sisanya keatas. Macam Farhan - anak dari Tante uswah, umurnya udah 28 tahun. Dan untuk adit - anak dari Om Ahmad umurnya sekitar 25 an, beda setahun lah sama Fauzan.
Memang sih silsilah keluarga Fauzan yang dari papi Hendrik amat membingungkan, karna papi Hendrik sendiri anak kedua dari empat bersaudara. Jadi gak heran kalau aku agak bingung.
"Dek..." panggil sebuah suara yang langsung mendekat kearahku.
Aku mendongak dan melihat Fauzan yang tengah berdiri, "ikut mas Yu?" Tambahnya.
Aku hanya menggaruk kepala bingung, "kemana ya?" Tanyaku.
"Udah dek sana ikut mas Ozan aja, nganten baru gak mau pisah, ehhe!" Mami Lia nyengir kuda dan mendorong tubuhku pelan.
"Zhari ikut mas Ozan dulu ya mih, Tan.." ujarku sebelum berdiri dan mengikuti pria ini.
Setelah mendapat izin dkari sepuh, aku mengikuti Fauzan yang entah akan membawaku kemana. Rasanya aku seperti melihat perbedaan kepribadian dari pria ini, intinya sikapnya aneh!
...Bersambung........
__ADS_1