
Keheningan menggantung di atmosfer, suasana didalam kamar masih sama. Kedua orang tua zhari masih menghujani pertanyaan pada ucapan Fauzan barusan.
"Mas ozan! Omongan tadi bener apa ngak?" Mami meremas tangan menantunya dengan cemas.
"Mas" lirih papi, "tolong jujurlah pada kami, tadi ucapanmu bohong apa bener?" Papi menatap Fauzan sayu.
Kamila pun maju kedepan dan menggoncang pelan bahu adik iparnya, "dek, tadi kamu bohong apa bener? Jujur lah!" Berondong nya tak sabar.
"Setop!" Tahan zhari mengangkat kedua tangannya, "ya, apa yang mas ozan omongin tadi bener. Aku lagi hamil" wanita ayu itu segera menjatuhkan tubuhnya diatas sofa ruang perawatan papi.
Mami segera berlari kearah sang bungsu dan langsung menghujaninya dengan ciuman, "dek kamu gak bohong kan? Kalian gak bohong kan? Kamu beneran hamil, nduk?" Berondong mami dengan berkaca-kaca.
Bahkan sang papi yang terbaring lemah berusaha mendudukan tubuhnya dengan bantuan sang sulung, "Ri, kamu sekarang lagi gak bohongin kami lagi kan?" Ucap sang papi lemas.
Fauzan maju penuh keyakinan kearah sang mertua, ditatapnya kedua mata papi yang tampak sayu itu. "Kami gak bohong! Dari awal kami memang sudah berniat memberitahu semua orang, bahkan semenjak tadi malam. Hanya saja semuanya hancur karna Zia" jelasnya gamblang.
"Nduk! Kalau tau begini, tadi malem kamu gak usah nemenin papi" mami memeluk si bungsu dengan erat, air matanya sudah luruh dengan deras.
"Riri gak apa-apa mih" jawab zhari dan membalas pelukan maminya.
"Mil... mil..." panggil sang papi pada si sulung, tekanan darahnya tiba-tiba normal dan keadaan nya kembali stabil setelah mendengar harapannya ternyata terwujud.
Kamila menuntun sang papi turun dari ranjang pasien, papi mendekati sang menantu dan memeluknya haru. "Kenapa kamu ngak jujur dari tadi, mas?" Lirihnya.
"Ozan pikir ini bukan waktunya kami memberitahu semua orang" jawab Fauzan sambil mengusap air matanya.
"Jadi, tadi malem kalian gak bohong?" Tanya mami setelah tenang dari keharuannya.
"Ya mih, semuanya hanya permainan belaka" zhari menatap maminya Dengan yakin.
"Makasih mas, makasih kamu sudah mewujudkan impian kami" mami Nanda mendekati Fauzan dan memeluknya dengan haru, tak pernah terbayang akan memiliki seorang cucu setelah tau anak dan mantunya telah mengecewakan hatinya.
Kamila sendiri mendekati sang adik dan duduk disebelahnya, "maafin mbak ya, dek. Mbak gak tau kalau kamu lagi hamil" ucapnya lirih sambil memeluk sang adik.
"Ngak apa-apa mbak, lain kali jangan kaya gitu!" Jawab zhari masih sedikit emosi dengan tingkah kakanya.
"Nduk, kamu udah periksa belum? Kalau belum mami temenin, disini dokter kandungannya bagus. Ya? Mau ya?" Mami kembali mendekati zhari.
Zhari hanya mengangguk pasrah, dia mendekati sang papi dan memeluknya. "Maafin Riri pih, maafin Riri yang udah buat papi tidur dirumah sakit. Tapi Riri sungguh-sungguh pih, Riri gak bohong. Pernikahan kami wajar" tangisnya, setelah itu terdengar suara 'buk' dari badan zhari yang langsung bersimpuh di kaki sang papi.
"Nduk, kamu lagi apa? Papi gak apa-apa. Bangun nak, semuanya sudah berlalu. Sekarang kesehatan kamu lebih penting" papi kelimpungan dengan tingkah sang bungsu, diapun berusaha melepaskan tangan zhari yang masih memeluk kakinya.
"Papi! Udah mending kita periksa Riri, kita harus liat. Anak mereka sehat apa ngak? Kandungan nya lemah apa ngak?!" Tekan mami gusar.
"Iy-iya!" Papi hanya pasrah diomeli sang istri.
"Mas! Udah nelfon mami Lia belum? Kasih tau Semua orang secepatnya, kita harus ngadain syukuran" titah mami rempong
"Iya mih" Fauzan hanya menghela napas berat dan segera menghubungi maminya.
"Dek, ayu ikut mami keruangan dokter Lisya" mami menuntun sang bangsu.
"Mi, papi mau ikut!" Papi menahan lengan mami.
"Duh Gusti, keadaan papi kan masih belum stabil. Nanti mami kasih tau aja ya?" Mami menatap papi lelah dan tatapannya pun beralih pada sang sulung, "mil, temeni papi ya? Biar mami aja yang ngeceknya"
"Lho mi, tapi papi udah stabil" papi masih mengeyel.
"Terserah papi aja, kalo gak kuat pake kursi roda" mami menepuk jidat pusing.
Akhirnya keluarga rempong itu masuk kedalam ruang dokter Lisya - dokter kandungan rumah sakit ini.
"Wah dok ini zhari yang nikah bulan lalu ya?" Tanya dokter lisya sambil tersenyum.
"Iya dok, emm jadi gini. Kata Riri sama suaminya - tuh Fauzan, Riri lagi hamil. Karna kami ada sedikit kesalahpahaman, kami mau memeriksa nya dok" jelas mami dengan hati-hati.
__ADS_1
"Yaudah Yu dek" dokter Lisya mempersilahkan zhari berbaring di atas bankar, setelah itu dokter Lisya memberikan gel diperutnya dan mulai melakukan usg.
Mami semakin menderaskan air matanya saat melihat titik kecil seukuran biji kacang sudah muncul dilayar monitor.
"Pi.. kita bakal punya cucu" ucapnya girang sambil menggoncang pelan tubuh sang suami yang tengah duduk di kursi roda.
"Iya mih" papi tak kalah haru, tapi pria itu hanya bisa menahan tangisnya agar tak meledak. Malu menangis didepan orang lain, sebut saja dokter Lisya.
Fauzan sendiri hanya bisa diam mematung, canggung dan bingung menghadapi situasi seperti ini. Apalagi maminya sedang ada diperjalanan, makin tak jelas saja hati pria itu.
Setelah zhari turun dari ranjang, Kamila segera memeluk adiknya. Sadar akan kesalahannya tadi, dan sadar juga hanya adiknya yang bisa mewujudkan impian mami dan papi nya.
"Dok gimana kandungannya? Gak lemah kan? Sehat kan?" Berondong mami penasaran.
Dokter Lisya tersenyum, "Alhamdulillah dok, janin dan ibunya sehat. Selamat ya atas kehamilan cucu pertama" dokter Lisya menjabat tangan mami.
"Sama-sama dok" mami menjabat tangan dokter Lisya.
Setelah itu ada pengalihan lain dari arah pintu, mami Lia datang dan langsung memeluk sang menantu. "Kenapa kamu gak jujur aja dek?" Tanya mami Lia menderaskan tangis harunya.
"Dilarang mas Ozan" ceplos zhari letih, mata pandanya sudah sangat jelas. Bahwa, gadis itu kekurangan tidur.
Fauzan hanya bisa menggaruk kepala belakangnya sedikit jengkel, mau membantah pun tetap dia yang akan terpojok.
Setelah 'drama' haru antar keluarga, kini Fauzan disuruh sang sepuh untuk menghantar istri tersayang kerumah. Tak tega melihatnya letih.
***
Tri Azhari POV
Sebelum pulang aku dan Fauzan pergi ke resto depan RS, membeli dua mangkuk bakso yang mengepul. Mampu meredakan kelaparan pada perutku, tapi bukan debaran jantungku. Hatiku masih bergetar dan terasa aneh setiap melihat sikap Fauzan, kami duduk saling berhadapan. Sesekali aku mencuri pandang pada matanya yang juga sesekali menatapku, sesekali menatap bibir yang kurindukan. Seceriwis banyak omong yang bisa mendebarkan jantungku lebih kuat, aku harus menguasai diri sendiri agar tak sampai mencium nya disini.
Ya ampun! Jadi ini rasanya saat hati tanpa penghalang lagi? Setiap tingkahnya membuatku terpukau, tapi aku masih malu-malu kucing. Hingga hanya berani mencuri pandang dan sesekali menyenggol tangan kirinya yang hanya diam diatas meja, aku ingin memegang tangannya.
Sumpah, Fauzan menatapku tanpa ampun dan jeda. Dia tidak pernah mengalihkan pandangannya sedetik dariku, aku dikunci. Diikuti kemana-mana, beda dengan diriku yang cuma berani curi-curi pandang kearahnya.
Pandangan mesranya berubah jadi tengil, "kamu bisa ya, bersikap seaneh tadi?" Fauzan menahan tawanya dengan halus, perlahan tangannya maju kearahku dan mencubit hidungku.
"Apa, berantem sama mbak Mila?" Aku hanya berani meliriknya sedikit, dia ganteng banget pake setelan jas macam itu.
Padahal udah berulang kali aku lihat dia pakai tuxedo, tapi kali ini beda. Dia udah tau perasaan cintaku, jadi hati kami udah nyambung gitu. Makannya aku malu-malu, walau mau.
Fauzan mengibaskan tangannya didepan wajahku yang melamun, "Hello, Za?" Matanya menelisik pada kedua netraku yang gagal fokus.
Aku menggeleng dan langsung salah tingkah, "engg...... ya?"
"Kok ngelamun?" Fauzan mendorong gelas teh kearahku, mungkin karna aku terlihat kekurangan zat gula. Makannya sering melamun, "kamu emang ngak pernah akur sama mbakmu itu?" Tanya Fauzan sambil menyeruput susu hangatnya.
"Iya" desahku tak fokus, karna memandang bibirnya. Kok aku kangen? Gila dengan ciumannya.
"Kenapa sih kamu? Pandangannya ngak fokus gitu, sakit?" Sindirnya dingin, dia menyentuh dahiku dengan punggung tangannya.
Aku tersadar dan menggeleng pelan, bahkan kutarik punggung tangannya itu Dan kugenggam erat. "Ngak, pulang aja yuk mas. Aku ngantuk" ajakku buru-buru.
"Hari ini gak ada jadwal ngajar?" Tanyanya dengan ekspresi bingung, aku menggeleng.
"Santai dong?" Tebaknya, aku mengangguk lagi. Tubuhnya masih tertahan di kursi resto.
Wajahnya tampak kecewa, "kenapa pas aku banyak kerjaan kamu nyantai? Jadi kita gak bisa quality time bareng." Fauzan mulai memancing perasaan ku dengan mata gusarnya.
Kutarik tangannya makin kuat, "mas, ke mobil aja yuk?" Ajakku takut buyar disini.
Fauzan menatapku usil dan aneh, "kenapa sih kamu? Pandanganmu kaya mau nerkam aku?" Ucapnya khawatir, sambil berdiri dan mendampingi langkahku.
"Hah, kelihatankah?" Ceplosku yang membuat tawanya meledak.
__ADS_1
Fauzan sampai menutup mulutnya dengan kepalan tangan karna takut memunculkan perhatian pengunjung lain disepagi ini, akhirnya dia membayar dua mangkuk bakso yang kami makan. Lantas menggandengku keparkiran.
Aku masuk kedalam mobil, dia menyusul dan masuk kedalam kemudi. Kami duduk saling berdampingan dengan mata yang belum saling bertemu, menghitung menit untuk tindakan apa yang terjadi setelah ini. lalu mata tajamnya itu membingkaiku juga, tak berhenti meski sampai semenit.
"Mari bereskan dirimu" Fauzan mendekati wajahku.
Cup! Sebuah suara tercipta dari kedua bibir kami yang saling bertemu, bak dahaga yang dapat air segar. Batinku terpuaskan, Namun. Tidak cukup hanya sekali, dia mencumbu ku lagi, lagi dan lagi..... ini sangat nikmat, sama seperti saat aku menikmati eskrim dicuaca sepanas ini.
"Kamu menyukainya? Merindukannya?" Bisik Fauzan disela bibirku.
Aku hanya mengangguk keenakan, sesekali mataku terpejam karna cumbuan yang mendarat dileher sangat menyenangkan, ngak tahu tempat! Diparkiran disiang bolong. Fauzan mengecupku lengket, tidak kami bertukar liur bahagia dari tadi.
Aku menjeda ciuman dengan mata buram, "erm kecanduan itu gini?" Ceplosku yang hanya dibalas eseman olehnya.
"Kamu mulai menyukai kontak fisik, Za. Itulah mengapa **** baiknya dilakukan setelah menikah. Karna ia seperti api, bisa menghangatkan. Tapi juga bisa mmebakar kalau salah empat," jelas fauzan yang tak sepenuhnya masuk ke telingaku.
Sebab, aku hanya fokus pada wajah, mata, bibirnya dan aroma tubuhnya. Jadi ini beneran yang namanya candu karna cinta? Kenapa ngak sejak habis sma nikah aja sih? Ups!
"Azhariii.." sadar Fauzan lembut sambil melepaskan tangannya dari tengkukku.
Bak baru kembali ke bumi setelah melayang diawang-awang sejenak, aku merasa malu. Seperti habis melecehkan diri sendiri.
Aku mengacak rambutku frustasi. "Arggg, aku kenapa sih? Biasanya ngak seaneh ini? Aku kayak cewek bejad. Amoral!" Keluhku gusar.
Fauzan menahan lembut kedua tanganku Dengan pandangan tak rela, "apa sih kamu? Horny sama suami sendiri kok aneh! Ngak apa-apa, aku rela kok. Makannya cepet pulang yuk" fauzan membuat otak licikku muncul.
"Katanya takut nyakitin anak kita?" Godaku usil.
Sekarang dia mengacak rambutnya frustasi, "Oh God, kenapa aku sebodoh itu tadi? Ngak nanya sama dokter Lisya!" Keluhnya menyebalkan.
"Emang udah tegang ya mas?" Senyum manis ku makin tercipta licik.
"Kamu udah mancing aku dek" dia mengerucutkan bibirnya dengan Pandangan tak terarah.
"Uaap aku udah ngantuk mas, lain kali aja" aku menutup mulut karna merasa kantuk menyerang.
"Tapi kamu beneran nih ngak ada solusi?" Dia menatapku.
Aku balik menatapnya, "solusi apa? Emang pengen banget ya nengok anak?" Aku makin menggodanya.
"Oh please, Azhari! Jangan suka goda deh bisa ngak? Emangnya nahan gini enak? Ngak sayang...." Dia menatapku dengan memelas dan malah membuat tawaku meledak.
"Kenapa sih malah ketawa?" Dia menatapku aneh.
"Mas, mas! suka Banget sih bikin aku geli" aku mengelus kedua pipinya lembut.
"Azhari!" Fauzan makin merasa jengkel.
"Iya iya, tadi aku udah nanya sama dokter Lisya, katanya boleh--" Fauzan langsung menjalankan mobilnya sebelum aku benar-benar menyelesaikan kalimat, kurang ajar! Jantungku hampir melompat.
"Suka benget sih bikin jantungku mau copot!" Aku memukul lengan nya yang ada dikemudi.
"Suka banget bikin aku tegang!" Balasnya yang langsung membuatku bungkam.
Karna Aku bungkam, Fauzan mengambil keputusan. "Ku anggap kamu mau, dek!" Fauzan menatapku dan tersenyum usil.
Fauzan selalu saja membuatku bergidik ngeri, selalu saja seenaknya sendiri! Menyebalkan. Namun, aku kok suka. Tak sabar menunggu beberapa menit lagi, sampai dirumah.
Aduh kacau! Aku kenapa sih? Jijikan banget?
...Bersambung.........
hai genggg aku kasih bonus tulisannya sampe full 2K loh😘 demi apa coba? aku bela-belain habis selesai PAS langsung nulis cerita....
oh iya akhirnya pasangan aneh itu jadi ngungkapin kehamilan zhari juga ya, hemm babang Fauzan meresahkan. gak terasa udah chapter 61 aja😭, terimakasih yang masih setia sama novel author. maaf kalo masih kacang hehe😁, oke ya do'akan biar mood author bagus terus. agar novel babang Fauzan cepet tamat dan author kabur dari permasalahan😆
__ADS_1